Fitness to Fly pada Gangguan Kardiovaskular

Oleh dr. Immanuel

Penentuan fitness to fly atau kelayakan terbang pada pasien dengan gangguan kardiovaskuler adalah sesuatu yang harus dikuasai dokter. Penerbangan adalah salah satu metode transportasi yang paling banyak digunakan, termasuk oleh pasien. Pasien dengan gangguan kardiovaskular seperti angina pektoris, infark miokardium, atau pasca operasi jantung harus mendapatkan perhatian khusus sebelum dinyatakan layak untuk terbang.

Pada penerbangan, terjadi penurunan tekanan parsial oksigen dan penurunan tekanan kabin. Hal ini akan menyebabkan gas tubuh mengembang, sehingga meningkatkan timbunan gas di intestinal (kembung, nyeri perut, konstipasi) dan meningkatkan risiko pneumothorax.

old man

Kelayakan terbang pada kasus-kasus khusus ditentukan sebagai berikut:

Pasien dengan Alat Pacu Jantung

Pasien yang baru menjalani prosedur pemasangan alat pacu jantung permanen, biventrikular, dan implan defibrillator dinyatakan layak terbang 2 hari pasca tindakan. Pemasangan alat pacu melalui vena subklavia bisa berakibat pada terjadinya pneumothorax. Pasien harus dinyatakan bebas pneumothorax pasca tindakan untuk layak terbang. Pemeriksaan rontgen pasca tindakan dapat dilakukan untuk menyingkirkan pneumothorax.[1]

Walaupun dinyatakan aman untuk melakukan penerbangan 2 hari pasca tindakan, bila memungkinkan, penerbangan sebaiknya ditunda selama beberapa hari. Hal ini berkaitan dengan kenyamanan pasien dengan luka bekas operasi, serta peningkatan risiko komplikasi mekanis dan infeksi. Pada minggu-minggu awal pasca pemasangan implant pasien biasanya disarankan untuk membatasi gerakan lengan sisi ipsilateral. Pembatasan gerakan biasanya berupa mengangkat siku di atas bahu dan menghindari angkat berat. Hal ini akan membatasi gerakan pasien dengan koper dan penggunaan bagasi kabin. Selain itu juga, penundaan beberapa hari memberikan penatalaksanaan yang baik pada pneumothorax yang kecil yang tidak terdeteksi pada hari-hari awal.[1]

Pasien dengan Deep Vein Thrombosis (DVT)

Pada sebuah penelitian ditemukan bahwa perjalanan selama lebih dari 4 jam menggandakan risiko terjadinya DVT dibanding tidak bepergian. Risiko terjadinya DVT tertinggi adalah minggu pertama pasca penerbangan, namun bertahan hingga 2 bulan pasca perjalanan.[1] Pasien yang mengeluhkan nyeri dan/atau pembengkakan di ekstremitas bawah terutama pergelangan kaki, betis, atau paha, bahkan pada seluruh anggota tubuh bagian bawah patut dicurigai mengalami trombosis vena.

Pasien DVT simptomatis sebaiknya tidak melakukan penerbangan karena ditakutkan terjadi penambahan keparahan penyakit. [4]

Pasien Angina dan Post Infark Miokardium

Kelayakan terbang pada angina dan pasien pasca infark miokard ditentukan dengan stabilitas pasien. Pasien dengan angina tidak stabil tidak disarankan untuk terbang. Pasien dengan angina yang dipicu oleh aktivitas ringan juga tidak disarankan untuk melakukan penerbangan. [1]

Panduan kelayakan terbang pada pasien pasca infark miokard akut disesuaikan dengan keparahan penyakitnya. Terdapat beberapa panduan tentang kelayakan terbang pada pasien pasca infark miokard. Sebuah studi mengatakan bahwa pasien dengan infark miokard layak untuk terbang menggunakan penerbangan komersial tanpa pendamping medis, baik jarak jauh dan dekat, 2 hingga 4 minggu pasca serangan. Studi lain menyebutkan bahwa pasien dengan infark miokard dapat terbang 1 minggu setelah serangan, namun lebih disarankan setelah 3-4 minggu.[1,5]

Pasien infark miokard berusia di bawah 65 tahun, telah berhasil di reperfusi, tanpa komplikasi dan rencana tindakan lainnya, ditunjang dengan fraksi ejeksi jantung >45%, dinyatakan dalam kelompok risiko rendah. Pada kondisi ini, kerusakan jantung tidak berat. Kelompok ini dinyatakan layak untuk terbang 3 hari pasca serangan.

