Prognosis Vulvodinia
Prognosis vulvodinia bersifat kronis dan fluktuatif, tetapi pasien dapat mengalami perbaikan bermakna dengan terapi jangka panjang yang terindividualisasi. Potensi komplikasi meliputi dispareunia persisten, disfungsi seksual, gangguan kualitas hidup, kecemasan dan depresi, serta nyeri kronis refrakter dan risiko ideasi bunuh diri.[1,2,9,16]
Komplikasi
Vulvodinia dapat menimbulkan komplikasi jangka panjang berupa nyeri vulva kronis persisten yang dimediasi oleh sensitisasi perifer dan sentral, sehingga respons terhadap rangsangan ringan (allodinia) dan ambang nyeri menurun secara progresif. Kondisi ini sering disertai disfungsi otot dasar panggul (hipertonisitas, spasme refleks) dan dispareunia berat, yang dapat memperburuk respons terhadap terapi.
Selain komplikasi somatik, vulvodinia memiliki dampak psikososial dan fungsional, termasuk gangguan fungsi seksual, penurunan kualitas hidup, kecemasan, depresi, dan gangguan hubungan intim. Nyeri kronis yang tidak terkontrol juga dapat menyebabkan avoidance behavior, keterlambatan pencarian perawatan medis, dan penggunaan terapi yang tidak tepat atau berulang, yang berpotensi memperparah iritasi vulva dan meningkatkan beban penyakit keseluruhan.[1,2,9,16]
Prognosis
Diagnosis secara dini dan pendekatan multidisiplin dapat meningkatkan hasil yang diinginkan. Meskipun tidak ada obat yang bersifat universal, namun beberapa pasien dapat berhasil mengatasi nyeri dengan kombinasi terapi medis, fisik, dan psikologis. Mengatasi faktor-faktor yang mungkin mendasari seperti disfungsi otot panggul juga dapat memperbaiki hasil jangka panjang.[5,8]
Vulvodinia dapat mempengaruhi kualitas hidup pasiennya, sehingga dukungan emosional dan sosial juga diperlukan untuk meningkatkan kualitas hidup. Bahkan jika remisi lengkap tidak tercapai dukungan emosional yang berkelanjutan dapat membantu pasien mengelola kondisi kronis dan dapat mengatasi kambuhnya gejala dengan lebih efektif.[1]