Opsi Terapi Potensial Untuk COVID-19

Oleh :
dr. Eduward T, SpPD

Opsi terapi potensial untuk COVID-19 menurut World Health Organization (WHO) dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC), saat ini belum tersedia obat ataupun vaksin yang terbukti efektif.  Meskipun demikian, sejumlah agen sedang dikembangkan, baik dalam proses percobaan klinis atau dalam program compassionate use yang didasarkan pada aktivitas in vitro. Walaupun masih didukung oleh data klinis observasional yang terbatas.[1-4]

Kemenkes ft Alodokter Alomedika 650x250

Artikel ini akan mengulas tentang sejumlah obat antivirus, terapi pelengkap/adjunctive, dan vaksin yang sedang dikembangkan saat ini untuk tujuan terapi COVID-19. Obat antivirus yang sedang dikembangkan meliputi klorokuin, hidroksiklorokuin, lopinavir/ritonavir, remdesivir, favipiravir, oseltamivir, umifenovir, nitazoxanide, dan camostat mesylate. Sedangkan obat pelengkap yang sedang diteliti adalah anticytokine (tocilizumab, sarilumab), interferon-1, terapi imunoglobulin (plasma konvalesens dan hyperimmune immunoglobulin), azitromisin, kolkisin, dan vitamin C.

Klorokuin

Klorokuin pada mulanya hanya diterapkan untuk anti-malaria. Namun, bukti in vitro menunjukkan aktivitas terhadap virus corona termasuk SARS-CoV-2. Efek klorokuin terhadap virus corona antara lain inhibisi enzim virus atau proses polimerase RNA virus, glikosilasi protein virus, virus assembly, serta transpor partikel virus baru termasuk pelepasan virus dari sel yang terinfeksi. Mekanisme lainnya mencakup inhibisi reseptor sel Angiotensin Converting Enzyme 2/ACE2, dan asidifikasi permukaan membran sel yang menginhibisi fusi virus ke sel.[3-13]

shutterstock_1724630575

Selain dari efek antiviral, klorokuin juga terbukti mempunyai efek sebagai imunomodulator. Klorokuin dapat menginhibisi aktivasi fosforilasi p38 mitogen-activated protein kinase (MAPK) pada sel THP-1, yang mempengaruhi siklus replikasi virus. Klorokuin juga menyebabkan inhibisi interleukin-1 beta, interleukin-6, tumor necrosis factor-alpha atau sitokin pro-inflamasi, sehingga bisa menekan terjadinya badai sitokin.[3-9]

Cortegiani et al yang melakukan tinjauan sistematis tentang artikel-artikel yang mengulas efek klorokuin terhadap SARS-CoV-2, yang dipublikasi pada database PubMed, EMBASE, maupun database dari tiga Trial Registry hingga 1 maret 2020. Hasil tinjauan ini menemukan bahwa bukti preklinis sudah cukup menunjukkan efikasi klorokuin terhadap SARS-CoV-2, dan menjustifikasi percobaan klinis skala besar.[12]

Oleh karena data klinis yang masih kurang, saat ini WHO sedang melaksanakan percobaan multisenter dan multinasional, disebut percobaan SOLIDARITY, yang salah satunya menguji penerapan klorokuin pada pasien COVID-19 dalam skala besar. Terlepas dari masih minimnya bukti klinis, klorokuin sudah mendapat pengesahan terbatas dalam protokol penatalaksanaan COVID-19 di negara Korea Selatan, Italia, Indonesia, dan Amerika Serikat.[14-17]

Namun, ada bukti klinis yang menunjukkan efek samping dari penggunaan klorokuin dalam penatalaksanaan COVID-19, terutama risiko aritmia jantung yang berhubungan dengan pemanjangan interval QT, serta risiko kerusakan retina untuk penggunaan jangka panjang. Data produk klorokuin turut menyebutkan kehati-hatian penggunaan klorokuin pada pasien diabetes karena risiko hipoglikemia, dan pasien defisiensi enzim G6PD karena risiko anemia hemolitik.[3,17-20]

