10 Black Box Warning yang Wajib Diketahui Dokter

Oleh :
dr.Bedry Qintha

Black box warning atau peringatan obat adalah tingkat tertinggi perhatian khusus terkait keamanan obat yang dikeluarkan oleh FDA (Food and Drug Administration) Amerika Serikat. Black box warning menyoroti reaksi obat merugikan yang serius atau mengancam jiwa dalam pelabelan produk obat resep. Berikut adalah 10 black box warning yang wajib diketahui semua dokter.[1,2]

Fluorokuinolon Meningkatkan Risiko Ruptur Tendon

Konsumsi fluorokuinolon telah dikaitkan dengan peningkatan risiko tendinitis dan ruptur tendon pada pasien segala usia. Contoh fluorokuinolon adalah levofloxacin dan ciprofloxacin.

10 Black Box Warning yang Wajib Diketahui Dokter

Dalam sebuah studi kasus-kontrol, konsumsi fluorokuinolon dikaitkan dengan peningkatan ruptur tendon Achilles hingga 3 kali lipat. Risiko ini menetap hingga 60 hari. Risiko meningkat seiring akumulasi dosis dan penggunaan bersamaan dengan kortikosteroid.[3]

Obat Antiinflamasi Nonsteroid Meningkatkan Risiko Kejadian Kardiovaskular

Konsumsi obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), seperti diklofenak, telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kejadian trombotik kardiovaskular yang serius atau fatal. Ini mencakup infark miokard dan stroke. Risiko mulai meningkat sejak awal terapi dan seiring durasi penggunaan.

Sebuah meta analisis mengungkapkan bahwa penggunaan OAINS secara signifikan meningkatkan risiko kardiovaskular, terutama pada penggunaan coxib seperti celecoxib dan etoricoxib dibandingkan OAINS non-selektif.[4,5]

Obat Antiinflamasi Nonsteroid Kontraindikasi pada Pasien yang Menjalani Coronary Artery Bypass Graft (CABG)

Penggunaan OAINS, misalnya ibuprofen, telah dikaitkan dengan manfaat seperti penurunan kebutuhan opioid pasca operasi, memfasilitasi ekstubasi lebih awal, dan meningkatkan mobilitas setelah operasi jantung. Meski demikian, FDA telah mengeluarkan black box warning terkait peningkatan risiko infark miokard dan stroke pada pasien yang mendapat OAINS setelah coronary artery bypass graft (CABG).[4,6]

Linaclotide Tidak Boleh Digunakan pada Anak

Linaclotide merupakan agonis reseptor guanylate cyclase C yang digunakan dalam penanganan konstipasi kronik dan irritable bowel syndrome. Penggunaan linaclotide pada anak berusia di bawah 6 tahun dikontraindikasikan, sedangkan penunggunaan pada anak usia 6-18 tahun harus dihindari. Hal ini karena linaclotide telah dikaitkan dengan risiko dehidrasi serius pada pasien pediatrik.[7]

Antidepresan Meningkatkan Risiko Bunuh Diri

Pada tahun 2004, FDA mengeluarkan black box warning untuk seluruh obat antidepresan karena ditemukan meningkatkan risiko ideasi dan perilaku bunuh diri. Peringatan ini merujuk pada hasil meta analisis yang mengevaluasi 372 uji klinis dengan hampir 100.000 partisipan. Meta analisis ini melaporkan bahwa risiko bunuh diri pada pasien yang mendapat antidepresan sebesar 4% dibandingkan 2% pada kelompok plasebo.[8]

Methadone Meningkatkan Risiko Depresi Napas dan Pemanjangan Interval QT

Methadone merupakan analgesik opioid sintetik yang digunakan dalam terapi nyeri derajat sedang-berat dan sebagai terapi rumatan pada kasus opioid use disorder. Penggunaan methadone telah dikaitkan dengan peningkatan risiko depresi napas dan pemanjangan interval QT. Mortalitas terkait gangguan jantung dan respirasi telah dilaporkan selama inisiasi terapi dan konversi methadone dari agonis opioid lain.[9]

Pioglitazone dan Rosiglitazone Meningkatkan Risiko Gagal Jantung Kongestif

Pioglitazone dan rosiglitazone digunakan dalam penanganan diabetes mellitus tipe 2. Obat ini telah dilaporkan berkaitan dengan gagal jantung kongestif akibat efek retensi cairan yang bersifat dose-related.[10,11]

Tigecycline Meningkatkan Mortalitas Segala Sebab

Tigecycline merupakan antibiotik golongan tetrasiklin. Tigecycline dikaitkan dengan peningkatan mortalitas segala sebab dibandingkan dengan antibiotik lain yang digunakan untuk indikasi serupa. Peningkatan risiko ini dilaporkan lebih signifikan pada pasien dengan hospital-acquired pneumonia, terutama ventilator-associated pneumonia. Meski demikian, risiko ini juga telah dilaporkan pada pasien dengan infeksi kulit, infeksi intrabdomen komplikata, dan infeksi ulkus diabetikum.[12]

Ticagrelor Meningkatkan Risiko Perdarahan Fatal

Ticagrelor merupakan obat antiplatelet yang digunakan untuk menurunkan risiko kematian kardiovaskular, infark miokard, dan stroke pada pasien dengan sindrom koroner akut atau riwayat infark miokard. Serupa dengan agen antiplatelet lain, ticagrelor memiliki black box warning terkait peningkatan risiko perdarahan signifikan dan fatal. Penggunaan ticagrelor tidak disarankan pada pasien dengan perdarahan patologis aktif atau riwayat perdarahan intrakranial.[13]

Antipsikotik Atipikal Meningkatkan Risiko Kematian pada Pasien Lansia dengan Psikosis Terkait Dementia

Pada pasien dementia, antipsikotik atipikal digunakan untuk mengatasi gejala psikosis dan gangguan perilaku. Meski demikian, berbagai studi menunjukkan bahwa antipsikotik atipikal berkaitan dengan peningkatan mortalitas pada lansia. Contoh obat antipsikotik atipikal yang sering digunakan pada lansia dengan dementia adalah risperidone, olanzapine, dan aripiprazole.[14,15]

Kesimpulan

Black box warning merupakan peringatan khusus pada label obat yang menyoroti potensi efek samping serius atau mengancam jiwa. Meskipun dalam peresepan obat pertimbangan dilakukan berdasarkan skenario klinis masing-masing pasien, dokter tetap harus mengetahui apa saja black box warning dari berbagai obat yang umum digunakan di praktik dan mempertimbangkan apakah manfaat obat yang digunakan melebihi risikonya.

Referensi