Penggunaan Obat Batuk Bebas pada Anak

Oleh dr. Sunita

Batuk merupakan gejala yang paling sering mengganggu anak dan menjadi perhatian utama orang tua sehingga orang tua sering merasa perlu memberikan obat batuk bebas pada anak[1].

Secara historis, para orang tua senantiasa didukung agar mampu melakukan pengobatan awal di rumah pada anak-anak dengan keluhan penyakit saluran napas atas daripada terburu-buru membawa anak ke dokter umum atau rumah sakit. Namun, beberapa bukti penelitian[2,3] menunjukkan bahwa ada banyak hal yang perlu dikaji ulang terkait manfaat dan risiko penggunaan obat bebas pereda batuk pada anak-anak. Oleh sebab itu, tinjauan ini akan membahas tentang efikasi dan keamanan obat bebas pereda batuk pada anak-anak.

Depositphotos_8064006_m-2015

Efikasi Obat Batuk Bebas pada Anak

Aspek efikasi penggunaan obat batuk dijual bebas pada anak-anak mempertimbangkan dampak obat batuk terhadap kesembuhan penyakit maupun pengurangan gejala batuk sebagaimana dibahas terperinci dalam dua tinjauan sistematik berikut ini[2,3].

Smith et al pada tinjauan sistematik tentang efektivitas obat bebas pereda batuk dalam mengurangi gejala batuk pada anak-anak dan dewasa di komunitas menemukan bahwa[2]:

Dari 29 studi yang terkumpul terdapat 10 studi klinis yang memenuhi kriteria dengan jumlah partisipan 1036 anak, rentang usia antara 6 bulan hingga 18 tahun. Sebagian besar studi yang menjadi sampel penelitian ini memiliki variabilitas yang besar dalam hal definisi penyakit, jenis sediaan obat batuk bebas, dosis obat, frekuensi pemberian, dan lama pemberian sehingga analisis kuantitatif sulit dilakukan sehingga tidak ada studi tentang manfaat obat golongan ekspektoran pada anak-anak yang memenuhi kriteria inklusi.

Golongan obat batuk antitusif, antihistamin, kombinasi antihistamin-dekongestan, dan antitusif-bronkodilator terlihat lebih efektif dalam mengurangi gejala batuk dibandingkan plasebo. Madu jenis eukaliptus, sitrus, dan labetiae lebih efektif dibandingkan plasebo dalam mengurangi gejala batuk pada anak-anak. Namun, berbagai hasil tersebut sulit diterapkan dalam praktik klinis sehari-hari mengingat jenis obat batuk bebas yang dibandingkan sangat bervariasi dan cara pengukuran respons terapi pada masing-masing studi juga sangat berbeda.

Selain itu, berbagai studi yang masuk dalam kriteria inklusi pada tinjauan Smith et al memiliki risiko bias yang besar dalam hal proses pengacakan (randomisation) alokasi pasien ke dalam kelompok plasebo vs intervensi, penyamaran (blinding) terhadap pemeriksa luaran penelitian, dan konflik kepentingan terkait pendanaan dari perusahaan obat yang terlibat pada masing-masing studi yang berpotensi menimbulkan kecenderungan hasil positif terhadap kelompok pasien yang mendapat intervensi.

Tinjauan sistematik lainnya oleh Chang et al dalam menilai efikasi obat batuk bebas sebagai terapi adjuvan antibiotik pada anak-anak dan dewasa dengan pneumonia menegaskan bahwa[3]:

Hanya ada empat studi klinis yang memenuhi kriteria (n=224),salah satunya secara khusus dilakukan pada kelompok pasien anak (n=60) sedangkan tiga lainnya dilakukan pada orang dewasa. Namun, hanya dua studi saja yang memberikan data yang spesifik untuk pneumonia dan kedua studi ini menggunakan obat batuk bebas golongan mukolitik (ambroxol dan bromhexine) bersama dengan antibiotik.

Khusus untuk studi pada pasien anak-anak, didapatkan bahwa tingkat kesembuhan penyakit pneumonia tidak berbeda bermakna antara pasien yang mendapat mukolitik dan yang tidak mendapat mukolitik (OR 0,4; 95%CI 0,1-1,62). Berdasarkan analisis terhadap rerata skor keparahan batuk, terdapat perbedaan rerata skor batuk yang bermakna setelah 3 hari mendapatkan terapi pada pasien anak yang mendapat mukolitik dan yang tidak mendapat mukolitik (beda rerata -0,25; 95%CI -0,33 s.d. -0,17). Sayangnya, hasil studi dalam tinjauan sistematik ini dibatasi oleh jumlah sampel yang sedikit (n=120) dan jenis obat batuk bebas yang dianalisis hanya satu macam saja (mukolitik). Selain itu, komponen obat batuk selain bahan aktif (misalnya gula, alkohol) yang terkandung di dalamnya diduga dapat memiliki efek terapeutik terhadap batuk sehingga membuat gejala batuk tak jauh berbeda antara kelompok plasebo dan kelompok intervensi.

