Penatalaksanaan Vulvodinia
Basis bukti untuk pilihan penatalaksanaan pada vulvodinia masih kurang adekuat. Meski demikian, telah ada beberapa studi yang menunjukkan potensi dari perawatan vulva, terapi psikologi, topikal, oral, fisioterapi, dan terapi bedah pada vulvodinia. Pada umumnya, terapi vulvodinia dipilih dari yang paling tidak invasif dan kemudian disesuaikan dengan respon klinis.[2,9]
Perawatan Vulva
Perawatan vulva (vulvar care) bertujuan meminimalkan iritasi lokal dan menurunkan rangsangan nyeri pada jaringan vulva yang hipersensitif. Edukasi pasien mencakup penggunaan pakaian dalam berbahan katun, menghindari pakaian ketat, serta eliminasi seluruh agen iritan seperti parfum, sabun keras, antiseptik, douching, pembalut beraroma, dan produk pembersih kewanitaan.
Vulva dianjurkan dibersihkan hanya dengan air bersih, dikeringkan secara lembut setelah berkemih, dan menghindari gesekan berlebihan. Selain itu, penggunaan emolien netral tanpa pewangi dapat membantu mempertahankan kelembapan, mencegah kekeringan, dan berfungsi sebagai barrier epitel vulva. Selama menstruasi, pembalut katun non-iritan lebih disarankan, dan pada aktivitas seksual dianjurkan penggunaan pelumas berbasis air yang non-iritan.[2,9]
Terapi Psikologis
Edukasi pasien dan pendekatan psikologis, terutama cognitive behavioral therapy (CBT), berperan penting dan dilaporkan dapat menurunkan nyeri saat hubungan seksual hingga ±30%, terutama pada pasien dengan distress psikososial yang signifikan.
CBT membantu pasien mengenali dan memodifikasi pola pikir maladaptif, kecemasan terhadap nyeri, serta perilaku penghindaran yang dapat memperkuat sensitisasi nyeri, meski tidak ada bukti bahwa vulvodinia disebabkan gangguan psikologis primer.
Studi menunjukkan bahwa CBT memberikan perbaikan dispareunia yang sebanding dengan intervensi fisik atau bahkan pembedahan dalam jangka panjang, dengan tingkat kepuasan pasien yang lebih tinggi karena sifatnya yang non-invasif.
Meskipun bukti ilmiah masih terbatas dan sebagian besar berasal dari studi kecil atau non-terkontrol, terapi psikologis tetap direkomendasikan untuk membantu mengurangi nyeri, meningkatkan koping, dan memperbaiki fungsi seksual.[2,9]
Terapi Topikal
Terdapat banyak pilihan agen topikal yang telah digunakan dan diteliti untuk vulvodinia. Beberapa contoh adalah lidocaine, amitriptyline kombinasi dengan baclofen, dan terapi hormon.[2,9]
Lidocaine
Agen topikal yang paling sering digunakan untuk vulvodinia adalah lidocaine topikal 5% dalam bentuk salep atau gel. Lidocaine diaplikasikan pada area nyeri sekitar 20–30 menit sebelum hubungan seksual atau saat nyeri muncul. Pada sebagian pasien, penggunaan kontinu (misalnya dioleskan sebelum tidur selama beberapa minggu) dilaporkan dapat menurunkan amplifikasi nyeri dengan menekan aktivitas nosiseptor perifer.
