Manfaat Vitamin D pada COVID-19

Oleh :
dr. Anastasia Feliciana

Berbagai literatur menyatakan bahwa vitamin D bermanfaat dalam mengurangi mortalitas akibat pandemi COVID-19.

Kemenkes ft Alodokter Alomedika 650x250

Pandemi COVID-19 telah merenggut ratusan ribu jiwa di seluruh dunia. Infeksi severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) ini menunjukkan spektrum penyakit yang luas, dengan sebagian besar pasien mengalami gejala ringan atau bahkan asimtomatik.

Variasi yang besar dalam angka mortalitas COVID-19 antar negara dan wilayah telah dilaporkan. Selain umur, penyakit komorbid, dan ketersediaan fasilitas kesehatan; status kecukupan vitamin D diasumsikan memainkan peranan, mengingat angka mortalitas COVID-19 ditemukan relatif lebih tinggi pada negara dengan insidensi defisiensi vitamin D yang tinggi, seperti Italia, Spanyol, dan Perancis.

shutterstock_1710564547-min (1)

Selain itu, waktu terjadinya pandemi COVID-19 yang bertepatan saat musim dingin, yaitu saat kadar vitamin D berada pada titik terendah, turut mendukung potensi keterlibatan vitamin D dalam mengurangi risiko COVID-19.[1-3]

Sekilas tentang Vitamin D

1,25-dihydroxyvitamin D3 (1,25(OH)2D3) merupakan bentuk aktif dari vitamin D3 yang diproduksi dominan oleh prekursor dalam kulit melalui radiasi ultraviolet B (UVB) terhadap 7-dehydrocholesterol. Vitamin D banyak ditemukan di produk susu, sereal, dan minyak ikan. Kadar serum vitamin D >30 µg/mL (>75 µmol/L) merupakan konsentrasi optimal yang memberi manfaat untuk kesehatan.

Seiring bertambahnya usia, kemampuan kulit memproduksi vitamin D3 semakin berkurang. Pada musim dingin, sangat sedikit radiasi UVB yang sampai ke permukaan bumi (di daerah tertentu), hal ini membuat risiko defisiensi vitamin D saat musim dingin meningkat. Walaupun wilayah tropis mendapat paparan sinar matahari lebih tinggi, hal ini tidak menjamin kecukupan vitamin D apabila kegiatan sosial dan budaya masyarakat saat adanya paparan sinar matahari dibatasi, terutama dengan adanya anjuran stay at home saat pandemi ini.[1,4,5]

Peran Vitamin D dalam Modulasi Sistem Imun

Vitamin D menghambat ekspresi dan mengurangi transkripsi beberapa sitokin proinflamasi. Di lain sisi, vitamin D juga meningkatkan sitokin T helper yang bersifat antiinflamasi. Vitamin ini juga memiliki efek antiproliferatif yang poten pada sel T, khususnya sel T helper, dan menurunkan produksi antibodi sel B.

Peran penting vitamin D3 sebagai regulator imun bukan hanya karena interaksinya dengan sel limfosit T, tetapi juga interaksinya dengan antigen-presenting cell (APC). Monosit yang terpapar vitamin D3 akan mengurangi major histocompatibility complex (MHC) kelas II. Pada akhirnya, vitamin D akan menghambat pengeluaran sitokin proinflamasi oleh makrofag serta meningkatkan regulasi peptida antimikrobial yang memiliki potensi antiviral.[4,6]

Vitamin D juga mengurangi respons inflamasi terhadap infeksi SARS-CoV-2, di mana vitamin D mampu berinteraksi dengan protein angiotensin-converting-enzyme 2 (ACE2) sebagai reseptor masuknya virus SARS-CoV-2.[7]

Peran Vitamin D terhadap Berbagai Penyakit Saluran Napas

Selain berperan dalam kesehatan tulang dan homeostasis kalsium, banyak bukti menyatakan bahwa vitamin D memainkan peran dalam pencegahan dan terapi berbagai macam penyakit infeksi respiratorik, seperti tuberkulosis paru dan influenza.[6]

Dalam sebuah meta analisis yang dilakukan oleh Nnoaham et al, dikemukakan bahwa kadar vitamin D3 yang rendah berhubungan dengan kerentanan terinfeksi tuberkulosis paru yang aktif dengan tingkat keparahan yang lebih berat.[6]

Protein pengikat vitamin D atau vitamin D binding protein (DBP) merupakan protein multifungsi yang tidak hanya berperan dalam resorpsi tulang tetapi juga mengaktifkan makrofag. Kadar DBP yang normal adalah sekitar 300-900 mg/L, di mana konsentrasi yang rendah berhubungan dengan acute respiratory distress syndrome (ARDS) pada pasien cystic fibrosis.[8]

Sebuah meta analisis yang dilakukan oleh Zhou et al menyimpulkan bahwa defisiensi vitamin D secara signifikan meningkatkan risiko infeksi community-acquired pneumonia (CAP) sebesar 1,65 kali lebih tinggi. Penurunan kadar vitamin D sebesar 5,63 µg/mL ditemukan pada penderita CAP. Akan tetapi, studi lebih lanjut diperlukan untuk menentukan efek eksplisit dari vitamin D.[9]

Melalui meta analisis, Bergman et al juga turut menyatakan bahwa pemberian vitamin D sebagai profilaksis dapat mengurangi risiko terjangkit infeksi saluran napas. Efek protektif vitamin D paling besar ditunjukkan pada pemberian harian dengan dosis sekali sehari. Akan tetapi, vitamin D tidak menunjukkan efek ketika diberikan dalam dosis bolus besar dengan frekuensi sebulan sekali atau lebih jarang.[10]

Melalui sebuah meta analisis, Martineau et al juga turut mengonfirmasi bahwa suplementasi vitamin D mempunyai efek protektif terhadap infeksi saluran pernapasan. Selain itu, manfaat vitamin D semakin terlihat pada pasien dengan kadar vitamin D yang sangat rendah, yaitu <10 µg/mL (<25 µmol/L).[11]

Dosis vitamin D harian yang digunakan pada studi untuk menilai manfaatnya adalah 1000–4000 IU/ hari.[1,10-12]

Peran Vitamin D pada Infeksi COVID-19

Vitamin D telah terbukti dalam menurunkan risiko infeksi saluran pernapasan. Bersamaan dengan itu, efeknya dalam meningkatkan imunitas seluler dan adaptif juga turut membuat vitamin D patut dipertimbangkan sebagai opsi potensial untuk mengobati dan mencegah COVID-19.

Sampai saat ini, belum ada uji klinis yang dilakukan untuk menentukan efek vitamin D secara spesifik dalam menyupresi rantai SARS-CoV-2. Beberapa studi telah meneliti luaran klinis pasien COVID-19 berdasarkan status vitamin D.

Sebuah meta analisis yang dilakukan oleh Alipio meneliti 212 pasien COVID-19 dan status vitamin D. Rerata kadar serum vitamin D adalah 31,2 µg/mL pada gejala ringan; 27,4 µg/ml pada gejala sedang; dan 21,2 µg/ml pada gejala berat.

Kadar vitamin D yang normal ditemukan pada 55 pasien dan mayoritas (85,5%) mengalami gejala ringan. Status insufisiensi vitamin D ditemukan pada 80 pasien dan mayoritas (43,8%) mengalami gejala sedang. Pasien dengan status defisiensi vitamin D ada sebanyak 77 orang dan mayoritas (40,3%) mengalami gejala berat. Studi ini menyimpulkan bahwa kadar serum vitamin D berkaitan dengan luaran klinis pasien COVID-19. Dalam hal ini, suplementasi vitamin D mungkin dapat meningkatkan luaran klinis pasien COVID-19, tetapi studi uji klinis acak terkontrol dengan sampel besar perlu dilakukan untuk mengonfirmasinya.[11]

Sebuah studi kohort retrospektif di Indonesia, dengan sampel 780 pasien COVID-19, meneliti tentang keterkaitan status vitamin D dan mortalitas pasien COVID-19. Setelah mengesampingkan faktor perancu, seperti usia, jenis kelamin, dan komorbiditas; hasil studi ini menyimpulkan bahwa status vitamin D berkaitan erat dengan mortalitas pasien COVID-19. Angka mortalitas ditemukan lebih tinggi pada pasien dengan insufisiensi vitamin D. Jika dibandingkan dengan pasien COVID-19 dengan status vitamin D yang normal, risiko kematian meningkat sebanyak 10,12 kali pada pasien COVID-19 dengan defisiensi vitamin D.[13]

Dalam tinjauan naratif, Grant et al mendukung peran vitamin D dengan konsentrasi tinggi dalam menurunkan risiko infeksi infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), termasuk influenza, pneumonia, dan infeksi coronavirus. Suplementasi vitamin D3 dapat diberikan untuk meningkatkan konsentrasi vitamin D. Kisaran optimal vitamin D untuk mencapai efek protektif adalah 40-60 µg/mL. Untuk mencapai kadar tersebut, suplementasi vitamin D3 perlu diberikan dengan dosis 10.000 IU per hari selama sebulan, lalu dilanjutkan dengan dosis 5.000 IU per hari. Jika vitamin D dosis tinggi diberikan, suplementasi kalsium tidak boleh diberikan dalam dosis tinggi untuk menghindari terjadinya hiperkalemia.[14]

Di lain sisi, National Heart, Lung and Blood Institute (NHBLI) melakukan uji acak terkontrol dan menyimpulkan bahwa suplementasi vitamin D3 dosis tinggi tidak memberikan keuntungan yang lebih besar daripada plasebo pada mortalitas pasien dengan defisiensi vitamin D yang sakit kritis. Oleh karena itu, disarankan untuk memberikan suplementasi vitamin D sesuai kebutuhan nutrisi standar harian.[1,15,16]

Kesimpulan

Vitamin D telah berperan dalam modulasi sistem imun dengan menghambat pengeluaran sitokin proinflamasi dan meningkatkan sitokin yang bersifat antiinflamasi. Vitamin D juga mampu berinteraksi dengan protein angiotensin-converting-enzyme 2 (ACE2) sebagai reseptor masuknya virus SARS-CoV-2, sehingga mengurangi respons inflamasi terhadap infeksi SARS-CoV-2.

Berbagai studi menyatakan bahwa vitamin D mempunyai peran dalam pencegahan dan terapi penyakit infeksi saluran pernapasan, seperti tuberkulosis paru, influenza, dan community acquired pneumonia (CAP). Berdasarkan studi-studi ini, vitamin D patut dipertimbangkan sebagai terapi ajuvan untuk mengobati dan mencegah COVID-19.

Walaupun uji klinis yang meneliti efek vitamin D secara spesifik terhadap SARS-CoV-2 belum tersedia, berbagai studi telah menunjukkan hubungan antara status vitamin D dan luaran klinis serta mortalitas akibat COVID-19. Oleh karena itu, vitamin D dinilai punya manfaat sebagai profilaksis dan terapi COVID-19.

Meskipun demikian, suplementasi vitamin D dalam dosis tinggi (untuk mencapai efek protektifnya) masih menunjukkan hasil yang inkonklusif. Oleh karena itu, uji klinis lebih lanjut dengan desain studi lebih baik dan sampel yang lebih besar perlu dilakukan untuk mengonfirmasi lebih dalam lagi tentang manfaat vitamin D pada COVID-19.

Referensi