Masuk atau Daftar

Alo! Masuk dan jelajahi informasi kesehatan terkini dan terlengkap sesuai kebutuhanmu di sini!
atau dengan
Facebook
Masuk dengan Email
Masukkan Kode Verifikasi
Masukkan kode verifikasi yang telah dikirimkan melalui SMS ke nomor
Kami telah mengirim kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Kami telah mengirim ulang kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Terjadi kendala saat memproses permintaan Anda. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Selanjutnya

Tidak mendapatkan kode? Kirim ulang atau Ubah Nomor Ponsel

Mohon Tunggu dalam Detik untuk kirim ulang

Apakah Anda memiliki STR?
Alo, sebelum melanjutkan proses registrasi, silakan identifikasi akun Anda.
Ya, Daftar Sebagai Dokter
Belum punya STR? Daftar Sebagai Mahasiswa

Nomor Ponsel Sudah Terdaftar

Nomor yang Anda masukkan sudah terdaftar. Silakan masuk menggunakan nomor [[phoneNumber]]

Masuk dengan Email

Silakan masukkan email Anda untuk akses Alomedika.
Lupa kata sandi ?

Masuk dengan Email

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk akses Alomedika.

Masuk dengan Facebook

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk verifikasi akun Alomedika.

KHUSUS UNTUK DOKTER

Logout
Masuk
Download Aplikasi
  • CME
  • Webinar
  • E-Course
  • Diskusi Dokter
  • Penyakit & Obat
    Penyakit A-Z Obat A-Z Tindakan Medis A-Z
Penatalaksanaan Tuberkulosis Paru karyanti 2026-04-29T16:09:40+07:00 2026-04-29T16:09:40+07:00
Tuberkulosis Paru
  • Pendahuluan
  • Patofisiologi
  • Etiologi
  • Epidemiologi
  • Diagnosis
  • Penatalaksanaan
  • Prognosis
  • Edukasi dan Promosi Kesehatan

Penatalaksanaan Tuberkulosis Paru

Oleh :
dr. Siti Solichatul Makkiyyah
Share To Social Media:

Penatalaksanaan tuberkulosis paru atau TB paru dilakukan dengan pemberian obat antituberkulosis (OAT), seperti rifampicin, isoniazid, pirazinamid, dan etambutol. Regimen terapi OAT akan disesuaikan dengan sensitivitas patogen Mycobacterium tuberculosis terhadap OAT.[1,2,4]

Pengobatan TB Sensitif Obat (TB SO)

Pada kasus tuberkulosis paru sensitif obat (SO), OAT diberikan selama 6 bulan dan diminum setiap hari. Terapi terdiri dari fase intensif selama 2 bulan dengan kombinasi isoniazid (H), rifampicin (R), pirazinamid (Z), dan etambutol (E). Terapi lalu dilanjutkan dengan fase lanjutan selama 4 bulan dengan isoniazid (H) dan rifampicin (R). Regimen ini dapat diberikan pada TB paru, ekstraparu, serta pasien dengan komorbiditas HIV atau diabetes.[2,4]

Tabel 1. Pengobatan TB Sensitif Obat (TB SO)

Berat Badan Tahap Intensif selama 56 hari RHZE (150/75/400/275) Jumlah RHZE yang digunakan (Tablet) Tahap Lanjutan selama 16 minggu RH (150/75) Jumlah RH yang digunakan (Tablet)
30-37 kg 2 tablet 4KDT 112 2 tablet 2KDT 192
38-45 kg 3 tablet 4KDT 168 3 tablet 2KDT 288
55-70 kg 4 tablet 4KDT 224 4 tablet 2KDT 384
≥71 kg 5 tablet 4KDT 280 5 tablet 2KDT 480

Keterangan:

●      KDT: kombinasi dosis tetap

●      Dosis obat dalam satuan mg

Sumber: dr. Siti Solichatul Makkiyyah, Alomedika, 2026.[2]

Jumlah tablet disesuaikan dengan berat badan pasien seperti tabel di atas. Selama pengobatan, pemantauan terapi wajib dilakukan melalui pemeriksaan laboratorium, terutama pemeriksaan mikroskopis atau pewarnaan BTA (basil tahan asam) sputum pada akhir bulan ke-2, bulan ke-5, dan akhir pengobatan. Apabila pemantauan tersebut tidak dilakukan, maka hasil akhir pengobatan dikategorikan sebagai Tidak Dievaluasi.[2]

Pengobatan TB Resisten Obat (TB RO)

Pengobatan tuberkulosis resisten obat (TB RO) di Indonesia disesuaikan dengan pola resistensi dan kondisi klinis pasien, mengacu pada pedoman nasional. Secara umum, tersedia pengobatan jangka pendek selama 6 bulan dan 9 bulan.[2]

