Fitness to Fly pada Pasien dengan Penyakit Menular

Oleh :
dr. Hunied Kautsar

Penentuan fitness to fly atau kelayakan terbang pada pasien dengan penyakit menular patut dipahami agar penyebaran penyakit dapat dicegah. Pada pasien dengan penyakit menular, selain menyatakan kelayakan pasien, surat kelayakan terbang juga harus menyatakan bahwa pasien sudah tidak lagi infeksius. Individu yang mengalami penyakit menular signifikan, direkomendasikan untuk menunda penerbangan hingga sudah tidak lagi dalam kondisi infeksius. [1]

sick woman sneezing at the airport

Kelayakan Terbang pada Penyakit Menular Sesuai Periode Transmisi

Kualitas udara di dalam pesawat terbang dikontrol secara ketat sehingga risiko penularan penyakit infeksi di dalam sebuah penerbangan cukup rendah. Namun, penularan penyakit infeksi tetap dapat terjadi dari penumpang yang sakit kepada penumpang yang duduk di area sekitarnya melalui kontak langsung atau droplet saliva ketika pasien batuk atau bersin. Oleh karena itu, penumpang yang sedang sakit akut atau masih dalam periode infeksius disarankan untuk menunda penerbangannya.

Setiap infeksi menular memiliki periode transmisi yang berbeda, berikut adalah periode transmisi dari beberapa penyakit infeksi menular :

  • Cacar air : 1-2 hari sebelum timbulnya gejala sampai semua lesi sudah mengering (biasanya 5 hari setelah timbul gejala)

  • Campak : dari 1 hari sebelum timbulnya gejala prodromal seperti demam atau sakit kepala (biasanya 4 hari sebelum timbulnya lesi), sampai dengan 4 hari setelah lesi timbul

  • Gondongan : dari 7 hari sebelum timbul manifestasi parotitis, sampai 9 hari setelah onset. Periode transmisi maksimum biasanya 2 hari sebelum onset parotitis sampai dengan 4 hari sesudah

  • Pertusis : periode transmisi maksimum dimulai saat catarrhal stage yang ditandai dengan bersin dan hidung tersumbat, serta saat memasuki periode batuk, biasanya saat 2 minggu pertama. Setelah itu, risiko penularannya menurun hingga bisa dinyatakan tidak lagi menular setelah 3 minggu

  • Rubella : memiliki risiko penularan yang sangat tinggi sejak 1 minggu sebelum timbulnya lesi hingga 4 hari setelah timbulnya lesi

  • Tuberkulosis : sampai dengan paling tidak 2 minggu setelah pengobatan [2-4]

Maskapai penerbangan berhak menolak penumpang yang sedang sakit dan dinilai dapat menularkan penyakitnya kepada penumpang lain. Sebagai contoh, calon penumpang yang menunjukkan bekas luka cacar air. Jika calon penumpang sudah melewati masa transmisi dan sudah menjalani pengobatan namun  masih memiliki bekas lesi, sebaiknya calon penumpang menyertakan surat dari dokter yang menyatakan pasien sudah melewati periode transmisi, sudah menjalani pengobatan, dan sudah tidak berisiko menularkan penyakit. [3]

Penyakit Menular yang Membutuhkan Perhatian Khusus

Menurut CDC, beberapa penyakit menular yang perlu mendapat perhatian khusus jika akan melakukan perjalanan udara adalah tuberkulosis, penyakit meningokokal, dan campak.

Tuberkulosis

Risiko penularan tuberkulosis dalam penerbangan dinilai rendah. Bukti yang ada menyatakan bahwa transmisi tuberkulosis pernah terjadi dalam penerbangan yang memakan waktu lebih dari delapan jam. Risiko penularan dapat meningkat jika banyak dari penumpang di dalam penerbangan tersebut berasal dari negara dengan angka insidensi tuberkulosis yang tinggi

Pasien yang menderita tuberkulosis dinyatakan tidak layak terbang jika belum menjalani pengobatan yang adekuat selama minimal dua minggu, hasil pemeriksaan sputum BTA masih positif, terdapat kavitas pada rontgen dada, atau memiliki multidrug resistant tuberculosis.