Pasien risiko sedang adalah pasien dengan fraksi ejeksi >40%, tidak ada gejala gagal jantung, tidak ada aritmia, dan tidak ada rencana pemeriksaan lanjutan. Pasien kelompok ini dinyatakan layak terbang 10 hari pasca serangan.

Pasien dengan fraksi ejeksi <40%, terdapat tanda dan gejala gagal jantung, serta mengalami kerusakan pompa jantung yang signifikan, harus menunda penerbangan hingga pasien dalam kondisi stabil.[1] Pasien infark miokard dengan komplikasi dinyatakan layak terbang setelah 4-6 minggu pasca gejala.[6]

Pasien Pasca Operasi Jantung

Pasien pasca operasi jantung baik operasi bypass arteri koroner dan open heart valve surgery, dapat melakukan penerbangan bergantung pada kondisi pasien. Pada saat operasi pembukaan rongga thorax, udara akan terperangkap dalam rongga dada dan membutuhkan 3-10 hari untuk dapat diabsorbsi oleh tubuh. Hal ini akan menyebabkan pneumothorax, sehingga drain akan dibiarkan di dada pasien hingga cairan dan udara sudah tidak ada. [1]

Pasien pasca operasi yang dapat melakukan mobilitas dengan baik dan tidak ada komplikasi, dapat melakukan penerbangan setelah 10 hari pasca operasi. Beberapa komplikasi yang harus diperhatikan oleh dokter adalah aritmia dan gangguan irama lainnya, efusi pleura, infeksi luka, anemia, dan disfungsi ventrikel kiri. Pasien dengan komplikasi tersebut dinyatakan layak terbang sesuai dengan panduan pada masing-masing kondisi.

Pertimbangan lain yang perlu mendapat perhatian adalah kenyamanan pasien. Pasien pasca operasi jantung disarankan tidak membawa barang berat. Hal ini yang mungkin membuat pasien mengalami kesulitan selama perjalanan. Sangat disarankan untuk mendapatkan bantuan darat pada penerbangan 10 hari hingga 6 minggu pasca operasi jantung.[1]

Pasien dengan Hipertensi Pulmonal

Pasien dengan hipertensi pulmonal dapat mengalami desaturasi pada penerbangan, terutama penerbangan komersial. Desaturasi dihubungkan dengan tekanan kabin yang lebih rendah, kesulitan mempertahankan saturasi oksigen pada udara ruangan, ambulasi, dan durasi terbang yang lama, terutama pada malam hari. Ditemukan bahwa 1 dari 3 penderita hipertensi pulmonal melaporkan gejala pada saat penerbangan, termasuk rasa tertekan di dada, pusing, dispnea, dan palpitasi.[7]

Sampai saat ini belum ada rekomendasi yang dipakai secara umum digunakan untuk menentukan kelayakan terbang pada pasien dengan hipertensi pulmonal. The British Cardiovascular Society menyarankan pasien dengan hipertensi pulmonal untuk tidak melakukan penerbangan kurang dari 5 hari sejak serangan akut.[1] American College of Cardiology Foundation dan American Heart Association merekomendasikan pemeriksaan saturasi oksigen sebelum penerbangan, bila saturasi oksigen kurang dari 92%, disarankan untuk diberikan suplementasi oksigen.[8]

European Society of Cardiology dan European Respiratory Society merekomendasikan pasien hipertensi pulmonal functional class III dan IV untuk menggunakan suplementasi oksigen selama penerbanganan. Sebelum penerbangan, pasien dengan hipertensi pulmonal kronik disarankan untuk melakukan spirometri. Bila memungkinkan, dilakukan pemeriksaan simulasi penerbangan (HAST). Pemeriksaan ekokardiografi jantung kanan untuk menilai respon jantung kanan terhadap hipoksemia akut disarankan dilakukan pada pasien dengan hipertensi pulmonal.[9,10]

