Masuk atau Daftar

Alo! Masuk dan jelajahi informasi kesehatan terkini dan terlengkap sesuai kebutuhanmu di sini!
atau dengan
Facebook
Masuk dengan Email
Masukkan Kode Verifikasi
Masukkan kode verifikasi yang telah dikirimkan melalui SMS ke nomor
Kami telah mengirim kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Kami telah mengirim ulang kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Terjadi kendala saat memproses permintaan Anda. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Selanjutnya

Tidak mendapatkan kode? Kirim ulang atau Ubah Nomor Ponsel

Mohon Tunggu dalam Detik untuk kirim ulang

Apakah Anda memiliki STR?
Alo, sebelum melanjutkan proses registrasi, silakan identifikasi akun Anda.
Ya, Daftar Sebagai Dokter
Belum punya STR? Daftar Sebagai Mahasiswa

Nomor Ponsel Sudah Terdaftar

Nomor yang Anda masukkan sudah terdaftar. Silakan masuk menggunakan nomor [[phoneNumber]]

Masuk dengan Email

Silakan masukkan email Anda untuk akses Alomedika.
Lupa kata sandi ?

Masuk dengan Email

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk akses Alomedika.

Masuk dengan Facebook

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk verifikasi akun Alomedika.

KHUSUS UNTUK DOKTER

Logout
Masuk
Download Aplikasi
  • CME
  • Webinar
  • E-Course
  • Diskusi Dokter
  • Penyakit & Obat
    Penyakit A-Z Obat A-Z Tindakan Medis A-Z
Diagnosis Vulvodinia annisa-meidina 2026-01-08T11:36:08+07:00 2026-01-08T11:36:08+07:00
Vulvodinia
  • Pendahuluan
  • Patofisiologi
  • Etiologi
  • Epidemiologi
  • Diagnosis
  • Penatalaksanaan
  • Prognosis
  • Edukasi dan Promosi Kesehatan

Diagnosis Vulvodinia

Oleh :
dr. Alicia Pricelda
Share To Social Media:

Diagnosis vulvodinia ditegakkan secara eksklusi, dimulai dengan anamnesis mengenai durasi nyeri, riwayat seksual, alergi, infeksi berulang, penggunaan kontrasepsi oral, serta gejala terkait seperti disfungsi dasar panggul atau nyeri punggung bawah. Pemeriksaan fisik meliputi inspeksi vulva, uji cotton swab untuk menilai alodinia dan memetakan distribusi nyeri, serta pemeriksaan dasar panggul untuk menilai hipertonisitas atau tender point.

Infeksi vulvovaginal, dermatosis, dan sumber nyeri lain harus disingkirkan. Biopsi atau evaluasi muskuloskeletal dapat dipertimbangkan pada kasus refrakter untuk menyingkirkan penyebab lain sebelum menegakkan diagnosis vulvodinia.[2,9]

Anamnesis

Karakteristik nyeri kronis vulva pada vuvlodinia akan berlangsung lebih dari 3 bulan tanpa penyebab yang jelas. Pasien biasanya menggambarkan nyeri berupa sensasi terbakar, perih, menusuk, atau seperti tersayat, yang dapat dipicu oleh sentuhan ringan, tekanan, atau aktivitas tertentu seperti duduk lama, bersepeda, atau hubungan seksual.

Banyak pasien vulvodinia melaporkan riwayat vaginitis berulang dengan hasil laboratorium negatif, atau gejala menetap meskipun telah menjalani berbagai terapi antijamur, antibiotik, atau kortikosteroid topikal. Selain itu, anamnesis juga menilai faktor pencetus atau kondisi yang berkorelasi dengan onset gejala, seperti penggunaan kontrasepsi oral kombinasi, perubahan hormonal, serta riwayat infeksi kronis atau kandidiasis berulang.

Gejala yang mengarah pada disfungsi otot dasar panggul, misalnya urgensi atau frekuensi berkemih, rasa tidak tuntas, konstipasi, atau nyeri panggul, juga perlu digali karena dapat berkontribusi pada sensitisasi nyeri. Keluhan nyeri punggung bawah, pinggul, atau bokong dapat menunjukkan kemungkinan refer pain atau keterlibatan muskuloskeletal.

