Teknik Transcatheter Aortic Valve Implantation (TAVI)
Teknik transcatheter aortic valve implantation (TAVI) melibatkan prosedur minimal invasif untuk mengganti katup aorta yang mengalami stenosis berat dengan menggunakan katup prostetik yang dipasang melalui kateter tanpa pembedahan terbuka. Prosedur ini umumnya dilakukan melalui akses vaskular transfemoral, meskipun rute alternatif seperti transapikal atau transaorta dapat digunakan bila akses femoral tidak memungkinkan.
Setelah pemasangan sheath vaskular, kateter pemandu diarahkan ke katup aorta di bawah panduan fluoroskopi dan ekokardiografi. Katup prostetik diposisikan di dalam katup aorta yang stenotik dan dilepaskan, sehingga mendorong daun katup asli ke perifer dan memungkinkan fungsi katup baru. Setelah implantasi, dilakukan evaluasi hemodinamik dan pencitraan untuk memastikan posisi katup optimal, serta tidak adanya komplikasi seperti regurgitasi.[13,14]
Persiapan Pasien
Persiapan pasien sebelum prosedur TAVI mencakup pemeriksaan klinis dan juga penunjang oleh tim multidisiplin untuk menentukan apakah pasien layak untuk menjalani TAVI atau tidak, serta untuk perencanaan perawatan setelah tindakan.[13,14]
Evaluasi Klinis
Evaluasi klinis yang dilakukan meliputi anamnesis dan pemeriksaan fisik. Anamnesis mencakup riwayat medis lengkap, identifikasi komorbiditas seperti penyakit paru kronik, gagal ginjal, gangguan koagulasi, penyakit jantung lain, maupun riwayat operasi jantung sebelumnya, serta faktor risiko yang dapat memengaruhi luaran seperti status frailty atau kapasitas fungsional pasien.[13-16]
Pemeriksaan fisik menilai kondisi jantung, paru, dan status fungsional untuk memperkirakan toleransi pasien terhadap prosedur. Seluruh hasil pemeriksaan ini menjadi dasar bagi tim multidisiplin sehingga keputusan intervensi dapat disesuaikan dengan kondisi pasien.[13-16]
Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium wajib dilakukan untuk menilai kesiapan pasien, mengidentifikasi faktor risiko komplikasi. Pemeriksaan yang direkomendasikan meliputi:
Hitung darah lengkap: menilai anemia, leukositosis, dan trombositopenia yang dapat memengaruhi risiko perdarahan atau infeksi
- Fungsi ginjal: penting untuk stratifikasi risiko cedera ginjal akut akibat kontras dan penyesuaian strategi hidrasi
- Elektrolit serum: gangguan elektrolit dapat meningkatkan risiko aritmia peri-prosedural
- Fungsi hati: terutama pada pasien dengan komorbid hepatik
- Profil koagulasi: penting untuk perencanaan antikoagulasi dan akses vaskular
- Gula darah puasa dan hemoglobin A1c (HbA1c) pada pasien diabetes untuk optimasi metabolik pra-tindakan.[6,11,12,14]
Elektrokardiografi (EKG)
EKG 12 sadapan merupakan pemeriksaan standar pra-TAVI untuk menilai gangguan konduksi, aritmia, dan tanda hipertrofi ventrikel kiri. Temuan EKG tertentu, khususnya right bundle branch block (RBBB), berhubungan dengan risiko tinggi kebutuhan pemasangan pacemaker permanen pasca-TAVI, sehingga memengaruhi perencanaan monitoring dan pacing sementara.[4,12]
Penilaian Penyakit Jantung Koroner
Penilaian penyakit jantung koroner merupakan pemeriksaan penunjang penting pra-TAVI. Angiografi koroner direkomendasikan pada pasien dengan riwayat angina dan revaskularisasi dengan PCI dapat dipertimbangkan sebelum atau bersamaan dengan TAVI pada lesi signifikan.[6,9,11]
Penilaian Status Fungsional dan Frailty
Penilaian ini penting dalam seleksi pasien karena frailty terbukti sebagai prediktor independen mortalitas dan poor functional recovery pasca-TAVI, sehingga penilaian tim multidisiplin sangat penting untuk pengambilan keputusan.
Beberapa alat yang umum digunakan untuk menilai status fungsional dan fraility adalah New York Heart Association (NYHA) functional class, 6-minute walk test, dan frailty score.[7,9,15,16]
Pencitraan Pra-Prosedur
Pencitraan pra-prosedur pada jantung dan vaskular dilakukan untuk menilai anatomi katup aorta dan memastikan kelayakan prosedur. Penilaian ini berfokus pada beberapa parameter kunci:
- Ukuran dan morfologi katup: menentukan ukuran annulus aorta (diameter dan luas area), distribusi dan tingkat keparahan kalsifikasi, serta geometri dan orientasi katup aorta.
- Anatomi dan geometri aorta: menilai dimensi dan sudut aorta (termasuk sinus valsalva, junction sinotubular, dan aorta asendens) untuk perencanaan ukuran dan posisi penempatan katup.
- Kelayakan akses vaskular: menentukan rute akses paling aman, biasanya transfemoral, dengan mengevaluasi diameter, tortuositas, dan kalsifikasi pembuluh darah perifer.[15,16]
Beberapa modalitas pencitraan yang saling melengkapi digunakan untuk mendapatkan informasi detail:
Ekokardiografi (2D/3D): untuk menilai fungsi ventrikel, stenosis aorta, regurgitasi, dan ukuran annulus; ekokardiografi 3D membantu visualisasi spasial annulus secara akurat.
