Demam Bukan Merupakan Alasan Penundaan Pemberian Vaksinasi

Oleh dr. Shofa Nisrina

Demam pada anak dahulu menjadi alasan penundaan pemberian vaksinasi. Walau demikian, penelitian dan rekomendasi terkini menunjukkan bahwa patokan untuk menunda vaksinasi adalah tingkat keparahan penyakit. Anak yang mengalami sakit ringan dengan demam boleh langsung diberikan vaksinasi. Sebaliknya, anak yang mengalami sakit sedang-berat tanpa demam sebaiknya ditunda vaksinasinya.

Imunisasi merupakan salah satu langkah preventif yang dapat dilakukan untuk mencegah timbulnya penyakit pada anak-anak. Beberapa penyakit yang telah dapat dicegah melalui imunisasi adalah hepatitis B, polio, campak, rubella, difteri, pertusis, tetanus, dan tuberkulosis. Program imunisasi ini telah masuk kepada program nasional dan perlu ditingkatkan cakupannya untuk meningkatkan imunitas kelompok (herd immunity) serta menurunkan beban penyakit (burden of disease). [1]

Depositphotos_99746302_m-2015_compressed

Salah satu cara untuk meningkatkan cakupan imunisasi adalah memberikan imunisasi teratur sesuai dengan jadwal yang ada. Keterlambatan jadwal akan menyebabkan imunitas anak terhadap penyakit tersebut menurun. Studi dan rekomendasi terkini mengenai pemberian vaksinasi pada anak menemukan adanya mispersepsi mengenai kondisi yang sebaiknya menjadi alasan penundaan vaksinasi. Salah satunya adalah demam pada anak.[1,2]

Rekomendasi Terkait Pemberian Vaksin pada Anak yang Mengalami Demam

Berdasarkan rekomendasi yang dikeluarkan oleh Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP), Amerika Serikat, anak yang mengalami sakit ringan seperti infeksi saluran pernapasan atas ringan, dengan atau tanpa demam tidak digolongkan ke dalam kontraindikasi maupun precaution sehingga vaksin tetap dapat diberikan. Sebaliknya, anak yang menderita penyakit derajat sedang atau berat, walau tanpa demam, tetap harus ditunda pemberian imunisasinya sampai anak sembuh.[3]

Bukti Ilmiah mengenai Pemberian Vaksin pada Anak yang Mengalami Demam

Sebelumnya terdapat teori yang menyatakan bahwa vaksin virus hidup dapat dipengaruhi oleh respon inflamasi tubuh. Akan tetapi beberapa penelitian telah dilakukan dan menyatakan sebaliknya. Penelitian dari Kanada dan Amerika Serikat membandingkan efektivitas vaksin MMR (measles, mumps, rubella) yang diberikan pada anak sehat dan anak yang mengalami sakit ringan. Sekitar 723 dari 1338 anak berusia 12 – 23 bulan yang mengikuti penelitian tersebut mengalami sakit ringan seperti infeksi saluran pernapasan bagian atas, otitis media, dan diare tanpa dehidrasi). Hasil dari studi tersebut menunjukkan bahwa sakit ringan tidak memiliki efek terhadap respon pembentukan antibodi. [4-7]

Penelitian lain pada 170 anak dengan sakit ringan dari 6070 subjek juga menunjukkan bahwa vaksin MMR yang diberikan pada anak sakit ringan tidak meningkatkan risiko kegagalan vaksin. Selain itu, studi tersebut juga menemukan bahwa tidak ada hubungan antara sakit ringan dengan timbulnya reaksi efek samping pada vaksinasi MMR. Vaksinasi MMR tersebut juga tidak meningkatkan keparahan penyakit yang dialami oleh anak. [8]

Penelitian hubungan antara efektivitas vaksin inaktif pada anak dengan sakit ringan belum banyak dilakukan. Vaksin inaktif tidak mudah dipengaruhi oleh reaksi imun anak, namun menimbulkan kejadian pasca imunisasi yang lebih cepat. Uji kontrol yang dilakukan pada vaksin DtaP/IPV/Hib menunjukkan bahwa kejadian demam pasca pemberian vaksin dapat meningkat sebesar 25% jika diberikan pada anak dengan demam ringan. Akan tetapi, sampai saat ini belum ditemukan adanya penurunan efektivitas atau ketidakamanan dengan pemberian vaksin inaktif pada anak sakit ringan dengan demam. [3]

Jika anak mengalami sakit sedang atau berat, penundaan pemberian vaksin dapat dilakukan dan termasuk ke dalam kategori precaution. Hal ini dapat menimbulkan kesulitan dalam membedakan antara reaksi pasca vaksinasi dengan penyakit awal. Walaupun sampai saat ini tidak ada penelitian yang menunjukkan adanya penurunan efikasi pada vaksin, pemberian vaksin pada kondisi sakit sedang atau berat dikhawatirkan akan mempersulit penanganan untuk penyakit awal. [2,9]

Kesimpulan

Imunisasi dapat dilakukan pada anak dengan sakit ringan dengan atau tanpa demam. Penundaan vaksinasi pada anak dengan sakit ringan dapat menyebabkan kehilangan kesempatan vaksin dan penurunan cakupan imunisasi. Hal ini menyebabkan anak mengalami risiko mengalami penyakit yang dapat dicegah melalui vaksinasi. Vaksinasi ditunda jika anak sakit dengan derajat keparahan sedang atau berat.

Referensi