Selain aspek fisik, anamnesis harus mencakup dampak gejala terhadap fungsi seksual dan kualitas hidup. Banyak perempuan dengan vulvodinia tidak dapat mentoleransi sentuhan pada vulva, mengalami dispareunia superfisial, atau menghindari aktivitas seksual sama sekali karena ketakutan akan nyeri.

Durasi gejala sering kali bertahun-tahun sebelum diagnosis ditegakkan, dengan riwayat konsultasi ke banyak dokter sebelumnya. Evaluasi psikososial penting untuk menilai distres, kecemasan, atau strategi koping yang maladaptif.[1,2,5,9]

Pemeriksaan Fisik

Beberapa poin yang dapat dinilai saat melakukan pemeriksaan fisik adalah anatomi vulva dan area di sekitarnya apakah terdapat abnormalitas atau tidak, apakah tekstur dan warna kulit normal atau tidak, apakah ada tanda-tanda inflamasi seperti perubahan warna dan apakah ada lesi dermatologis tertentu yang nampak.[5]

Evaluasi Ginekologi

Pasien juga perlu menjalani pemeriksaan ginekologis secara menyeluruh setelah menyingkirkan dan menangani semua kemungkinan penyebab infeksi, inflamasi, hormonal, neoplastik, dan neurologis.

Pemeriksaan harus dilakukan dengan pendekatan patient-controlled, disertai penjelasan yang jelas mengenai prosedur pemeriksaan sebelum dimulai. Dokter harus meminta persetujuan pasien untuk setiap tahap pemeriksaan, serta memastikan bahwa pasien memiliki kendali penuh untuk menghentikan pemeriksaan kapan pun apabila merasa tidak nyaman.

Evaluasi ginekologi dilakukan untuk mengonfirmasi bahwa nyeri bersifat superfisial, khas terjadi pada introitus vagina, fourchette, dan sepertiga luar vagina. Dispareunia pada vulvodinia tidak disertai cervical motion tenderness, sehingga membantu membedakan dari nyeri akibat infeksi pelvis atau massa intraabdominal. Inspeksi vulva dilakukan untuk menilai adanya eritema vestibular atau kelainan lain yang dapat menjelaskan nyeri.[1,9,10]

Uji Cotton Swab

Uji cotton swab dilakukan untuk mendeteksi allodinia sebagai manifestasi nyeri neuropatik. Tekanan ringan diberikan secara sistematis menggunakan kapas, dimulai dari paha dan bergerak medial ke labia majora, sulkus interlabial, clitoral hood, labia minora, serta titik-titik vestibulum pada posisi jam 2, 4, 6, 8, 10, dan 12.

Intensitas nyeri dicatat menggunakan numeric rating scale (0–10), yang memungkinkan pemetaan distribusi nyeri dan klasifikasi vulvodinia menjadi vestibulodinia terlokalisasi bila nyeri terbatas pada vestibulum, atau vulvodinia generalisata bila meluas ke area di luar vestibulum..[1,2,9,10]

Evaluasi Neurosensori

Pinprick test perlu dilakukan di titik yang sama dengan lokasi yang di evaluasi menggunakan cotton bud. Dokter perlu menilai reaksi dari pasien apakah normal, hipersensitif, atau tajam dan terbakar.[1,9,10]

Pemeriksaan Panggul

Palpasi digital dengan tekanan merata pada otot levator ani (puborektalis, pubokoksigeus, iliokoksigeus) dan otot obturator internus dilakukan untuk menilai hipertonisitas dan nyeri tekan. Temuan nyeri pada otot-otot ini mendukung adanya disfungsi dasar panggul yang sering menyertai vulvodinia.[1,9]

Pemeriksaan Dalam

Pemeriksaan dalam juga dapat dilakukan dengan terlebih dahulu mengoleskan lidocaine 2% jika area vestibulum terlalu sensitif. Vestibulum dapat dipalpasi kembali 3 menit kemudian untuk melihat apakah sensitivitasnya berkurang dan sudah cukup memungkinkan untuk melakukan pemeriksaan dalam.

