Efektivitas Madu dalam Perawatan Luka

Oleh :
dr. Sandy S Sopandi

Madu merupakan salah satu pilihan dressing untuk perawatan luka yang sudah digunakan selama ribuan tahun karena memiliki sejumlah karakteristik yang mendukung penyembuhan luka. Madu adalah zat makanan berbentuk cairan yang dibuat oleh lebah dari nektar atau sekresi tumbuhan.

Sebelum digunakan untuk keperluan medis, madu disterilisasi dengan iradiasi gamma atau pasteurisasi untuk mencegah penyebaran spora bakteri ke luka. Pengolahan madu juga bertujuan untuk membatasi variabilitas antar spesimen serta mengurangi potensi reaksi alergi akibat lilin, kotoran, dan polen.

honey wound care comp

Jenis madu yang banyak diteliti adalah madu Manuka dari Selandia Baru. Perkembangan teknologi telah mendukung munculnya berbagai dressing yang mengandung madu seperti Manukaguard ®, Medihoney ®, Algivon ®, dan Actilite ®.  Madu tersedia dalam bentuk hidrokoloid, alginat, tulle sintetis, dan gel.[1-3]

Mekanisme Kerja Madu

Madu membantu dapat membantu proses penyembuhan luka dengan berbagai mekanisme, antara lain:

  • Memicu debridement melalui proses osmosis. Dengan mempertahankan kelembapan luka, madu juga mendukung proses debridement

  • Rendahnya pH madu dan tingginya osmolaritas madu meningkatkan oksigenasi jaringan serta menarik cairan dari jaringan subdermal ke luka. Aliran cairan ini membilas bakteri, debris, slough, dan jaringan nekrotik dari luka seperti mekanisme kerja negative pressure wound therapy (NPWT)
  • Hidrogen peroksida pada madu dapat mengganggu pertumbuhan bakteri
  • Kandungan gula yang tinggi pada madu merupakan sumber glukosa tambahan untuk komponen seluler yang berproliferasi seperti fibroblas dan endotel
  • Efek antiinflamasi menekan proses inflamasi berkepanjangan sehingga membantu penyembuhan luka kronik
  • Menghilangkan bau
  • Memicu laju pembentukan jaringan granulasi dan penutupan luka
  • Tidak bersifat iritan sehingga dapat digunakan pada pasien dengan kulit sensitif
  • Flavonoid dan polifenol dalam madu bersifat antioksidan sehingga melindungi sel dari kerusakan oleh radikal bebas yang ditimbulkan infeksi
  • Memiliki kemampuan untuk menghambat komunikasi bakteri sehingga bakteri tidak dapat membentuk resistensi terhadap madu. Karena itu, madu dapat membantu eradikasi bakteri yang telah mengembangkan resistensi terhadap antibiotik seperti methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA)[1-6]

Aplikasi Madu Untuk Berbagai Jenis Luka

Madu biasa digunakan pada perawatan berbagai jenis luka. Meskipun demikian, belum terdapat rekomendasi yang dapat dijadikan pedoman definitif untuk menggunakan madu. Bukti ilmiah yang ada cukup kuat untuk mendukung penggunaan madu sebagai dressing pada kondisi-kondisi tertentu.

Aplikasi klinis madu pada beberapa kondisi di bawah ini didasarkan pada ulasan oleh The Canadian Agency for Drugs and Technologies in Health (CADTH) yang mengevaluasi systematic review, Health Technology Assessment (HTA), dan pedoman klinis berbasis bukti. Intervensi yang digunakan adalah madu topikal dan dressing madu. Sebagai pembanding, dressing yang digunakan adalah silver sulfadiazine dan plasebo.[1,5,7]

Luka Bakar

Dibandingkan dengan silver sulfadiazine dan dressing lain, madu menunjukkan durasi penyembuhan yang lebih singkat pada luka bakar superfisial (rata-rata 5 hari lebih cepat) dan luka bakar kedalaman parsial (rata-rata 4,68 hari lebih cepat). Kelompok madu juga memiliki tingkat infeksi yang lebih rendah (proporsi hasil kultur apus positif pada hari ketujuh lebih rendah), komplikasi lebih sedikit, dan tingkat nyeri yang lebih ringan. Luka bakar yang dirawat dengan madu menyembuh dengan angka parut hipertrofik dan kontraktur yang lebih rendah.[1]

Infeksi Luka Operasi

Bukti moderat mendukung penggunaan madu dibanding irigasi antiseptik yang dilanjutkan dengan kasa untuk perawatan luka operasi terinfeksi. Kelompok madu dilaporkan memiliki waktu penyembuhan lebih cepat, angka dehisensi luka dan penjahitan ulang lebih rendah, dan laju eradikasi infeksi lebih singkat. Rerata waktu untuk mencapai hasil apus kultur negatif adalah 6 hari untuk madu dan 14,8 hari untuk kasa dan antiseptik.[1]

