Pemilihan Benang Absorbable vs Non-Absorbable untuk Mendapatkan Bekas Luka yang Baik

Oleh :
dr. Johannes Albert B SpBPRE

Pemilihan benang dalam tindakan penjahitan luka yang sesuai dengan kebutuhan pasien dapat menentukan luaran bekas luka yang akan didapatkan oleh pasien. Pemahaman mengenai materi benang absorbable dan non-absorbable dapat menuntun kita untuk menentukan materi yang terbaik, sehingga bekas luka yang ditimbulkan optimal secara estetik.

Sifat Material Benang Jahit

Klinisi memerlukan pemahaman mengenai sifat dan bahan dari benang yang akan digunakan untuk menjahit jaringan. Pemahaman mengenai hal ini akan menguntungkan bagi tenaga kesehatan maupun pasien yang dilakukan tindakan penjahitan.

shutterstock_140327929-min

Sifat Benang Absordable dan Non-Absorbable

Sebelum membandingkan materi absorbable dan non-absorbable, informasi mengenai beberapa sifat benang jahit akan menentukan efeknya terhadap jaringan serta prosedur penjahitan. Secara garis besar, material benang jahit memiliki sifat-sifat berikut:

  1. Kemampuannya untuk diserap dalam tubuh: absorbable dan non-absorbable

  2. Asal materi benang jahit: natural dan sintetik
  3. Jumlah helaian benang: multifilament dan monofilament[1]

Material benang berbahan dasar material alami, saat ini mulai kurang disukai karena dapat menimbulkan reaksi inflamasi yang lebih kuat dibandingkan material sintetik, sehingga berpotensi menimbulkan bekas luka (scar) yang kurang baik.[1]

Sifat Benang Multifilament dan Monofilament

Benang absorbable dan non-absorbable pada saat ini tersedia dalam bentuk multifilament dan monofilament. Benang multifilament dan monofilament memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing.

Benang monofilament dapat melewati jaringan secara mulus dan dipercaya memiliki kemungkinan yang lebih kecil untuk menjadi tempat berkembang biaknya bakteri dibandingkan dengan benang multifilament. Oleh karena itu, memilih benang monofilament diyakini dapat mengurangi risiko terjadinya infeksi pada luka. Di sisi lain, simpul pada benang monofilament cenderung lebih mudah terbuka dibandingkan dengan benang multifilament. Selain itu, apabila jahitan dibuat dalam kondisi tension (tegangan tinggi), maka benang monofilament lebih mudah mengiris jaringan sehingga jaringan mudah robek.[1]

Perbandingan Material Absorbable dan Non-Absorbable

Benang absorbable dan non-absorbable dapat ditemukan di pasaran dalam berbagai sediaan. Kedua benang tersebut dapat berasal dari material alami dan sintetis, serta berupa benang multifilament atau monofilament.

Tabel 1. Perbandingan Material Absorbable dan Non-Absorbable.

  Absorbable Non-absorbable
Kekuatan Akan kehilangan kekuatan seiring berjalannya waktu Lebih kuat karena tidak terdegradasi oleh jaringan
Pengangkatan jahitan Tidak memerlukan pengangkatan jahitan Memerlukan pengangkatan jahitan bila digunakan pada permukaan kulit
Sudut pandang pasien Menghindarkan pasien dari kekhawatiran dan nyeri akibat prosedur pengangkatan jahitan Pasien mengalami nyeri pada saat prosedur pengangkatan jahitan

Sumber: dr. Johannes, 2019[1–3]

Tabel 2. Jenis Sediaan Benang Absorbable dan Non-Absorbable[4]

  Multifilamen Monofilamen
Absorbable

Asam Polyglycolic

Asam Polyglactin

Catgut

Gliconate

Poliglecaprone

Polydioxanone

Non-absorbable

Silk

Nylon (braided)

Nylon

Polypropylene

Polybutester

Sumber : dr. Johannes, 2019[4]

Benang absorbable yang paling banyak digunakan adalah polyglactin, sedangkan benang non-absorbable yang paling sering dipakai adalah nylon dan polypropylene.[1]

Praktik Klinis dan Evidence Based Medicine

Pada dasarnya, ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi hasil akhir secara estetik pada luka yang dijahit. Pemilihan dan penggunaan material benang jahit hanyalah satu di antara banyak faktor tersebut. Akan tetapi, faktor ini cukup penting karena akan memengaruhi faktor lainnya. Sebagai contoh, pemilihan material benang jahit yang tepat akan memudahkan klinisi saat menjahit, sehingga dapat meminimalkan trauma pada jaringan akibat manipulasi pada saat penjahitan.

Benang absorbable seperti polyglactin tersedia di pasaran dalam bentuk benang multifilament. Pada umumnya praktisi medis menghindari pemakaian benang ini sebagai material jahit luar pada penjahitan kulit. Beberapa faktor yang menjadi bahan pertimbangan antara lain:[1]

  • Kekhawatiran timbulnya suture mark (bekas benang jahit yang tampak seperti lipan pada permukaan kulit) apabila benang tidak diangkat setelah luka epitelisasi sempurna
  • Dengan sediaan berbentuk multifilament. Benang ini dikhawatirkan memiliki banyak area yang dapat menjadi tempat bakteri berkembang biak, sehingga penggunaannya dihindari pada area yang rentan mengalami infeksi
  • Kekhawatiran bahwa luka akan mengalami dehiscence karena benang telah kehilangan kekuatannya padahal luka belum sembuh dengan baik

Oleh karena itu praktik klinis yang dilakukan pada saat ini umumnya menganut dogma benang absorbable hanya digunakan untuk jahitan dalam pada kulit, sedangkan benang non-absorbable digunakan untuk jahitan luar kulit. Benang absorbable umumnya digunakan pada penjahitan luar pada area-area tertentu yang menyulitkan atau tidak nyaman bagi pasien pada saat pengangkatan jahitan seperti area genital dan intraoral.

