Potensi Vitamin C dalam Penatalaksanaan COVID-19

Oleh :
dr.Reni Widyastuti, Sp.FK

Coronavirus disease 2019 (COVID-19) sebagai emerging disease sampai saat ini belum disertai dengan terapi yang sudah terstandarisasi. Berdasarkan penelitian sebelumnya, didapatkan keuntungan pemberian vitamin C pada pasien sepsis berat maupun Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS), sehingga secara empiris ada tempat pemberian vitamin C pada pasien Coronavirus disease 2019 (COVID-19) komplikasi sepsis maupun ARDS.

 Kemenkes ft Alodokter Alomedika 650x250

Coronavirus disease 2019 (COVID-19) merupakan infeksi saluran nafas yang disebabkan oleh coronavirus dan pertama kali ditemukan di Wuhan, Cina pada bulan Desember 2019. Sebagian besar pasien COVID-19 menampakkan gejala ringan atau tanpa komplikasi, akan tetapi sekitar 14% pasien memiliki gejala berat yang memerlukan perawatan di rumah sakit dan suport oksigen, dan 5% pasien memerlukan perawatan di intensive care unit (ICU).

Pada kasus yang berat, COVID-19 dapat disertai dengan acute respiratory distress syndrome (ARDS), sepsis dan syok septik, kegagalan multiorgan, termasuk acute kidney injury (AKI) dan cardiac injury. Pada pasien COVID-19, jumlah total sel B, sel T, dan sel natural killer (sel NK) menurun secara signifikan dan lebih jelas penggunaannya pada kasus berat dibandingkan kasus yang tidak berat. Saat ini terdapat beberapa terapo potensial yang digunakan untuk tatalaksana kasus COVID-19, salah satunya adalah vitamin C.[1-4]

 shutterstock_1033448467-min

Keamanan Vitamin C Dosis Tinggi

Suatu uji klinik menilai keamanan penggunaan vitamin C intravena pada pasien dengan sepsis berat. Pada uji klinik tersebut, subjek penelitian dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok yang mendapat plasebo, vitamin C dengan dosis 50 mg/kg/24 jam, dan   vitamin C dengan dosis 200 mg/kg/24 jam. Dari penelitian tersebut didapatkan bahwa tidak ada efek samping yang muncul pada pasien yang mendapat vitamin C intravena dan disimpulkan bahwa pemberian vitamin C intravena aman dan dapat ditoleransi oleh pasien pada penelitian ini.[11,12]

Sementara itu, terdapat beberapa laporan kasus yang menyebutkan terjadinya oxalate nephropathy pada pasien yang mendapat vitamin C dosis tinggi. Oxalate nephropathy terjadi akibat akumulasi kalsium oksalat. Hal ini bisa disebabkan karena tingginya konsumsi prekursor oksalat, salah satunya adalah vitamin C. Risiko lain yang harus diwaspadai pada penggunaan vitamin C dosis tinggi adalah terjadinya hemolisis pada pasien dengan defisiensi enzim G6PD dan iron overload pada pasien haemochromatosis.[13-15]

Peran Vitamin C pada COVID-19 Komplikasi Sepsis

Diantara berbagai fungsi vitamin C, fungsi yang relevan dengan kondisi kritis pada kasus COVID-19 diantaranya fungsi vitamin C dalam meningkatkan sistem imun dan fungsinya sebagai antioksidan. Vitamin C dapat meningkatkan kemotaksis dan fagositosis neutrofil sehingga meningkatkan bersihan mikroba. Selain itu, vitamin C meningkatkan diferensiasi, proliferasi, dan memodulasi fungsi sel T, Sel B, dan sel natural killer. Vitamin C juga mampu menginduksi produksi antibodi pada manusia.[5-7]

Defisiensi vitamin C dapat menyebabkan gangguan imunitas dan peningkatan kerentanan terhadap infeksi. Pada COVID-19, Ketika respon imun protektif terganggu, virus akan berpropagasi dan menyebabkan terjadinya kerusakan pada jaringan. Sel yang rusak menginduksi inflamasi di paru yang sebagian besar dimediasi oleh makrofag proinflamasi dan granulosit. Pada sepsis, terjadi stres oksidatif dan terbentuk mediator pro-inflamasi secara berlebihan. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan permeabilitas endotel sehingga terjadi gangguan mikrosirkulasi. Vitamin C dapat membatasi kerusakan endotel yang disebabkan oleh ROS (reactive oxygen species) tersebut. Vitamin C yang digunakan secara intravena dengan dosis tinggi dapat bekerja secara pleiotropik sebagai prooksidan yang membantu meningkatkan bersihan cairan alveolar dan sebagai antioksidan yang memperbaiki fungsi epitel.[6,8-10].

Potensi Vitamin C sebagai Terapi COVID-19

Vitamin C memiliki potensi untuk digunakan pada terapi COVID-19 karena dapat meningkatkan sistem imun dan berfungsi sebagai antioksidan. Dari beberapa penelitian juga didapatkan efek positif pemberian vitamin C pada kondisi kritis dan sepsis, sehingga diharapkan bermanfaat pada pasien COVID-19 dengan kondisi tersebut. Salah satu penelitian awal mengenai penggunaan vitamin C pada sepsis dilakukan oleh Marik et al. Pada penelitian dengan desain before-after study tersebut disimpulkan bahwa pemberian vitamin C, bersama dengan hidrokortison dan tiamin dapat mencegah progresi disfungsi organ dan mengurangi mortalitas pada pasien sepsis berat dan syok septik. Akan tetapi terdapat beberapa kelemahan dari penelitian tersebut diantaranya tidak ada penyamaran, adanya 3 intervensi sekaligus, dan besar sampel relatif kecil sehingga dapat membatasi generalisasi dari hasil penelitian tersebut.[5,16]

