Perbandingan Pemberian Obat Generik dan Paten

Oleh :
dr. Josephine Darmawan

Obat generik kerap kali menghadapi stigma dan kurang dipercaya, baik oleh pasien maupun dokter. Obat generik dinilai lebih buruk dibandingkan obat paten karena lebih murah.[1-3] Akan tetapi, studi menunjukkan bahwa obat generik sama baiknya dengan obat paten.[4,5] Pemberian obat generik semakin banyak dilakukan di negara-negara dengan sistem kesehatan yang lebih maju karena dapat menekan biaya medis tanpa mengurangi kualitas pengobatan.[6-8] Oleh karenanya, pemahaman yang baik mengenai obat generik dan obat paten penting dimiliki oleh dokter agar dapat memberikan edukasi terkait dengan yang lebih baik kepada pasien.

Depositphotos_34736435_m-2015_compressed

Perbedaan dan Persamaan Obat Generik dan Paten

Obat generik merupakan obat yang dibuat sama dalam segi kualitas, dosis, sediaan, rute pemberian, dan efek terapeutik yang sama dengan obat paten pendahulunya. Perbedaan paling umum antara obat generik dan paten adalah kemasan, warna, bentuk, dan harga. Obat generik dibuat setelah obat paten berhasil dibuat, sehingga harga obat generik dapat lebih murah karena tidak memerlukan biaya penelitian sebesar obat paten. Meskipun demikian, hal tersebut tidak mengurangi kualitas obat. Keduanya tetap harus memenuhi kriteria dan regulasi yang sama sebelum dapat dipasarkan, sehingga dapat dipertukarkan/interchangeable dalam penggunaannya.[7,9-11]

Eksipien

Perbedaan paling signifikan antara obat paten dan generik adalah bahan eksipien. Eksipien adalah zat inaktif yang terkandung di dalam obat, seperti pengawet, antioksidan, buffer, tonisitas, ataupun zat pembawa lainnya. Perbedaan eksipien dapat menyebabkan perbedaan farmakokinetik, terutama konsentrasi dan absorpsi. Namun demikian, sebuah obat generik harus memenuhi standar bioekuivalensi untuk meminimalisir perbedaan fitur farmakokinetik obat.[8,10-12]

Bioekuivalensi

Bioekuivalensi menunjukkan fitur farmakologi dan farmakokinetik, seperti bioavailabilitas, absorpsi, ekskresi, konsentrasi sebuah obat bila dibandingkan dengan obat lain yang sejenis. Rentang bioekuivalensi obat generik yang diperbolehkan adalah 80%-125% dari obat paten pendahulunya. Hal ini sering disalahartikan sebagai konsentrasi obat generik mengandung 80% atau 125% dari formulasi patennya. Peran dokter sangat dibutuhkan dalam edukasi mengenai persepsi tersebut. Bioekuivalensi 80%-125% berarti variasi keseluruhan antara obat generik dan obat paten tersebut sekitar 3.5%, sehingga perbedaan tersebut tidak mengakibatkan penurunan efek terapeutik atau peningkatan risiko toksisitas. Obat generik yang bioekuvalen dengan formulasi paten sejenis memiliki zat aktif dan keluaran yang sama, baik efek terapeutik ataupun efek sampingnya. Meskipun demikian, bioekuivalensi tiap-tiap golongan obat dan negara dapat berbeda-beda, sehingga perlu dicermati kembali oleh dokter sebelum digunakan, terutama untuk jenis obat dengan indeks terapeutik sempit/narrow therapeutic index (NTI). Bioekuivalensi dalam rentang 80%-125% dapat membuat obat-obat NTI generik menjadi kurang efektif atau rentan toksisitas. Oleh karenanya, batasan bioekuivalensi obat NTI umumnya diperketat menjadi 90%-110% guna meminimalisir efek toksik dan penurunan efektifitas. Obat-obat NTI paten dinilai lebih superior dibandingkan dengan obat generik, tetapi bukti klinisnya masih sangat minim.[5,8,10-15]

