Rekomendasi Pemberian Vaksin pada Pasien Immunocompromised

Oleh :
dr. Josephine Darmawan

Pasien immunocompromised memiliki risiko infeksi yang lebih tinggi tetapi cakupan imunisasi pada kelompok populasi ini justru rendah. Dokter perlu mempelajari rekomendasi pemberian vaksin pada pasien immunocompromised sehingga bisa menentukan vaksin mana yang aman diberikan dan cara pemberiannya.

Vaksinasi atau imunisasi merupakan salah satu metode preventif penyakit infeksi yang paling efektif dan mudah dilakukan. Morbiditas dan mortalitas akibat infeksi dapat diturunkan dengan program vaksinasi yang baik.[1-3]  Akan tetapi, sering kali pemberian vaksin sulit untuk dilakukan karena banyak menemukan hambatan, terutama pada orang-orang masalah sistem imun. Padahal orang-orang dengan masalah sistem imun tidak memiliki kemampuan untuk melawan infeksi seperti orang yang imunokompeten, sehingga membutuhkan proteksi yang lebih.[1,4,5] Oleh sebab itu, vaksinasi / imunisasi pada pasien dengan immunocompromised penting untuk diketahui dan dilakukan oleh dokter.

Depositphotos_75025297_original_compressed

Pemberian vaksin bertujuan untuk memberikan kekebalan tubuh aktif dengan membentuk sel memori, sehingga proteksi terhadap suatu penyakit yang didapat bertahan lebih lama. Hal ini penting dilakukan, baik pada pasien yang memiliki masalah sistem imun ataupun tidak. Rekomendasi pemberian vaksin pada orang dengan masalah sistem imun atau kondisi khusus lainnya berbeda dengan pasien yang imunokompeten. Pemberian vaksin pada pasien-pasien ini harus dilakukan dengan lebih hati-hati dan dengan pedoman yang berbeda.[3-6]

Pasien dengan Masalah Sistem Imun

Secara umum, orang yang memiliki masalah sistem imun disebut dengan pasien immunocompromised (immunocompromised). Pasien immunocompromised adalah pasien dengan kondisi khusus, di antaranya:

Kendala dalam Vaksinasi Pasien Immunocompromised

Pasien dengan masalah sistem imun sering kali terlupakan dalam program pemberian vaksinasi atau imunisasi, padahal pasien immunocompromised memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terkena infeksi. Infeksi yang ringan pada pasien-pasien imunokompeten dapat menjadi infeksi berat dengan komplikasi pada pasien immunocompromised. Kurangnya cakupan imunisasi pada pasien immunocompromised ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan atau kesalahan konsep dokter mengenai keamanan, efektifitas, efek samping, dan kontraindikasi pemberian vaksin pada pasien immunocompromised.[4,5] Kendala yang sering kali menjadi isu adalah potensi pemberian vaksin untuk menyebabkan infeksi aktif pada pasien immunocompromised. Vaksinasi memang bisa menyebabkan infeksi aktif, tetapi hal ini dapat dicegah dengan pemberian vaksin inaktif bagi pasien immunocompromised. Bahan-bahan aditif dalam vaksin juga dianggap dapat menyebabkan reaksi autoimunitas dan relaps penyakit, akan tetapi belum ada bukti data yang membenarkan hal ini. Pemberian vaksin pada pasien immunocompromised juga dinilai tidak menghasilkan efek proteksi yang optimal, sehingga sering kali tidak diberikan. Pada pasien immunocompromised, efek proteksi yang terbentuk memang lebih rendah bila dibandingkan dengan pasien imunokompeten, tetapi efek proteksinya tetap dibutuhkan dan dapat bermanfaat.[1,4-6]

Jenis dan Cara Kerja Vaksin

Tujuan pemberian vaksin adalah memicu pembentukan respon sistem imun terhadap antigen tertentu. Vaksinasi merupakan metode pembentukan imunitas secara aktif. Pemberian vaksin memicu respon imun adatif untuk membentuk sel memori terhadap antigen yang dipaparkan, sehingga terbentuk kekebalan tubuh (imunitas). Secara umum, terdapat dua jenis vaksin yang dapat diberikan pada pasien secara umum, yaitu vaksin hidup yang dilemahkan/live-attenuated dan vaksin inaktif. Contoh vaksin hidup yang dilemahkan adalah BCG, tifoid oral, polio oral (OPV), rotavirus, MMR, Varicella, influenza, dan lainnya. Contoh vaksin inaktif antara lain adalah polio injeksi (IPV), hepatitis B, influenza, pertusis, toksoid difteri, toksoid tetanus, pneumococcus, dan lainnya. Pemberian vaksin live-attenuated bertujuan untuk “menginfeksi” individu yang mendapatkan vaksin tersebut, sehingga sistem imun tubuh yang baik dapat melawan “infeksi” tersebut dan membentuk proteksi. Sedangkan, pemberian vaksin inaktif tidak memerlukan sistem imun untuk melawan, tetapi tubuh lansung mendapatkan proteksi.[4-5]

Rekomendasi Vaksinasi pada Pasien Immunocompromised

Pemberian vaksin yang direkomendasikan pada pasien-pasien immunocompromised adalah vaksin inaktif. Pemberian vaksin hidup yang dilemahkan dapat diberikan hanya bila keuntungan yang didapatkan lebih besar dibandingkan efek yang dapat ditimbulkan. Pemberian vaksin hidup yang dilemahkan pada pasien-pasien immunocompromised harus di bawah supervisi dokter spesialis dan dikonsultasikan ke konsultan alergi imunologi.[3-6]