Evidence Based Medicine Mengenai Benang Absorbable dan Non-Absorbable

Gillanders et al. melakukan sebuah studi systematic review yang meneliti perbandingan penggunaan benang absorbable dan non-absorbable pada luka di area wajah. Studi ini meneliti 11 penelitian dan menyertakan 751 partisipan dengan luka di kepala dan leher. Hasil dari penelitian ini tidak menemukan perbedaan luaran yang signifikan antara kedua jenis benang tersebut dalam hal estetik, kejadian infeksi, dehisensi, skar hipertrofi, eritema (akibat inflamasi di sekitar benang), maupun suture mark. Namun, keterbatasan pada penelitian ini adalah adanya perbedaan merek dan material benang jahit antara studi yang ditelaah. Selain itu, terdapat pula variasi pada jenis luka yang di jahit (luka pembedahan dan trauma) serta penilaian parut bekas luka.[1]

Sebuah systematic review lainnya yang dilakukan oleh Sajid et al. meneliti perbandingan benang absorbable dan non-absorbable hanya pada luka operasi. Penelitian ini menyertakan 10 RCT dengan 1354 partisipan. Hasil dari systematic review tersebut adalah penggunaan benang absorbable untuk luka operasi tidak meningkatkan risiko surgical site infection dan komplikasi postoperatif lainnya. Bahkan, mereka menemukan bahwa angka kejadian dehisensi luka lebih rendah secara signifikan pada kelompok benang absorbable.

Limitasi dari penelitian ini adalah penilaian bekas luka secara kosmetik tidak dilakukan dalam telaah ini, ditambah dengan banyaknya variasi tindakan operasi yang menyebabkan bias. Akan tetapi, dasar pemikiran bahwa luka yang mengalami dehisensi akan menghasilkan parut luka yang buruk, maka kemungkinan bekas luka lebih baik pada kelompok benang absorbable. Hal ini tentunya berbeda dengan pemahaman selama ini bahwa kekuatan benang absorbable yang berkurang seiring waktu akan meningkatkan risiko terjadinya dehisensi luka operasi.[5]

Pauniaho et al. melakukan sebuah studi RCT yang membandingkan penggunaan benang absorbable (poliglikolik) dan non-absorbable (nilon) pada luka operasi appendektomi anak-anak. Mereka menemukan bahwa angka infeksi luka operasi dan dehisensi justru ditemukan lebih rendah pada pasien yang dijahit menggunakan benang absorbable multifilament. Penelitian ini bahkan melibatkan pasien-pasien dengan apendisitis perforasi yang memiliki risiko infeksi luka operasi yang lebih tinggi. Hasil ini bertolak belakang dengan hasil penelitian Foster et al. pada tahun 1970-an yang melaporkan bahwa penggunaan benang poliglikolik meningkatkan risiko infeksi luka bila dibandingkan nilon. Perbedaan hasil temuan ini kemungkinan disebabkan karena perubahan manufaktur material jahit, standar asepsis-antisepsis, dan protokol pemberian antibiotik profilaksis.[6]

Evidence-Based pada Bidang Bedah Plastik

Di bidang bedah plastik sendiri, saat ini temuan bukti yang ada menunjukkan bahwa penggunaan benang absorbable untuk penjahitan kulit tidak menimbulkan komplikasi yang lebih tinggi dibandingkan benang non-absorbable. Penelitian pada kasus rekonstruksi bibir sumbing yang dilakukan Alawode et al. menunjukkan tidak ada peningkatan kejadian infeksi dan dehisensi akibat penggunaan benang absorbable dibandingkan benang non-absorbable. Namun, mereka melaporkan reaksi jaringan yang lebih tinggi secara bermakna pada kelompok benang absorbable di hari ke-7 pascaoperasi. Reaksi jaringan berupa eritema ini tidak lagi ditemukan pada kedua kelompok di hari ke-14 pasca operasi. Kekurangan penelitian ini adalah tidak adanya evaluasi bekas luka jangka panjang pada kedua kelompok.[3]

Pada bidang estetik, penggunaan benang absorbable untuk menjahit kulit juga mulai populer. Alinasab et al, menggunakan benang berbahan polyglactic acid yang diserap cepat untuk menjahit kolumela pasca operasi rhinoplasty. Penelitian ini melaporkan hasil bekas luka yang sama baiknya pada follow-up bulan ke-6.[2]

Kesimpulan

Sebelum melakukan tindakan penjahitan, praktisi medis memerlukan pengetahuan dan pemahaman terhadap jenis, sifat, fungsi serta komplikasi dari benang jahit. Untuk mendapatkan bekas luka yang memuaskan bisa dicapai dengan pengenalan sifat material benang jahit serta teknik menjahit yang baik.

Berdasarkan metaanalisis, telaah sistemik, maupun RCT menunjukan bahwa benang absorbable dan non-absorbable memiliki risiko komplikasi yang relatif sama dan menghasilkan bekas luka yang sama baiknya. Namun, penerapan bukti-bukti ilmiah yang ada saat ini harus dilakukan dengan hati-hati karena sebagian besar populasi penelitian ini adalah pasien kaukasia yang memiliki risiko skar hipertrofik dan keloid yang lebih rendah dibandingkan ras asia.

Referensi