Pasien bisa dinyatakan layak terbang jika sudah menunjukkan perbaikan secara klinis, hasil tes sputum negatif selama tiga hari berturut-turut, dan dapat dinyatakan noninfeksius. [2-5]

Penyakit Meningokokal

Penyakit meningokokal yang disebabkan oleh Neisseria meningitidis dapat ditransmisikan melalui kontak langsung dengan droplet atau sekresi dari saluran napas. Oleh karena itu, individu yang berkontak dekat dengan pasien sebaiknya segera diidentifikasi dan diberi obat antimikroba profilaksis. Profilaksis harus dipertimbangkan pada :

  • Anggota keluarga yang bepergian bersama pasien
  • Teman dalam perjalanan yang memiliki kontak dekat berkepanjangan
  • Penumpang yang duduk tepat di sebelah pasien pada penerbangan ≥ 8 jam atau terpapar langsung dengan sekresi saluran napas atau muntah pasien. [4]

Campak

Campak adalah infeksi virus yang ditularkan melalui droplet, kontak langsung, atau rute airborne. Calon penumpang yang terkena campak dianggap infeksius mulai dari 4 hari sebelum timbulnya lesi hingga 4 hari setelah timbulnya lesi.

Jika terjadi kontak selama penerbangan, evaluasi dilakukan segera setelahnya dan profilaksis boleh diberikan pada penumpang yang dianggap rentan tertular. Jika ada indikasi, penumpang bisa diberikan vaksin MMR (measles, mumps, rubella) dalam 72 jam setelah paparan atau imunoglobulin dalam 6 hari setelah paparan. [4]

Pencegahan Penularan Penyakit Infeksi dalam Sebuah Penerbangan

Sebelum bepergian, setiap calon penumpang pesawat terbang memiliki kewajiban untuk memperbaharui vaksinasi rutin dan juga mendapatkan vaksinasi khusus sesuai dengan daerah yang dituju, misalnya vaksin meningitis  sebelum bepergian ke Saudi Arabia.

Penumpang pesawat terbang juga harus memperhatikan kebersihan dirinya, terutama dengan mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir setelah menggunakan toilet, mencuci tangan sebelum makan (atau menggunakan hand sanitizer dengan kandungan alkohol >60%), dan menutup mulut dan hidung ketika bersin atau batuk. [4]

Jika terdapat laporan bahwa salah satu penumpang dalam sebuah penerbangan sedang menderita penyakit menular, terutama penyakit dengan risiko penularan tinggi seperti tuberkulosis, campak, atau Ebola, maka dapat dilakukan contact tracing setelah pesawat mendarat. Selain itu, harus dipastikan bahwa kasus tersebut dilaporkan dalam rentang waktu 21 hari setelah jadwal penerbangan. Contact tracing dilakukan terhadap penumpang lain dan awak kabin yang melakukan kontak langsung dengan penderita. Penumpang yang duduk tepat di kiri, kanan, depan dan belakang penderita harus diperiksa. Jika penderita duduk di bangku lorong (aisle seat), maka penumpang yang duduk di lorong seberang juga diperiksa. [6]

Evakuasi Menggunakan Air Ambulance

Unit isolasi medis tersedia di air ambulance untuk pasien yang dicurigai atau terkonfirmasi mengalami penyakit infeksius dan membutuhkan evakuasi medis. Tetapi unit ini tidak tersedia pada penerbangan komersial dan hanya dapat digunakan melalui penyedia khusus yang memiliki unit isolasi dan staf medik terlatih. [7]

Kesimpulan

Untuk mencegah penularan penyakit infeksi dalam sebuah penerbangan, seorang calon penumpang yang sedang menderita penyakit menular sebaiknya menunda jadwal penerbangannya. Seorang calon penumpang dapat dinyatakan layak terbang jika sudah melewati masa transmisi dari penyakit menular yang dideritanya dan tidak menunjukkan gejala klinis.

Calon penumpang sebuah penerbangan juga memiliki kewajiban untuk memperbarui vaksinasi rutin dan mendapatkan vaksinasi khusus sesuai dengan daerah yang dituju. Kebersihan diri selama penerbangan penting untuk selalu dijaga, terutama dengan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir setelah menggunakan toilet, mencuci tangan sebelum makan, dan menutup hidung serta mulut ketika bersin atau batuk.

Jika terdapat laporan bahwa seorang penumpang dalam pesawat menderita suatu penyakit menular dengan risiko penularan yang tinggi (tuberkulosis, measles atau ebola) dan penumpang tersebut menunjukkan gejala selama penerbangan, maka perlu dilakukan contact tracing sebagai upaya pencegahan penularan penyakit.

Referensi