Computed Tomography (CT) scan toraks: standar emas pra-TAVI untuk pengukuran annulus presisi, distribusi kalsifikasi, anatomi aorta, dan akses vaskular, sehingga pemilihan katup dan jalur lebih aman.[15,16]
Peralatan
Peralatan yang digunakan dalam prosedur TAVI antara lain:
Transcatheter heart valve yaitu katup bioprostetik yang dipasang pada rangka logam, dengan daun katup yang dibuat dari jaringan perikardium bovine atau porcine.
- Sistem penghantaran katup (delivery system), berupa kateter khusus yang berfungsi membawa dan melepaskan katup transkateter ke posisi annulus aorta.
-
Vascular introducer sheath yaitu perangkat akses vaskular berdiameter besar yang dimasukkan ke dalam arteri (umumnya arteri femoralis) untuk memfasilitasi masuknya kateter dan delivery system.
Guidewire yaitu kawat pemandu fleksibel yang digunakan sebagai jalur navigasi kateter menuju katup aorta.
- Balon valvuloplasty, yaitu balon yang dapat digunakan untuk predilatasi katup aorta native sebelum implantasi katup transkateter, sesuai kebutuhan anatomi.
- Peralatan pencitraan intraprosedural, terutama fluoroskopi dan ekokardiografi, untuk memandu penempatan katup dan menilai fungsi setelah implantasi.
Temporary pacing system, yaitu alat pacu jantung sementara yang digunakan untuk mengontrol irama jantung selama fase kritis implantasi.[12,17]
Posisi Pasien
Posisi pasien saat dilakukan tindakan TAVI adalah posisi supinasi di ruang kateterisasi atau hybrid operating theatre. Posisi ini memungkinkan akses vaskular yang optimal, baik melalui pendekatan transfemoral maupun transaksila, serta mendukung penggunaan fluoroskopi secara efektif selama prosedur.
Pada pendekatan transaksila, pasien berada dalam posisi telentang dengan lengan diposisikan di sisi tubuh, sehingga memfasilitasi pemasangan akses vaskular dan navigasi kateter secara aman dan terkontrol selama implantasi katup.[12,18]
Prosedural
Prosedur TAVI merupakan tindakan kateterisasi yang dilakukan untuk mengganti katup aorta tanpa pembedahan terbuka. Prosedur ini melibatkan persiapan akses vaskular, navigasi kateter menuju katup aorta, implantasi katup transkateter, serta evaluasi fungsi katup pascaimplantasi.[2,12,18,19]
Tahapan prosedur TAVI adalah:
- Prosedur TAVI dilakukan di ruang kateterisasi atau hybrid operating theatre dengan pemantauan hemodinamik dan elektrokardiografi secara kontinu.
- Operator memperoleh akses vaskular melalui arteri femoralis atau rute alternatif seperti transaksila dengan menggunakan vascular introducer sebagai jalur masuk sistem kateter.
- Operator memposisikan guidewire melintasi katup aorta native untuk memandu navigasi kateter dan sistem penghantaran katup.
- Bila diperlukan, operator melakukan predilatasi katup aorta menggunakan balon valvuloplasty untuk membuka katup stenotik sebelum implantasi, sesuai anatomi dan strategi prosedur.
- Operator menghantarkan katup bioprostetik melalui delivery system menuju annulus aorta di bawah panduan fluoroskopi.
- Operator mengembangkan katup pada posisi target dengan mekanisme balloon-expandable atau self-expandable, sering disertai rapid temporary pacing untuk stabilisasi posisi.
- Operator mengevaluasi posisi dan fungsi katup menggunakan fluoroskopi dan ekokardiografi untuk memastikan ekspansi optimal serta mendeteksi kebocoran paravalvular.
- Operator melepaskan sistem kateter dan menutup akses vaskular menggunakan perangkat penutupan, kemudian melanjutkan observasi pascatindakan.[12,18,19]
Follow-up
Follow-up yang dilakukan setelah intervensi TAVI adalah pemantauan klinis dan fungsional yang bertujuan mendeteksi komplikasi dini, menilai fungsi katup, serta mendukung pemulihan dan kualitas hidup pasien secara berkelanjutan.[5,12,15,16]
Follow-up Jangka Pendek
Pada fase awal pascatindakan (0-30 hari), follow up difokuskan pada monitoring komplikasi prosedural dan stabilitas hemodinamik. Evaluasi meliputi pemantauan irama jantung, fungsi katup melalui ekokardiografi, status vaskular akses, serta kebutuhan terapi antitrombotik. Periode ini juga digunakan untuk mendeteksi komplikasi dini seperti gangguan konduksi, perdarahan, atau disfungsi katup awal [12,15].
Follow-up Jangka Panjang
Follow-up jangka panjang setelah TAVI dilakukan untuk menilai durabilitas katup, kelangsungan hidup, dan kualitas hidup pasien. Evaluasi lanjutan umumnya dilakukan pada 6 bulan, 12 bulan, dan selanjutnya setiap tahun, dengan fokus pada penilaian fungsi katup transkateter, terutama melalui pemeriksaan ekokardiografi, serta pemantauan progresivitas penyakit kardiovaskular, komorbid, dan status klinis pasien.
Pemantauan berkelanjutan juga bertujuan untuk mengidentifikasi faktor prediktor luaran klinis jangka panjang, seperti usia pasien, fungsi ventrikel kiri, keberadaan penyakit penyerta, serta komplikasi pascatindakan. Faktor-faktor ini berperan dalam menentukan prognosis dan membantu perencanaan tindak lanjut serta intervensi lanjutan guna mempertahankan hasil klinis yang optimal setelah TAVI.[5,16]