Diagnosis Campak
Diagnosis campak atau measles atau rubeola didapat dari karakteristik gejala demam, coryza, konjungtivitis, dan koplik spot yang dilanjutkan dengan ruam makulopapular khas. Periode paling menular dalam infeksi campak adalah 5 hari sebelum dan 4 hari setelah ruam muncul.[4]
Anamnesis
Anamnesis pada infeksi campak diawali dengan riwayat kontak dengan penderita campak ataupun bepergian ke wilayah yang berstatus kejadian luar biasa (KLB) campak pada masa inkubasi. Selain itu, tanda dan gejala klinis yang khas seperti keluhan demam, batuk, pilek, dan ruam harus ditanyakan.[2,4-6]
Selain itu, pasien juga dapat mengeluh mual, muntah, dan diare, sehingga pada keadaan ini, selain menanyakan gejala, tenaga kesehatan juga harus menilai status hidrasi pasien.[14,15]
Fase Inkubasi
Fase inkubasi infeksi campak dimulai dari paparan hingga muncul gejala prodromal berkisar antara 11 sampai 12 hari dan waktu dari paparan hingga timbul ruam 7 sampai 21 hari, rata-rata 14 hari. Pada fase ini, pasien bisa tidak mengalami keluhan atau mengalami keluhan demam, konjungtivitis dan ruam.[2,5,6.13,16,17]
Fase Prodromal
Gejala pada fase prodromal campak berlangsung selama 2 sampai 4 hari. Gejala tersebut meliputi keluhan demam yang semakin tinggi, minimal salah satu dari 3c, yaitu cough, coryza, conjunctivitis. Muncul koplik spot membran mukosa terutama di bagian dalam pipi.[2,6,13,16,17]
Identifikasi gejala prodromal infeksi campak, pada saat anamnesis dapat ditanyakan mengenai gejala yang dirasakan pasien seperti demam, batuk, pilek; mata merah, berair, dan fotofobia. Adanya koplik spot dapat ditanyakan mengenai bercak putih seperti garam dengan dasar kemerahan di dalam mulut.[2,6,13,16]
Tanda koplik spot merupakan tanda patognomonik yang hanya muncul pada campak sebelum ruam makulopapular muncul, sehingga sangat penting mengidentifikasi hal ini dalam usaha diagnosis campak.[4]
Fase Exanthema
Gejala selanjutnya pada infeksi campak di fase exanthema adalah ruam makulopapular yang muncul 2 sampai 4 hari dari onset demam dan berlangsung selama 5 sampai 6 hari. Saat anamnesis dapat ditanyakan mengenai munculnya bintik-bintik merah yang bermula pada garis rambut atau belakang telinga kemudian menyebar ke wajah dan leher bagian atas. Setelah 3 hari, bintik merah tersebut menyebar hingga ekstremitas.[2,6,16,17]
Ruam ini kemudian akan menghilang sesuai dengan urutan bagian tubuh yang pertama kali muncul.[4]
Hal lain yang perlu ditanyakan pada saat anamnesis adalah adanya penurunan nafsu makan serta riwayat vaksinasi campak sebelumnya.[6]
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik khas pada infeksi campak sebenarnya mulai dapat diidentifikasi mulai fase prodromal, yaitu munculnya demam, cough, coryza, dan konjungtivitis. Selain itu, pada fase exanthema dapat muncul ruam makulopapular, limfadenopati, dan splenomegali.[1,2,4,6,17]
Selain pemeriksaan ini, pemeriksaan menyeluruh mengenai status hidrasi pasien juga sangat diperlukan, terutama pada mereka yang datang dengan mual dan muntah serta diare.[15]
Demam
Demam pada infeksi campak dapat mencapai suhu ≥40°C. Demam biasanya bertambah tinggi sampai hari ke 4 sampai 6 dari onset gejala, kemudian perlahan turun.[1,17]
Koplik Spot
