Edukasi dan Promosi Kesehatan Campak
Edukasi pasien campak atau measles atau rubeola adalah pentingnya melakukan isolasi selama masa infeksius agar tidak menularkan pada orang lain. Informasikan juga bahwa penyakit ini bersifat swasirna pada kebanyakan kasus. Selain itu, tekankan pentingnya imunisasi campak untuk menurunkan risiko morbiditas dan mortalitas pada pasien, serta demi meningkatkan herd immunity.[13-15]
Edukasi Pasien
Edukasi pasien dan keluarga pasien yang sedang menderita campak meliputi edukasi bahwa campak merupakan penyakit yang sangat menular. Maka dari itu, pada masa infeksius yaitu minimal 5 hari sebelum dan 4 hari setelah ruam muncul, pasien harus diisolasi dan disarankan untuk mengenakan masker.[2,25]
Selain itu, pasien dan keluarga harus diedukasi bahwa kebanyakan kasus campak bersifat swasirna, sehingga terapi antivirus jarang diperlukan. Jika pasien termasuk dalam populasi risiko tinggi, maka jelaskan mengenai potensi komplikasi campak dan bagaimana pendekatan terapi yang diperlukan. [13-15,25]
Edukasi juga mengenai tata laksana suportif yang perlu dilakukan untuk mencegah komplikasi antara lain asupan cairan dan nutrisi yang adekuat, memastikan kulit dalam keadaan bersih dan kering, membersihkan mata secara hati-hati dengan kain dan air bersih, berkumur dengan air garam bersih minimal 4 kali sehari, dan menghindari makanan pedas.[13-15]
Pada keadaan di mana asupan makanan dan minuman harus dipertahankan namun anak terus menerus muntah dan diare, letargi atau mengalami penurunan kesadaran, kemungkinan menggunakan cairan parenteral dan nasogastric tube (NGT) harus dijelaskan untuk mempertahankan nutrisi dan cairan.[15]
Upaya Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
Vaksinasi campak merupakan langkah paling baik untuk mencegah terjadinya campak dan memberikan outcome penyakit yang lebih baik apabila terjadi infeksi campak. Pada pasien yang menolak imunisasi, jelaskan secara gamblang apa kerugian dari tidak divaksinasi dan apa keuntungan yang didapat, termasuk pengaruhnya pada herd immunity.
Pada pasien yang sudah mengalami campak, upaya pencegahan dan pengendalian penyakit dilakukan dengan mencegah penularan campak dengan mengisolasi pasien dan meminta pasien mengenakan masker.[13-15]
Vaksinasi
Vaksinasi campak merupakan program yang dapat mencegah infeksi campak dan komplikasinya. Pengendalian campak di Indonesia menerapkan jadwal standar termasuk pemberian dosis vaksin campak pada anak usia 9 bulan.
Strategi pengendalian campak di Indonesia melalui vaksinasi yaitu:
Crash program campak untuk balita di daerah berisiko tinggi
Catch-up campaign campak untuk anak sekolah
- Introduksi pemberian dosis vaksin campak kedua melalui kegiatan BIAS untuk kelas 1 SD pada tahun berikutnya setelah catch-up campaign.[11]
Selain vaksinasi, strategi lain untuk mengendalikan campak di Indonesia adalah dengan melakukan surveilans campak berbasis individu melalui program case-based measles surveillance (CBMS). Surveilans ini bisa dilakukan oleh petugas kesehatan, maupun juga menggunakan aplikasi berbasis internet oleh petugas dan Masyarakat.[11,29]
Apabila terjadi kejadian luar biasa atau outbreak campak, maka Kementerian Kesehatan akan melakukan program yang disebut outbreak response immunization (ORI). Program ORI ini dijalankan oleh fasilitas kesehatan milik pemerintah, terutama Puskesmas. Dalam program ORI, akan diberikan vaksin campak-rubela (MR) massal, terlepas dari apakah anak sudah mendapat vaksin campak sebelumnya atau belum.[30]
Penulisan pertama oleh: dr. Amanda Sonia Arliesta
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha