Pilihan Antibiotik pada Cedera yang Kontak dengan Air Laut

Oleh :
dr. Vania Azalia Gunawan

Cedera akibat kontak dengan air laut, atau yang lebih dikenal sebagai sea wound, cenderung lebih rentan terhadap infeksi bakteri dibandingkan cedera biasa. Cedera jenis ini juga memiliki risiko kontaminasi lebih tinggi dengan bahan organik dan bakteri laut. Cedera yang terkait dengan paparan air laut dapat berupa luka robek akibat benda mati di dalam air, luka tusukan akibat kail ikan atau duri ikan, dan gigitan hewan air.

Luka tersebut merupakan portal of entry dari mikroorganisme air laut yang dapat menyebabkan infeksi. Mikroba air laut berbeda dengan mikroba di darat, sehingga mengobati infeksi bakteri laut memerlukan strategi yang berbeda. Selain itu, karakteristik air laut yang memiliki kandungan garam yang tinggi, suhu rendah, osmolalitas tinggi, dan populasi mikroorganisme yang besar, menyebabkan edema jaringan dan infeksi nekrotik dapat terjadi dengan cepat.[1-3]

AntibiotikCederaAirLaut

Perbedaan Luka yang Berkontak dengan Air Laut

Lingkungan air laut sangat dinamis dan kompleks, dengan keberadaan beragam mikroorganisme seperti bakteri, alga, dan virus laut. Kondisi salinitas, suhu, dan tekanan di lingkungan laut mempengaruhi jenis dan jumlah mikroorganisme yang dapat ditemui.[2,4,5]

Perbedaan Komposisi Mikroba di Laut dan di Darat

Ketika seseorang mengalami luka yang terkontaminasi air laut, mikroba dari lingkungan laut dapat memasuki jaringan tubuh melalui luka tersebut. Luka terkontaminasi air laut memiliki risiko infeksi yang lebih tinggi dibandingkan dengan luka yang terpapar lingkungan darat biasa. Oleh karena itu, pemilihan antibiotik yang tepat sangat penting untuk mencegah dan mengatasi infeksi.

Air laut mengandung berbagai bakteri, termasuk Vibrio vulnificus dan Aeromonas hydrophila, yang dapat menyebabkan infeksi serius pada manusia. Vibrio vulnificus merupakan bakteri gram-negatif yang dapat menyebabkan infeksi berat, terutama pada individu imunokompromais. Infeksi ini dapat berkembang menjadi sepsis atau menyebabkan komplikasi serius lainnya.

Aeromonas hydrophila adalah bakteri gram-negatif lain yang dapat menyebabkan berbagai jenis infeksi, termasuk infeksi luka, gastroenteritis, dan infeksi saluran kemih. Infeksi dapat menjadi fatal pada pasien imunokompromais

Antibiotik dengan spektrum yang luas, terutama yang efektif melawan bakteri gram-negatif seperti Vibrio dan Aeromonas, menjadi pilihan utama dalam terapi sea wound. Kombinasi dengan pembersihan luka yang cermat dan tindakan perawatan lain juga merupakan langkah penting dalam manajemen sea wound untuk meminimalkan risiko komplikasi infeksi.[2,4,5]

Perawatan Luka

Luka yang terpapar oleh air laut harus diirigasi dengan salin. Irigasi yang dilakukan tepat waktu dapat secara efektif menghilangkan sisa-sisa sel dan mikroorganisme, mengurangi replikasi mikroba, dan mengurangi risiko infeksi.  Jaringan yang rusak atau mengalami devitalisasi harus dilakukan debridemen dan benda asing harus dibuang bila ada.

Pemeriksaan gram dan kultur, baik aerobik maupun anaerobik, perlu dipertimbangkan, terutama pada pasien imunokompromais. Pewarnaan dengan  disertai pemeriksaan bakteri tahan asam dan kultur Mycobacterium mungkin diperlukan.[1,4]

Luka Dibiarkan Terbuka

Luka akut yang terpapar oleh air harus dibiarkan terbuka dengan harapan terjadi secondary closure setelah dilakukan debridemen. Delayed primary closure dapat dipertimbangkan pada luka daerah wajah atau laserasi yang besar.[1,4]

Luka dengan bula atau nekrosis memerlukan debridemen yang agresif dan irigasi setiap 6-12 jam hingga infeksi teratasi. Pada cedera yang melibatkan gigitan atau sengatan hewan berbisa, umumnya disertai dengan heat-labile toxin, perendaman dengan air panas 42°C dapat membantu menetralisir toksin. Perendaman anggota tubuh yang terkena sengatan dilakukan selama 30-90 menit, atau hingga pengangkatan dari air panas tidak lagi menyebabkan kambuhnya nyeri.[5,6]

Pemberian Antibiotik

Sebelum memilih antibiotik, penting untuk melakukan evaluasi awal terhadap cedera tersebut. Tentukan sejauh mana luka menembus jaringan. Pertimbangkan apakah luka terkontaminasi dengan bahan asing atau potensi patogen. Pastikan untuk mengetahui riwayat alergi pasien terhadap antibiotik tertentu.[1,2,5,6]

Antibiotik Profilaksis

Pemberian antibiotik profilaksis belum terstandarisasi, namun pedoman umum merekomendasikan antibiotik spektrum luas untuk semua luka tusukan. Antibiotik yang dipilih harus memiliki cakupan untuk bakteri Vibrio, Aeromonas, Mycobacterium marinum, dan Erysipelothrix rhusiopathiae. Contoh pilihan antibiotik profilaksis adalah doxycycline oral dengan ceftazidime intravena (IV).

