Hati-Hati Pemberian Obat Batuk Bebas pada Anak

Oleh :
dr. Sunita

Pemberian obat batuk bebas pada anak harus dengan hati-hati. Walaupun obat batuk bebas atau over the counter (OTC) mudah dan cepat didapat, namun berbagai penelitian menunjukkan penggunaannya tidak lebih bermanfaat secara signifikan daripada plasebo. Selain itu, penggunaannya memiliki risiko bahaya lebih tinggi daripada manfaatnya, terutama pada pasien anak di bawah 4 tahun.[1,2]

Batuk merupakan salah satu gejala yang sering mengganggu anak. Sebagai penanganan awal, orang tua sering memberikan obat batuk bebas daripada membawanya ke fasilitas kesehatan atau melakukan konsultasi online yang saat ini sudah tersedia di Indonesia.[1,2]

shutterstock_554523418-min

Penggunaan Obat Batuk Bebas pada Anak

Obat batuk bebas dipasarkan secara luas dan sering digunakan oleh dewasa dan anak-anak, terutama untuk kasus flu biasa atau common cold. Kandungan obat batuk bebas biasanya bersifat simtomatik, seperti analgesik, dekongestan, antihistamin, ekspektoran, dan antitusif. Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mengevaluasi manfaat dan keamanan obat tersebut pada pasien anak.[1-3]

Tinjauan sistemik oleh Smith et al pada tahun 2014, tentang efektivitas obat bebas pereda batuk pada anak-anak di komunitas, menganalisa 10 randomized controlled trial (RCT) dengan plasebo yang melibatkan 1036 pasien anak berusia 6 bulan ‒ 18 tahun. Sebagian besar penelitian memiliki variabilitas yang besar dalam hal definisi penyakit, jenis sediaan obat batuk bebas, dosis obat, frekuensi pemberian, dan lama pemberian, sehingga analisis kuantitatif sulit dilakukan.[2]

Hasil tinjauan menyebutkan bahwa tidak ada bukti yang signifikan terkait efektivitas obat batuk bebas pada pasien anak, baik obat golongan antitusif, antihistamin, kombinasi antihistamin-dekongestan, dan antitusif-bronkodilator jika dibandingkan dengan plasebo. Tinjauan  tidak dapat membuat evaluasi efikasi secara keseluruhan, karena jumlah subjek pada setiap penelitian kecil; ketersediaan, dosis, dan durasi penggunaan obat batuk bebas sangat bervariasi di berbagai negara; serta terdapat risiko bias yang buruk.[2]

Artikel yang ditulis oleh Lowry et al menunjukkan data bahwa obat batuk dan pilek bebas tidak lebih bermanfaat daripada plasebo pada pasien anak. Termasuk obat yang mengandung bromfeniramin, difenhidramin, klorfeniramin, guaifenesin, clemastine, fenilefrin, kodein, phenylpropanolamine, dekstrometorfan, maupun salbutamol oral.[1]

Keamanan Penggunaan Obat Batuk Bebas pada Anak

Lowry et al berpendapat bahwa penggunaan obat batuk bebas pada anak memiliki risiko keterlambatan membawa anak ke dokter, peningkatan interaksi obat-obatan, potensi penyalahgunaan obat, dan peningkatan efek samping bila tidak digunakan dengan benar.[1]

Keamanan penggunaan obat batuk bebas pada anak umumnya ditinjau dari proporsi anak yang menunjukkan efek samping terkait penggunaan obat batuk. Tinjauan sistemik oleh Smith et al menyimpulkan bahwa proporsi efek samping bervariasi antara 2‒40%, dan tampak lebih jelas pada studi yang melibatkan golongan obat antitusif dan antihistamin. Jenis efek samping yang sering ditemukan adalah mengantuk (30‒40%),  sedangkan yang paling jarang adalah hiperaktivitas dan BAB cair (1‒2%).[2]