Pemeriksaan dalam dapat dilakukan dengan menggunakan spekulum dan dokter dapat menilai mukosa dalam vagina, melihat tanda atrofi atau peradangan. Jika pasien tidak dapat mentolerir nyeri pada pemeriksaan dalam karena nyeri atau ketegangan dasar panggul, maka harus ditunda hingga nyeri pada vulva berkurang. Pasien dengan ketegangan dasar panggul mungkin memiliki kelainan anatomi seperti septum vagina.[5]

Evaluasi Lainnya

Karena vulvodinia merupakan diagnosis eksklusi, dokter dapat mengevaluasi kondisi lain yang memungkinkan timbulnya rasa nyeri seperti sistitis, endometriosis, temporomandibular joint syndrome, dan nyeri kepala kronis. Dokter juga perlu mengevaluasi gangguan tidur, tantangan dalam berhubungan seksual, aspek fungsi fisik, emosional, dan seksual yang dapat memengaruhi pengalaman nyeri pasien.[1]

Diagnosis Banding

Vulvodinia merupakan diagnosis eksklusi, sehingga dokter perlu memastikan tidak ada masalah lain, seperti infeksi atau neoplasma, sebelum menegakkan diagnosis vulvodinia.

Infeksi Vulvovaginal

Infeksi vulvovaginal, seperti kandidiasis dan bakterial vaginosis, biasanya disertai tanda objektif seperti keputihan patologis, ulserasi, vesikel, atau hasil laboratorium positif, yang tidak ditemukan pada vulvodinia. Nyeri pada infeksi umumnya bersifat akut atau episodik dan membaik dengan terapi kausal yang adekuat.[11]

Kelainan Dermatologi Vulva

Kelainan dermatologis vulva mencakup lichen sclerosus, lichen planus, dermatitis kontak, dan psoriasis. Pemeriksaan ini dibedakan dari vulvodinia dari temuan klinis khas seperti plak putih atrofi, erosi, perubahan pigmen, atau skuama, yang dapat dikonfirmasi dengan biopsi bila dicurigai.[12,13]

Gangguan Neuromuskuloskeletal

Pudendal neuralgia ditandai nyeri mengikuti distribusi saraf pudendus, memburuk saat duduk, dan dapat disertai nyeri punggung bawah atau riwayat trauma. Pada pemeriksaan klinis, nyeri dapat direproduksi dengan penekanan sepanjang jalur nervus pudendus, sementara temuan ginekologis umumnya normal.[14]

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang pada diagnosis vulvodinia bertujuan utama untuk menyingkirkan penyebab lain yang dapat diobati, karena vulvodinia merupakan diagnosis eksklusi.[2]

Pemeriksaan Laboratorium

Evaluasi laboratorium dilakukan secara selektif berdasarkan temuan klinis, yaitu untuk menyingkirkan infeksi vulvovaginal seperti kandidiasis atau infeksi urogenital lain melalui pemeriksaan pH vagina, mikroskopi, atau kultur bila diperlukan. Pemeriksaan seperti tes HPV, vulvoskopi, maupun aplikasi asam asetat 3–5% tidak direkomendasikan karena tidak memberikan nilai diagnostik dan berpotensi menimbulkan reaksi nyeri yang berat.[2]

Biopsi

Biopsi vulva bukan pemeriksaan rutin pada vulvodinia, karena tidak terdapat temuan histopatologis spesifik untuk kondisi ini. Namun, pada kasus refrakter atau bila terdapat lesi klinis yang mencurigakan, biopsi dapat dipertimbangkan untuk menyingkirkan dermatosis vulva atau penyakit lain.[2]

Pemeriksaan Muskuloskeletal

Evaluasi muskuloskeletal merupakan pemeriksaan penunjang untuk mengidentifikasi nyeri rujukan atau faktor yang berkontribusi seperti hipertonisitas otot dasar panggul, gangguan miofasial, atau kelainan biomekanik lain. Penilaian ini membantu membedakan nyeri vulva primer dari nyeri yang berasal dari struktur lain seperti punggung bawah atau pelvis.[2]