Monoterapi dapat digunakan pada pasien imunokompeten dengan luka tusuk ringan. Contohnya adalah ciprofloxacin 500 mg secara oral 2 kali sehari selama 5-7 hari.[6]

Beberapa kriteria luka yang dapat dipertimbangkan pemberian antibiotik profilaksis adalah:

  • Luka tusuk atau laserasi dalam (melewati dermis)
  • Luka yang membutuhkan tindakan bedah
  • Luka yang dilakukan primary closure

  • Luka akibat crush injury

  • Luka di daerah vaskular dan limfatik
  • Luka pada tangan, kaki, wajah, atau area genital
  • Luka di dekat tulang atau sendi, terutama sendi prostetik
  • Luka pada pasien dengan gangguan sistem imun, diabetes, atau penyakit hati kronis[1]

Terapi Antibiotik Empiris

Terapi antibiotik empiris yang umumnya digunakan adalah golongan sefalosporin, seperti cefepime 2 g intravena setiap 12 jam. Linezolid 600 mg setiap 12 jam secara per oral maupun intravena dapat dipertimbangkan pada individu yang hipersensitif terhadap sefalosporin. Pemberian antibiotik tersebut diberikan secara kombinasi dengan fluorokuinolon, seperti levofloxacin 750 mg sehari sekali, dan doxycycline 100 mg dua kali sehari.

Geng et al (2023) menyatakan bahwa bakteri terbanyak yang diisolasi dari air laut di Cina merupakan Vibrio dan Enterobacteriaceae. Kedua jenis bakteri ini sangat sensitif terhadap imipenem, meropenem, cefepime, ceftazidime, dan levofloxacin, dengan tingkat sensitivitas lebih dari 90%. Durasi pemberian antibiotik pada umumnya 10-14 hari, atau 7-10 hari setelah selulitis mengalami perbaikan.[1,2,5]

Antibiotik Intravena:

Pada kasus pasien disertai dengan gejala sistemik, seperti demam atau leukositosis, antibiotik dapat diberikan secara intravena. Pemberian intravena juga dipertimbangkan pada kasus pasien dengan gangguan imunitas, seperti sirosis dan penyakit ginjal kronis, karena berisiko mengalami infeksi berat dengan mortalitas tinggi. Perubahan antibiotik dari parenteral ke oral dapat dimulai saat gejala klinis demam menghilang dan luka membaik, sekitar 3-5 hari.[1,2]

Infeksi Mycobacterium

Pada kasus yang terinfeksi dengan Mycobacterium, terutama M. marinum, pemberian antibiotik perlu jangka panjang hingga beberapa bulan. Pada kasus infeksi superfisial, terapi yang diberikan adalah clarithromycin 500 mg 2 kali sehari per oral, minocycline 100 mg 2 kali sehari per oral, atau cotrimoxazole 960 mg 2 kali sehari.

Pada kasus infeksi dalam atau ekstensif, antibiotik diberikan kombinasi clarithromycin 500 mg 2 kali sehari dengan ethambuthol 15 mg/kg sekali sehari atau rifampicin 600 mg sekali sehari. Pemberian antibiotik pada umumnya memerlukan 3-4 bulan.[1]

Profilaksis Tetanus

Untuk mengantisipasi infeksi tetanus, vaksinasi tetanus booster dapat dipertimbangkan. Pada luka minor dan bersih, pemberian vaksin tetanus toksoid direkomendasikan pada individu dengan status vaksinasi tidak diketahui, kurang dari 3 dosis, atau ≥3 dosis namun dosis terakhir ≥10 tahun yang lalu. Human tetanus imunoglobulin tidak perlu diberikan.[1,5]

Pada luka lainnya, seperti luka yang terkontaminasi dengan tanah, feses, atau saliva; luka tusuk; avulsi; crush injury, atau luka bakar, vaksin tetanus toksoid direkomendasikan pada individu dengan status vaksinasi tidak diketahui, kurang dari 3 dosis, atau  ≥3 dosis namun dosis terakhir ≥5 tahun yang lalu.[1,5]

Kesimpulan

Luka yang terjadi di air laut dapat disertai dengan infeksi mikroba yang jarang ditemui pada luka biasa yang terjadi di darat. Prinsip pemilihan antibiotik pada sea wound adalah memilih agen dengan spektrum luas yang efektif terhadap bakteri gram-negatif seperti Vibrio dan Aeromonas, yang umum ditemui di lingkungan air laut. Selain itu, antibiotik harus dipilih berdasarkan evaluasi kedalaman luka, tingkat kontaminasi, dan respons pasien terhadap terapi.

Perawatan luka pada sea wound meliputi pembersihan luka yang cermat, pengangkatan benda asing, dan penutupan jika diperlukan. Sementara itu, vaksinasi tetanus diberikan jika status vaksinasi sebelumnya tidak jelas, luka terkontaminasi dengan bahan asing atau kotoran, atau jika kondisi vaksinasi terakhir telah melebihi 10 tahun.

Human tetanus imunoglobulin digunakan jika status vaksinasi tetanus pasien tidak jelas atau belum lengkap. Human tetanus imunoglobulin memberikan perlindungan pasif segera terhadap toksin tetanus dan merupakan langkah tambahan yang penting dalam mencegah

Referensi