Koplik spot muncul sebagai plak putih kecil kebiruan pada mukosa bukal. Koplik spot terdapat pada 70% kasus campak dan dianggap sebagai tanda patognomonik campak. Koplik spot muncul 1-2 hari sebelum timbul ruam dan mungkin berlangsung 1-2 hari setelah timbul ruam.[2]
Ruam Makulopapular
Ruam makulopapular adalah khas pada campak. Lesi makulopapular ini muncul dari muka atau belakang telinga, kemudian menyebar secara sefalokaudal ke leher, dada, abdomen, kemudian ke ekstremitas. Pada awalnya lesi memucat dengan tekanan menggunakan ujung jari. Sekitar 3 sampai 4 hari kemudian sebagian besar lesi tidak memucat dengan tekanan. Ruam akan memudar dengan urutan sama seperti kemunculannya.[2,6,13]
Diagnosis Banding
Diagnosis banding infeksi campak sebelum muncul ruam makulopapular adalah penyakit pernapasan oleh sebab virus lain seperti influenza, atau common cold.[18,19]
Sementara itu, setelah ruam makulopapular muncul, diagnosis banding campak adalah penyakit lain dengan gejala demam dan ruam makulopapular yaitu demam dengue, penyakit Kawasaki, roseola atau exanthema subitum, rubella, atau enterovirus.[18,19]
Demam Dengue
Demam dengue disebabkan oleh virus yang termasuk dalam famili Flaviviridae. Infeksi campak dan dengue sama-sama memiliki manifestasi klinis demam dan ruam makulopapular.
Hal yang membedakan adalah pada infeksi campak disertai gejala infeksi saluran pernapasan bagian bawah berupa batuk dan pilek, serta munculnya koplik spot. Sementara itu, pada dengue disertai gejala nyeri kepala, myalgia, muntah, dan dapat muncul perdarahan pada dengue haemorrhagic fever (DHF).[19,20]
Penyakit Kawasaki
Penyakit Kawasaki merupakan penyakit demam akut pada masa kanak-kanak yang ditandai dengan vaskulitis arteri ekstra parenkim, berukuran sedang, dan dengan predileksi pada arteri koroner. Penyakit Kawasaki memiliki manifestasi klinis yang serupa dengan infeksi campak yaitu berupa demam, konjungtivitis non purulen, dan ruam makulopapular.[19,21,22]
Akan tetapi, penyakit Kawasaki tidak memiliki gejala pada sistem pernapasan melainkan terdapat gejala seperti edema pada tangan dan kaki yang disertai deskuamasi, bibir merah dan pecah-pecah, strawberry tongue, eritema pada mukosa oral dan faringeal, serta limfadenopati servikal.[19,21,22]
Roseola (Exanthema Subitum)
Roseola infantum atau exanthema subitum adalah infeksi virus akut pada bayi dan anak-anak yang disebabkan oleh virus herpes-6 dan 7. Seperti infeksi campak, roseola juga ditandai dengan adanya demam, gejala sistem pernapasan bagian bawah, dan ruam makulopapular.[19,23]
Demam pada roseola bahkan dapat mencapai ≥40°C dan berlangsung selama 3-5 hari. Namun, ruam roseola muncul setelah demam turun dimulai dari badan menyebar ke lengan, leher, wajah, dan tungkai.[19,23]
Rubella
Rubella disebabkan oleh togavirus dengan RNA berselubung. Hal yang membedakan rubella dengan infeksi campak adalah pada rubella ruam makulopapular muncul 1-3 hari setelah onset gejala prodromal yang sama dengan campak. Ruam tersebut muncul dimulai dari wajah kemudian menyebar secara sefalokaudal. Selain itu, pada rubella juga dapat dijumpai petekie pada palatum mole (Forchheimer spot).[19,24]
Enterovirus
Infeksi enterovirus atau penyakit tangan kaki mulut (PTKM) juga dapat menimbulkan gejala yang menyerupai campak yaitu demam dan ruam makulopapular pada anak. Tetapi ruam pada infeksi enterovirus dimulai dari wajah kemudian menyebar ke badan dan ekstremitas.[19,24]
