Prognosis Sindrom Koroner Akut
Stratifikasi risiko dapat dilakukan untuk menentukan prognosis sindrom koroner akut. Nekrosis jaringan akibat sindrom koroner akut dapat menyebabkan berbagai komplikasi, dari aritmia, gagal jantung, hingga kematian.
Komplikasi
Sindroma koroner akut dapat menyebabkan nekrosis jaringan pada organ jantung sehingga selain dapat menimbulkan kematian, dapat juga menyebabkan komplikasi seperti:
Aritmia, misalnya fibrilasi atrium, takikardi ventrikular, fibrilasi ventrikular
- trombus ventrikel kiri
- fibrosis jantung
- gagal jantung
- syok kardiogenik
- disfungsi katup mitral
- aneurisma ventrikel[24]
Gagal jantung pada sindroma koroner akut diklasifikasikan menurut Klasifikasi Killip:
- Killip Kelas I, tidak ada komplikasi
- Killip Kelas II, terdapat:
- Bunyi jantung S3
- Tanda bendungan paru/ peningkatan tekanan vena jugular
- Ronki pada kurang dari ½ lapangan paru posterior
- Killip Kelas III, terdapat edema paru
- Killip Kelas IV, syok kardiogenik[2]
Semakin tinggi klasifikasi Killip, semakin tinggi angka mortalitasnya di rumah sakit.[1]
Prognosis
Prognosis dari sindroma koroner akut, terutama grup NSTEMI dan angina tidak stabil, bervariasi karena pasiennya juga heterogen. Untuk menilai prognosisnya maka yang harus dilakukan adalah stratifikasi risiko. Stratifikasi risiko dapat dilakukan dengan sistem skoring. Sistem skoring tersebut adalah:
TIMI (Trombolysis in Myocardial Infarction)
Skoring menggunakan sistem skoring TIMI adalah sebagai berikut:
- Risiko rendah (0-2 poin)
- Risiko sedang (3-5 poin)
- Risiko tinggi (5-7 poin)
Penilaian skor TIMI adalah sebagai berikut:
- Usia 65 tahun atau lebih (1 poin)
- 3 atau lebih faktor risiko untuk penyakit kardiovaskular (1 poin)\
- Penggunaan aspirin dalam 7 hari terakhir (1 poin)
- Riwayat stenosis koroner lebih dari 50% (1 poin)
- Lebih dari 1 kali episode angina pada saat istirahat dalam waktu kurang dari 24 jam (1 poin)
- Deviasi segmen ST (1 poin)
- Peningkatan enzim jantung (1 poin)
GRACE (Global Registry of Acute Coronary Events)
Sistem skoring GRACE juga dapat digunakan sebagai stratifikasi risiko sindrom koroner akut:
- Risiko rendah (0-133 poin)
- Risiko sedang (134-200 poin)
- Risiko tinggi (lebih dari 200 poin)
Penilaian skor GRACE, meliputi umur, laju denyut jantung, tekanan darah sistolik, kadar kreatinin, Kelas Killip, riwayat henti jantung, peningkatan enzim jantung, dan deviasi segmen ST.[16,17]
Pasien yang dengan cepat dilakukan revaskularisasi memiliki prognosis yang lebih baik. Pasien dengan komplikasi gagal jantung atau kelas Killip yang tinggi memiliki angka mortalitas yang tinggi.