Perubahan Jadwal Imunisasi Anak Berdasarkan IDAI Tahun 2020

Oleh :
dr. Meisa Puspitasari SpA., MKes

Rekomendasi jadwal imunisasi anak usia 0-18 tahun telah diterbitkan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada akhir tahun 2020. Jadwal imunisasi anak tahun 2020 ini merevisi jadwal imunisasi anak tahun 2017, atas dasar pertimbangan World Health Organization (WHO) position paper terbaru untuk berbagai vaksin.

Semua negara di dunia melakukan imunisasi rutin bayi dan anaknya, karena adanya bukti yang tidak terbantahkan bahwa imunisasi dapat mencegah wabah, sakit berat, cacat, dan kematian. Manfaat imunisasi telah dibuktikan oleh kajian ilmiah berbagai profesi dan dipublikasikan secara resmi baik nasional maupun internasional.[1]

Vaccine,For,Infant

Revisi ini juga memperhatikan vaksin yang tersedia di Indonesia, keamanan dan imunogenitas vaksin, epidemiologi penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi dan hasil uji klinik vaksin di Indonesia.[2]

Secara umum rekomendasi jadwal imunisasi yang baru ini tidak banyak merubah pola jadwal, namun beberapa perbedaan poin penting perubahan terdapat pada dosis, frekuensi, dan batas usia anak yang paling optimal untuk memperoleh vaksin. Beberapa perubahan tersebut dapat dilihat lebih detail pada penjelasan berikut ini.

Gambar 1. Jadwal Imunisasi Anak Umur 0-18 tahun Rekomendasi IDAI Tahun 2020

idai 2020-min

Sumber: Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) 2021.[4]

 

Hepatitis B

Dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2017 imunisasi Hepatitis B (HB) paling baik diberikan dalam waktu 12 jam setelah lahir, sedangkan di dalam jadwal imunisasi tahun 2020 sebaiknya diberikan segera setelah lahir pada semua bayi sebelum berumur 24 jam.[2]

Perubahan ini sesuai dengan rekomendasi WHO position paper on Hepatitis B Vaccines 2017 bahwa imunisasi HB sebaiknya diberikan pada semua bayi sebelum berumur 24 jam. Bayi yang tidak mendapat vaksin HB pada waktu lahir berisiko terinfeksi 3.5 kali lebih besar dibandingkan dengan bayi yang mendapat imunisasi waktu lahir.[3]

Di jadwal 2020 juga ditambahkan keterangan bayi dengan berat lahir kurang dari 2000 gram, imunisasi HB sebaiknya ditunda sampai berumur 1 bulan atau lebih. Ini disebabkan karena sebagian bayi dengan berat lahir kurang dari 2000 gram tidak dapat memberikan respons imun seperti bayi cukup bulan dan berat lahir normal, tetapi mulai usia kronologis 1 bulan dapat memberikan respons imun adekuat.[5]

Imunisasi HB selain diberikan pada umur 2, 3 dan 4 bulan, juga diberikan pada umur 18 bulan bersama Diphtheria and tetanus toxoids, and whole-cell pertussis (DTwP) atau Diphtheria and tetanus toxoids, and acellular pertussis (DTaP) sesuai dengan jadwal imunisasi HB di Permenkes No. 12 tahun 2017.[6] Dengan tambahan imunisasi HB pada umur 18 bulan diharapkan menghasilkan proteksi lebih tinggi pada usia sekolah dan remaja. Karena di beberapa negara anak yang pernah mendapat imunisasi HB lengkap pada masa bayi saja, mempunyai seroproteksi rendah pada usia sekolah sampai remaja. [2]

Inactivated Poliovirus Vaccine (IPV)

Dalam jadwal imunisasi 2017 IPV paling sedikit harus diberikan 1 kali bersamaan dengan OPV3 (Oral Polio Vaccine). Pada jadwal imunisasi 2020 bOPV atau IPV selanjutnya diberikan bersama DTwP atau DTaP, IPV minimal diberikan 2 kali sebelum berumur 1 tahun.[2]