Efek samping utama lidocaine adalah baal lokal, dan pasangan seksual laki-laki dapat mengalami mati rasa sehingga kontak oral perlu dihindari. Meskipun beberapa uji klinis menunjukkan penurunan nyeri dan dispareunia, studi lain melaporkan efektivitas lidocaine tidak lebih baik dibandingkan plasebo, sehingga respons pasien perlu dievaluasi secara individual.[2,9]
Amitriptyline + Baclofen
Agen topikal lain digunakan secara selektif. Kombinasi amitriptyline 2% dan baclofen 2% bisa digunakan pada nyeri terlokalisasi dan vaginismus, biasanya dioleskan 1–2 kali sehari selama beberapa minggu hingga bulan, dengan laporan perbaikan nyeri tekan dan dispareunia pada studi observasional.[2,9]
Gabapentin Topikal
Gabapentin topikal (konsentrasi bervariasi, umumnya 2–6%) juga dilaporkan menurunkan nyeri pada vestibulodinia dan vulvodinia generalisata, meskipun bukti masih terbatas dan belum divalidasi dalam uji acak terkontrol.[2,9]
Ketamine
Agen lain seperti ketamine topikal juga telah dilaporkan dalam seri kasus kecil untuk nyeri genital refrakter, namun masih bersifat eksperimental.[2,9]
Hormon Topikal
Estrogen topikal (misalnya estradiol atau estrogen terkonjugasi) diduga dapat meningkatkan ketebalan dan elastisitas epitel vulva, terutama pada kondisi hipoestrogenik. regimen yang digunakan bervariasi, umumnya 1 kali sehari selama beberapa minggu, kemudian diturunkan frekuensinya. Namun, hasil uji klinis menunjukkan efektivitas yang tidak konsisten dalam menurunkan dispareunia pada vestibulodinia.[2,9]
Kortikosteroid Topikal Kurang Disarankan
Penggunaan kortikosteroid topikal, seperti hydrocortisone 1%, tidak direkomendasikan untuk penggunaan jangka panjang karena manfaat terbatas dan risiko atrofi mukosa, meskipun pernah dilaporkan menurunkan dispareunia pada sebagian kecil pasien.[2,9]
Pemilihan Sediaan Topikal
Pemilihan sediaan menjadi aspek penting dalam terapi topikal. Salep lebih dianjurkan dibandingkan krim, karena krim sering mengandung pengawet dan stabilisator yang dapat menimbulkan sensasi terbakar dan memperburuk nyeri. Penghentian semua terapi topikal sebelumnya juga perlu dipertimbangkan pada pasien yang telah lama menggunakan berbagai obat lokal, karena iritasi kumulatif dapat berkontribusi terhadap gejala.[2,9]
Terapi Oral
Terapi oral pada vulvodinia dipertimbangkan bila terapi topikal dan intervensi non-farmakologis tidak memberikan perbaikan bermakna, terutama pada pasien dengan nyeri menetap, luas (generalized vulvodynia), atau memiliki komponen nyeri neuropatik yang jelas.
Pemilihan obat didasarkan pada profil nyeri, komorbiditas, serta tolerabilitas pasien, dengan tujuan utama menurunkan sensitisasi perifer dan sentral. Obat oral umumnya digunakan sebagai terapi jangka menengah hingga panjang dan memerlukan titrasi dosis bertahap serta pemantauan efek samping.
Analgesik konvensional dan opioid tidak direkomendasikan sebagai terapi utama vulvodinia karena efektivitas terbatas dan risiko ketergantungan. Meskipun sebagian pasien melaporkan penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), alkohol, atau opioid untuk meredakan nyeri, pendekatan ini tidak menangani mekanisme dasar nyeri neuropatik dan berisiko memperburuk luaran jangka panjang.[2,9]
Antidepresan Trisiklik
Antidepresan trisiklik (TCA), khususnya amitriptyline, merupakan salah satu terapi oral yang paling sering digunakan. Amitriptyline dimulai dengan dosis rendah 10–25 mg pada malam hari, kemudian ditingkatkan secara bertahap setiap 1–2 minggu hingga dosis efektif, umumnya 50–100 mg/hari, tergantung respons dan toleransi.
Perbaikan nyeri biasanya baru terlihat setelah 4–6 minggu penggunaan, sehingga terapi perlu dipertahankan minimal beberapa bulan. Efek samping seperti mulut kering, sedasi, konstipasi, dan kenaikan berat badan perlu dijelaskan terutama pada penggunaan jangka panjang.[2,9]
Antikonvulsan
Antikonvulsan, terutama gabapentin, dipilih pada vulvodinia dengan komponen neuropatik yang menonjol atau bila TCA tidak ditoleransi. Gabapentin biasanya dimulai dengan dosis 100–300 mg pada malam hari, kemudian dititrasi perlahan hingga 900–3600 mg/hari dalam dosis terbagi, sesuai respons klinis.
