Penghambat Reseptor Alfa untuk Penanganan Batu Saluran Kemih

Oleh dr. Sunita

Penghambat reseptor alfa merupakan salah satu pilihan terapi farmakologi untuk penanganan batu saluran kemih.

Depositphotos_138838756_m-2015_compressed

Batu saluran kemih merupakan masalah kegawatdaruratan di bidang urologi yang umum ditemui. Modalitas pengobatan batu saluran kemih ditentukan oleh ukuran batu. Batu saluran kemih yang berukuran kecil dapat diberikan terapi suportif berupa pemberian analgesik. Batu yang berukuran lebih besar atau mengalami komplikasi dapat diberikan intervensi berupa litotripsi gelombang kejut ekstrakorporeal (extracorporeal shockwave lithotripsy / ESWL), ureteroskopi, evakuasi batu secara pembedahan, hingga terapi farmakologi (termasuk penggunaan penghambat reseptor alfa). Penggunaan obat-obatan yang membantu pasase batu saluran kemih mulai meningkat dalam sepuluh tahun terakhir dan dikembangkan tak hanya untuk terapi tunggal, namun juga untuk terapi pasca litotripsi dan terapi ajuvan[1]. Secara khusus, penghambat reseptor alfa (misalnya tamsulosin), yang diindikasikan pada pasien pembesaran prostat jinak dan hipertensi, sering digunakan untuk pasien dengan batu saluran kemih dengan karakteristik tertentu[1–3]. Namun, untuk mencapai efikasi pengobatan dengan penghambat reseptor alfa yang optimal, pemahaman tentang karakteristik klinis yang ideal untuk penggunaan obat tersebut harus dimiliki oleh dokter yang merencanakan rencana pengobatan pasien batu saluran kemih. Berikut adalah tinjauan ilmiah penggunaan penghambat reseptor alfa pada penyakit batu saluran kemih.

Peran Penghambat Reseptor Alfa pada Batu Saluran Kemih

Penghambat reseptor alfa, atau antagonis α-1, memiliki peran dalam mempengaruhi fisiologi ureter sehingga membantu proses keluarnya batu dari saluran kemih. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa reseptor adrenergik alfa dan beta ditemukan pada ureter manusia. Antagonis α-1 menghambat tonus basal dan menurunkan frekuensi dan amplitudo peristalsis ureter. Akibatnya, tekanan di dalam ureter menurun sehingga perpindahan cairan di dalam ureter pun meningkat[1,4]. Dengan demikian, antagonis α-1 berperan membantu pasase batu saluran kemih sehingga dapat digunakan untuk penanganan batu saluran kemih.

Meta Analisis Terkait Penggunaan Penghambat Reseptor Alfa pada Batu Saluran Kemih

Terdapat beberapa meta analisis yang mengevaluasi manfaat antagonis α-1 dibandingkan terapi standar (hidrasi, analgesik, dengan atau tanpa antibiotik) dalam membantu proses keluarnya batu saluran kemih. Meta analisis pada tahun 2014 menemukan 32 penelitian yang mencakup 5864 partisipan untuk mengetahui manfaat antagonis α-1 dalam pasase batu saluran kemih. Dalam studi tersebut terungkap bahwa penggunaan penghambat reseptor alfa meningkatkan peluang pasase batu ureter dibandingkan dengan terapi standar. 1 dari 8 orang yang mendapat penghambat reseptor alfa akan mengalami pasase batu ureter. Selain itu, kelompok pasien yang mendapat antagonis α-1 akan mengalami penurunan waktu ekspulsi batu ureter sebanyak 2,91 hari dibandingkan terapi standar. Pemakaian antagonis α-1 juga menurunkan episode nyeri, penggunaan dosis diklofenak sebagai analgesik, serta peluang kejadian rawat inap[4]. Berdasarkan studi tersebut, secara garis besar dapat disimpulkan bahwa penghambat reseptor alfa pada batu ureter berpotensi meningkatkan keberhasilan pasase batu ureter dan memperpendek durasi yang diperlukan agar batu keluar dari saluran kemih.