Perubahan ini berdasarkan penelitian Fadliana et. al, bahwa pemberian 1 kali IPV bersama OPV 4 menghasilkan perlindungan yang lebih rendah terhadap polio serotype 2, berbeda bermakna dari serotipe 1 dan 3 yang lebih tinggi. Dengan memberikan IPV lebih dari 1x bersama DTwP atau DTaP diharapkan memberikan perlindungan lebih tinggi terhadap polio serotype 2.[7]

Bacillus Calmette Guerin (BCG)

Jadwal imunisasi tahun 2017, vaksin BCG optimal diberikan usia 2 bulan, sedangkan di pedoman imunisasi 2020 sebaiknya diberikan segera setelah lahir atau sesegera mungkin sebelum bayi berumur 1 bulan.[2]

Berdasarkan rekomendasi WHO position paper BCG vaccine 2018 untuk negara dengan kejadian tuberkulosis tinggi yang termasuk Indonesia BCG diberikan pada bayi segera setelah lahir. Bila imunisasi BCG tidak dapat diberikan pada waktu lahir sebaiknya diberikan segera tidak ditunda sebelum terpapar infeksi.[8]

Difteri, Tetanus, Pertussis (DTP)

Di dalam jadwal imunisasi 2017 booster DTP diberikan pada umur 5 tahun, sedangkan terbarunya pada umur 5-7 tahun, atau pada program bulan imunisasi anak sekolah (BIAS) kelas 1 sesuai dengan Permenkes No. 12 tahun 2017.[2] Vaksin ini diberikan untuk mencegah penyakit difteri, pertussis, dan tetanus.

Perubahan ini berdasarkan WHO position paper on diphtheria vaccine (2017) dan tetanus vaccine (2017) yang merekomendasikan booster imunisasi difteri dan tetanus toksoid pada umur 4-7 tahun.

Sedangkan, berdasarkan WHO position paper on pertussis (2015) yang menyatakan bahwa perlindungan terhadap pertusis dengan vaksin aseluler akan menurun sebelum berumur 6 tahun maka diperlukan booster sebelum berumur 6 tahun, maka booster DTP diberikan pada umur 5 – 7 tahun. Booster pada umur 18 bulan dan 10 -18 tahun tidak berubah.[9-11]

Haemophilus Influenzae B (Hib)

Di dalam jadwal imunisasi tahun 2017 booster vaksin Hib diberikan pada umur 15 – 18 bulan, sedangkan di dalam jadwal 2020 diberikan pada umur 18 bulan bersama DTwP atau DTaP.[2]

Jadwal ini sesuai dengan WHO position paper mengenai Hib tahun 2013 bahwa setelah imunisasi dasar Hib diberikan booster 1 kali sekurangnya-kurangnya 6 bulan setelah imunisasi dasar.[12] Jadwal ini sesuai pula dengan Permenkes No. 12 tahun 2017 booster Hib diberikan pada usia 18 bulan di dalam vaksin pentavalen.[6]

Pneumokokus

Di dalam jadwal imunisasi 2017, vaksin PCV apabila diberikan pada usia 7-12 bulan, PCV diberikan 2 kali dengan interval 2 bulan, dan pada usia lebih dari 1 tahun diberikan 1 kali. Keduanya perlu booster pada usia lebih dari 12 bulan atau minimal 2 bulan setelah dosis terakhir. Pada anak usia di atas 2 tahun PCV diberikan cukup satu kali.[2]

Di dalam jadwal imunisasi 2020, jika belum pernah diberikan pada umur 7 - 12 bulan, berikan PCV 2 kali dengan jarak minimal 1 bulan dan booster setelah umur 12 bulan dengan jarak sedikitnya 2 bulan dari dosis sebelumnya. Jika belum pernah diberikan pada umur 1-2 tahun berikan PCV 2 kali dengan jarak 2 bulan. Selain itu, anak belum divaksin umur 2 - 5 tahun, PCV10 diberikan 2 kali dengan jarak minimal 2 bulan, PCV13 diberikan 1 kali.