Regimen 6 bulan menjadi pilihan utama pada pasien yang memenuhi kriteria, terutama menggunakan kombinasi BpaLM (bedaquiline, pretomanid, linezolid, dan moxifloxacin) atau BpaL (bedaquiline, pretomanid, dan linezolid). Selain itu, tersedia pula kombinasi khusus untuk TB monoresisten isoniazid (INH) yang disesuaikan dengan hasil uji kepekaan obat.[1,2,4]

Pada pasien yang tidak memenuhi kriteria terapi 6 bulan, dapat diberikan pengobatan 9 bulan dengan variasi obat seperti regimen berbasis etionamid atau berbasis linezolid. Pemilihan regimen dilakukan secara individual berdasarkan hasil uji resistensi, riwayat pengobatan sebelumnya, serta pertimbangan kondisi klinis dan toleransi pasien terhadap obat.

Pengobatan jangka panjang untuk tuberkulosis resisten obat (TB RO) diberikan selama 18-20 bulan dan ditujukan bagi pasien yang tidak memenuhi kriteria regimen jangka pendek (6 atau 9 bulan), seperti pada kasus TB resistensi luas (XDR-TB), pola resistensi kompleks, atau kegagalan terapi sebelumnya. Regimen ini disusun secara individual berdasarkan hasil uji kepekaan obat dan riwayat penggunaan OAT sebelumnya.

Pengobatan jangka panjang umumnya terdiri dari kombinasi beberapa obat lini kedua atau lini ketiga yang dipilih dari kelompok obat prioritas, termasuk golongan fluoroquinolon, bedaquiline, linezoid serta obat tambahan lain sesuai indikasi klinis. Pasien memerlukan pemantauan ketat terhadap respon pengobatan dan efek samping karena durasi terapi yang panjang dan potensi toksisitas yang tinggi.[2,4]

Tabel 2. Pengobatan TB Resisten Obat (TB RO)

Kombinasi Pengobatan TB RR/MDR (FQ sensitif) TB Pre-XDR TB XDR TB Paru Lesi Luas TB ekstraparu Usia <14 tahun
BpaL/M Bisa (BpaLM) Bisa (BpaL) Tidak Bisa Bisa, kecuali TB ekstraparu berat Tidak
9 bulan Bisa Tidak Tidak Tidak Bisa, kecuali TB ekstraparu berat Bisa
Jangka panjang Tergantung Tergantung Bisa Bisa Bisa Bisa
Faktor lain yang diperhatikan

●      Intoleransi obat atau efek samping

●      Riwayat pengobatan sebelumnya, paparan OAT, pertimbangan efektivitas obat kontak erat dengan pasien TB RO

●      Pilihan pasien

Sumber: dr. Siti Solichatul Makkiyyah, Alomedika, 2026.[2]

Terapi Pencegahan TB (TPT)

Terapi pencegahan TB (TPT) bertujuan mencegah orang yang telah terinfeksi bakteri TB tetapi belum bergejala agar tidak berkembang menjadi TB aktif. Pemberian TPT penting untuk menekan aktivasi organisme patogen laten, terutama pada orang dengan HIV, sekaligus mengurangi risiko penularan di masyarakat. TPT juga membantu mencegah komplikasi serta kebutuhan pengobatan jangka panjang.

Sasaran utama TPT meliputi orang dengan HIV (ODHIV), kontak serumah pasien TB paru terkonfirmasi bakteriologis, serta kelompok berisiko tinggi lainnya. Kelompok risiko tersebut mencakup individu imunokompromais selain HIV, seperti pasien kanker, pasien dialisis, penerima kortikosteroid jangka panjang, dan calon transplantasi organ.

Selain itu, individu yang tinggal atau beraktivitas di lingkungan dengan risiko penularan tinggi, seperti asrama, lembaga pemasyarakatan, rumah singgah, tempat penitipan anak, maupun pengguna narkoba, juga termasuk sasaran TPT.

Pada kontak serumah berusia ≥ 5 tahun yang memenuhi syarat, pemeriksaan TST atau IGRA tidak lagi diwajibkan sebelum memulai TPT. Pemilihan obat disesuaikan dengan usia, riwayat pajanan, serta ketersediaan obat di fasilitas pelayanan kesehatan.[2,13]

Secara umum, regimen TPT dapat diberikan dalam durasi 3 bulan atau 6 bulan sesuai pedoman yang berlaku.[2]

Tabel 3. Terapi Pencegahan TB (TPT)

Indeks kasus Kombinasi TPT Durasi Interval minum Sasaran
TB SO 6H 6 bulan Setiap hari Semua umur
TB SO 3HR FDC 3 bulan Setiap hari Semua umur
TB SO 3HP Lepasan 3 bulan Seminggu 1x ≥2 tahun
TB SO 3HP FDC 3 bulan Seminggu 1x ≥2 tahun
TB RO 6 Lfx 6 bulan Setiap hari Semua umur

Sumber: dr. Siti Solichatul Makkiyyah, Alomedika, 2026.[2]

