Etiologi Vulvodinia
Etiologi vulvodinia belum diketahui pasti dan diduga bersifat multifaktorial, yang melibatkan inflamasi lokal, trauma langsung pada vulva atau dasar panggul, infeksi urogenital, serta perubahan hormonal. Faktor risiko yang diduga berkaitan adalah peningkatan jumlah dan sensitivitas ujung saraf, kadar mediator inflamasi, reaksi alergi kontak, serta disfungsi otot dasar panggul.[1,2]
Etiologi
Etiologi vulvodinia belum sepenuhnya dipahami dan kemungkinan bersifat multifaktorial. Meski begitu, berbagai teori mencoba menjelaskan bagaimana nyeri kronis dapat muncul dan menetap pada vulva.
Sejumlah faktor pencetus lokal diduga memulai proses inflamasi atau menyebabkan trauma langsung pada jaringan vulva, seperti adanya alergi kontak, kandidiasis, infeksi urogenital lain, episiotomi, atau trauma pada dasar panggul. Pemicu hormonal seperti penggunaan kontrasepsi oral, menopause, atau perubahan hormon pascapersalinan juga dilaporkan berkaitan dengan awitan gejala.
Setelah pencetus awal terjadi, respons inflamasi kronis dapat memicu aktivasi nosiseptor, peningkatan jumlah serta sensitivitas ujung saraf, dan pada akhirnya menyebabkan sensibilisasi perifer yang berkembang menjadi sensibilisasi sentral sehingga muncul nyeri neuropatik yang persisten.
Faktor lain yang mungkin berkontribusi mencakup cedera atau peradangan pada saraf aferen dari vulva menuju tulang belakang, reaksi lingkungan yang abnormal, predisposisi genetik, serta disfungsi otot dasar panggul seperti kelemahan, spasme, atau instabilitas.[1,2]
Faktor Risiko
Kecemasan, depresi, dan stres pascatrauma telah dikaitkan dengan peningkatan risiko vulvodinia. Perempuan dengan gangguan kecemasan telah dilaporkan berisiko hingga 4 kali lebih tinggi mengalami vulvodinia.[8]
Faktor risiko lain adalah riwayat inflamasi atau trauma lokal pada vulva, termasuk akibat episiotomi. Perubahan hormonal juga dilaporkan meningkatkan kerentanan seseorang mengalami vulvodinia.
Selain itu, cedera atau inflamasi saraf aferen, predisposisi genetik terhadap nyeri kronis, serta disfungsi otot dasar panggul turut dianggap sebagai faktor yang dapat memfasilitasi terjadinya sensibilisasi perifer dan sentral, sehingga memicu perkembangan vulvodinia.[2]