Ulkus vena

Pada sebuah uji klinis acak, pasien dengan ulkus vena di kaki yang dirawat dengan madu menunjukkan penyembuhan yang lebih cepat, infeksi yang lebih rendah, dan penguraian slough yang lebih efektif dibandingkan kelompok kontrol.[3]

Systematic review oleh Jull, et al membandingkan dressing madu dan hidrogel dalam perawatan ulkus vena tungkai. Tidak didapatkan hasil yang jelas apakah madu meningkatkan penyembuhan atau mengurangi angka infeksi. Namun, pada kelompok madu dilaporkan lebih banyak komplikasi termasuk nyeri dan pemburukan luka, meskipun tidak jelas apakah kondisi tersebut terkait dengan intervensi atau tidak. Bukti-bukti belum mencukupi untuk menyimpulkan kegunaan madu dalam merawat infeksi luka lokal.[1]

Ulkus Diabetikum

Sebagian studi melaporkan bahwa penggunaan madu pada pasien ulkus diabetikum memiliki efektivitas yang lebih baik, penurunan angka amputasi, dan compliance pasien yang lebih baik dibandingkan dressing konvensional.

Sementara studi systematic review lain tidak menemukan perbedaan bermakna antara kelompok madu dan kelompok dressing lain (kasa salin, dressing povidon iodin) dalam hal penyembuhan dan angka infeksi ulkus diabetikum. Efek samping tidak digambarkan dengan cukup jelas untuk dilaporkan. Dengan demikian, bukti-bukti belum cukup untuk mengevaluasi efek madu terhadap infeksi pada pasien dengan kaki diabetik.[1,3]

Meskipun bersifat antimikroba, methylglyoxal yang banyak dikandung madu Manuka merupakan prekursor bagi molekul lain yang berperan dalam terbentuknya ulkus diabetikum.[6]

Ulkus Tekanan

Dua pedoman dari Skotlandia menyebutkan bahwa madu dapat dipertimbangkan untuk manajemen ulkus tekanan. Pada sebuah studi dengan 20 sampel di masing-masing kelompok, kelompok madu menunjukkan penyembuhan luka lebih banyak dibandingkan kelompok salin (100% vs 70%), tetapi perbedaan tersebut tidak signifikan secara statistik. Efek samping dan laju infeksi tidak dilaporkan.[1]

Fournier’s Gangrene

Studi yang tersedia memiliki kualitas bukti yang rendah tetapi menunjukkan waktu penyembuhan pada fournier’s gangrene lebih cepat (rata-rata 8 hari lebih cepat) dan kebutuhan penjahitan sekunder lebih rendah daripada kelompok dressing antiseptik. Angka infeksi sekunder tidak dilaporkan.[1] 

Toxic Epidermal Necrolysis (TEN)

Sebuah studi kasus melaporkan seorang pasien TEN yang diduga akibat konsumsi parasetamol atau ibuprofen. Pasien menderita kehilangan epitel 60% dari luas permukaan tubuhnya, termasuk permukaan mukosa mata, mulut, dan genital. Pasien menampakkan penyembuhan epitel dalam satu minggu setelah perawatan dengan dressing madu yaitu Revamil ®. Perawatan luka dikatakan mudah, dengan eksudat luka minimal.[4]

Ulkus Kronik (tidak terspesifikasi)

Efek antibakteri pada kelompok madu lebih unggul meskipun tidak signifikan pada sebuah uji klinis acak. Bukti mengenai efek anti inflamasi, anti bau, kemampuan debridement, dan nyeri tidak cukup untuk mengambil sebuah kesimpulan mengenai penggunaan madu pada ulkus kronik. Sebuah pedoman dari German Society for Wound Healing tidak merekomendasikan penggunaan madu pada ulkus kronik, meskipun penilaian bukti yang digunakan untuk mendasari pedoman ini tidak digambarkan.[1]

Luka Minor Akut

Belum didapatkan bukti berkualitas mengenai keunggulan madu dibandingkan dressing konvensional pada luka minor akut. Rerata waktu penyembuhan dan angka infeksi tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Pada kelompok madu tidak didapatkan perbedaan signifikan dibanding kelompok hidrogel terkait rasa gatal, panas, dan nyeri.

Pada luka campuran akut dan kronik, angka komplikasi seperti hipergranulasi, parut hipertrofik, kontraktur, dan iritasi pada kelompok madu lebih rendah daripada silver sulfadiazine (4% vs 28%). Waktu penyembuhan luka menunjukkan rerata 13 hari lebih cepat pada kelompok madu. Madu juga menunjukkan efek antibakteri lebih tinggi dan nyeri yang lebih rendah.[1]

Keterbatasan Madu

Studi untuk penggunaan madu pada luka-luka lain tidak dapat menghasilkan kesimpulan yang konsisten dan dapat digeneralisasi karena banyaknya variasi dalam hal populasi, intervensi pembanding, dan desain metode studi. Tipe madu yang digunakan pun beragam antara madu segar tanpa pengolahan hingga madu taraf medis yang telah diiradiasi. Berbagai faktor menimbulkan perbedaan dalam hal potensi madu di antaranya geografi, musim, sumber, proses panen, pengolahan, dan penyimpanan.[1,3,6]

Kekurangan lain madu adalah kecenderungannya menjadi lebih cair pada suhu panas. Madu juga memiliki risiko mengalami likuefaksi sehingga menyulitkan penggunaannya pada area-area tubuh tertentu. Pada sebagian pasien, aplikasi madu dapat menyebabkan sensasi tersengat.[2]

Madu Lokal Indonesia

Jenis madu yang biasa digunakan sebagai madu medis ter standardisasi dalam studi-studi adalah madu Manuka dari Selandia Baru. Namun, varian madu tersebut mahal dan masih sulit ditemukan di Indonesia. Sebuah studi oleh Sundoro menelaah karakteristik madu lokal Indonesia yaitu Madu Murni Nusantara ® (PT Madu Murni Nusantara , Indonesia) dan membandingkannya dengan madu Manuka.

Pengukuran tingkat keasaman menggunakan pH meter menunjukkan pH rerata 4,115 untuk madu Manuka dan 4,225 untuk madu Nusantara ®. Angka ini berada dalam kisaran 3,5-4,5, yang tetap merupakan batas normal keasaman madu dengan efek antibakteri yang adekuat. Nilai rerata aktivitas pencairan madu Manuka adalah 0,62, sementara madu Nusantara ® 0,632.

Kedua nilai berada dalam kisaran normal madu yang memiliki efek antibakteri yaitu 0,5-0,65. Uji konsentrasi hidrogen peroksida menggunakan uji strip tidak menunjukkan produksi hidrogen peroksida pada kedua jenis madu. Kultur mikrobiologi menunjukkan bahwa semua sampel madu Manuka maupun madu Nusantara ® steril dari Clostridium. Kultur Bacillus positif pada 1 dari 3 sampel madu Manuka dan 3 dari 3 sampel madu Nusantara ®. Meskipun demikian, kuantitas bakteri tidak mencukupi angka minimal untuk menyebabkan proses infeksi yaitu 1x104 CFU.[2]

Semua karakteristik madu Nusantara ® menunjukkan hasil sebanding dengan madu Manuka. Dengan karakteristik sama dan harga yang lebih terjangkau, madu Nusantara ® dapat menjadi alternatif untuk aplikasi klinis di Indonesia.[2]

Sebuah studi oleh Ayu Diah, et al membandingkan aktivitas antibakteri madu Manuka MGO 400® dan madu Nusantara ®. MIC (minimum inhibitory concentration) adalah konsentrasi madu terendah yang dapat mencegah pertumbuhan bakteri di media. MIC madu Manuka dan madu Nusantara ® untuk P. aeruginosa adalah 12,5% dan 50%, untuk S. aureus 25% dan 100%, dan untuk MRSA 12,5% dan 100%. Hal ini menunjukkan bahwa madu Nusantara ® memiliki spektrum aktivitas antibakteri terhadap P. aeruginosa, S. aureus, dan MRSA walaupun MIC nya masih lebih rendah dibandingkan dengan madu Manuka.

Oleh karena itu, madu Nusantara ® perlu diberikan dalam konsentrasi lebih besar untuk mencapai efektivitas antibakteri yang sebanding dengan madu Manuka. Efek antibakteri tidak akan tercapai bila madu terdilusi hingga konsentrasi di bawah MIC. Hal ini dapat terjadi pada luka dengan tingkat eksudasi tinggi sehingga pada kasus-kasus tersebut dibutuhkan frekuensi penggantian balutan lebih sering.[8]

Kesimpulan

Madu adalah salah satu alternatif dressing dengan banyak keunggulan yang dapat digunakan untuk berbagai jenis luka. Meskipun demikian, untuk membangun sebuah pedoman berbasis bukti yang definitif mengenai penggunaan madu, masih dibutuhkan studi lebih lanjut yang seragam dan berkualitas. Hal ini terutama diperlukan terkait madu lokal Indonesia agar dapat menetapkan cara aplikasi yang seragam dengan konsentrasi terkontrol sehingga memberikan manfaat maksimal bagi penyembuhan luka.

Referensi