Masuk atau Daftar

Alo! Masuk dan jelajahi informasi kesehatan terkini dan terlengkap sesuai kebutuhanmu di sini!
atau dengan
Facebook
Masuk dengan Email
Masukkan Kode Verifikasi
Masukkan kode verifikasi yang telah dikirimkan melalui SMS ke nomor
Kami telah mengirim kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Kami telah mengirim ulang kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Terjadi kendala saat memproses permintaan Anda. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Selanjutnya

Tidak mendapatkan kode? Kirim ulang atau Ubah Nomor Ponsel

Mohon Tunggu dalam Detik untuk kirim ulang

Apakah Anda memiliki STR?
Alo, sebelum melanjutkan proses registrasi, silakan identifikasi akun Anda.
Ya, Daftar Sebagai Dokter
Belum punya STR? Daftar Sebagai Mahasiswa

Nomor Ponsel Sudah Terdaftar

Nomor yang Anda masukkan sudah terdaftar. Silakan masuk menggunakan nomor [[phoneNumber]]

Masuk dengan Email

Silakan masukkan email Anda untuk akses Alomedika.
Lupa kata sandi ?

Masuk dengan Email

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk akses Alomedika.

Masuk dengan Facebook

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk verifikasi akun Alomedika.

KHUSUS UNTUK DOKTER

Logout
Masuk
Download Aplikasi
  • CME
  • Webinar
  • E-Course
  • Diskusi Dokter
  • Penyakit & Obat
    Penyakit A-Z Obat A-Z Tindakan Medis A-Z
Patofisiologi Vulvodinia annisa-meidina 2026-01-08T11:32:48+07:00 2026-01-08T11:32:48+07:00
Vulvodinia
  • Pendahuluan
  • Patofisiologi
  • Etiologi
  • Epidemiologi
  • Diagnosis
  • Penatalaksanaan
  • Prognosis
  • Edukasi dan Promosi Kesehatan

Patofisiologi Vulvodinia

Oleh :
dr. Alicia Pricelda
Share To Social Media:

Patofisiologi vulvodinia diduga melibatkan hipersensitisasi saraf perifer pada vulva, peningkatan densitas serabut nosiseptor, serta disregulasi respons inflamasi lokal yang memicu nyeri kronis persisten. Selain itu, perubahan pada modulasi nyeri, dan disfungsi otot dasar panggul juga diduga terlibat.[1-3]

Aspek Neurologi Vulva

Vulva dipersarafi oleh cabang labial anterior saraf ilioinguinal, saraf genitofemoral, dan cabang dari saraf pudenda. Saraf pudenda dibagi menjadi 3 cabang utama yakni saraf dorsal klitoris, saraf perineum yang mempersarafi labia mayor dan perineum, serta saraf rektal inferior yang mempersarafi area perianal.[1]

Hipersensitisasi neurologis pada vulva diduga berperan dalam patofisiologi vulvodinia melalui peningkatan densitas dan aktivitas serabut nosiseptor, terutama pada area vestibulum. Perubahan ini menyebabkan amplifikasi sinyal nyeri terhadap rangsangan ringan (allodinia) maupun nyeri berlebihan terhadap rangsangan normal (hiperalgesia).[1-3]

Aspek Patofisiologi Lain Vulvodinia

Berbeda dengan dispareunia, patofisiologi vulvodinia juga diduga berkaitan dengan disregulasi inflamasi lokal, di mana ditemukan peningkatan mediator proinflamasi seperti interleukin dan prostaglandin pada jaringan vestibulum, meskipun tanpa infeksi aktif. Kondisi ini dapat memicu sensitisasi jaringan, meningkatkan vaskularisasi, serta menurunkan ambang rangsang nosiseptif, sehingga nyeri terasa lebih mudah muncul dan lebih intens.

Selain itu, disfungsi otot dasar panggul berperan penting melalui peningkatan tonus otot, spasme, dan gangguan koordinasi neuromuskular yang memperburuk persepsi nyeri vulva. Faktor hormonal, seperti penurunan estrogen dan penggunaan kontrasepsi hormon tertentu, juga diduga memengaruhi kerentanan jaringan dan mekanisme nyeri kronis pada vulvodinia.[6,7]

Referensi

1. Faye RB, Mikes BA. Vulvodynia. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2025 Jan-. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK430792/
2. Vasileva P, Strashilov SA, Yordanov AD. Aetiology, diagnosis, and clinical management of vulvodynia. Prz Menopauzalny. 2020 Mar;19(1):44-48. doi: 10.5114/pm.2020.95337.
3. Akopians AL, Rapkin AJ. Vulvodynia: The Role of Inflammation in the Etiology of Localized Provoked Pain of the Vulvar Vestibule (Vestibulodynia). Semin Reprod Med. 2015 Jul;33(4):239-45. doi: 10.1055/s-0035-1554919.
6. Merlino L, Titi L, Pugliese F, D’Ovidio G, Senatori R, Rocca CD, Piccioni MG. Vulvodynia: Pain Management Strategies. Pharmaceuticals. 2022; 15(12):1514. https://doi.org/10.3390/ph15121514
7. Georgescu SR, Mitran CI, Mitran MI, Sârbu MI, Tampa M. Vulvodynia—An Under-Recognized Disease. Journal of Mind and Medical Sciences. 2016; 3(2):141-149. https://doi.org/10.22543/2392-7674.1055

Pendahuluan Vulvodinia
Etiologi Vulvodinia

Artikel Terkait

  • Red Flags Dispareunia
    Red Flags Dispareunia
  • Strategi Mengatasi Disfungsi Seksual Akibat Terapi Antidepresan
    Strategi Mengatasi Disfungsi Seksual Akibat Terapi Antidepresan
  • Peran Terapi Fisik dalam Penanganan Dispareunia
    Peran Terapi Fisik dalam Penanganan Dispareunia
Diskusi Terkait
dr. Natalia Christine Go
Dibalas 10 Maret 2022, 10:22
Hubungan dispareunia dan tubektomi apakah ada hubungannya - Obgyn Ask the Expert
Oleh: dr. Natalia Christine Go
1 Balasan
Alo dr. Utomo Budidarmo, Sp.OG, M.Kes. Izin konsul dok, ada pasien yang mengeluhkan dispareunia 2 minggu setelah operasi tubektomi. Apakah memang berhubungan...
dr.Siti Chasanah Syariatin
Dibalas 19 Mei 2021, 14:24
Dispareunia apakah selalu disebabkan oleh vaginismus - Andrologi Ask The Expert
Oleh: dr.Siti Chasanah Syariatin
3 Balasan
Selamat siang Prof. Wimpie.. Apakah dispareunia selalu vaginismus? Sebenarnya pemeriksaan apa yang perlu dilakukan untuk kasus tersebut? Terimakasih
dr. Ayudhea Tannika
Dibalas 29 September 2019, 07:31
Tenaga kesehatan yang tepat untuk menangani kasus vaginismus
Oleh: dr. Ayudhea Tannika
17 Balasan
Alo dokter, Izin bertanya, ada user yang menyampaikan bahwa beliau tidak dapat melakukan penetrasi saat berhubungan intim dengan pasangan, karena otot-otot...

Lebih Lanjut

Download Aplikasi Alomedika & Ikuti CME Online-nya!
Kumpulkan poin SKP sebanyak-banyaknya!

  • Tentang Kami
  • Advertise with us
  • Syarat dan Ketentuan
  • Privasi
  • Kontak Kami

© 2024 Alomedika.com All Rights Reserved.