Rasionalisasi Pemberian Antibiotik Profilaksis pada Luka

Oleh :
dr. Khrisna Rangga Permana

Manajemen luka yang tepat meliputi beberapa intervensi, salah satunya adalah penggunaan antibiotik profilaksis untuk meminimalkan risiko morbiditas atau infeksi. Antibiotik profilaksis harus diberikan secara rasional tanpa meningkatkan toksisitas atau resistensi antibiotik.

Penggunaan antibiotik merupakan tonggak sejarah dalam upaya mencegah infeksi luka. Konsep antibiotik profilaksis didirikan pada tahun 1960-an ketika data eksperimen menetapkan bahwa antibiotik harus beredar dalam peredaran darah pada dosis yang cukup tinggi pada saat terdapat luka.

shutterstock_1563387940-min

Luka terbuka berpotensi  mengalami infeksi serius, termasuk gangrene gas dan tetanus, yang pada akhirnya dapat menyebabkan disabilitas, luka kronis atau osteomielitis, bahkan kematian. Infeksi luka dapat bertambah parah ketika pasien terlambat datang untuk perawatan definitif. Penanganan luka yang tepat pun penting untuk mengurangi kemungkinan infeksi.

Artikel ini akan membahas penggunaan antibiotik sebagai profilaksis infeksi untuk luka dan rasionalitas pemberiannya, terutama antibiotik untuk luka bersih yang saat ini masih menjadi perdebatan.[1]

Prinsip Utama Manajemen Luka

Manajemen luka yang tepat penting untuk mengurangi kemungkinan infeksi. Berikut ini prinsip manajemen dan pencegahan luka yang terinfeksi:

  • Jangan pernah menutup luka yang terinfeksi (luka dengan pus). Secara sistematis melakukan luka toilet dan debridemen. Lanjutkan siklus debridemen surgikal dan irigasi dengan cairan fisiologis sampai luka benar-benar bersih
  • Jangan menutup luka yang terkontaminasi (luka yang terdapat benda asing atau benda yang terinfeksi) dan luka bersih yang lebih dari 6 jam. Lakukan debridemen, biarkan terbuka lalu tutup 48 jam kemudian. Hal ini dikenal sebagai delayed primary closure

  • Antibiotik tidak mencapai sumber infeksi luka. Antibiotik hanya mencapai daerah sekitar luka. Antibiotik mungkin perlu tetapi perlu dikombinasikan dengan debridemen dan toilet luka yang tepat
  • Penggunaan antibiotik topikal dan pencucian luka dengan larutan antibiotik tidak dianjurkan
  • Untuk mencegah infeksi:

    • Pulihkan patensi jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi darah sesegera mungkin setelah cedera terjadi
    • Hangatkan pasien serta berikan nutrisi berenergi tinggi dan pereda nyeri
    • Jangan gunakan torniket
    • Lakukan toilet luka dan debridemen sesegera mungkin (dalam 8 jam jika memungkinkan)
    • Lakukan pencegahan universal untuk menghindari penularan infeksi
    • Berikan antibiotik profilaksis pada pasien dengan luka dalam dan luka lain yang sesuai dengan indikasi[2]

Toilet Luka dan Debridemen Luka

Berikut ini adalah protokol untuk toilet dan debridemen luka:

  1. Oleskan salah satu dari dua antiseptik ini ke luka:

  • Larutan polyvidone-iodine 10% murni dua kali sehari. Aplikasi pada luka terbuka yang luas dapat menyebabkan efek samping sistemik.
  • Cetrimide 15% + chlorhexidine gluconate 1,5%

  1. Cuci luka dengan sabun dan air matang yang telah direbus selama 10 menit, lalu irigasi dengan cairan salin normal.
  2. Debridemen: Hilangkan kotoran dan benda asing secara mekanis dari luka dan gunakan teknik bedah untuk memotong jaringan yang rusak dan mati. Jaringan mati tidak berdarah saat dipotong. Irigasi luka lagi. Jika anestesi lokal dibutuhkan, gunakan lidocaine 1% tanpa epinefrin
  3. Biarkan luka terbuka. Balut dengan cairan salin normal yang didesinfeksi atau kasa bersih, lalu tutupi luka dengan dressing kering. Ganti balutan dan dressing paling tidak setiap hari

Manajemen Luka dengan Risiko Infeksi Tetanus

Pada luka yang berisiko mengalami infeksi tetanus, diperlukan manajemen sebagai berikut:

  1. Luka dianggap rawan tetanus jika terjadi lebih dari 6 jam sebelum perawatan luka atau pada interval waktu berapapun dan menunjukkan satu atau lebih dari kriteria berikut ini: luka tipe tusukan, tingkat kerusakan jaringan signifikan, ada bukti klinis sepsis, luka terkontaminasi dengan tanah/pupuk kandang, luka bakar, atau frostbite

  2. Bagi pasien dengan luka rawan tetanus, WHO merekomendasikan pemberian vaksin tetanus toksoid (TT) atau vaksin toksoid difteri (Td) dan tetanus imunoglobulin (TIG)

  3. Bila vaksin tetanus dan imunoglobulin diberikan bersamaan, penyuntikan harus menggunakan jarum suntik terpisah dan lokasi penyuntikan yang berbeda[2]

Pemberian vaksin tetanus berdasarkan usia adalah sebagai berikut:

  • Dewasa dan anak berusia di atas 10 tahun

    Imunisasi aktif menggunakan TT atau Td menggunakan 1 dosis (0,5 ml) disuntikkan secara intramuskular atau subkutan dalam. Follow up: 6 minggu, 6 bulan

  • Anak berusia di bawah 10 tahun

    Difteri dan vaksin tetanus (DT) 0,5 ml dengan suntikan intramuskular atau subkutan dalam. Follow up minimal 4 minggu dan 8 minggu[2]

Pemberian tetanus imunoglobulin (TIG) adalah sebagai berikut:

  • Tetanus imunoglobulin (manusia) 500 unit/vial: 250 unit dengan injeksi intramuskular, tingkatkan menjadi 500 unit jika terjadi salah satu dari kondisi berikut: luka yang terjadi lebih dari 12 jam, luka terkontaminasi berat atau memiliki risiko untuk terkontaminasi berat, atau berat pasien >90 kg[2]

Indikasi Pemberian Antibiotik Profilaksis

World Health Organization (WHO) merekomendasikan pemberian antibiotik profilaksis pada luka yang berisiko tinggi terinfeksi, seperti luka yang terkontaminasi, luka tembus, trauma abdomen, fraktur multipel, laserasi yang lebih besar dari 5 cm, luka dengan kerusakan jaringan yang signifikan, serta luka pada lokasi anatomi berisiko tinggi seperti tangan atau kaki.

Indikasi ini berlaku untuk luka-luka yang mungkin memerlukan atau tidak memerlukan intervensi bedah. Untuk luka yang memerlukan intervensi bedah, antibiotik profilaksis juga harus diberikan sebelum operasi dalam 2 jam sebelum sayatan.

Antibiotik yang dianjurkan adalah penicillin G dan metronidazole yang diberikan 1 kali (lebih dari sekali jika lama pembedahan >6 jam). Dosis antibiotik yang digunakan sebagai profilaksis adalah sebagai berikut:

  • Penicillin:

    Dewasa: 8–12 juta IU sekali secara IV

    Anak: 200.000 IU/kg sekali secara IV

  • Metronidazole:

    Dewasa: 1.500 mg sekali (diinfuskan dalam 30 menit).

    Anak: 20 mg/kg sekali secara IV[2]

Infeksi superfisial yang ringan, seperti impetigo, selulitis ringan akibat abrasi dan laserasi biasanya dapat diterapi dengan antibiotik topikal, seperti bacitracin, polymyxin B/bacitracin/neomycin, dan mupirocin. Jika bakteri anaerob dicurigai, metronidazole gel 0,75% dapat digunakan secara tunggal atau kombinasi dengan antibiotik lain, kecuali pada infeksi Staphylococcus aureus yang dicurigai resisten terhadap methicillin (MRSA).

Pada infeksi yang disebabkan oleh bakteri MRSA, krim mupirocin 2% ditemukan lebih superior daripada antibiotik topikal lainnya dan beberapa antibiotik oral. Antibiotik oral empirik harus dipertimbangkan pada infeksi nonsuperfisial yang sedang hingga berat. Infeksi luka sedang hingga berat pada pasien yang imunokompromais biasanya memerlukan antibiotik parenteral.

Pemilihan agen antibiotik harus disesuaikan dengan kemungkinan patogen penyebab infeksi serta sejarah dan pola resistensi antibiotik pada tempat praktik.[1,3-5]

Bukti Ilmiah Studi Terdahulu tentang Antibiotik Profilaksis pada Luka

Sebuah meta analisis yang meliputi 7 uji acak terkontrol meneliti 1.734 pasien dengan luka non-bite menemukan bahwa kelompok pasien yang menerima antibiotik sistemik tidak memiliki insidensi yang lebih rendah secara signifikan daripada kelompok pasien yang tidak diterapi.

Sebuah uji acak terkontrol pada 922 pasien yang menjalani pembedahan steril menemukan bahwa tidak ada peningkatan insidensi infeksi luka operasi pada kelompok yang menerima intervensi petrolatum dibandingkan dengan kelompok yang menerima salep antibiotik.

Namun, beberapa studi lain mendukung penggunaan antibiotik profilaksis untuk luka ringan. Sebuah uji acak terkontrol pada 426 pasien dengan luka tanpa komplikasi, insidensi infeksi ditemukan lebih rendah secara signifikan pada kelompok yang menerima antibiotik topikal.[1]

Kesimpulan

Antibiotik profilaksis merupakan salah satu intervensi dalam manajemen luka untuk mencegah terjadinya infeksi. Penggunaan antibiotik profilaksis masih menjadi perdebatan karena dapat menyumbang pada tingginya resistensi antibiotik.

WHO merekomendasikan pemberian antibiotik profilaksis pada luka yang memiliki risiko tinggi mengalami infeksi, yaitu luka yang terkontaminasi, luka tembus, trauma abdomen, fraktur multipel, laserasi yang lebih besar dari 5 cm, luka dengan kerusakan jaringan yang signifikan, serta luka pada lokasi anatomi berisiko tinggi seperti tangan atau kaki.[2]

Implementasi antibiotik profilaksis pada praktik sehari-hari harus berdasarkan pertimbangan yang baik untuk menentukan perlu tidaknya antibiotik profilaksis, agen antibiotik yang diperlukan, serta dosis dan rute pemberian. Pemilihan agen antibiotik harus disesuaikan dengan kemungkinan patogen penyebab infeksi serta sejarah dan pola resistensi antibiotik setempat.

 

Direvisi oleh: dr. Ciho Olfriani

Referensi