Keamanan Penggunaan Obat Batuk Dijual Bebas pada Anak-anak

Keamanan penggunaan obat pereda batuk bebas pada anak-anak umumnya ditinjau dari proporsi anak yang menunjukkan efek samping terkait penggunaan obat batuk. Dalam hal proporsi efek simpang dan efek samping obat batuk bebas pada anak-anak, Smith et al menyimpulkan bahwa:

Dari 10 studi yang masuk dalam kriteria inklusi, terdapat 2 studi yang tidak menyertakan laporan efek samping obat sebagai bagian dari luaran penelitian sehingga pada kedua studi ini efek samping obat batuk bebas tidak diketahui. Pada 8 studi yang melaporkan efek samping obat, proporsi efek samping bervariasi antara 2% hingga 40% dan tampak lebih jelas pada studi yang melibatkan golongan obat antitusif dan antihistamin.

Jenis efek samping yang sering ditemukan pada berbagai studi yang menggunakan golongan obat antitusif dan antihistamin pada anak-anak adalah mengantuk (30%-40%); sedangkan yang paling jarang terjadi adalah hiperaktivitas dan BAB cair (1%-2%). Proporsi efek samping tersebut terkesan tidak terlalu besar untuk jumlah sampel 1036 anak, namun akan lebih terasa dampaknya apabila ini diekstrapolasikan pada jumlah pasien anak yang mendapat obat batuk bebas secara rutin setiap tahunnya yang mencapai 24 juta anak/tahun (setara dengan 7.200.000 anak mengantuk dan 480.000 anak mencret terkait obat batuk bebas per tahun).

Di sisi lain, hasil tinjauan sistematik Chang et al menunjukkan bahwa:

Dari 120 pasien anak yang dianalisis berdasarkan 1 uji klinis yang memenuhi kriteria, tidak ditemukan adanya efek samping obat batuk bebas. Namun, analisis data komposit (anak dan dewasa) dari 221 pasien berdasarkan 2 studi menunjukkan bahwa risiko efek samping tidak berbeda bermakna (OR MH 1,2; 95%CI 0,34-4,22) pada pasien dewasa dan anak-anak dengan pneumonia yang mendapat mukolitik adjuvan.

Walaupun secara teoritis risiko efek samping akibat konsumsi obat batuk bebas pada anak-anak dapat berpotensi membahayakan jiwa (misalnya perubahan irama jantung dan penurunan kesadaran), namun hal ini tak terdeteksi dari sampel yang termasuk pada studi ini. Hal ini sangat mungkin berhubungan dengan data yang hanya didapat dari 1 uji klinis terhadap 1 macam obat batuk bebas (mukolitik) sehingga jumlah sampel kurang dapat mendeteksi efek samping potensial lain dari penggunaan obat batuk bebas pada anak-anak.

Pada kasus yang lebih ekstrem, sebuah studi oleh Dart et al yang melibatkan panel ahli multidisiplin (dokter spesialis anak, ahli toksikologi anak, forensik patologi, forensik toksikologi) dalam analisis penyebab kasus kematian anak terkait konsumsi obat batuk bebas menemukan[4]:

Dari 189 kasus kematian anak yang ditinjau, 88 kasus kematian tersebut diduga berkaitan dengan penggunaan obat batuk bebas pada dosis supraterapeutik. Beberapa faktor yang berkaitan dengan risiko tersebut antara lain: usia di bawah 2 tahun, penggunaan obat dengan tujuan sedasi, penggunaan obat di tempat penitipan anak, penggunaan 2 obat dengan bahan aktif yang sama, kesalahan dalam pengukuran dosis obat, kesalahan dalam mengenali kemasan obat, dan penggunaan obat yang hanya diperuntukkan bagi orang dewasa.

Namun, hasil studi oleh Dart et al tersebut perlu disikapi dengan hati-hati mengingat bahwa kesimpulan tentang potensi hubungan penggunaan obat batuk bebas dan kematian pada anak dalam studi itu didasarkan dari konsensus ahli berdasarkan tinjauan riwayat medis secara retrospektif sehingga validasi data yang dianalisis amat sulit dipastikan. Hal ini menjadi sinyal bahwa sudah saatnya regulasi penggunaan obat batuk bebas pada anak diperketat dan pemantauan berbagai efek samping obat batuk bebas diatur dan dibuat secara sistematis guna mempertegas batasan indikasi dan kontraindikasi obat batuk yang hingga kini masih banyak dijual bebas.

Kesimpulan

Dari berbagai studi yang dikemukakan di atas, kesimpulan tentang penggunaan obat pereda batuk bebas pada anak-anak adalah sebagai berikut:

  • Belum terdapat bukti yang cukup untuk mendukung penggunaan obat batuk bebas pada anak-anak dengan gejala batuk akut akibat penyakit saluran napas atas maupun pneumonia.
  • Terdapat risiko efek samping yang cukup besar terkait penggunaan obat batuk bebas, terutama golongan antitusif dan antihistamin pada anak-anak.
  • Berdasarkan hal tersebut dan sejalan dengan rekomendasi FDA tahun 2008 tentang keamanan dan efikasi obat batuk bebas pada anak, maka sebaiknya obat batuk bebas tidak boleh diberikan secara rutin oleh masyarakat awam pada anak berusia kurang dari 2 tahun tanpa supervisi dari tenaga medis profesional[5].
  • Studi klinis lebih lanjut perlu dilakukan guna menilai efektivitas obat batuk bebas dalam mengatasi batuk pada pasien yang memiliki definisi penyakit yang lebih jelas (misalnya pneumonia) agar luaran penelitian dan efek terapi dapat dipantau secara lebih objektif dan kesimpulan dapat dicapai dengan lebih terarah.

Referensi