Referensi

1. Faye RB, Mikes BA. Vulvodynia. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2025 Jan-. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK430792/
2. Vasileva P, Strashilov SA, Yordanov AD. Aetiology, diagnosis, and clinical management of vulvodynia. Prz Menopauzalny. 2020 Mar;19(1):44-48. doi: 10.5114/pm.2020.95337.
5. Sadownik LA. Etiology, diagnosis, and clinical management of vulvodynia. Int J Womens Health. 2014 May 2;6:437-49. doi: 10.2147/IJWH.S37660.
9. Schlaeger JM, Glayzer JE, Villegas-Downs M, Li H, Glayzer EJ, He Y, Takayama M, Yajima H, Takakura N, Kobak WH, McFarlin BL. Evaluation and Treatment of Vulvodynia: State of the Science. J Midwifery Womens Health. 2023 Jan;68(1):9-34. doi: 10.1111/jmwh.13456.
10. Bornstein J, Petros P, Bornstein S. Provoked vulvodynia: diagnosis of perplexing pain condition. Pelviperineology. 2020 Dec 15;39(4):115-122. doi: 10.34057/PPj.2020.39.04.003
11. Brown H, Drexler M. Improving the Diagnosis of Vulvovaginitis: Perspectives to Align Practice, Guidelines, and Awareness. Popul Health Manag. 2020 Oct;23(S1):S3-S12. doi: 10.1089/pop.2020.0265.
12. Dunaway S, Tyler K, Kaffenberger J. Update on treatments for erosive vulvovaginal lichen planus. Int J Dermatol. 2020 Mar;59(3):297-302. doi: 10.1111/ijd.14692.
13. Simonetta C, Burns EK, Guo MA. Vulvar Dermatoses: A Review and Update. Mo Med. 2015 Jul-Aug;112(4):301-7.
14. Leslie SW, Antolak S, Feloney MP, et al. Pudendal Neuralgia. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2025 Jan-.: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK562246/

Epidemiologi Vulvodinia
Penatalaksanaan Vulvodinia

Artikel Terkait

  • Red Flags Dispareunia
    Red Flags Dispareunia
  • Strategi Mengatasi Disfungsi Seksual Akibat Terapi Antidepresan
    Strategi Mengatasi Disfungsi Seksual Akibat Terapi Antidepresan
  • Peran Terapi Fisik dalam Penanganan Dispareunia
    Peran Terapi Fisik dalam Penanganan Dispareunia
Diskusi Terkait
dr. Natalia Christine Go
Dibalas 10 Maret 2022, 10:22
Hubungan dispareunia dan tubektomi apakah ada hubungannya - Obgyn Ask the Expert
Oleh: dr. Natalia Christine Go
1 Balasan
Alo dr. Utomo Budidarmo, Sp.OG, M.Kes. Izin konsul dok, ada pasien yang mengeluhkan dispareunia 2 minggu setelah operasi tubektomi. Apakah memang berhubungan...
dr.Siti Chasanah Syariatin
Dibalas 19 Mei 2021, 14:24
Dispareunia apakah selalu disebabkan oleh vaginismus - Andrologi Ask The Expert
Oleh: dr.Siti Chasanah Syariatin
3 Balasan
Selamat siang Prof. Wimpie.. Apakah dispareunia selalu vaginismus? Sebenarnya pemeriksaan apa yang perlu dilakukan untuk kasus tersebut? Terimakasih
dr. Ayudhea Tannika
Dibalas 29 September 2019, 07:31
Tenaga kesehatan yang tepat untuk menangani kasus vaginismus
Oleh: dr. Ayudhea Tannika
17 Balasan
Alo dokter, Izin bertanya, ada user yang menyampaikan bahwa beliau tidak dapat melakukan penetrasi saat berhubungan intim dengan pasangan, karena otot-otot...

Lebih Lanjut

Download Aplikasi Alomedika & Ikuti CME Online-nya!
Kumpulkan poin SKP sebanyak-banyaknya!

  • Tentang Kami
  • Advertise with us
  • Syarat dan Ketentuan
  • Privasi
  • Kontak Kami

© 2024 Alomedika.com All Rights Reserved.