Hidroksiklorokuin

Meskipun sama-sama termasuk dalam obat golongan 4-aminoquinoline, hidroksiklorokuin berbeda dari klorokuin karena adanya grup hidroksil pada ujung rantai samping. Hidroksiklorokuin mempunyai farmakokinetik yang hampir serupa dengan klorokuin, tetapi memiliki farmakologi absorpsi gastrointestinal dan eliminasi renal yang lebih baik sehingga dapat mengurangi efek toksik. Efek samping dari hidroksiklorokuin serupa dengan klorokuin yakni pemanjangan interval QT, kerusakan retina, risiko hipoglikemia, serta anemia hemolitik. Efek antivirus maupun imunomodulator serupa dengan klorokuin. Studi preklinis in vitro telah menunjukkan bahwa hidroksiklorokuin mempunyai aktivitas antivirus terhadap SARS-CoV-2.[3-11,20-22,28]

Penelitian oleh Yao et al menunjukkan bahwa efek antiviral hidroksiklorokuin melebihi klorokuin. Aktivitas in vitro hidroksiklorokuin terhadap SARS-CoV-2 memiliki half-maximal effective concentration (EC50) yang lebih rendah daripada klorokuin setelah 24 jam dan 48 jam pertumbuhan virus. Penelitian oleh Gautret et al melakukan uji klinis non-acak label terbuka dengan grup intervensi 26 subyek dan kontrol 16 subyek, menunjukkan data bahwa terapi hidroksiklorokuin berhubungan dengan reduksi viral load pada pasien COVID-19, dan efeknya diperkuat oleh azitromisin.[8,22]

Penelitian lain oleh Zhaowei Chen et al pada 62 pasien COVID-19, grup terapi 31 pasien dan grup kontrol 31 pasien, menunjukkan bahwa 80,6% pasien di grup terapi hidroksiklorokuin (25 dari 31) mengalami perbaikan klinis pneumonia, termasuk perbaikan suhu badan dan gejala batuk,  jika dibandingkan dengan grup kontrol. Namun, hasil studi Jun Chen et al pada 30 pasien COVID-19 malah tidak menemukan perbedaan pada nasopharyngeal viral carriage pada hari ke-7 setelah penggunaan hidroksiklorokuin, jika dibandingkan dengan perawatan standar lokal.[23,24]

Karena data penelitian hidroksiklorokuin yang ada  belum cukup adekuat, terutama dari segi desain penelitian, maka saat ini sedang berlangsung penelitian DisCoVeRy dan Solidarity yang diharapkan akan memberikan data klinis yang lebih baik. Terlepas dari masih minimnya bukti klinis, hidroksiklorokuin sudah mendapat pengesahan terbatas dalam protokol penatalaksanaan COVID-19 di negara Korea Selatan, Italia, Indonesia, India, dan Amerika Serikat.[14-17,25-27]

Lopinavir/Ritonavir

Lopinavir/ritonavir merupakan protease inhibitor yang telah digunakan untuk perawatan HIV. Namun, data penelitian in vitro dan percobaan pada binatang menunjukkan adanya efek antiviral pada SARS-CoV dan MERS-CoV. Telah diketahui bahwa SARS-CoV-2 mempunyai kesamaan 79,5% sekuens RNA dengan SARS-CoV. Oleh karena itu, lopinavir/ritonavir diduga dapat dimanfaatkan untuk terapi COVID-19. Lopinavir/ritonavir berikatan dengan M proteinase yang merupakan enzim kunci dalam replikasi virus corona sehingga dapat mensupresi aktivitas virus corona.[3,29,30]

Belum ada publikasi tentang data klinis in vitro lopinavir/ritonavir pada SARS-CoV-2. Belum lama ini, Cao et al melaporkan hasil percobaan acak terkontrol label terbuka yang membandingkan efek lopinavir/ritonavir pada grup intervensi (n=99) dengan perawatan standar lokal (n=100) pada 199 pasien COVID-19. Mereka menemukan bahwa terapi lopinavir/ritonavir tidak berbeda signifikan dengan perawatan standar dalam hal waktu perbaikan klinis (hazard ratio perbaikan klinis 1,24; 95% CI 0,90-1,72). Demikian pula dengan mortalitas 28 hari (grup lopinavir/ritonavir 19,2% vs grup perawatan standar 25%; difference -5,8 percentage points; 95% CI -17,3 hingga 5,7).[10,31]

Selain itu, ada sebuah studi kohort dari 29 pasien COVID-19 oleh Zhou et al yang melaporkan bahwa tidak ditemukan perbedaan pada durasi viral shedding setelah terapi dengan lopinavir/ritonavir. Saat ini masih berlangsung penelitian SOLIDARITY yang dilakukan oleh WHO, yang menguji efek lopinavir/ritonavir pada pasien COVID-19 dalam skala besar.[14,32]

Adapun efek samping penggunaan lopinavir/ritonavir menurut laporan klinis adalah gangguan gastrointestinal seperti nausea dan diare (hingga 28%) dan hepatotoksisitas (2-10%). Pada pasien COVID-19, efek samping ini dapat dieksaserbasi oleh interaksi dengan obat lain ataupun oleh infeksi virus SARS-CoV-2, karena rata-rata 30% pasien COVID-19 sudah mengalami peningkatan enzim transaminase pada saat rawat inap.[3,20,31,33,34]

Remdesivir

Remdesivir, yang sebelumnya dikenal dengan GS-5734, adalah monophosphoramidate prodrug yang menjalani metabolisme menjadi C-adenosine nucleoside triphosphate analogue aktif atau RDV-TP (remdesivir-triphosphate), bekerja sebagai inhibitor RNA-dependent RNA polymerases (RdRps). Remdesivir-TP berkompetisi dengan adenosine-triphosphate pada proses inkorporasi rantai RNA virus. Begitu bergabung ke RNA virus di posisi i, RDV-TP menghentikan sintesis RNA pada posisi i+3. Remdesivir merupakan antiviral spektrum luas yang aktif terhadap Flaviviridae dan Coronaviridae,  termasuk SARS-CoV dan MERS-CoV.[7,35-38]

Pada studi preklinis, remdesivir telah menunjukkan aktivitas signifikan terhadap clinical isolate coronavirus SARS-CoV, dan memiliki barier genetik tinggi untuk resistensinya. Sebuah uji coba multisenter acak, buta ganda, terkontrol plasebo, melibatkan 237 pasien dewasa positif Covid-19 yang mendapatkan terapi oksigen. Hasil uji coba menunjukkan bahwa remdesivir tidak memberikan perbaikan klinis bermakna bila dibandingkan dengan plasebo. Selain itu efek samping yang timbul lebih tinggi pada kelompok remdesivir, bahkan pengobatan perlu dihentikan pada 12% pasien.[7,79]

Diperlukan studi kecil dan penelitian lebih lanjut untuk mengkonfirmasi efikasi dan keamanan obat ini. Saat ini masih berlangsung banyak penelitian yang menguji efikasi dan profil keamanan obat remdesivir pada pasien COVID-19, yaitu NCT04292899, NCT04292730, NCT04257656, NCT04252664, NCT04280705, dan NCT04280705.[7,35,39]

Favipiravir

Favipiravir, sebelumnya dikenal dengan T-705, merupakan prodrug dari nukleotida purin, favipiravir ribofuranosyl-5’-triphosphate. Agen ini menginhibisi enzim RNA polimerase yang menghambat proses replikasi virus. Data preklinis awal menunjukkan bahwa favipiravir mempunyai efek terhadap influenza dan Ebola. Namun, studi in vitro lanjutan ternyata menemukan efek favipiravir terhadap SARS-CoV-2, yaitu efek EC50 terhadap SARS-CoV-2 61,88 mikroMol/L pada sel Vero E6.[3,7,40]