Perbandingan Efektifitas dan Keamanan Obat Generik dan Paten

Studi analisis retrospektif selama 12 tahun di Amerika Serikat menunjukkan bahwa perbedaan laju absorpsi rata-rata obat generik dengan obat paten adalah 4.35%, sedangkan perbedaan bioavailabilitasnya adalah 3.56%. Obat generik oral memiliki rata-rata bioekuivalensi 98% dari obat paten yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa obat paten tidak lebih superior bila dibandingkan dengan formulasi generiknya. Obat generik dan obat paten memiliki efek terapeutik yang ekuivalen.[5] Di sisi lain, sebuah case-series dari Galleli, et al. menunjukkan bahwa penggunaan obat generik mengakibatkan durasi penyakit yang lebih panjang, kegagalan terapi, dan risiko toksisitas serta efek samping yang lebih tinggi. Akan tetapi, studi ini mendapatkan pendanaan dari perusahaan obat dan studi lain yang mengemukakan hal serupa masih sangat minimal.[11,16]

Obat Kardiovaskular

Studi RCT menunjukkan ekuivalensi beta-bloker, diuretik, statin, penghambat ACE, dan bloker sawar kalsium generik dengan formulasi patennya. Meta-analisis juga menunjukkan bahwa pada obat-obat kardiovaskular NTI, misalnya warfarin dan antiaritmia kelas 1 seperti quinidine dan procainamide, formulasi generik juga tidak lebih inferior dibandingkan formulasi patennya. Beberapa perbedaan ditemukan pada: (1) efek diuresis furosemide paten lebih tinggi dibandingkan dengan furosemide generik, (2) perbedaan panjang interval PR pada penggunaan bloker sawar kalsium, dan (3) perbedaan international normalized ratio (INR) pada penggunaan warfarin. Meskipun demikian, perbedaan ini tidak cukup signifikan dan tidak merubah kebutuhan dosis ataupun keluaran klinis yang dihasilkan.[4,15]

Obat Antiretroviral (ARV)

Studi uji klinis acak pada pasien HIV positif selama 1 bulan menunjukkan tidak terdapat perbedaan profil farmakokinetik antara ARV generik dan paten. Perbedaan cukup signifikan ditemukan pada ARV stavudine, konsentrasi plasma stavudine generik lebih rendah dibandingkan stavudine paten. Akan tetapi, sampel dalam studi ini masih sangat kecil. Penggunaan ARV generik, terutama golongan lamivudine dan nevirapine, tetap sama baiknya dengan ARV paten.[13]

Obat Mata

Beberapa studi menemukan bahwa efektifitas tetes mata generik lebih inferior dibandingkan formulasi paten karena penggunaan kemasan yang lebih murah dapat mempengaruhi viskositas dan absorpsi. Akan tetapi, perbedaan ini tidak cukup signifikan untuk dapat menyebabkan perbedaan hasil terapi antara tetes mata generik dan paten.  Obat tetes mata generik ekuiefektif dengan tetes mata paten sejenis dan tetap aman untuk digunakan. Kepatuhan pasien terhadap penggunaan obat juga ditemukan lebih baik pada tetes mata generik.[12]

Antibiotik

Studi Suryawanshi, et al. terhadap 3 jenis cephalosporin oral menunjukkan bahwa efektifitas cefixime, cephalexine, dan cefuroxime generik sama baiknya dengan formulasi paten. Tes aktivitas antimikrobial dengan metode Kirby-Bauer menunjukkan bahwa zona inhibisi ketiga jenis cephalosporin generik tersebut bahkan lebih baik bila dibandingkan formulasi patennya. Namun demikian, hasil dapat lebih rendah bila dilakukan secara in vivo.[17] Studi lain juga menemukan tidak adanya perbedaan efektifitas dan keamanan antara ciprofloxacin generik dan paten.[18]

Obat Indeks Terapeutik Sempit

Pemberian obat NTI generik seperti antikoagulan, obat tiroid, antiepileptik, dan antiaritmia umumnya sering dipermasalahkan karena efek samping lebih banyak dilaporkan. Meskipun demikian, studi menunjukkan bahwa obat-obat NTI paten tidak lebih superior dibandingkan generiknya. Efek samping sering kali terjadi ketika pasien berpindah obat dari obat paten menjadi generik ataupun berganti merk obat paten. Hal ini dikarenakan zat eksipien masing-masing obat yang berbeda, sehingga sering menimbulkan adverse event.[5,6,10,15]

