Bukti Medis untuk Mematahkan Mitos Anti Vaksin

Oleh dr. Hunied Kautsar

Mitos anti vaksin tersebar secara luas sehingga orang tua menjadi ragu untuk memvaksinasi anaknya. Berikut adalah mitos-mitos yang beredar dan bukti medis untuk mematahkan mitos-mitos tersebut.

Vaksin menyebabkan autisme - salah satu mitos tentang vaksin. Sumber: nickelbabe, Pixabay, 2016. Vaksin menyebabkan autisme - salah satu mitos tentang vaksin. Sumber: nickelbabe, Pixabay, 2016.

Mitos 1: Vaksin Menyebabkan Autisme

  • Ketakutan mengenai vaksin meningkatkan resiko Autisme berasal dari sebuah studi oleh Andrew Wakefield (seorang dokter bedah dari Inggris) yang diterbitkan oleh sebuah jurnal medis prestisius, The Lancet, pada tahun 1997. [1]

  • Artikel tersebut kemudian didiskreditkan karena ditemukan bukti mengenai konflik keuangan, kesalahan dalam prosedur, dan pelanggaran etik.
  • Ijin praktek Andrew Wakefield dicabut dan artikel tersebut ditarik dari The Lancet.
  • Bahan di dalam vaksin yang disebut dapat meningkatkan resiko Autisme adalah thimerosal  (ethylmercury)
  • Berdasarkan riset-riset yang diadakan oleh CDC [2] kandungan thimerosal di dalam vaksin tidak bersifat toksik dan hanya berperan sebagai pengawet. Tidak ada hubungan antara thimerosal di dalam vaksin dengan autisme.

  • Sejak tahun 1999 penggunaan thimerosal di dalam vaksin dikurangi sebagai bentuk pencegahan. Saat ini hanya vaksin influenza yang masih mengandung thimerosal, alternatif vaksin influenza tanpa thimerosal juga tersedia. [2]

  • Riset lain membuktikan bahwa jumlah vaksin yang diterima oleh anak-anak sejak lahir hingga usia 2 tahun tidak berhubungan dengan resiko Autisme. [3]

  • Begitu pula dengan jumlah vaksin yang diberikan dalam satu kali kunjungan tidak berhubungan dengan resiko Autisme. [3]

  • Orang tua tidak perlu khawatir akan jumlah vaksin yang diberikan kepada anaknya sejak lahir hingga usia 2 tahun.

Mitos 2: Sistem Imun Bayi Tidak Bisa Mengatasi Berbagai Vaksin

  • Secara teoritis sistem imun bayi dapat mengatasi sampai 10.000 vaksin dalam satu waktu.
  • Jika semua 14 imunisasi yang terjadwal untuk bayi yang baru lahir diberikan dalam satu waktu, hanya 0,1% dari kapasitas sistem imun bayi tersebut yang akan terpakai.
  • Sistem imun bayi tidak akan kewalahan karena sel-sel imun akan selalu diperbarui.

Mitos 3: Imunitas Alami Lebih Baik dari Imunitas yang Didapat dari Vaksin

  • Untuk mendapatkan imunitas alami, seseorang harus terjangkit penyakit tertentu dan kemudian sembuh
  • Pada beberapa kasus, imunitas alami dapat menghasilkan imunitas yang lebih kuat jika dibandingkan dengan vaksinasi
  • Namun jika seseorang ingin mendapatkan imunitas alami dari sebuah penyakit, sebagai contoh penyakit campak (measles) berarti ia harus menghadapi kemungkinan kematian 1 diantara 500 kasus campak.
  • Resiko adanya reaksi alergi dari vaksin MMR kurang dari 1 diantara satu juta vaksinasi.

Mitos 4: Vaksin Mengandung Bahan-bahan Toksik

  • Bahan-bahan yang diduga bersifiat toksik di dalam vaksin adalah formaldehyde, thimerosal (etil merkuri), aluminium dan gelatin.
  • Bahan-bahan tersebut memang bersifat toksik pada level tertentu namun kandungannya di dalam vaksin tidak bersifat toksik.
  • Merkuri yang terkandung di dalam vaksin adalah etil merkuri, berbeda dengan metil merkuri yang biasa ditemukan di ikan dan berbahaya bagi tubuh jika dikonsumsi dengan jumlah besar.
  • Etil merkuri dipecah dan diekskresi dari tubuh jauh lebih cepat jika dibandingkan dengan metil merkuri. Tidak ada riset yang membuktikan hubungan etil merkuri di dalam vaksin dengan Autisme atau efek buruk lainnya. [4]