Pemberian vaksinasi pasien immunocompromised di Indonesia dapat mengikuti jadwal dari Satgas Imunisasi Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) untuk orang dewasa dengan indikasi medis/kondisi tertentu. Berdasarkan rekomendasi yang ada, vaksinasi yang dikontraindikasikan adalah measles-mumps-rubella (MMR), Varicella, dan Zoster. Vaksin BCG tidak direkomendasikan. Vaksinasi lainnya disarankan untuk diberikan. Rekomendasi ini sudah sesuai dengan pedoman internasional lain, seperti dari WHO dan Infectious Disease Society of America (IDSA).[3-8]

Vaksin-vaksin yang paling penting untuk diberikan pada pasien immunocompromised adalah vaksin influenza, pneumococcal, dan human papilloma virus (HPV). Pada pasien anak, seluruh vaksin rutin juga dianjurkan diberikan, kecuali vaksin BCG. Vaksin influenza penting untuk diberikan pada pasien immunocompromised karena infeksi dapat memicu terjadinya komplikasi berat, seperti penyakit jantung koroner, dan lainnya. Vaksin influenza tidak diberikan pada pasien dengan imunosupresi berat, seperti pasien dalam penggunaan steroid dosis tinggi, dan lainnya. Vaksin pneumococcal juga disarankan untuk diberikan, termasuk pada pasien yang menjalani pengobatan. Pemberian dimulai dengan vaksin pneumococcal conjugate vaccine 13 (PCV13) kemudian pneumococcal polysacharride vaccine 23 (PPSV23) diberikan 1 tahun kemudian dan diulang 5 tahun sekali. Vaksin HPV diberikan apabila bahan ajuvan dalam vaksinnya sesuai rekomendasi, sehingga dapat menghasilkan level proteksi hampir sama dengan pasien yang imunokompeten. Ajuvan yang dapat diberikan pada vaksin HPV adalah immunostimulant (monophosphoryl lipid A [MPL]) dan garam aluminium (Al(OH)3).[3-8]

Vaksin Infeksi HIV (berdasarkan hitung CD4+) Kondisi immunocompromised selain HIV
<200 sel/uL

>200 sel/uL

Influenza 1 dosis setiap tahun
Tetanus, difteri, pertusis (Td/Tdap) 1 dosis menggunakan Tdap dan 2 dosis menggunakan Td. Selanjutnya 1 dosis booster Td setiap 10 tahun
Varicella Kontraindikasi 2 dosis Kontraindikasi
HPV untuk perempuan 3 dosis sampai usia 55 tahun
HPV untuk laki-laki 3 dosis sampai usia 26 tahun
Zoster Kontraindikasi Tidak ada rekomendasi Kontraindikasi
MMR Kontraindikasi 1 atau 2 dosis Kontraindikasi
Pneumokokal Polisakarida (PPSV23) 1 atau 2 dosis
Pneumokokal konjugat 13-valent (PCV13) 1 dosis
Meningitis meningokokal 1 dosis*
Hepatitis A 2 dosis*
Hepatitis B 3 dosis 3 dosis*

*diberikan hanya kepada orang yang memiliki faktor risiko (misalnya pekerjaan, gaya hidup, bepergian)

Tabel 1. Rekomendasi Vaksinasi Untuk Orang Dewasa dengan Indikasi Medis/Kondisi Tertentu, Satgas Imunisasi PAPDI, 2013

Rekomendasi Vaksinasi Bagi Anggota Keluarga Pasien Immunocompromised

Hal lain yang sering kali dilupakan adalah imunisasi pada orang-orang imunokompeten yang berada disekitar pasien immunocompromised, baik orang yang tinggal serumah ataupun petugas kesehatan. Orang-orang imunokompeten dapat menjadi sumber penularan infeksi bagi pasien immunocompromised disekitarnya. Selain itu, melakukan imunisasi pada pasien imunokompeten juga dapat membentuk imunitas kelompok/herd immunity. Imunitas kelompok ini dapat memberikan pasien immunocompromised proteksi secara tidak langsung, terutama terhadap vaksin yang tidak dapat diberikan. Orang imunokompeten yang tinggal serumah dengan pasien immunocompromised harus diberikan vaksinasi, antara lain adalah:

  • Vaksin inaktif: harus diberikan sesuai jadwal
  • Vaksin influenza: diberikan 1 kali setiap tahun
  • Vaksin hidup: Zoster, MMR, Varicella diberikan sesuai jadwal dan rekomendasi yang ada
  • Vaksin rotavirus pada bayi 2-7 tahun yang tinggal serumah dengan pasien immunocompromised

  • Polio oral dikontraindikasikan, tetapi polio inaktif (IPV) harus diberikan sesuai jadwal yang dan rekomendasi yang ada[3-6,8]

Kesimpulan

Vaksinasi adalah upaya preventif yang mudah dan efektif, baik pada pasien immunocompromised ataupun imunokompeten. Pasien dengan masalah sistem imun lebih membutuhkan efek proteksi terhadap penyakit dari vaksinasi dibandingkan orang yang imunokompeten. Meskipun vaksinasi pada pasien immunocompromised tidak menghasilkan efek proteksi sebaik pasien imunokompeten, imunitas tetap dapat terbentuk. Hal ini masih lebih dibandingkan tidak mendapatkan imunitas sama sekali. Secara umum, vaksin yang dapat diberikan pada pasien immunocompromised adalah vaksin inaktif. Vaksin aktif dapat diberikan apabila manfaat yang didapatkan lebih banyak dibandingkan kerugiannya dan harus diberikan di bawah supervisi dokter spesialis atau konsultan alergi imunologi. Vaksin aktif juga dapat diberikan kepada orang yang tinggal serumah dengan pasien immunocompromised. Selain anggota keluarga, petugas kesehatan juga harus divaksinasi secara lengkap karena dapat menjadi sumber penularan infeksi, terutama bagi pasien immunocompromised.

Referensi