Data penelitian klinis favipiravir pada pasien COVID-19 masih sangat terbatas dan tidak menunjukkan hasil seragam. Belum lama ini, Cai Qingxian et al  di Shenzhen melakukan percobaan eksperimental label terbuka non-acak untuk menguji efek favipiravir (n=35) vs lopinavir/ritonavir sebagai kontrol (n=45), pada 80 pasien COVID-19. Kedua grup mendapatkan terapi pelengkap interferon alfa via inhalasi aerosol. Mereka melaporkan bahwa waktu klirens virus yang lebih pendek ditemukan pada grup terapi favipiravir daripada grup kontrol (median 4 vs 11 hari, P<0,001). Hasil serupa ditemukan pula pada aspek perbaikan pencitraan toraks, dengan improvement rate 91,43% vs 62,22% (P=0,004) untuk keunggulan favipiravir.[41]

Penelitian lainnya dilakukan di Wuhan oleh Chen C et al, yang melakukan penelitian acak label terbuka pada 240 pasien COVID-19 untuk menguji efikasi favipiravir (n=120) versus arbidol (n=120). Hasil penelitian tidak menemukan perbedaan pada 7-day clinical recovery rate di antara kedua grup (61,21% vs 51,67%; p=0,14).[42]

Saat ini masih berlangsung tiga penelitian terhadap favipiravir, yaitu NCT04303299 di thailand, serta NCT04310228 dan Sihuan Pharmaceutical di Cina. Favipiravir telah digunakan secara terbatas di Indonesia untuk protokol penatalaksanaan COVID-19.[17,43-45]

Oseltamivir

Oseltamivir merupakan neuraminidase inhibitor. Obat ini sudah disahkan untuk penanganan influenza namun belum untuk kasus virus corona. Belum tersedia data in vitro tentang aktivitas oseltamivir terhadap SARS-CoV-2. Pada awalnya oseltamivir digunakan pada penanganan awal COVID-19 di Cina karena saat itu memasuki puncak musim influenza. Sejumlah penelitian klinis saat ini memasukkan oseltamivir pada grup perbandingan, bukan sebagai terapi intervensi yang diuji. Agen ini tidak mempunyai peran dalam penatalaksanaan COVID-19 saat diagnosis influenza dapat disingkirkan.[46,47]

Umifenovir

Umifenovir, atau dikenal juga dengan Arbidol, merupakan agen antiviral dengan mekanisme kerja unik, menargetkan S protein/ACE interaction dan menginhibisi fusi membran dari envelope virus. Agen ini sudah mendapat pengesahan di Rusia dan Cina untuk terapi dan profilaksis influenza. Data in vitro awal menunjukkan adanya aktivitas antiviral terhadap SARS sehingga obat ini sedang diteliti untuk penatalaksanaan COVID-19.[47,48]

Sebuah studi observasional non-acak pada 67 pasien COVID-19 di Wuhan menunjukkan bahwa umifenovir dengan durasi median 9 hari berhubungan dengan tingkat mortalitas rendah (0%; 0/36 vs 16%; 5/31), dan angka rawat jalan yang lebih tinggi daripada pasien yang tidak diberikan agen tersebut. Saat ini masih berlangsung penelitian acak terkontrol yang menguji efikasi obat ini untuk pasien COVID-19 di Cina. Dosis umifenovir 200 mg setiap 8 jam oral untuk influenza juga sedang diteliti untuk terapi COVID-19 (NCT04260594).[47-49]

Nitazoxanide

Nitazoxanide merupakan agen anthelmintic yang juga mempunyai aktivitas antiviral. Data in vitro  terbatas menemukan adanya efek antiviral terhadap MERS dan SARS-CoV-2. Saat ini belum ada data klinis penelitian yang menguji efikasi, aktivitas antivirus termasuk keamanan obat ini dalam penatalaksanaan COVID-19.[7,47,50]

Camostat Mesylate

Camostat mesylate merupakan obat yang disahkan dalam penatalaksanaan pankreatitis di Jepang. Namun, studi in vitro  menemukan bahwa agen ini dapat mencegah proses entry sel SARS-CoV-2 melalui inhibisi host serine protease (TMPRSS2). Belum tersedia data penelitian lanjutan terhadap efikasi obat maupun keamanan pada COVID-19.[47,51]