  • Formaldehid di dalam vaksin digunakan untuk menonaktifkan virus dan menetralkan toksin bakteri.
  • Berdasarkan FDA dan CDC, sistem metabolik tubuh manusia menghasilkan lebih banyak formaldehid jika dibandingkan dengan jumlah yang terkandung di dalam vaksin.
  • Jumlah formaldehid di dalam satu dosis vaksin hanya 0,02 mg, lebih sedikit jika dibandingkan dengan formaldehid sebesar 1,1 mg yang secara alami ada di dalam sistem metabolisme bayi yang berusia 2 bulan.
  • Aluminium yang terkandung di dalam vaksin berfungsi untuk meningkatkan respon sistem imun (adjuvan) sehingga dosis vaksin yang diberikan lebih sedikit.
  • Dalam 6 bulan pertama kehidupan, bayi akan menerima 4 mg alumunium dari vaksin, lebih sedikit dari jumlah alumunium yang didapat dari ASI yakni 10 mg atau 40 mg dari susu formula. [5]

  • Jumlah alumunium yang terkandung di dalam vaksin sangat kecil dan sebagian besar alumunium dieleminasi dari tubuh dengan cepat. [5]

  • Gelatin yang terkandung di dalam vaksin berguna untuk mencegah kerusakan yang diakibatkan oleh suhu yang terlalu tinggi atau terlalu rendah.
  • Kasus alergi yang disebabkan oleh gelatin di dalam vaksin sangat jarang terjadi, satu di antara 2 juta dosis vaksin. [6]

  • Di Indonesia, kandungan gelatin di dalam vaksin membuat beberapa orang tua meragukan kehalalannya. MUI sudah mengeluarkan fatwa mengenai imunisasi bahwa vaksin yang mengandung gelatin boleh digunakan pada kondisi darurat dan mendesak, belum ditemukan vaksin yang halal, serta ada keterangan tenaga medis bahwa tidak ada vaksin pengganti yang halal. [7]

Mitos 5: Vaksin Tidak Lagi Diperlukan karena Infeksi sudah Menghilang akibat Kebersihan dan Sanitasi yang Baik

  • Vaksin memang bukan satu-satunya faktor yang dapat menghambat penyebaran infeksi. Nutrisi, kebersihan, sanitasi, dan faktor lainnya juga memegang peranan.
  • Walau demikian, data statistik menunjukkan bahwa vaksin memegang peranan penting sehingga tetap diperlukan. Salah satu contoh adalah angka kejadian penyakit campak di Amerika Serikat yang menurun jauh sejak penggunaan vaksin campak seara luas pada tahun 1963.

  • Contoh lain adalah kejadian penyakit Haemophilus influenza tipe b (Hib) di Amerika Serikat yang menurun jauh dari yang sebelumnya stabil di kisaran 20 ribu kasus per tahun menjadi 1419 kasus pada tahun 1993. Jelas penyebab hal ini adalah vaksin karena tingkat kebersihan antara tahun 1990 sampai tahun 1993 tidak jauh berbeda.

Mitos 6: Resiko yang Diambil Tidak Sebanding dengan Manfaat Vaksin

  • Tidak ada penelitian kredibel yang menyebutkan efek buruk jangka panjang yang ditimbulkan oleh vaksin
  • Berdasarkan laporan CDC hanya ada satu kematian yang disebabkan oleh vaksin dari tahun 1990 sampai 1992 [8]

  • Kasus reaksi alergi terhadap vaksin secara umum hanya ada 1 kasus per satu sampai dua juta injeksi vaksin.

Mitos 7: Vaksin Bisa Menginfeksi Bayi dengan Penyakit yang Berusaha Dicegah oleh Vaksin Tersebut

  • Vaksin bisa menyebabkan gejala yang mirip dengan penyakit yang kelak akan dicegah.
  • Gejala yang ditimbulkan bukanlah tanda bayi terinfeksi dengan penyakit yang ingin dicegah.
  • Pada kasus dimana timbul gejala setelah injeksi vaksin (satu di antara satu juta kasus), penerima vaksin mengalami respon imun tubuh terhadap vaksin tersebut, bukan terhadap penyakit yang akan dicegah oleh vaksin.
  • Di Amerika, hanya ada satu kasus yang dilaporkan mengenai vaksin yang menyebabkan infeksi penyakit, yakni vaksin Polio Oral. Sejak saat itu, vaksin sudah aman untuk digunakan selama beberapa dekade dan diawasi ketat oleh FDA (Food and Drug Administration).

Mitos 8: Vaksinasi Tidak Diperlukan karena Tingkat Infeksi Beberapa Penyakit Sudah Rendah

  • Berkat adanya vaksin, tercipta imunitas komunitas (herd immunity) yakni keadaan dimana tidak seratus persen orang dalam sebuah komunitas harus divaksinasi untuk dapat melindungi komunitas tersebut dari infeksi suatu penyakit.
  • Hal ini penting untuk orang yang tidak bisa menerima vaksin, seperti orang yang menderita HIV/AIDS, orang dengan sistem imun rendah karena radioterapi atau kemoterapi, bayi dan lansia.
  • Orang yang bisa mendapat vaksinasi tetap memerlukan vaksinasi supaya tidak terjadi kembali wabah penyakit. Contoh adalah wabah penyakit campak pada tahun 2015 akibat meningkatnya jumlah orang yang tidak diimunisasi karena percaya akan perlindungan dari imunitas komunitas.

Referensi