Efektivitas dinilai setelah 6–8 minggu, dengan perbaikan berupa penurunan intensitas nyeri dan allodinia. Efek samping yang sering meliputi pusing, mengantuk, dan gangguan konsentrasi, sehingga titrasi lambat sangat dianjurkan.[2,9]
Injeksi Botulinum Toksin
Injeksi botulinum toksin tipe A (BoNT-A) dipertimbangkan pada pasien vulvodinia yang refrakter terhadap terapi konservatif, khususnya pada mereka dengan hipertonus atau spasme otot dasar panggul yang terbukti pada pemeriksaan fisik. Modalitas ini bertujuan menurunkan aktivitas otot berlebih dan memodulasi transmisi nyeri perifer, sehingga lebih sesuai pada vulvodinia terlokalisasi atau kasus dengan komponen muskuloskeletal yang dominan.
Dosis dan teknik terapi bervariasi antar studi, namun BoNT-A umumnya diberikan dengan dosis total 20–100 unit, disuntikkan secara terarah ke levator ani, obturator internus, atau area nyeri spesifik di vestibulum, sering kali dengan panduan palpasi.
Efek klinis biasanya muncul dalam 1–2 minggu dan dapat bertahan 3–6 bulan, sehingga injeksi dapat dipertimbangkan ulang bila respons awal baik. Efek samping yang dilaporkan meliputi kelemahan otot sementara, gangguan berkemih atau defekasi ringan.[2,9]
Intervensi Non-Farmakologi
Fisioterapi dasar panggul bertujuan untuk menurunkan hipertonus otot, meningkatkan relaksasi, dan memperbaiki koordinasi neuromuskular. Intervensi yang digunakan meliputi terapi manual internal dan eksternal, peregangan otot levator ani dan obturator internus, latihan pernapasan diafragma, serta edukasi relaksasi otot.
Fisioterapi dipilih pada pasien dengan nyeri tekan otot dasar panggul, dispareunia superfisial, atau gejala berkemih dan defekasi yang mengarah ke hipertonus otot. Durasi terapi umumnya 8–12 minggu, dengan frekuensi 1 sesi per minggu, dan perbaikan klinis sering terlihat setelah beberapa minggu terapi berkelanjutan.
Biofeedback sering dikombinasikan dengan fisioterapi untuk meningkatkan kesadaran dan kontrol pasien terhadap otot dasar panggul. Dengan bantuan sensor intravaginal atau permukaan, pasien dilatih untuk mengidentifikasi dan menurunkan aktivitas otot yang berlebihan. Program biofeedback biasanya berlangsung 6–12 sesi, tergantung respons pasien.
Electrical muscle stimulation (EMS) digunakan secara selektif sebagai terapi tambahan pada pasien dengan disfungsi otot dasar panggul yang persisten atau refrakter terhadap fisioterapi konvensional. EMS bekerja dengan menurunkan spasme otot dan memodulasi transmisi nyeri melalui stimulasi saraf perifer.[2,9]
Pembedahan
Pembedahan pada vulvodinia merupakan terapi lini terakhir dan hanya dipertimbangkan pada pasien dengan nyeri terlokalisasi yang persisten, terutama localized provoked vestibulodynia, yang refrakter terhadap seluruh terapi konservatif. Seleksi pasien sangat ketat karena vulvodinia adalah sindrom nyeri fungsional tanpa kelainan anatomis yang khas, sehingga pembedahan tidak sesuai untuk vulvodinia generalisata atau nyeri dengan dominasi sentral.
Tindakan pembedahan yang paling banyak dilaporkan adalah vestibulektomi, yaitu eksisi jaringan vestibulum vulva yang nyeri, sering kali disertai dengan perineoplasti untuk rekonstruksi anatomi. Prosedur ini ditujukan untuk mengangkat jaringan dengan densitas serabut saraf yang meningkat dan respons nyeri berlebihan.
Vestibulektomi dapat bersifat parsial atau total, tergantung luas area nyeri yang teridentifikasi melalui uji cotton swab. Studi observasional dan uji klinis nonacak melaporkan tingkat perbaikan nyeri dan dispareunia yang bermakna pada sebagian besar pasien terpilih. Meskipun secara umum aman, pembedahan memiliki risiko, termasuk nyeri sisa, perubahan sensasi, jaringan parut, infeksi, dan ketidakpuasan pasien.[2,9]