Epidemiologi Vulvodinia
Data epidemiologi menunjukkan bahwa vulvodinia dapat terjadi pada perempuan segala usia dan etnis, dengan prevalensi seumur hidup sekitar 8% yang relatif stabil hingga usia 70 tahun. Usia awitan rata-rata sekitar 30 tahun, meskipun rentang usia pasien sangat luas dari 6 hingga 70 tahun.[2,9]
Global
Vulvodinia merupakan kondisi yang dapat terjadi pada perempuan di seluruh rentang usia, periode reproduksi. Prevalensi seumur hidup diperkirakan sekitar 8% dan angka ini relatif stabil hingga usia 70 tahun.
Usia awitan rata-rata adalah sekitar 30 tahun, meskipun dapat muncul mulai dari masa kanak-kanak hingga usia lanjut (6–70 tahun). Banyak pasien telah mengalami nyeri selama bertahun-tahun, dan sering kali menjalani pemeriksaan berulang ke berbagai dokter sebelum akhirnya mendapatkan diagnosis yang tepat.
Kondisi ini tidak hanya umum, tetapi juga sering kali tidak terdiagnosis sehingga menyebabkan keterlambatan penanganan. Nyeri kronis yang dialami pasien cenderung menetap meskipun telah mencoba berbagai terapi, dengan intensitas rata-rata dilaporkan sekitar 6,7 dari 10. Selain itu, pasien vulvodinia sering menggunakan strategi koping yang tidak optimal, seperti konsumsi alkohol atau penggunaan analgesik berlebih untuk meredakan nyeri.[2,9]
Indonesia
Belum ada data epidemiologi mengenai vulvodinia di Indonesia.
Mortalitas
Meskipun vulvodinia tidak meningkatkan mortalitas secara langsung, kondisi ini menyebabkan morbiditas yang signifikan melalui nyeri kronis yang mengganggu fungsi fisik, aktivitas seksual, dan kualitas hubungan intim. Pasien sering melaporkan intensitas nyeri tinggi hingga mendorong penggunaan analgesik kuat dan konsumsi alkohol sebagai upaya mengatasi gejala.
Morbiditas emosional dan psikososial juga menonjol pada vulvodinia, termasuk gangguan fungsi sehari-hari, disabilitas fisik, serta risiko munculnya ide bunuh diri.[2,9]