Program Kemenkes tersebut memberikan PCV pada umur 2 bulan, 3 bulan dan 12 bulan sesuai dengan WHO position paper mengenai pneumokokus (2019).[13,14]

Rotavirus

Di dalam jadwal imunisasi 2020 vaksin rotavirus monovalen (RV1) diberikan 2 dosis, dosis pertama diberikan mulai usia 6-12 minggu, dosis kedua diberikan dengan interval minimal 4 minggu dan dosis kedua diberikan paling lambat 24 minggu. Vaksin rotavirus pentavalent (RV5) diberikan dalam 3 dosis. Dosis pertama diberikan pada umur 6-12 minggu. Dosis kedua dan ketiga diberikan dengan interval 4 -10 minggu. Dosis ketiga paling lambat diberikan pada umur 32 minggu.[2]

Perubahan tersebut berdasarkan kajian sistematik dan meta analisis yang dilakukan oleh Koch et. al, untuk menilai hubungan antara vaksin rotavirus dengan risiko kejadian intususepsi di neonatus dan bayi  mendapatkan hasil risiko relatif terjadinya intususepsi lebih besar bila rotavirus dosis pertama diberikan setelah usia 3 bulan.[15]

Beberapa penelitian tentang insiden intususepsi sebelum dan sesudah pemberian vaksin rotavirus menunjukkan prevalensi intususepsi meningkat dengan bertambahnya usia. Oleh karena itu, sebaiknya pemberian vaksin rotavirus diberikan sebelum 12-14 minggu untuk mengurangi risiko terjadinya intususepsi.[15]

Influenza

Di dalam jadwal imunisasi tahun 2017 imunisasi influenza diberikan pada usia lebih dari 6 bulan, sedangkan di dalam jadwal tahun 2020 diberikan mulai umur 6 bulan.[2]

Jadwal ini sesuai dengan WHO position paper vaccine against influenza (2012) bahwa vaksin influenza diberikan mulai umur 6 bulan karena tingginya kejadian influenza berat pada umur 6-23 bulan kemudian 2-5 tahun.[18]

Campak dan Rubella

Di dalam jadwal imunisasi tahun 2017 pada umur 9 bulan diberikan vaksin campak, sedangkan di dalam jadwal 2020 diberikan campak rubella (MR).[2]

Perubahan ini sesuai dengan WHO position paper 255 Rubella vaccine (2011) dan Keputusan Menteri Kesehatan No. HK 01.07/Menkes/45/2017 tanggal 31 Januari 2017, tentang introduksi imunisasi campak rubella di Indonesia pada umur 9 bulan. Bila sampai umur 12 bulan belum mendapat vaksin MR, dapat diberikan MMR.[17]

Japanese Encephalitis (JE)

Di dalam jadwal imunisasi tahun 2017 imunisasi JE diberikan mulai umur 12 bulan, sedangkan di dalam jadwal 2020 mulai umur 9 bulan.[2]

Perubahan ini sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 01.07/Menkes/117/2017 tentang pelaksanaan kampanye dan introduksi imunisasi JE di Bali dan WHO position paper mengenai JE (2015) bahwa vaksinasi JE diberikan mulai umur 9 bulan.

Imunisasi JE direkomendasikan untuk di daerah endemis atau yang akan bepergian ke daerah endemis. Surveilans JE di Indonesia tahun 2016 ada 9 provinsi melaporkan kasus JE yaitu Bali, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, dan Kepulauan Riau, dengan kasus JE terbanyak di provinsi Bali.[19,20]

Varisela

Di dalam jadwal imunisasi tahun 2017 imunisasi, vaksin varisela diberikan setelah usia 12 bulan, terbaik pada usia sebelum masuk sekolah dasar. Apabila diberikan pada usia lebih dari 13 tahun perlu 2 dosis dengan interval minimum 4 minggu.[2]

Di dalam jadwal imunisasi tahun 2020 imunisasi varisela diberikan mulai umur 12 – 18 bulan. Pada umur 1–12 tahun diberikan 2 dosis dengan interval 6 minggu sampai 3 bulan. Pada umur 13 tahun atau lebih diberikan 2 dosis dengan interval 4 sampai 6 minggu.[2]

Perubahan ini sesuai dengan rekomendasi WHO position paper tentang varisela (2014) untuk menurunkan kasus varisela dan mencegah terjadinya kejadian luar biasa.[21] Meta analisis tentang efikasi vaksin varisela menyimpulkan dosis tunggal cukup efektif dalam mencegah varisela dengan efikasi 81%, sedangkan 2 dosis meningkatkan efikasi menjadi 92%.[22]