Anticytokine

Rasionalisasi penggunaan anticytokine adalah patofisiologi kerusakan jaringan dan organ yang didasari oleh respons imun berlebihan, terutama pelepasan sitokin proinflamasi yang berlebihan atau badai sitokin pada COVID-19. Tampak bahwa interleukin-6 merupakan kunci utama dalam respon disregulasi inflamasi berdasarkan sejumlah laporan kasus berseri di Cina. Oleh karena itu, penggunaan antibodi monoklonal terhadap IL-6 diduga bisa meningkatkan luaran klinis pasien COVID-19.[47,52,53]

Tocilizumab, monoklonal antibodi IL-6 receptor antagonist, telah digunakan pada sejumlah kasus COVID-19. Laporan kasus dari 21 pasien COVID-19 menunjukkan bahwa pemberian tocilizumab berhubungan dengan perbaikan klinis hingga 91% pasien dalam aspek perbaikan fungsi respirasi, penurunan demam, dan angka rawat jalan, meski hanya mendapatkan satu dosis saja.[47,54]

Tocilizumab sudah disahkan dalam pedoman terapi nasional Cina saat ini. Sejumlah percobaan klinis acak terkontrol tocilizumab yang dikombinasikan atau pemberian secara tunggal pada pasien COVID-19 dengan pneumonia berat masih berlangsung di Cina (NCT04310228, ChiCTR200002976). Obat antagonis reseptor IL-6 lainnya, Sarilumab, sementara menjalani penelitian multisenter, buta ganda, fase 2/3 pada pasien COVID-19 rawat inap (NCT04315298).[3,47,55,56]

Interferon Tipe I (IFN-I)

Interferon tipe-1 merupakan grup sitokin yang terdiri dari subtipe alfa dan beta, disekresikan oleh sel imun terutama sel dendritik plasmasitoid disaat proses rekognisi komponen virus melalui pattern recognition receptors. IFN-1 adalah sitokin pertama yang terbentuk pada awal infeksi virus. Fiksasi interferon pada reseptor IFNAR di membran plasma sel akan menginduksi fosforilasi faktor transkripsi seperti STAT1 dan mengaktivasi interferon-stimulated genes yang akan berperan pada inflamasi, sinyaling dan imunomodulasi. Mereka akan mengganggu replikasi virus maupun penyebarannya melalui perlambatan metabolisme sel, atau sekresi sitokin lainnya yang akan mengaktivasi imunitas adaptif.[57]

Sejumlah studi in vitro  maupun in vivo tentang IFN-1 yang sudah diteliti pada MERS-CoV dan SARS-CoV menunjukkan bahwa interferon tipe 1 subtipe beta (IFN beta) lebih poten terhadap virus corona daripada IFN alfa. Oleh karena SARS-CoV-2 berbagi kesamaan hampir 80% dengan SARS-CoV, terapi interferon-I khususnya interferon beta-1 alfa diduga bermanfaat pada pasien COVID-19. Fakta tersebut berhubungan dengan aktivitas protektif IFN beta 1 di paru-paru, yaitu upregulasi CD73 pada sel endotel paru yang menghasilkan sekresi adenosin anti-inflamasi dan mempertahankan barier endotel. Hal ini menjelaskan potensi IFN beta 1 dalam mereduksi kebocoran vaskuler pada acute respiratory distress syndrome/ARDS.[57,58]

Saat ini sedang berlangsung studi tentang Interferon beta-1 alfa yang menyelidiki efikasi terhadap perbaikan derajat kerusakan COVID-19.[14,57,59]

Terapi Imunoglobulin

Potensi terapi imunoglobulin untuk COVID-19 meliputi penggunaan plasma konvalesens  atau hyperimmune immunoglobulin intravena (IVIg). Alasan rasional di balik terapi ini adalah antibodi dari pasien COVID-19 yang sudah sembuh dapat membantu imunitas pasien yang sedang terinfeksi dalam clearance virus.[3,47, 60-65]