Untuk kontak dengan pasien TB sensitif obat (TB SO), pilihan regimen yang tersedia adalah sebagai berikut:

  • 6H yaitu isoniazid setiap hari selama 6 bulan yang dapat diberikan pada semua umur;
  • 3HR FDC yaitu kombinasi isoniazid dan rifampicin dalam bentuk fixed-dose combination (FDC), diminum setiap hari selama 3 bulan dan dapat diberikan pada semua umur;
  • 3HP lepasan yaitu kombinasi isoniazid dan rifapentin dalam sediaan terpisah, diminum seminggu sekali selama 3 bulan, diberikan pada usia ≥2 tahun;
  • 3HP FDC yaitu kombinasi isoniazid dan rifapentin dalam bentuk FDC, diminum seminggu sekali selama 3 bulan, diberikan pada usia ≥2 tahun;

Sementara untuk kontak dengan pasien TB resisten obat (TB RO), regimen yang tersedia adalah:

  • 6 Lfx yaitu levofloxacin setiap hari selama 6 bulan, dapat diberikan pada semua umur sesuai pertimbangan klinis.

Secara umum, regimen 3 bulan (3HR atau 3HP) memiliki durasi terapi yang lebih singkat dibandingkan 6H, sehingga berpotensi meningkatkan kepatuhan minum obat. Pemilihan regimen dapat disesuaikan dengan usia, jenis paparan (TB SO atau TB RO), serta ketersediaan obat di fasilitas layanan kesehatan.[2]

 

 

Penulisan pertama oleh: dr. DrRiawati MMedPH

Referensi

1. Ahmed F., Andrews K., Arshad D., Nekuri P. A New FDA-approved Antibiotic for Drug-resistant Tuberculosis Treatment. Journal of the College of Physicians and Surgeons Pakistan. College of Physicians and Surgeons Pakistan; 1 June 2020; 30(06): 559–560. DOI:10.29271/jcpsp.2020.06.559
2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Buku Panduan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Tuberkulosis Langkah dalam Pencegahan, Deteksi Dini, dan Pendampingan Pasien TBC di Masyarakat. 2025.
4. World Health Organization (WHO). WHO consolidated guidelines on tuberculosis. Module 4: Treatment and care. 2025.
13. World Health Organization (WHO). WHO consolidated guidelines on tuberculosis. Module 1 Tuberculosis preventive treatment. Second edition. 2024.

Diagnosis Tuberkulosis Paru
Prognosis Tuberkulosis Paru

Artikel Terkait

  • Red Flag Keringat Malam
    Red Flag Keringat Malam
  • Pemeriksaan untuk Pasien Hemoptisis
    Pemeriksaan untuk Pasien Hemoptisis
  • Diagnosis Lesi Kavitas pada Rontgen Toraks
    Diagnosis Lesi Kavitas pada Rontgen Toraks
  • Perbedaan PCR GeneXpert MTB/RIF Konvensional dan Ultra untuk Diagnosis Tuberkulosis – Artikel Terkini!
    Perbedaan PCR GeneXpert MTB/RIF Konvensional dan Ultra untuk Diagnosis Tuberkulosis – Artikel Terkini!
  • TCM atau Tes Cepat Molekuler untuk Diagnosis Tuberkulosis
    TCM atau Tes Cepat Molekuler untuk Diagnosis Tuberkulosis

Lebih Lanjut

Diskusi Terkait
Anonymous
Dibalas 10 Maret 2026, 17:27
Pasien TB dengan riwayat ckd saat minum MDT mengalami nausea hebat dan mengalami nefrotoksisitas.
Oleh: Anonymous
1 Balasan
Alo dokter.Ijin bertanya ada pasien dengan CKD stage 3 ec autoimun yang sudah konsumsi imunosupresan >1 tahun positif TB paru.Saat minum MDT mengalami nausea...
Anonymous
Dibalas 02 Maret 2026, 14:50
TBC paru dengan TCM hasilnya tbc indeterminate
Oleh: Anonymous
2 Balasan
Alo dokter. Saya memiliki pasien dengan riwayat batuk berdahak hampir 1 bulan, berat badan banyak turun. Saya cek dahak TCM hasilnya tbc indeterminate...
Anonymous
Dibalas 13 Januari 2026, 16:02
Batuk darah pada pasien lansia dengan riwayat DM
Oleh: Anonymous
1 Balasan
ALO Dokter, Ijin diskusi dok, saya pernah menangani pasien laki laki usia 79 tahun dengan keluhan batuk bercak darah. Keluhan dialami sejak 1 hari sebelum ke...

Lebih Lanjut

Download Aplikasi Alomedika & Ikuti CME Online-nya!
Kumpulkan poin SKP sebanyak-banyaknya!

  • Tentang Kami
  • Advertise with us
  • Syarat dan Ketentuan
  • Privasi
  • Kontak Kami

© 2024 Alomedika.com All Rights Reserved.