Red Flags Batuk Kronis

Oleh :
dr. Katharina Listyaningrum Prastiwi

Red flags atau tanda bahaya batuk kronis perlu dikenali karena beberapa etiologi batuk kronis dapat berbahaya bagi penderita. Beberapa contoh etiologi batuk kronis yang perlu diwaspadai yaitu tuberkulosis, kanker paru, dan bronkiektasis.

Batuk dikatakan kronis bila berlangsung selama lebih dari 8 minggu pada orang dewasa dan lebih dari 4 minggu pada anak-anak. Secara umum, batuk merupakan mekanisme tubuh untuk menjaga jalan napas tetap bersih dari benda asing dan mencegah terjadinya aspirasi. 35% anak usia balita mengalami batuk setidaknya satu bulan sekali. Batuk juga banyak dialami pada kondisi lingkungan dengan polusi udara yang tinggi. Adanya red flags pada pasien dengan batuk kronis menandakan perlunya investigasi lebih lanjut.[1,2]

Red Flags Batuk Kronis-min

Sekilas Tentang Etiologi Batuk Kronis

Batuk kronis atau batuk persisten dapat disebabkan oleh berbagai hal, termasuk paparan virus, bakteri, pajanan asap rokok, asap kendaraan, debu, dan dapat juga disebabkan oleh paparan asam lambung pada saluran napas. Penyebab tersering batuk kronis adalah infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), asthma, gastroesophageal reflux disease/ GERD, dan bronkitis. Sementara itu, beberapa penyebab batuk kronis yang perlu diwaspadai mencakup tuberkulosis, bronkiektasis, dan kanker paru.[3,4]

Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA)

Pada ISPA, gejala yang sering muncul adalah batuk berdahak, rinore, dan nyeri tenggorokan. Kondisi ISPA berulang dapat menyebabkan batuk persisten dan erat kaitannya dengan sinusitis dan rhinitis.[2,3]

Asthma

Sementara itu, pada asthma, batuk kering merupakan gejala utama yang dapat disertai dengan dispnea, mengi, dan dada terasa berat. Batuk biasanya terjadi pada malam atau pagi hari yang dicetuskan oleh paparan udara, debu, maupun asap.[2,3]

Penyakit Paru Obstruktif Kronis

Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) juga memiliki gejala yang mirip seperti asthma dan biasanya umum dialami pasien dengan riwayat merokok. Namun pada PPOK biasanya disertai dengan adanya mukus purulen dan dapat dibedakan melalui rontgen toraks dan pemeriksaan spirometri.[2,3]

Gastroesophageal Reflux Disease (GERD)

GERD juga dapat menyebabkan batuk kronis. Pada GERD, selain batuk, gejala juga disertai dengan nyeri ulu hati, rasa terbakar di dada, regurgitasi, rasa asam di lidah, nyeri tenggorokan, dan suara serak. Pada kondisi ini, batuk akan membaik melalui penggunaan obat-obatan GERD dan perubahan gaya hidup, terutama pola makan.[3]

Tuberkulosis

Salah satu penyebab yang perlu diwaspadai adalah tuberkulosis, yang juga memiliki prevalensi yang tinggi di Indonesia. Tuberkulosis ditandai dengan batuk kronis yang disertai dengan penurunan berat badan, demam kronis, keringat malam, hemoptisis, dengan atau tanpa gejala dispnea. Tuberkulosis dapat dipastikan melalui pemeriksaan dahak dan pemeriksaan radiologi. Penyakit ini seringkali disertai dengan penyakit HIV yang mengakibatkan gangguan kekebalan tubuh.[5]

Kanker Paru

Pada kanker paru, gejala yang sering timbul selain batuk kronis, yaitu suara serak, penurunan berat badan secara drastis, hemoptisis, nyeri dada, dan seringkali ditemukan riwayat merokok lama.[5]

Red Flags Batuk Kronis

Pasien dengan red flags atau tanda bahaya batuk kronis atau persisten yang perlu diwaspadai mencakup:

  • Hemoptisis
  • Riwayat merokok pada penderita usia 45 tahun dengan batuk kronis
  • Usia 55-80 tahun dengan riwayat merokok 30 pak per tahun, baik yang masih merokok, maupun yang berhenti merokok dalam 15 tahun terakhir
  • Dispnea berat, terutama saat beristirahat dan di malam hari
  • Suara serak
  • Demam kronis
  • Penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas
  • Edema perifer disertai dengan penambahan berat badan
  • Gangguan menelan
  • Muntah hebat
  • Gambaran pemeriksaan penunjang yang mengindikasikan penyebab berat[5,6]

Sekilas Tentang Manajemen Pasien dengan Red Flag Batuk Kronis

Pasien batuk kronis dengan red flags atau tanda bahaya memerlukan investigasi lebih lanjut untuk memastikan etiologinya.

Anamnesis

Dokter perlu menanyakan berapa lama batuk telah terjadi dan apakah batuk semakin memberat seiring berjalannya waktu. Beberapa gejala tambahan yang perlu diwaspadai seperti hemoptisis, penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas, keringat malam, demam berkepanjangan, dispnea, dan suara serak juga perlu ditanyakan.

Selain gejala yang dirasakan, perlu ditanyakan juga riwayat merokok atau menjadi perokok pasif sebelumnya. Tanyakan pula riwayat penggunaan obat-obatan seperti captopril, pekerjaan yang berkaitan dengan paparan asap atau debu, variasi diurnal, riwayat penyakit sebelumnya, dan faktor yang memperberat serta meringankan gejala.[5,7]

Pemeriksaan Fisik

Saat memeriksa tanda vital, perhatikan apakah ada tanda ancaman gagal napas seperti takikardia, dispnea, dan penurunan saturasi oksigen. Adanya suara napas yang abnormal bisa menunjukkan adanya gangguan patensi jalan napas. Pada kondisi infeksi yang mengakibatkan sepsis, tanda vital dapat menunjukkan gambaran hipotensi disertai dengan hiperpireksia.

Selain itu, perlu dilakukan pemeriksaan terutama pada bagian kardiopulmoner, abdomen, dan orofaring. Suara napas mengi atau ronkhi, nyeri ulu hati, clubbing finger, dan ditemukannya retraksi maupun napas cuping hidung merupakan tanda yang perlu diwaspadai.[5,7]

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan sesuai kecurigaan etiologi. Pemeriksaan yang paling sering dilakukan adalah pemeriksaan rontgen toraks dan darah lengkap. Pada pasien dengan kecurigaan ke arah infeksi paru, dapat dilakukan pemeriksaan sputum untuk geneXpert dan  basil tahan asam, kultur darah, dan kultur dahak. Lebih jauh, bila dicurigai adanya keganasan atau gangguan paru berat, pemeriksaan CT scan toraks, bronkoskopi, hingga biopsi dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis.[7]

Penatalasanaan

Tata laksana harus disesuaikan dengan etiologi batuk kronis. Bila ada obstruksi jalan napas, pembebasan airway harus segera dilakukan. Pembebasan dan patensi jalan napas dapat dilakukan melalui intubasi, ataupun krikotiroidotomi bila intubasi tidak memungkinkan. Oksigenasi harus segera diberikan terutama pada pasien dengan penurunan saturasi oksigen.

Pada kondisi dispnea yang disertai dengan suara napas mengi atau ronkhi, pemberian inhalasi bronkodilator maupun kortikosteroid perlu dipertimbangkan. Selain itu, pada kondisi infeksi, antibiotik harus diberikan sesuai dengan etiologi penyakit.

Pada pasien batuk kronis yang disertai dengan HIV, harus diberikan terapi antiretroviral. Sementara itu, pasien dengan komorbiditas penyakit lain, seperti diabetes atau hipertensi, wajib mendapatkan terapi sesuai dengan komorbiditas yang dialami.[5,7]

Referensi