Hal tersebut didukung oleh laporan sistematis dan meta-analisis eksplorasi yang dilakukan oleh Mair-Jenkins et al terhadap 8 studi observasional dari 714 pasien SARS, yang menunjukkan bahwa pemberian plasma konvalesen dan hyperimmune immunoglobulin berhubungan dengan penurunan mortalitas, meskipun kualitas studi yang dinilai masih rendah dan berisiko bias publikasi. Secara teori, manfaat terapi imunoglobulin ini amat krusial pada waktu 7-10 hari infeksi COVID-19, dimana viremia mencapai puncak dan respons imun pasien belum optimal.[47,61]

Belum lama ini, laporan awal dari kasus berseri lima pasien kritis COVID-19 yang mendapat transfusi plasma konvalesens dengan antibodi (IgG) spesifik SARS-CoV-2 dengan titer > 1:1000 (diberikan pada rentang 10-22 hari setelah masuk rawat inap) menunjukkan pemulihan dalam aspek suhu tubuh, skor SOFA /Sequential Organ Failure Assessment, dan rasio PaO2/FiO2, serta penurunan viral load. Untuk menindaklanjuti masih kurangnya data klinis, tanggal 24 maret 2020, pihak FDA telah mengeluarkan pedoman terbatas untuk penerapan investigasi darurat, maupun skrining donor untuk terapi plasma konvalesens COVID-19.[3,47,62,63]

Laporan kasus serial lainnya dari 3 pasien COVID-19 di Wuhan yang diberikan imunoglobulin intravena (IVIg) dengan dosis 0,3-0,5 g/kg/hari selama 5 hari menunjukkan pemulihan klinis, resolusi hasil radiografi, maupun konversi negatif tes PCR. Tiga pasien tersebut dilaporkan tidak mengalami efek samping serius. Saat ini masih berlangsung penelitian acak terkontrol yang mengevaluasi efikasi terapi IVIg pada pasien COVID-19 kritis (NCT 04261426).[47,64]

Azitromisin

Azitromisin, antibakteri makrolida, berperan dalam menangani superinfeksi bakteri pada pasien COVID-19. Selain itu, azitromisin juga bermanfaat dalam mengurangi respons inflamasi melalui penurunan kemotaksis neutrofil di jaringan paru dengan cara inhibisi interleukin-8, menghambat hipersekresi mukus, penurunan reactive oxygen species, mempercepat apoptosis neutrofil, dan memblok aktivasi faktor transkripsi nukleus.[3,66,67]

Data klinis efek azitromisin pada pasien COVID-19 masih sangat terbatas. Data awal dilaporkan pada penelitian non-acak label terbuka oleh Gautret et al di Perancis. Total 26 pasien yang diberikan hidroksiklorokuin sulfat 200 mg tiga kali sehari, dengan enam pasien diantaranya diberikan tambahan azitromisin dengan tujuan mencegah superinfeksi bakteri. Mereka melaporkan bahwa 100% pasien yang mendapat kombinasi azitromisin dan hidroksiklorokuin menunjukkan perbaikan (virologically cured), lebih tinggi jika dibandingkan dengan pasien yang hanya mendapat hidroksiklorokuin saja (57,1%).[3,22]

Adapun efek samping merugikan dari pemberian azitromisin adalah risiko aritmia akibat dari pemanjangan interval QT.[3,22]

Kolkisin

Salah satu agen terapi pelengkap yang terbaru untuk terapi COVID-19 adalah kolkisin. Alasan rasional pemanfaatan kolkisin adalah aksi kolkisin pada inhibisi non-selektif Nod-like receptor family pyrin domain-containing 3 (NLRP3) inflammasome atau inflammasome-regulated cytokine yang diaktivasi oleh viroporin 3a SARS-CoV yang terlibat pada kerusakan paru akut. Saat ini sedang berlangsung penelitian acak label terbuka yang menyelidiki efikasi kolkisin dalam pencegahan komplikasi COVID-19 (NCT04326790).[68,69]