Erupsi Obat
Erupsi obat dapat memiliki manifestasi menyerupai ruam pada campak. Akan tetapi, ruam yang timbul pada erupsi obat dapat dibedakan dengan melakukan anamnesis mengenai adanya konsumsi obat tertentu sebelumnya. Selain itu, ruam pada erupsi obat biasanya akan menghilang setelah menghentikan penggunaan obat tersebut.[4]
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang pada infeksi campak dilakukan untuk menemukan mendeteksi antibodi IgM spesifik virus campak, serta pencitraan toraks untuk melihat adanya pneumonia interstitial.[2,5,16,17]
Penegakkan diagnosis dilakukan dengan pemeriksaan serologis, namun karena keterbatasan sumber daya dan manifestasi klinis yang khas pada campak, gambaran klinis saja sudah cukup untuk melakukan diagnosis.[2,5,16,17]
Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium untuk infeksi campak meliputi pemeriksaan spesifik yaitu serologi dan real-time polymerase-chain-reaction (RT-PCR) serta pemeriksaan tidak spesifik.
Serologi:
Penegakan diagnosis campak secara laboratorik terutama mengandalkan deteksi antibodi spesifik terhadap virus campak, yaitu IgM dan IgG. Pemeriksaan IgM dengan metode sandwich-capture merupakan cara tercepat untuk mengonfirmasi infeksi akut.
Meski demikian, perlu diperhatikan bahwa IgM biasanya belum terdeteksi dalam 1–2 hari pertama munculnya ruam, sehingga sampel darah idealnya diambil mulai hari ke-3 hingga maksimal 1 bulan setelah onset ruam untuk menghindari hasil negatif palsu. Sensitivitas pemeriksaan ini meningkat dari sekitar 77% dalam 72 jam pertama menjadi hampir 100% pada hari ke-4 hingga ke-11.
Sementara itu, IgG digunakan untuk konfirmasi dengan melihat kenaikan titer ≥4 kali lipat antara fase akut dan konvalesen, meskipun metode ini kurang praktis untuk diagnosis dini karena memerlukan waktu lebih lama. IgG mulai terdeteksi sekitar hari ke-4 dan umumnya jelas pada minggu pertama, dengan pengambilan sampel akut disarankan pada hari ke-7 dan sampel konvalesen 10–14 hari kemudian.
Perlu diingat adanya kemungkinan hasil positif palsu pada IgM, misalnya akibat adanya penyakit reumatologis atau infeksi lain. Selain itu, ingat pula bahwa IgG juga dapat mencerminkan imunitas akibat infeksi lama, vaksinasi, atau antibodi maternal, sehingga interpretasi hasil harus mempertimbangkan konteks klinis.[2,17,25]
Real-time Polymerase-chain-reaction (RT-PCR):
Pemeriksaan RT-PCR digunakan untuk mendeteksi adanya RNA virus campak pada urin, darah, cairan oral, sekret orofaring dan nasofaring, cairan serebrospinal, ataupun jaringan. Pemeriksaan ini bisa dilakukan segera setelah kontak dengan pasien campak setelah muncul gejala sebelum terbentuk IgM.[2,17,18,25]
Pemeriksaan Tidak Spesifik:
Pemeriksaan penunjang tidak spesifik yang dapat dilakukan pada penderita campak adalah pemeriksaan darah lengkap. Pemeriksaan tersebut dapat menunjukkan adanya leukopenia, limfopenia, terkadang limfositosis relatif, trombositopenia, dan neutropenia absolut.[18]
Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan radiologi pada infeksi campak dilakukan untuk mengetahui adanya komplikasi berupa pneumonia. Pemeriksaan yang dapat dilakukan meliputi rontgen toraks atau CT scan toraks.[16,26]
Penulisan pertama oleh: dr. Amanda Sonia Arliesta
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha