Penatalaksanaan Tuberkulosis Paru
Penatalaksanaan tuberkulosis paru atau TB paru dilakukan dengan pemberian obat antituberkulosis (OAT), seperti rifampicin, isoniazid, pirazinamid, dan etambutol. Regimen terapi OAT akan disesuaikan dengan sensitivitas patogen Mycobacterium tuberculosis terhadap OAT.[1,2,4]
Pengobatan TB Sensitif Obat (TB SO)
Pada kasus tuberkulosis paru sensitif obat (SO), OAT diberikan selama 6 bulan dan diminum setiap hari. Terapi terdiri dari fase intensif selama 2 bulan dengan kombinasi isoniazid (H), rifampicin (R), pirazinamid (Z), dan etambutol (E). Terapi lalu dilanjutkan dengan fase lanjutan selama 4 bulan dengan isoniazid (H) dan rifampicin (R). Regimen ini dapat diberikan pada TB paru, ekstraparu, serta pasien dengan komorbiditas HIV atau diabetes.[2,4]
Tabel 1. Pengobatan TB Sensitif Obat (TB SO)
| Berat Badan | Tahap Intensif selama 56 hari RHZE (150/75/400/275) | Jumlah RHZE yang digunakan (Tablet) | Tahap Lanjutan selama 16 minggu RH (150/75) | Jumlah RH yang digunakan (Tablet) |
| 30-37 kg | 2 tablet 4KDT | 112 | 2 tablet 2KDT | 192 |
| 38-45 kg | 3 tablet 4KDT | 168 | 3 tablet 2KDT | 288 |
| 55-70 kg | 4 tablet 4KDT | 224 | 4 tablet 2KDT | 384 |
| ≥71 kg | 5 tablet 4KDT | 280 | 5 tablet 2KDT | 480 |
| Keterangan: ● KDT: kombinasi dosis tetap ● Dosis obat dalam satuan mg | ||||
Sumber: dr. Siti Solichatul Makkiyyah, Alomedika, 2026.[2]
Jumlah tablet disesuaikan dengan berat badan pasien seperti tabel di atas. Selama pengobatan, pemantauan terapi wajib dilakukan melalui pemeriksaan laboratorium, terutama pemeriksaan mikroskopis atau pewarnaan BTA (basil tahan asam) sputum pada akhir bulan ke-2, bulan ke-5, dan akhir pengobatan. Apabila pemantauan tersebut tidak dilakukan, maka hasil akhir pengobatan dikategorikan sebagai Tidak Dievaluasi.[2]
Pengobatan TB Resisten Obat (TB RO)
Pengobatan tuberkulosis resisten obat (TB RO) di Indonesia disesuaikan dengan pola resistensi dan kondisi klinis pasien, mengacu pada pedoman nasional. Secara umum, tersedia pengobatan jangka pendek selama 6 bulan dan 9 bulan.[2]
Regimen 6 bulan menjadi pilihan utama pada pasien yang memenuhi kriteria, terutama menggunakan kombinasi BpaLM (bedaquiline, pretomanid, linezolid, dan moxifloxacin) atau BpaL (bedaquiline, pretomanid, dan linezolid). Selain itu, tersedia pula kombinasi khusus untuk TB monoresisten isoniazid (INH) yang disesuaikan dengan hasil uji kepekaan obat.[1,2,4]
Pada pasien yang tidak memenuhi kriteria terapi 6 bulan, dapat diberikan pengobatan 9 bulan dengan variasi obat seperti regimen berbasis etionamid atau berbasis linezolid. Pemilihan regimen dilakukan secara individual berdasarkan hasil uji resistensi, riwayat pengobatan sebelumnya, serta pertimbangan kondisi klinis dan toleransi pasien terhadap obat.
Pengobatan jangka panjang untuk tuberkulosis resisten obat (TB RO) diberikan selama 18-20 bulan dan ditujukan bagi pasien yang tidak memenuhi kriteria regimen jangka pendek (6 atau 9 bulan), seperti pada kasus TB resistensi luas (XDR-TB), pola resistensi kompleks, atau kegagalan terapi sebelumnya. Regimen ini disusun secara individual berdasarkan hasil uji kepekaan obat dan riwayat penggunaan OAT sebelumnya.
Pengobatan jangka panjang umumnya terdiri dari kombinasi beberapa obat lini kedua atau lini ketiga yang dipilih dari kelompok obat prioritas, termasuk golongan fluoroquinolon, bedaquiline, linezoid serta obat tambahan lain sesuai indikasi klinis. Pasien memerlukan pemantauan ketat terhadap respon pengobatan dan efek samping karena durasi terapi yang panjang dan potensi toksisitas yang tinggi.[2,4]
Tabel 2. Pengobatan TB Resisten Obat (TB RO)
| Kombinasi Pengobatan | TB RR/MDR (FQ sensitif) | TB Pre-XDR | TB XDR | TB Paru Lesi Luas | TB ekstraparu | Usia <14 tahun |
| BpaL/M | Bisa (BpaLM) | Bisa (BpaL) | Tidak | Bisa | Bisa, kecuali TB ekstraparu berat | Tidak |
| 9 bulan | Bisa | Tidak | Tidak | Tidak | Bisa, kecuali TB ekstraparu berat | Bisa |
| Jangka panjang | Tergantung | Tergantung | Bisa | Bisa | Bisa | Bisa |
| Faktor lain yang diperhatikan | ● Intoleransi obat atau efek samping ● Riwayat pengobatan sebelumnya, paparan OAT, pertimbangan efektivitas obat kontak erat dengan pasien TB RO ● Pilihan pasien | |||||
Sumber: dr. Siti Solichatul Makkiyyah, Alomedika, 2026.[2]
Terapi Pencegahan TB (TPT)
Terapi pencegahan TB (TPT) bertujuan mencegah orang yang telah terinfeksi bakteri TB tetapi belum bergejala agar tidak berkembang menjadi TB aktif. Pemberian TPT penting untuk menekan aktivasi organisme patogen laten, terutama pada orang dengan HIV, sekaligus mengurangi risiko penularan di masyarakat. TPT juga membantu mencegah komplikasi serta kebutuhan pengobatan jangka panjang.
Sasaran utama TPT meliputi orang dengan HIV (ODHIV), kontak serumah pasien TB paru terkonfirmasi bakteriologis, serta kelompok berisiko tinggi lainnya. Kelompok risiko tersebut mencakup individu imunokompromais selain HIV, seperti pasien kanker, pasien dialisis, penerima kortikosteroid jangka panjang, dan calon transplantasi organ.
Selain itu, individu yang tinggal atau beraktivitas di lingkungan dengan risiko penularan tinggi, seperti asrama, lembaga pemasyarakatan, rumah singgah, tempat penitipan anak, maupun pengguna narkoba, juga termasuk sasaran TPT.
Pada kontak serumah berusia ≥ 5 tahun yang memenuhi syarat, pemeriksaan TST atau IGRA tidak lagi diwajibkan sebelum memulai TPT. Pemilihan obat disesuaikan dengan usia, riwayat pajanan, serta ketersediaan obat di fasilitas pelayanan kesehatan.[2,13]
Secara umum, regimen TPT dapat diberikan dalam durasi 3 bulan atau 6 bulan sesuai pedoman yang berlaku.[2]
Tabel 3. Terapi Pencegahan TB (TPT)
| Indeks kasus | Kombinasi TPT | Durasi | Interval minum | Sasaran |
| TB SO | 6H | 6 bulan | Setiap hari | Semua umur |
| TB SO | 3HR FDC | 3 bulan | Setiap hari | Semua umur |
| TB SO | 3HP Lepasan | 3 bulan | Seminggu 1x | ≥2 tahun |
| TB SO | 3HP FDC | 3 bulan | Seminggu 1x | ≥2 tahun |
| TB RO | 6 Lfx | 6 bulan | Setiap hari | Semua umur |
Sumber: dr. Siti Solichatul Makkiyyah, Alomedika, 2026.[2]
Untuk kontak dengan pasien TB sensitif obat (TB SO), pilihan regimen yang tersedia adalah sebagai berikut:
- 6H yaitu isoniazid setiap hari selama 6 bulan yang dapat diberikan pada semua umur;
- 3HR FDC yaitu kombinasi isoniazid dan rifampicin dalam bentuk fixed-dose combination (FDC), diminum setiap hari selama 3 bulan dan dapat diberikan pada semua umur;
- 3HP lepasan yaitu kombinasi isoniazid dan rifapentin dalam sediaan terpisah, diminum seminggu sekali selama 3 bulan, diberikan pada usia ≥2 tahun;
- 3HP FDC yaitu kombinasi isoniazid dan rifapentin dalam bentuk FDC, diminum seminggu sekali selama 3 bulan, diberikan pada usia ≥2 tahun;
Sementara untuk kontak dengan pasien TB resisten obat (TB RO), regimen yang tersedia adalah:
- 6 Lfx yaitu levofloxacin setiap hari selama 6 bulan, dapat diberikan pada semua umur sesuai pertimbangan klinis.
Secara umum, regimen 3 bulan (3HR atau 3HP) memiliki durasi terapi yang lebih singkat dibandingkan 6H, sehingga berpotensi meningkatkan kepatuhan minum obat. Pemilihan regimen dapat disesuaikan dengan usia, jenis paparan (TB SO atau TB RO), serta ketersediaan obat di fasilitas layanan kesehatan.[2]
Penulisan pertama oleh: dr. DrRiawati MMedPH