Secara garis besar, penggunaan obat generik sama baiknya dengan obat paten dan dapat sangat menguntungkan pasien. Perbedaan yang terjadi umumnya masih dalam rentang yang dapat ditoleransi dan tidak mengganggu efektifitas obat dan hasil terapi. Bila terdapat perbedaan klinis yang signifikan antara obat generik dan paten, perusahaan obat harus melakukan penelitian yang valid untuk membuktikan superioritas obat paten yang dimilikinya tetapi studi serupa yang signifikan belum ditemukan.[4,11]

Keuntungan Kerugian Penggunaan Obat Generik dan Paten

Rata-rata harga obat generik umumnya 15%-20% lebih rendah dibandingkan obat paten, tetapi efektifitas yang ditawarkan sama baiknya. Hal ini akan sangat menguntungkan pasien dan juga sistem kesehatan, terutama dalam era jaminan kesehatan. Pasien dapat melakukan penghematan 14%-41% dengan menggunakan obat-obat generik untuk golongan lansoprazole, cetirizine, ciprofloxacin, alprazolam, fluoxetine tanpa penurunan kualitas terapi. Penggunaan obat generik juga dapat menekan biaya medis industri kesehatan sebesar 192 milyar USD dalam 10 tahun terakhir.[12,17,18]

Keuntungan ekonomi yang ditawarkan obat generik, membuat semakin banyak pasien beralih dari obat paten menjadi generik. Meskipun demikian, peralihan obat tidak selalu menguntungkan. Studi menunjukkan bahwa peralihan obat-obat NTI paten menjadi generik sering kali menimbulkan efek samping yang cukup berat dan penurunan efektifitas terapi. Peralihan obat sebaiknya tetap dipertimbangkan kembali, terutama pada pasien-pasien yang sudah menjalani pengobatan secara kronis, penggunaan obat NTI, obat psikotropika, dan pasien-pasien lansia. Pasien-pasien yang beralih obat dari paten menjadi generik dapat menekan biaya obat-obatan, tetapi pasien memerlukan pemantauan lebih ketat, sehingga biaya jasa medis meningkat.[12,14]

Pemberian label merk pada obat tertentu juga sering kali menimbulkan efek plasebo yang dapat menguntungkan proses pengobatan. Studi menunjukkan bahwa pemberian obat plasebo yang diberikan label merek dapat meningkatkan efektifitas obat dan efek samping yang lebih sedikit. Studi lain menunjukkan bahwa pemberian obat plasebo yang diberikan label generik menghasilkan efek terapi yang lebih rendah dan efek samping yang lebih banyak.[19,20]

Kesimpulan

Pemilihan antara obat generik atau paten masih sering menjadi masalah dalam praktik kedokteran. Harga obat generik yang lebih murah sering menimbulkan ketidakpercayaan, tetapi studi menunjukkan bahwa obat-obat generik bioekuivalen dengan obat paten (perbedaan kurang dari 3.5%). Harga obat generik yang lebih murah dapat membantu menekan biaya medis tanpa mengurangi kualitas pengobatan. Meskipun demikian, bahan eksipien yang lebih murah dapat menyebabkan efek samping yang cukup berat bila dilakukan peralihan obat dari paten menjadi generik.

Pemilihan obat paten harus dipertimbangkan terutama pada penggunaan obat dengan indeks terapeutik sempit, obat penyakit kronis, psikotropika, dan pasien lansia. Walau demikian, hal ini tidak berarti pasien dengan kondisi-kondisi tersebut harus menggunakan obat paten. Pasien tetap bisa menggunakan obat generik asalkan dokter melakukan kontrol dan pemantauan dengan lebih ketat. Apapun pilihan jenis obatnya, pertimbangkan durasi terapi, kemampuan ekonomi pasien, dan manfaat serta kerugian yang mungkin terjadi sebelum meresepkan obat pada pasien.

Referensi