Red Flag Hematuria

Oleh :
dr. Michael Sintong Halomoan

Red flag atau tanda bahaya hematuria perlu dipahami oleh dokter untuk menentukan tata laksana lanjutan yang tepat bagi pasien.

Hematuria adalah adanya darah pada urine, baik yang terlihat secara kasat mata atau tidak. Hematuria dapat menjadi tanda proses perjalanan penyakit serius pada saluran kemih atas hingga bawah.[1,2]

shutterstock_1683034336

Sekitar 4–20% pasien dengan gejala penyakit saluran kemih mengalami hematuria. 5% pasien dengan hematuria mikroskopik dan 20–40% pasien dengan hematuria makroskopik terdiagnosis dengan keganasan pada saluran kemih, sehingga penting bagi dokter dalam mengenali red flag hematuria untuk menentukan rujukan atau manajemen lanjutan.[1,3]

Sekilas tentang Hematuria

Hematuria dapat terbagi menjadi dua, yaitu mikroskopik dan makroskopik. Hematuria mikroskopik adalah kondisi adanya darah pada urine yang hanya dapat dilihat dengan mikroskop. Hematuria mikroskopik dapat ditegakkan bila ditemukan ≥3 eritrosit per lapang pandang besar pada urine. Hematuria makroskopik atau gross hematuria merupakan hematuria yang dapat terlihat sebagai urine yang berwarna merah atau coklat.[1,3]

Hematuria dapat disebabkan oleh penyakit pada ginjal, seperti kelainan glomerulus (nefropati IgA, sindrom Alport, atau glomerulonefritis), massa pada parenkim atau urotelial, pyelonephritis, dan ruptur ginjal akibat trauma.

Penyakit kandung kemih yang dapat menyebabkan hematuria, yakni sistitis tanpa komplikasi, sistitis radiasi/hemoragik, massa, dan ruptur kandung kemih akibat trauma. Penyakit prostat, seperti benign prostatic hyperplasia, kanker prostat, dan prostatitis juga dapat menyebabkan hematuria.

Hematuria juga dapat terjadi akibat penyakit pada uretra, seperti uretritis, ruptur uretra, baik akibat disrupsi maupun pemasangan kateter, massa, fistula ureteroarterial, dan striktur uretra.[1,3,4]

Red Flag Hematuria

Hematuria paling sering disebabkan oleh infeksi saluran kemih bawah, terutama sistitis, yang biasanya dapat ditangani di fasilitas kesehatan layanan primer. Namun, pada beberapa kasus, hematuria merupakan gejala penyakit saluran kemih serius yang membutuhkan rujukan. Hematuria dapat menjadi sebuah tanda bahaya apabila disertai dengan hal berikut:

  • Gross hematuria
  • Oliguria
  • Nyeri hebat pada abdomen
  • Nyeri hebat pada punggung bawah
  • Terabanya massa pada abdomen
  • Konsistensi prostat tidak normal
  • Edema yang disertai hipertensi

  • Lesi kulit, seperti ecchymosis atau purpura

  • Riwayat infeksi saluran napas atau kulit dalam 2 minggu terakhir
  • Riwayat trauma abdomen yang baru terjadi[1,4-7]

Manajemen Pasien dengan Red Flag hematuria

Penegakan diagnosis melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan lanjutan dibutuhkan untuk mencari penyebab red flag hematuria.

Anamnesis

Anamnesis pada pasien dengan red flag hematuria diperlukan untuk menentukan sumber perdarahan pada saluran kemih. Rasa nyeri pada punggung atau abdomen yang menjalar ke selangkangan dapat mengarahkan batu saluran kemih sebagai penyebab hematuria.[1,6]

Hematuria yang disertai dengan edema dapat mengarahkan kecurigaan pada glomerulonefritis. Ruptur organ saluran kemih perlu dicurigai apabila pasien mengalami trauma abdomen yang baru terjadi. Selain itu, riwayat penyakit dan gaya hidup, seperti diabetes mellitus, hipertensi, penyakit ginjal kronis, pekerjaan dengan paparan kimia, merokok, serta riwayat penyakit keluarga dengan penyakit ginjal juga perlu diketahui untuk mencari penyebab.[1,2,7,8]

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik perlu untuk membantu menegakkan diagnosis. Hipertensi dan edema dapat mengarahkan diagnosis pada gangguan glomerular. Terabanya massa pada abdomen pasien hematuria dapat mengarahkan diagnosis ke tumor saluran kemih.

Selain itu, digital rectal examination perlu dilakukan untuk menilai konsistensi dan ukuran prostat. Kelainan konsistensi dan ukuran prostat yang disertai hematuria dapat menjadi pertanda kanker prostat.

Hematuria yang disertai lesi kulit seperti memar mungkin menandakan keterlibatan gangguan pembekuan darah, seperti Henoch-Schonlein purpura dan hemofilia.[1,4]

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang pada pasien dengan red flag hematuria dapat berupa pemeriksaan laboratorium dan pencitraan. Urinalisis dapat dilakukan untuk mengidentifikasi sel darah merah, protein, dan sel darah merah dismorfik pada urine.

Kultur urine juga dapat dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab infeksi. Pemeriksaan blood urea nitrogen, kreatinin, dan glomerular filtration rate dilakukan untuk menilai fungsi ginjal.  Pemeriksaan laboratorium lain, seperti darah lengkap atau kultur faring juga juga dapat menunjang diagnosis.

Computed tomography (CT) urogram, magnetic resonance imaging (MRI) urogram, ultrasonografi, hingga cystoscopy dapat digunakan sebagai alat identifikasi sumber perdarahan penyebab hematuria. Sitologi urine dapat membantu menemukan sel keganasan dalam urine.[1,4,6]

Tata Laksana

Tata laksana hematuria tergantung pada etiologinya. Secara umum, pasien dengan red flag hematuria perlu dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan sekunder untuk manajemen lanjutan. Hematuria dengan etiologi glomerular biasanya mendapat tata laksana suportif, seperti kontrol infeksi, hipertensi, dan edema. Etiologi gromerular yang disebabkan oleh penyakit autoimun, seperti nefropati IgA atau Henoch-Schonlein purpura, dapat diterapi dengan obat imunosupresif.

Tata laksana hematuria yang disebabkan oleh etiologi nonglomerular lebih terfokus pada faktor penyebab. Tata laksana dapat berupa ekstraksi batu pada batu saluran kemih atau tindakan pembedahan pada massa saluran kemih.[1,4]

Referensi