Keuntungan Vitamin C sebagai Terapi Sepsis dan ARDS

Suatu metaanalisis dan telaah sistematik terkait penggunaan vitamin C pada pasien penyakit kritis dilakukan oleh Zhang dan Jativa. Studi tersebut merangkum lima studi randomized controlled trial (RCT) dan satu studi retrospektif dengan total sampel sebanyak 142 sampel. Studi tersebut mendapatkan bahwa dibandingkan dengan kontrol, penggunaan vitamin C intravena berhubungan dengan penurunan kebutuhan vasopresor dan berkurangnya durasi ventilasi mekanik, tapi tidak terdapat perbedaan dalam hal mortalitas. Disimpulkan bahwa vitamin C intravena memiliki vasopressor sparing effects dan mengurangi kebutuhan terhadap ventilasi mekanik pada pasien dengan penyakit kritis, tanpa mempengaruhi mortalitas.[17,18]

Meta analisis oleh Hemila dan Chalker yang melibatkan 12 studi dengan total 1766 pasien mendapatkan bahwa pemberian vitamin C dapat memperpendek lama perawatan di ICU. Meta analisis dari 6 studi mendapatkan bahwa vitamin C dapat mengurangi durasi penggunaan ventilasi mekanik. Hasil yang berbeda didapatkan pada meta analisis dari 44 uji klinik juga dilakukan oleh Putzu et al. Dari studi tersebut didapatkan bahwa pemberian vitamin C tidak memiliki efek signifikan terhadap durasi rawat di ICU atau rumah sakit.[19,20]

Review sistematik dan meta analisis oleh Lin et al. melibatkan 4 RCT dan 2 studi retrospektif. Dari meta analisis tersebut didapatkan bahwa vitamin C dosis tinggi  (>50 mg/kg/hari) secara signifikan mengurangi angka kematian pasien dengan sepsis berat. Akan tetapi, penambahan vitamin C dosis tinggi pada terapi sepsis berat tidak mengurangi lama perawatan di ICU. Hasil ini didukung hasil meta analisis oleh Li yang menyimpulkan bahwa terdapat korelasi positif antara pemberian vitamin C pada kasus sepsis dengan kesintasan yang lebih baik dan penggunaan durasi vasopresor yang lebih pendek.[9,21]

Peran Vitamin C pada COVID-19

Sampai artikel ini ditulis, belum ada hasil uji klinik terkait penggunaan vitamin C pada kasus COVID-19. Penggunaan vitamin C untuk saat ini adalah sebagai terapi empiris berdasarkan pengalaman para klinisi di Cina yang memberikan vitamin C intravena dengan dosis berkisar antara 50 - 200 mg/kgBB sesuai tingkat keparahan penyakit. Selain itu, pemberian vitamin C telah terbukti mencegah tertularnya infeksi saluran pernapasan akut pada beberapa populasi khusus seperti marathon, atlit ski, dan anggota militer, namun tidak pada populasi umum. Dari penelitian didapatkan bahwa suplementasi reguler dengan dosis minimal 200 mg/hari dapat mengurangi durasi ISPA sebanyak 8% pada dewasa [4,22]  

Panduan yang dikeluarkan oleh Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) merekomendasikan penggunaan vitamin C untuk terapi pneumonia COVID-19.           Untuk pneumonia COVID-19 tanpa gejala dan gejala ringan diberikan vitamin C oral dengan dosis 100-200 mg sebanyak 3x/hari. Untuk pneumonia COVID-19 gejala sedang dan berat direkomendasikan pemberian vitamin C intravena. Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) dalam webinarnya merekomendasikan penggunaan vitamin C dengan dosis 200-400 mg/8 jam secara intravena untuk pasien COVID-19 gejala sedang dan berat [23-25]

Saat ini uji klinik mengenai penggunaan vitamin C intravena pada kasus COVID-19 sedang berlangsung di Cina. Pada uji klinik tersebut, dosis vitamin C intravena adalah 12 gram yang diberikan dua kali sehari selama 7 hari dan dibandingkan dengan plasebo. Uji klinik tersebut diperkirakan selesai pada akhir September 2020 (nomor uji klinik ClinicalTrial.gov: NCT04264533). [4,26,27]

 

Kesimpulan

Secara teoritis, terdapat berbagai manfaat penggunaan vitamin C yang relevan dengan kasus COVID-19. Selain itu, dari beberapa meta analisis, didapat beberapa hasil positif dari penggunaan vitamin C pada kasus penyakit kritis dan sepsis. Akan tetapi belum terdapat hasil uji klinik atau meta analisis mengenai penggunaan vitamin C pada kasus COVID-19. Penggunaan vitamin C pada kasus COVID-19 saat ini hanyalah sebagai terapi empirik berdasarkan pengalaman para klinisi di Cina dan harus mempertimbangkan risk-benefit ratio, terutama berkaitan dengan risiko efek samping yang mungkin terjadi.

PDPI merekomendasikan penggunaan vitamin C untuk terapi pneumonia COVID-19. Untuk pneumonia COVID-19 ringan diberikan vitamin C oral dengan dosis 3 x 100 mg. Untuk pneumonia COVID-19 berat diberikan vitamin C intravena dengan dosis 1 x 400 mg.  Sementara itu pneumonia COVID-19 berat dengan komplikasi diterapi dengan vitamin C intravena dengan dosis 1x200 mg. Pemberian vitamin C relatif aman, akan tetapi manfaatnya pada kasus COVID-19 belum terbukti melalui uji klinik

Referensi