Deschler et al menuliskan laporan kasus seorang anak usia 1 tahun yang datang ke unit gawat darurat dengan keluhan serius, cardiac arrest mendadak setelah minum obat batuk bebas.  Berdasarkan referensi yang digunakan, dijelaskan bahwa obat batuk bebas seringkali mengandung bahan yang berpotensi  menyebabkan sangat ngantuk hingga depresi pernapasan, seperti antihistamin dan dekstrometorfan. Sedangkan pseudoefedrin dapat menyebabkan aritmia, dan paracetamol dapat menyebabkan toksisitas hati.[4]

Beberapa faktor yang berkaitan dengan risiko tersebut antara lain usia anak <2 tahun, penggunaan obat dengan tujuan sedasi, penggunaan obat di tempat penitipan anak, penggunaan 2 obat dengan bahan aktif yang sama, kesalahan dalam pengukuran dosis obat, kesalahan dalam mengenali kemasan obat, dan penggunaan obat yang hanya diperuntukkan bagi orang dewasa.[4,6]

Penggunaan Obat Batuk Bebas pada Anak Dengan Hati-Hati

Sejak tahun 2010, Food and Drug Administration (FDA) mengeluarkan peraturan bahwa obat batuk bebas hanya dapat digunakan oleh pasien anak di atas 4 tahun. Obat batuk dan pilek yang mengandung dekongestan atau antihistamin tidak boleh diberikan kepada anak <2 tahun, karena efek samping yang dapat mengancam jiwa. Jika anak >4 tahun diberikan obat batuk bebas, maka harus hati-hati untuk menghindari jumlah dosis yang berlebih,  pemberian yang terlalu sering, dan penggunaan lebih dari satu produk dengan kandungan obat yang sama.[5-7]

Penatalaksanaan Batuk Pilek Pasien Anak yang Lebih Aman

Sebagian besar gejala batuk pilek pada anak disebabkan selesma atau common cold.  Penyakit tersebut merupakan self limited disease yang akan sembuh dalam waktu 7‒10 hari. Untuk meringankan gejala, lebih baik menggunakan terapi konservatif seperti irigasi nasal dan nebulisasi salin.[5]

Home remedy dengan madu juga telah terbukti lebih efektif sebagai antitusif dengan efek samping lebih sedikit, dan dapat diberikan dengan aman untuk anak >12 bulan. Paul et al, pada tahun 2007 melaporkan hasil penelitian yang melibatkan 105 pasien anak dengan infeksi saluran napas atas (ISPA). Penelitian ini menyimpulkan bahwa madu lebih efektif dibandingkan dengan dekstrometorphan atau tanpa pengobatan, dalam meredakan gejala batuk yang berhubungan dengan ISPA.[8]

Kesimpulan

Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa pemberian obat batuk bebas pada anak memiliki risiko bahaya lebih tinggi daripada manfaatnya. Oleh karena itu, pemberian obat batuk bebas atau over the counter (OTC) pada anak harus dengan hati-hati.

FDA menyatakan bahwa  dekongestan atau antihistamin tidak boleh untuk anak <2 tahun, karena efek samping yang dapat mengancam jiwa. Obat batuk bebas hanya boleh diberikan pada anak >4 tahun, tetapi harus dipastikan anak mendapatkan dosis dan jumlah obat yang tepat. Selain itu, jangan memberikan lebih dari satu produk dengan kandungan obat yang sama, dan jangan memberikan produk untuk orang dewasa.

Obat batuk bebas biasanya mengandung analgesik, dekongestan, antihistamin, ekspektoran, dan antitusif yang digunakan untuk meringankan gejala. Namun, telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa obat-obatan tersebut tidak akan mempersingkat durasi sakit, tetapi hanya membantu mengatasi sedikit keluhan.

Batuk pilek pada anak umumnya disebabkan oleh common cold yang akan membaik sendiri dalam waktu 7‒10 hari. Untuk mengatasi keluhan, lebih baik digunakan terapi konservatif, di antaranya pemberian madu yang telah terbukti lebih efektif sebagai antitusif dengan efek samping lebih sedikit, dan dapat diberikan dengan aman untuk anak >12 bulan. Jika keluhan menetap setelah 1 minggu, maka sebaiknya berkonsultasi ke dokter.

 

Direvisi oleh: dr. Hudiyati Agustini

Referensi