Pasien dengan Edema Pulmonal

Pasien dengan edema paru akut tidak disarankan untuk melakukan penerbangan. Penerbangan baru dapat dilakukan bila pasien sudah dinyatakan sembuh dari kondisi tersebut. Pasien dengan gejala sesak dan batuk hebat harus mendapatkan penanganan terlebih dahulu sebelum melakukan penerbangan. Pemeriksaan dokter yang ditunjang dengan pemeriksaan radiologi dada dibutuhkan untuk menentukan keparahan penyakit pasien.[1]

Rangkuman

Sebagai rangkuman, kelayakan terbang pada berbagai penyakit kardiovaskular dinyatakan dalam tabel di bawah ini:[12]

Tabel 1. Fitness to Fly pada Pasien dengan Gangguan Kardiovaskular

Kondisi Medis Layak untuk Terbang Keterangan
Angina pektoris Dinyatakan layak terbang bila angina terkontrol dengan pengobatan dan tidak ada serangan angina pada saat istirahat. Pemeriksaan dokter dibutuhkan pada kondisi angina tidak stabil atau pasien dengan serangan angina pada aktivitas ringan sebelum dinyatakan layak terbang.
Pasca infark miokardium Pasien risiko rendah dinyatakan layak terbang 3 hari pasca serangan dan pasien risiko tinggi dinyatakan aman 10 hari pasca serangan. Penerbangan sebaiknya ditunda pada pasien risiko tinggi. Bila harus melakukan penerbangan diperlukan pemeriksaan dan justifikasi oleh dokter.
Edema pulmonal Pasien dinyatakan layak terbang bila kondisi edema pulmonal dinyatakan sembuh atau tidak menunjukkan gejala. Pemeriksaan dokter dibutuhkan pada pasien edema pulmonal yang belum dinyatakan sembuh. Perlu dipertimbangkan kondisi lain yang mungkin terjadi seperti gagal jantung.
Hipertensi pulmonal Pasien dinyatakan layak terbang setelah 5 hari onset, stabil dengan pemberian antikoagulan dan saturasi oksigen normal pada oksigen ruangan. Penerbangan sebaiknya ditunda bila 4 hari atau kurang dari onset.
Pasca operasi jantung Pasien dinyatakan layak terbang 10 hari pasca operasi CABG, perbaikan katup, perbaikan VSD, ASD, transplantasi dan operasi lainnya. Pemeriksaan dokter dibutuhkan bila penerbangan harus dilakukan sebelum 10 hari pasca operasi.

Pemasangan pacemaker

Pasien dinyatakan layak terbang 2 hari pasca pemasangan, bila tidak terjadi pneumothorax dan irama stabil
DVT Pasien dinyatakan layak terbang bila tidak ditemukan gejala DVT atau DVT terkontrol dengan antikoagulan oral Penerbangan sebaiknya ditunda pada pasien DVT simptomatis

Kesimpulan

Setiap pasien dengan gangguan kardiovaskuler yang akan melakukan penerbangan, harus diperiksa risikonya berdasarkan pemahaman komprehensif terhadap kondisi pasien. Dokter harus menjawab dua pertanyaan. Pertama, apakah penurunan tekanan oksigen parsial akan meningkatkan risiko kesehatan pasien. Kedua, apakah pasien memiliki risiko gas yang terperangkap, seperti pneumothorax setelah prosedur kardiovaskuler, yang akan mengembang di ketinggian dan berpotensi menyebabkan tamponade kardiak.

Tabung oksigen tidak dapat ikut dibawa dalam penerbangan komersial, namun pada kondisi-kondisi predisposisi pasien terhadap saturasi oksigen yang rendah, kebanyakan perusahaan penerbangan memiliki sistem tinjauan medis yang akan menyiapkan oksigen untuk pasien apabila bepergian dengan pendamping medis.

Referensi