Namun, hasil tersebut perlu disikapi dengan cermat sebab terdapat beberapa faktor yang dapat melemahkan hasil studi akibat potensi bias yang cukup serius. Pertama, penyamaran ganda (double blinding) hanya ditemukan pada 7 dari 32 studi yang menjadi sampel penelitian sedangkan sisa sampel lainnya tak memiliki strategi penyamaran intervensi pada pasien maupun dokter pemeriksa yang mengumpulkan data dari pasien. Kedua, 6 dari 32 sampel penelitian itu menjelaskan metode alokasi dan pengacakan partisipan secara jelas sementara sebagian besar sampel tak melaporkan metode alokasi dan pengacakan partisipan. Ketiga, terdapat potensi bias pelaporan yang tinggi khususnya pada 3 studi yang tidak menjelaskan luaran yang dideskripsikan pada bagian metodologi penelitian yang bersangkutan dan 5 studi lainnya yang tidak melaporkan hasil sesuai tujuan penelitian[4]. Ketiga hal itu menjadi pemicu bias yang melemahkan hasil tinjauan sistematik tersebut.

Guna memperkecil risiko bias tersebut, meta analisis lain dilakukan untuk mengevaluasi efikasi dan keamanan antagonis α-1 dalam pengobatan batu saluran kemih dengan hanya memasukkan uji klinis acak terkontrol yang memiliki risiko bias yang rendah berdasarkan metode Penilaian Risiko Bias Cochrane[2]. Dengan memanfaatkan metode tersebut, didapatkan 10 artikel yang dimasukkan dalam analisis yang mencakup masing-masing 1387 partisipan di kelompok yang mendapat terapi farmakologi untuk batu saluran kemih dan 1381 partisipan di kelompok kontrol. Selain antagonis α-1, penghambat kanal kalsium juga termasuk salah satu terapi farmakologi yang dimasukkan dalam analisis penelitian[2]. Secara khusus, analisis subgrup menunjukkan bahwa antagonis α-1 secara bermakna memperpendek waktu pasase batu dari saluran kemih dibandingkan terapi standar sebanyak 2,92 hari. Temuan baru pada penelitian ini antara lain membuktikan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna tingkat keberhasilan pasase batu antara pasien yang mendapat terapi penghambat reseptor alfa untuk pasien dengan batu berukuran diameter < 5 mm, batu yang terletak di ureter tengah dan proksimal. Justru, antagonis α-1 secara bermakna membantu pasase batu yang berukuran diameter > 5 mm atau batu yang terletak di ureter distal[2]. Hal tersebut menguatkan dugaan adanya perbedaan manfaat antagonis α-1 pada karakteristik pasien batu saluran kemih tertentu.

Risiko Efek Samping Penghambat Reseptor Alfa

Walaupun penghambat reseptor alfa menunjukkan manfaat khususnya pada populasi pasien dengan batu saluran kemih berukuran > 5 mm dan batu di ureter distal, hal ini perlu diimbangi dengan mewaspadai efek samping yang ditimbulkan dari penggunaan antagonis α-1. Risiko efek samping yang berpotensi ditimbulkan dari konsumsi antagonis α-1 antara lain pusing, sakit kepala, hipotensi, ejakulasi retrograd, rinitis, lemas, dan reaksi pada kulit[1,2,4]. Secara umum, efek samping tersebut sifatnya ringan dan hanya ditemukan pada hampir 6,6% pasien. Walau demikian, dokter juga harus mempertimbangkan kondisi khusus di mana potensi efek samping tersebut memiliki potensi bahaya, misalnya pada geriatri dengan gangguan gait atau mobilitas terbatas dan pasien dengan hipotensi ortostatik.

Ketika dibandingkan dengan manfaat, maka penggunaan antagonis α-1 hanya menunjukkan manfaat klinis yang kecil dalam membantu mengeluarkan batu saluran kemih secara umum, 1 dari 14 orang yang mendapat antagonis α-1 akan berhasil mengeluarkan batu saluran kemihnya. Manfaat ini secara statistik sedikit lebih besar pada pasien dengan batu ureter berukuran diameter > 5 mm (1 dari 7 orang) dan batu di ureter distal (1 dari 9 orang)[2]. Ini merupakan informasi yang penting disampaikan sebelum memperoleh persetujuan pengobatan dari pasien dengan batu ureter yang mungkin memenuhi kriteria pengobatan dengan antagonis α-1. Pada batu berukuran <5 mm, kebanyakan batu dapat dikeluarkan secara spontan sehingga risiko efek samping melebihi manfaat dari terapi ini.

Analisis Biaya Penghambat Reseptor Alfa untuk Batu Saluran Kemih

Belum banyak penelitian yang mempelajari analisa ekonomi dari penggunaan penghambat reseptor alfa pada batu saluran kemih. Analisis pada tahun 2008 membandingkan biaya yang dikeluarkan guna melakukan tindakan bedah dalam tata laksana batu ureter terhadap pengobatan menggunakan tamsulosin (antagonis α-1). Mereka menyimpulkan bahwa pada populasi pasien batu saluran kemih di Amerika Serikat, penggunaan tamsulosin mampu menghemat biaya pengobatan sekitar 15 juta Rupiah dibandingkan tindakan observasi. Selisih ini bahkan jauh lebih besar ketika dibandingkan dengan biaya perawatan dan pengobatan yang berkaitan dengan tindakan ureteroskopi dan fragmentasi batu saluran kemih (sekitar 40 juta Rupiah)[5]. Dari studi tersebut dapat disimpulkan bahwa penggunaan penghambat reseptor alfa berpotensi menekan biaya pengobatan untuk batu saluran kemih dibandingkan metode bedah atau observasi.

Namun, hasil yang kontras didapatkan dari analisis biaya pada penggunaan penghambat reseptor alfa dibandingkan dengan terapi konservatif pada populasi pasien di berbagai rumah sakit di Inggris berupa tidak adanya perbedaan bermakna rerata biaya yang dikeluarkan pasien yang mendapat tamsulosin dengan yang mendapat. Selain itu, analisis beban penyakit menggunakan QALY (quality adjusted life years) mengindikasikan bahwa tidak terdapat perbedaan rerata skor QALY antara kelompok pasien yang mendapat tamsulosin dibandingkan dengan yang mendapat plasebo[3]. Berdasarkan kedua temuan ini, dapat dikatakan bahwa penggunaan antagonis α-1, dibandingkan terapi standar, tidak berkaitan dengan penurunan biaya pengobatan maupun perbaikan kualitas hidup pada pasien dengan batu saluran kemih. Namun, hal ini perlu dicermati secara bijaksana mengingat penelitian tersebut dilakukan di negara maju dengan sistem kesehatan yang berbeda dengan yang diterapkan di Indonesia.

Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penghambat reseptor alfa seperti tamsulosin berpeluang dalam membantu pasase batu saluran kemih. Efek antagonis α-1 dalam pengobatan batu saluran kemih lebih terlihat khususnya pada pasien dengan karakteristik batu berukuran diameter > 5 mm atau yang letaknya di ureter distal. Selain meningkatkan peluang keluarnya batu tanpa metode operasi, konsumsi penghambat reseptor alfa juga dapat memperpendek durasi yang diperlukan bagi batu untuk keluar dari saluran kemih. Namun, sebelum mempertimbangkan terapi penghambat reseptor alfa pada pasien dengan batu saluran kemih, pasien juga harus mendapatkan pemahaman yang utuh tentang rasio manfaat berbanding risiko serta potensi biaya medis yang dikeluarkan terkait terapi tersebut.

Referensi