Efek Samping dan Interaksi Obat Pentoxifylline
Efek samping pentoxifilin atau pentoxifylline terutama pada sistem gastrointestinal, yaitu mual dan muntah. Pemberian pentoxifylline bersama warfarin diduga dapat menyebabkan interaksi obat yang meningkatkan risiko perdarahan.[1,4]
Efek Samping
Efek samping yang paling sering dilaporkan adalah gangguan gastrointestinal dan sistem saraf pusat ringan. Keluhan yang paling umum meliputi mual, muntah, dispepsia, nyeri atau rasa tidak nyaman pada perut, kembung, diare, pusing, dan sakit kepala.
Pada sistem kardiovaskular dapat terjadi flushing (kemerahan pada wajah), sedangkan efek yang lebih jarang meliputi nyeri dada, palpitasi, takikardia, aritmia, hipertensi, hipotensi, dan sesak napas. Sebagian besar efek samping ini bersifat ringan hingga sedang dan sering kali dapat dikurangi dengan mengonsumsi obat setelah makan atau dengan menurunkan dosis.
Meski jarang (<1%), pentoxifylline dapat menimbulkan efek samping serius dan berpotensi fatal. Reaksi hipersensitivitas berat seperti anafilaksis dan angioedema dapat terjadi dan memerlukan penghentian obat segera. Efek hematologis berat meliputi trombositopenia, leukopenia, pansitopenia, dan anemia aplastik.
Efek neurologis serius yang pernah dilaporkan antara lain kejang dan meningitis aseptik, sedangkan pada hati dapat terjadi hepatitis dan peningkatan enzim hati. Pada pasien dengan penyakit jantung atau serebrovaskular yang mendasari, terdapat laporan angina, hipotensi berat, dan aritmia.[1,4,5]
Interaksi Obat
Pentoxifylline dapat memperkuat efek antihipertensi dari beta blocker, diuretik, nifedipine, captopril, dan obat antihipertensi lain, sehingga berpotensi menyebabkan penurunan tekanan darah yang berlebihan.
Pentoxifylline juga dapat meningkatkan efek obat antidiabetes oral seperti glibenklamid dan metformin, sehingga meningkatkan risiko hipoglikemia dan memerlukan pemantauan kadar glukosa darah serta kemungkinan penyesuaian dosis obat antidiabetes.
Selain itu, pentoxifylline dapat meningkatkan risiko perdarahan bila digunakan bersama antikoagulan seperti warfarin atau antiplatelet seperti aspirin dan clopidogrel. Pentoxifylline juga dapat meningkatkan kadar plasma teofilin dengan menurunkan klirensnya, sehingga meningkatkan risiko toksisitas teofilin.
Penggunaan bersamaan dengan ketorolac sebaiknya dihindari karena dapat semakin meningkatkan risiko perdarahan gastrointestinal maupun sistemik.[1,4,5]
Tabel 1. Interaksi Obat Pentoxifilin
| Interaksi Obat | Nama Obat |
| Meningkatkan konsentrasi obat | Cimetidine, Amiodarone, Ciprofloxacin, Duloxetine, Fluvoxamine, Methoxsalen, Mexiletine, Ofloxacin, Primaquine, Zileuton |
| Meningkatkan Prothrombin Time secara signifikan | Warfarin |
| Saling meningkatkan efek terapi masing-masing | Amifostine, Benazepril, Captopril, Insulin |
| Meningkatkan toksisitas obat dan risiko perdarahan | Fluoxetine, Fluvoxamine |
| Meningkatkan toksisitas obat dan risiko hipotensi | Nifedipine |
| Meningkatkan efek antiglikemik | Glibenklamid, Metformin |
Sumber: dr. Dizi Bellari Putri, Alomedika, 2022.
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha