Demam Bukan Merupakan Alasan Penundaan Pemberian Vaksinasi

Oleh :
dr. Ferdinand Sukher

Demam bukan merupakan alasan penundaan vaksinasi. Penelitian dan rekomendasi terkini menunjukkan bahwa patokan untuk menunda pemberian vaksin adalah tingkat keparahan penyakit. Diperlukan pertimbangan klinis terkait kesiapan anak untuk mendapatkan vaksin, termasuk keuntungan dan kerugian jika dilakukan penundaan vaksinasi pada anak.[1]

Vaksinasi adalah upaya preventif terhadap infeksi, yang dilakukan dengan memperkenalkan komponen dari patogen ke dalam tubuh. Pemberian vaksinasi diharapkan dapat meningkatkan kekebalan tubuh secara aktif, yang dapat memicu timbulnya demam sebagai KIPI (kejadian ikutan pasca imunisasi). Oleh karena itu, vaksinasi pada anak dengan demam dikhawatirkan dapat meningkatkan risiko efek samping dan mempengaruhi kekebalan tubuh yang akan muncul setelahnya.[2]

Proses Demam adalah Respon Fisiologis

Demam adalah proses pertahanan tubuh dalam menjaga tubuh terhadap kelainan internal atau eksternal. Demam merupakan respon fisiologis tubuh terhadap adanya kelainan, seperti infeksi dan trauma. Oleh karena itu, keberadaan demam belum tentu menggambarkan kondisi internal anak secara keseluruhan. Demam dapat terjadi pada anak-anak dengan infeksi ringan seperti common cold, tetapi dapat juga terjadi pada kondisi infeksi berat seperti sepsis.[1]

Pemberian Vaksin pada Anak

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada tahun 2020 sudah mengeluarkan rekomendasi vaksin terbaru, yang berlaku untuk anak usia 0−18 tahun. Rekomendasi ini telah menjadi program nasional yang perlu ditingkatkan cakupannya, sehingga tercapai herd immunity dan beban penyakit menurun.[3]

Pemberian vaksin secara terjadwal bertujuan untuk meningkatkan cakupan imunisasi tersebut. Selain itu, jadwal vaksinasi sudah disesuaikan dengan bukti efektivitasnya, sehingga keterlambatan jadwal akan menyebabkan penurunan imunitas anak terhadap penyakit tersebut.[4,5]

Rekomendasi Vaksinasi pada Anak yang Mengalami Demam

Studi dan rekomendasi terkini mengenai pemberian vaksin pada anak menemukan adanya mispersepsi alasan penundaan vaksinasi. Salah satunya adalah demam pada anak.[6-8]

Secara garis besar, kontraindikasi pemberian vaksin adalah anak dengan penyakit sedang-berat. Sementara, anak-anak dengan penyakit ringan tidak dikontraindikasikan untuk divaksin. Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa demam tidak menggambarkan kondisi keparahan dari penyakit anak, sehingga tidak bisa menjadi alasan tunggal penundaan vaksinasi.[3,7,9]

Penyakit Ringan yang Tidak Perlu Panundaan Vaksinasi

Berdasarkan rekomendasi yang dikeluarkan oleh Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP) dan WHO, anak yang mengalami sakit ringan, seperti infeksi saluran pernapasan atas ringan, dengan/tanpa demam tidak digolongkan ke dalam kontraindikasi atau precaution, sehingga vaksin tetap dapat diberikan.[3,8]

Beberapa kondisi ringan dan tidak memerlukan penundaan vaksinasi adalah:

Penyakit Berat yang Perlu Panundaan Vaksinasi

Sebaliknya, anak yang menderita penyakit derajat sedang atau berat, walaupun tanpa demam, tetap harus ditunda pemberian vaksin sampai anak sembuh. Pemberian vaksin sebaiknya diberikan secepatnya setelah kondisi anak membaik (imunisasi kejar).[3,8]

Beberapa penyakit berat yang mungkin memerlukan penundaan vaksinasi adalah:

  • Imunodefisiensi
  • Penyakit kronis
  • Alergi terhadap komponen vaksin
  • Gangguan neurologis dan ensefalopati[3,9]

Bukti Ilmiah Terkait Vaksinasi pada Anak yang Mengalami Demam

Terdapat berbagai tipe vaksin berdasarkan cara kerja dalam menginduksi sistem imunitas, di mana telah banyak penelitian mendalam mengenai efektivitas dan keamanannya. Tipe vaksin yang ada saat ini di antaranya vaksin hidup yang dilemahkan, vaksin inaktivasi, vaksin m-RNA, vaksin konjugat, vaksin vektor virus, dan vaksin toxoid.[10]

Vaksin Virus Hidup

Sebelumnya, teori menyatakan bahwa vaksin virus hidup dapat dipengaruhi oleh respon inflamasi tubuh. Terdapat penelitian yang mendukung teori tersebut, tetapi beberapa penelitian lain membuktikan sebaliknya.[11,12]

Hingga saat ini, efektivitas pemberian vaksin pada anak sehat dan anak yang mengalami sakit ringan dianggap tidak memiliki perbedaan. Kondisi sakit ringan pada anak tidak mempengaruhi serokonversi serta keamanan vaksin. Efektivitas vaksin mungkin akan menurun dengan pemberian pada pasien dengan sakit berat.[5]

Vaksin Inaktif

Penelitian hubungan antara efektivitas vaksin inaktif pada anak dengan sakit ringan belum banyak dilakukan. Vaksin inaktif dianggap tidak mudah dipengaruhi oleh reaksi imun anak, tetapi dapat menimbulkan KIPI yang lebih cepat. Sama seperti vaksin hidup, pemberian vaksin inaktif pada anak dengan sakit ringan terbukti aman dan efektif.[11,12]

Pada anak dengan kondisi penyakit sedang atau berat, pemberian vaksin inaktif sebaiknya ditunda sebagai langkah kewaspadaan. Walaupun sampai saat ini tidak ada penelitian yang menunjukkan adanya penurunan efikasi vaksin akibat sakit sedang atau berat, tetapi dikhawatirkan reaksi pasca vaksinasi akan sulit dibedakan dengan perjalanan penyakit awal sehingga mempersulit penanganannya.[3,11]

Praktik Penundaan Vaksinasi yang Tidak Sesuai

Disisi lain, beberapa penelitian menunjukkan bahwa masih banyak tenaga kesehatan yang menunda pemberian vaksin dengan alasan yang tidak sesuai, karena banyak tenaga medis yang belum memahami secara betul kontraindikasi pemberian vaksin.[6,7]

Penelitian oleh Rivero et al, di Eropa pada tahun 2018, melibatkan 998 subjek dan menunjukkan bahwa 75,7% penundaan vaksin disebabkan oleh adanya demam. Hal ini menyebabkan penurunan jangkauan pemberian vaksin di masyarakat.[6]

Kolaborasi antara orang tua, tenaga kesehatan, dan sistem kesehatan diperlukan dalam meningkatkan jangkauan vaksinasi. Tenaga kesehatan memiliki peranan yang besar dalam memotivasi dan meningkatkan jangkauan vaksinasi melalui promosi dan edukasi.[4]

Kesimpulan

Demam bukan merupakan kontraindikasi tunggal dari pemberian vaksin. Untuk menentukan kesiapan anak divaksin, diperlukan evaluasi lebih lanjut mengenai kondisi keparahan penyakit pada anak. Anak dengan penyakit ringan, walaupun demam, seharusnya tetap dapat diberikan vaksin.

Pemberian vaksin pada sakit ringan tidak akan memperparah penyakit, tidak akan mempengaruhi efektivitas vaksin, dan terbukti aman pada anak. Penundaan vaksin dapat dilakukan jika anak mengalami sakit sedang dan berat. Hal ini sebagai bentuk kewaspadaan akan efek samping dari pemberian vaksin. Rekomendasi ini tidak berbeda antara pemberian vaksin hidup, inaktif, m-RNA, maupun tipe vaksin lainnya.

Perlu diingat bahwa dokter yang menunda vaksinasi anak karena demam dan penyakit ringan akan menyebabkan peningkatan risiko anak terinfeksi penyakit serius yang sebenarnya dapat dicegah dengan vaksinasi. Selain itu, herd immunity di masyarakat akan menurun, sehingga harus dilakukan segera dilakukan program imunisasi kejar. yang seringkali membingungkan dan dapat memperkuat misinformation terkait keamanan vaksin.

 

 

Penulisan pertama oleh: dr. Shofa Nisrina Luthfiyani

Referensi