Vitamin C

Potensi vitamin C pada terapi COVID-19 dilatarbelakangi oleh efek imunomodulator dan antioksidannya. Temuan data awal penelitian dengan desain before after study oleh Marik et al menunjukkan bahwa pemberian vitamin C bersama dengan hidrokortison dan tiamin/vitamin B1 dapat mencegah perburukan disfungsi organ dan mengurangi mortalitas pada pasien sepsis berat maupun syok sepsis. Penelitian lainnya menemukan keuntungan vitamin C dalam hal vasopressor sparing effects, dan mengurangi kebutuhan ventilasi mekanik serta lama rawat di ruang intensif.[70-72]

Saat ini masih berlangsung penelitian NCT04264533 yang menyelidiki dampak vitamin C pada pasien COVID-19. Vitamin C telah digunakan sebagai terapi pendamping pada protokol terapi COVID-19 di Indonesia, walaupun belum ada bukti penelitian yang kuat mengenai efikasinya.[17,73]

Vaksin Virus Corona

Sejumlah upaya telah dilakukan untuk mengembangkan vaksin terhadap infeksi virus corona termasuk MERS-CoV, SARS-CoV, maupun SARS-CoV-2. Akan tetapi belum membuahkan hasil. Mayoritas pengembangan vaksin saat ini terfokus pada glikoprotein spike atau protein S sebagai inducer utama untuk produksi antibodi netralisasi virus corona. Molekul protein S terdiri dari 2 subunit, yaitu subunit S1 yang mempunyai receptor binding domain/RBD yang berinteraksi dengan reseptor ACE2 pada sel inang, sedangkan subunit S2 akan memperantarai fusi antara virus dengan membran sel inang guna memasukkan RNA virus ke sitoplasma untuk proses replikasi partikel virus. Oleh sebab itu, vaksin dengan basis protein S diharapkan dapat menginduksi antibodi netralisasi yang mampu memblok viral receptor binding dan juga virus genome uncoating.[74,75]

Saat ini sedikitnya ada 40 percobaan vaksin COVID-19 yang sedang berlangsung, mayoritas sementara menyelesaikan tahap preklinis dan beberapa sudah memasuki fase klinis I dan II.[76]

Vaksin BCG

Dilatarbelakangi oleh bukti epidemiologi bahwa jumlah mortalitas pasien COVID-19 lebih rendah pada negara dengan populasi yang diberikan vaksin Bacillus Calmette-Guérin/BCG, saat ini sedang diselidiki potensi antiviral vaksin BCG  pada COVID-19. Studi menunjukkan bahwa BCG priming menginduksi perubahan pada NOD2 dan mTOR pada landscape epigenetik sel imun yang mana meningkatkan kemampuan imunitas host (imunitas bawaan dan adaptif). Epigenetic-mediated immune ini diduga bisa bermanfaat sebagai antivirus pada COVID-19. Saat ini masih berlangsung dua penelitian klinis yang menyelidiki isu tersebut. Untuk saat ini, WHO belum merekomendasikan vaksinasi BCG untuk tindakan pencegahan COVID-19.[77,78]

Kesimpulan

Hingga saat ini belum tersedia obat antivirus, terapi pelengkap, maupun vaksin yang sudah teruji secara klinis untuk terapi ataupun pencegahan COVID-19. Yang dimaksud teruji secara klinis adalah fase 3 pada penelitian klinis lengkap.  Meski demikian, sementara menunggu hasil penelitian klinis yang sedang dilakukan, sejumlah opsi dapat digunakan secara terbatas, baik dalam lingkup tujuan penelitian ataupun compassionate use. Pemberian terapi ini harus dalam pengawasan tim medis sesuai pedoman yang berlaku di negara masing-masing. Saat ini klorokuin, hidroksiklorokuin, favipiravir, oseltamivir, azitromisin, dan vitamin C telah diaplikasikan pada protokol terapi COVID-19 di Indonesia.

Referensi