Masuk atau Daftar

Alo! Masuk dan jelajahi informasi kesehatan terkini dan terlengkap sesuai kebutuhanmu di sini!
atau dengan
Facebook
Masuk dengan Email
Masukkan Kode Verifikasi
Masukkan kode verifikasi yang telah dikirimkan melalui SMS ke nomor
Kami telah mengirim kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Kami telah mengirim ulang kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Terjadi kendala saat memproses permintaan Anda. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Selanjutnya

Tidak mendapatkan kode? Kirim ulang atau Ubah Nomor Ponsel

Mohon Tunggu dalam Detik untuk kirim ulang

Apakah Anda memiliki STR?
Alo, sebelum melanjutkan proses registrasi, silakan identifikasi akun Anda.
Ya, Daftar Sebagai Dokter
Belum punya STR? Daftar Sebagai Mahasiswa

Nomor Ponsel Sudah Terdaftar

Nomor yang Anda masukkan sudah terdaftar. Silakan masuk menggunakan nomor [[phoneNumber]]

Masuk dengan Email

Silakan masukkan email Anda untuk akses Alomedika.
Lupa kata sandi ?

Masuk dengan Email

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk akses Alomedika.

Masuk dengan Facebook

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk verifikasi akun Alomedika.

KHUSUS UNTUK DOKTER

Logout
Masuk
Download Aplikasi
  • CME
  • Webinar
  • E-Course
  • Diskusi Dokter
  • Penyakit & Obat
    Penyakit A-Z Obat A-Z Tindakan Medis A-Z
Epidemiologi Vulvodinia annisa-meidina 2026-01-08T11:34:21+07:00 2026-01-08T11:34:21+07:00
Vulvodinia
  • Pendahuluan
  • Patofisiologi
  • Etiologi
  • Epidemiologi
  • Diagnosis
  • Penatalaksanaan
  • Prognosis
  • Edukasi dan Promosi Kesehatan

Epidemiologi Vulvodinia

Oleh :
dr. Alicia Pricelda
Share To Social Media:

Data epidemiologi menunjukkan bahwa vulvodinia dapat terjadi pada perempuan segala usia dan etnis, dengan prevalensi seumur hidup sekitar 8% yang relatif stabil hingga usia 70 tahun.  Usia awitan rata-rata sekitar 30 tahun, meskipun rentang usia pasien sangat luas dari 6 hingga 70 tahun.[2,9]

Global

Vulvodinia merupakan kondisi yang dapat terjadi pada perempuan di seluruh rentang usia, periode reproduksi. Prevalensi seumur hidup diperkirakan sekitar 8% dan angka ini relatif stabil hingga usia 70 tahun.

Usia awitan rata-rata adalah sekitar 30 tahun, meskipun dapat muncul mulai dari masa kanak-kanak hingga usia lanjut (6–70 tahun). Banyak pasien telah mengalami nyeri selama bertahun-tahun, dan sering kali menjalani pemeriksaan berulang ke berbagai dokter sebelum akhirnya mendapatkan diagnosis yang tepat.

Kondisi ini tidak hanya umum, tetapi juga sering kali tidak terdiagnosis sehingga menyebabkan keterlambatan penanganan. Nyeri kronis yang dialami pasien cenderung menetap meskipun telah mencoba berbagai terapi, dengan intensitas rata-rata dilaporkan sekitar 6,7 dari 10. Selain itu, pasien vulvodinia sering menggunakan strategi koping yang tidak optimal, seperti konsumsi alkohol atau penggunaan analgesik berlebih untuk meredakan nyeri.[2,9]

Indonesia

Belum ada data epidemiologi mengenai vulvodinia di Indonesia.

Mortalitas

Meskipun vulvodinia tidak meningkatkan mortalitas secara langsung, kondisi ini menyebabkan morbiditas yang signifikan melalui nyeri kronis yang mengganggu fungsi fisik, aktivitas seksual, dan kualitas hubungan intim. Pasien sering melaporkan intensitas nyeri tinggi hingga mendorong penggunaan analgesik kuat dan konsumsi alkohol sebagai upaya mengatasi gejala.

Morbiditas emosional dan psikososial juga menonjol pada vulvodinia, termasuk gangguan fungsi sehari-hari, disabilitas fisik, serta risiko munculnya ide bunuh diri.[2,9]

Referensi

2. Vasileva P, Strashilov SA, Yordanov AD. Aetiology, diagnosis, and clinical management of vulvodynia. Prz Menopauzalny. 2020 Mar;19(1):44-48. doi: 10.5114/pm.2020.95337.
9. Schlaeger JM, Glayzer JE, Villegas-Downs M, Li H, Glayzer EJ, He Y, Takayama M, Yajima H, Takakura N, Kobak WH, McFarlin BL. Evaluation and Treatment of Vulvodynia: State of the Science. J Midwifery Womens Health. 2023 Jan;68(1):9-34. doi: 10.1111/jmwh.13456.

Etiologi Vulvodinia
Diagnosis Vulvodinia

Artikel Terkait

  • Red Flags Dispareunia
    Red Flags Dispareunia
  • Strategi Mengatasi Disfungsi Seksual Akibat Terapi Antidepresan
    Strategi Mengatasi Disfungsi Seksual Akibat Terapi Antidepresan
  • Peran Terapi Fisik dalam Penanganan Dispareunia
    Peran Terapi Fisik dalam Penanganan Dispareunia
Diskusi Terkait
dr. Natalia Christine Go
Dibalas 10 Maret 2022, 10:22
Hubungan dispareunia dan tubektomi apakah ada hubungannya - Obgyn Ask the Expert
Oleh: dr. Natalia Christine Go
1 Balasan
Alo dr. Utomo Budidarmo, Sp.OG, M.Kes. Izin konsul dok, ada pasien yang mengeluhkan dispareunia 2 minggu setelah operasi tubektomi. Apakah memang berhubungan...
dr.Siti Chasanah Syariatin
Dibalas 19 Mei 2021, 14:24
Dispareunia apakah selalu disebabkan oleh vaginismus - Andrologi Ask The Expert
Oleh: dr.Siti Chasanah Syariatin
3 Balasan
Selamat siang Prof. Wimpie.. Apakah dispareunia selalu vaginismus? Sebenarnya pemeriksaan apa yang perlu dilakukan untuk kasus tersebut? Terimakasih
dr. Ayudhea Tannika
Dibalas 29 September 2019, 07:31
Tenaga kesehatan yang tepat untuk menangani kasus vaginismus
Oleh: dr. Ayudhea Tannika
17 Balasan
Alo dokter, Izin bertanya, ada user yang menyampaikan bahwa beliau tidak dapat melakukan penetrasi saat berhubungan intim dengan pasangan, karena otot-otot...

Lebih Lanjut

Download Aplikasi Alomedika & Ikuti CME Online-nya!
Kumpulkan poin SKP sebanyak-banyaknya!

  • Tentang Kami
  • Advertise with us
  • Syarat dan Ketentuan
  • Privasi
  • Kontak Kami

© 2024 Alomedika.com All Rights Reserved.