Masuk atau Daftar

Alo! Masuk dan jelajahi informasi kesehatan terkini dan terlengkap sesuai kebutuhanmu di sini!
atau dengan
Facebook
Masuk dengan Email
Masukkan Kode Verifikasi
Masukkan kode verifikasi yang telah dikirimkan melalui SMS ke nomor
Kami telah mengirim kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Kami telah mengirim ulang kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Terjadi kendala saat memproses permintaan Anda. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Selanjutnya

Tidak mendapatkan kode? Kirim ulang atau Ubah Nomor Ponsel

Mohon Tunggu dalam Detik untuk kirim ulang

Apakah Anda memiliki STR?
Alo, sebelum melanjutkan proses registrasi, silakan identifikasi akun Anda.
Ya, Daftar Sebagai Dokter
Belum punya STR? Daftar Sebagai Mahasiswa

Nomor Ponsel Sudah Terdaftar

Nomor yang Anda masukkan sudah terdaftar. Silakan masuk menggunakan nomor [[phoneNumber]]

Masuk dengan Email

Silakan masukkan email Anda untuk akses Alomedika.
Lupa kata sandi ?

Masuk dengan Email

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk akses Alomedika.

Masuk dengan Facebook

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk verifikasi akun Alomedika.

KHUSUS UNTUK DOKTER

Logout
Masuk
Download Aplikasi
  • CME
  • Webinar
  • E-Course
  • Diskusi Dokter
  • Penyakit & Obat
    Penyakit A-Z Obat A-Z Tindakan Medis A-Z
Etiologi Vulvodinia annisa-meidina 2026-01-08T11:33:48+07:00 2026-01-08T11:33:48+07:00
Vulvodinia
  • Pendahuluan
  • Patofisiologi
  • Etiologi
  • Epidemiologi
  • Diagnosis
  • Penatalaksanaan
  • Prognosis
  • Edukasi dan Promosi Kesehatan

Etiologi Vulvodinia

Oleh :
dr. Alicia Pricelda
Share To Social Media:

Etiologi vulvodinia belum diketahui pasti dan diduga bersifat multifaktorial, yang melibatkan inflamasi lokal, trauma langsung pada vulva atau dasar panggul, infeksi urogenital, serta perubahan hormonal. Faktor risiko yang diduga berkaitan adalah peningkatan jumlah dan sensitivitas ujung saraf, kadar mediator inflamasi, reaksi alergi kontak, serta disfungsi otot dasar panggul.[1,2]

Etiologi

Etiologi vulvodinia belum sepenuhnya dipahami dan kemungkinan bersifat multifaktorial. Meski begitu, berbagai teori mencoba menjelaskan bagaimana nyeri kronis dapat muncul dan menetap pada vulva.

Sejumlah faktor pencetus lokal diduga memulai proses inflamasi atau menyebabkan trauma langsung pada jaringan vulva, seperti adanya alergi kontak, kandidiasis, infeksi urogenital lain, episiotomi, atau trauma pada dasar panggul. Pemicu hormonal seperti penggunaan kontrasepsi oral, menopause, atau perubahan hormon pascapersalinan juga dilaporkan berkaitan dengan awitan gejala.

Setelah pencetus awal terjadi, respons inflamasi kronis dapat memicu aktivasi nosiseptor, peningkatan jumlah serta sensitivitas ujung saraf, dan pada akhirnya menyebabkan sensibilisasi perifer yang berkembang menjadi sensibilisasi sentral sehingga muncul nyeri neuropatik yang persisten.

Faktor lain yang mungkin berkontribusi mencakup cedera atau peradangan pada saraf aferen dari vulva menuju tulang belakang, reaksi lingkungan yang abnormal, predisposisi genetik, serta disfungsi otot dasar panggul seperti kelemahan, spasme, atau instabilitas.[1,2]

Faktor Risiko

Kecemasan, depresi, dan stres pascatrauma telah dikaitkan dengan peningkatan risiko vulvodinia. Perempuan dengan gangguan kecemasan telah dilaporkan berisiko hingga 4 kali lebih tinggi mengalami vulvodinia.[8]

Faktor risiko lain adalah riwayat inflamasi atau trauma lokal pada vulva, termasuk akibat episiotomi. Perubahan hormonal juga dilaporkan meningkatkan kerentanan seseorang mengalami vulvodinia.

Selain itu, cedera atau inflamasi saraf aferen, predisposisi genetik terhadap nyeri kronis, serta disfungsi otot dasar panggul turut dianggap sebagai faktor yang dapat memfasilitasi terjadinya sensibilisasi perifer dan sentral, sehingga memicu perkembangan vulvodinia.[2]

Referensi

1. Faye RB, Mikes BA. Vulvodynia. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2025 Jan-. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK430792/
2. Vasileva P, Strashilov SA, Yordanov AD. Aetiology, diagnosis, and clinical management of vulvodynia. Prz Menopauzalny. 2020 Mar;19(1):44-48. doi: 10.5114/pm.2020.95337.

Patofisiologi Vulvodinia
Epidemiologi Vulvodinia

Artikel Terkait

  • Red Flags Dispareunia
    Red Flags Dispareunia
  • Strategi Mengatasi Disfungsi Seksual Akibat Terapi Antidepresan
    Strategi Mengatasi Disfungsi Seksual Akibat Terapi Antidepresan
  • Peran Terapi Fisik dalam Penanganan Dispareunia
    Peran Terapi Fisik dalam Penanganan Dispareunia
Diskusi Terkait
dr. Natalia Christine Go
Dibalas 10 Maret 2022, 10:22
Hubungan dispareunia dan tubektomi apakah ada hubungannya - Obgyn Ask the Expert
Oleh: dr. Natalia Christine Go
1 Balasan
Alo dr. Utomo Budidarmo, Sp.OG, M.Kes. Izin konsul dok, ada pasien yang mengeluhkan dispareunia 2 minggu setelah operasi tubektomi. Apakah memang berhubungan...
dr.Siti Chasanah Syariatin
Dibalas 19 Mei 2021, 14:24
Dispareunia apakah selalu disebabkan oleh vaginismus - Andrologi Ask The Expert
Oleh: dr.Siti Chasanah Syariatin
3 Balasan
Selamat siang Prof. Wimpie.. Apakah dispareunia selalu vaginismus? Sebenarnya pemeriksaan apa yang perlu dilakukan untuk kasus tersebut? Terimakasih
dr. Ayudhea Tannika
Dibalas 29 September 2019, 07:31
Tenaga kesehatan yang tepat untuk menangani kasus vaginismus
Oleh: dr. Ayudhea Tannika
17 Balasan
Alo dokter, Izin bertanya, ada user yang menyampaikan bahwa beliau tidak dapat melakukan penetrasi saat berhubungan intim dengan pasangan, karena otot-otot...

Lebih Lanjut

Download Aplikasi Alomedika & Ikuti CME Online-nya!
Kumpulkan poin SKP sebanyak-banyaknya!

  • Tentang Kami
  • Advertise with us
  • Syarat dan Ketentuan
  • Privasi
  • Kontak Kami

© 2024 Alomedika.com All Rights Reserved.