Hepatitis A

Di dalam keterangan jadwal imunisasi tahun 2017 imunisasi Hepatitis A diberikan mulai umur 2 tahun, 2x dengan interval 6 – 12 bulan, sedangkan di dalam jadwal 2020 diberikan mulai umur 1 tahun, dosis ke-2 diberikan setelah 6 bulan sampai 18 bulan kemudian.[2] Jadwal ini sesuai dengan WHO position paper tentang hepatitis A (2012) dan beberapa penelitian lain.[23,24]

Dengue

Di dalam keterangan jadwal imunisasi 2017 tertulis imunisasi dengue diberikan pada usia 9-16 tahun dengan jadwal 0,6,12 bulan. Di dalam jadwal 2020 ditambahkan prasyarat, diberikan pada anak umur 9 – 16 tahun yang pernah dirawat dengan diagnosis dengue dan dikonfirmasi dengan deteksi antigen (rapid dengue test NS-1 atau PCR ELISA), atau IgM anti dengue. Bila tidak ada konfirmasi tersebut dilakukan pemeriksaan serologi IgG anti dengue untuk membuktikan apakah pernah terinfeksi dengue.[2] Jika tidak ada bukti yang dikonfirmasi dari infeksi dengue sebelumnya maka vaksin dengue tidak boleh diberikan.

Berdasarkan WHO position paper dengue vaccine (2018) penelitian di beberapa negara termasuk Indonesia bahwa efikasi vaksin dengue lebih tinggi bila imunisasi dilakukan pada umur 9 – 16 tahun (65,6%) dibandingkan umur 2 – 8 tahun (44,6%).[25,26]

Human Papillomavirus (HPV)

Di dalam jadwal imunisasi tahun 2017, imunisasi HPV diberikan mulai usia 10 tahun. Di dalam jadwal 2020 diberikan pada anak perempuan umur 9–14 tahun 2 kali dengan jarak 6–15 bulan (atau pada program BIAS kelas 5 dan 6). Umur 15 tahun atau lebih diberikan 3 kali dengan jadwal 0, 1, 6 bulan (vaksin bivalen) atau 0, 2, 6 bulan (vaksin quadrivalen).[2]

Jadwal ini sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 01.07/Menkes/194/2017 tentang Pelaksanaan Demonstrasi Pemberian Imunisasi HPV di Surabaya, Manado, dan Makasar, serta WHO position paper mengenai HPV (2017). Imunogenisitas vaksin HPV dengan 2 dosis (0, 6 bulan atau 0, 12 bulan) pada perempuan umur 9 – 14 tahun setara dengan 3 dosis (0, 1-2, 6 bulan) pada perempuan berumur 15 – 24 dan 26 tahun.[16,27-29] Dalam pedoman vaksin di National Health Service (NHS) United Kingdom,  vaksin HPV ini diberikan pada anak laki-laki pada usia 12 – 13 tahun.[30] Sedangkan, di Indonesia dari IDAI hanya dikhususkan untuk anak perempuan.

Kesimpulan

Semakin berkembangnya penelitian mengenai imunisasi di dunia, serta disesuaikan dengan kondisi di Indonesia, maka Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) secara periodik mengkaji rekomendasi jadwal imunisasi.

Untuk imunisasi dasar yang harus diberikan beberapa kali (imunisasi serial), maka interval tidak boleh lebih cepat 5 hari atau umurnya lebih muda dari umur minimal yang direkomendasikan karena akan menghasilkan respons imun sub optimal. Namun, imunisasi perlu diulang dengan interval atau pada umur minimal yang direkomendasikan jika hal tersebut terjadi.[2]

Jika interval imunisasi lebih lama dari jadwal yang direkomendasikan, beresiko terjadinya infeksi sebelum diberikan dosis lengkap sesuai jadwal. Namun, pada imunisasi terlambat tidak perlu pengulangan atau penambahan dosis karena tidak

akan mengurangi konsentrasi antibodi final setelah diberikan dosis lengkap sesuai rekomendasi.[2] Pada praktiknya, masih sering dijumpai anak yang belum atau terlambat mendapatkan imunisasi. Beberapa anak sudah divaksin tetapi serial imunisasinya terputus. Namun, hal ini tidak menjadi hambatan untuk melanjutkan atau mengejar imunisasi.

Referensi