Etiologi Tuberkulosis Paru
Etiologi tuberkulosis paru atau TB paru adalah bakteri Mycobacterium tuberculosis (Mtb), yang merupakan basil tahan asam dan alkohol. Bakteri Mtb bersifat aerob, tidak membentuk spora, dan tidak bergerak (nonmotil).[3,5]
Mycobacterium tuberculosis
Dinding sel bakteri Mtb mengandung konsentrasi lipid yang sangat tinggi, yang menyebabkan sifat tahan asam (acid-fast) pada pewarnaan serta berperan dalam kemampuan modulasi imun dan virulensi.
Mtb termasuk bakteri yang tumbuh lambat dengan waktu generasi sekitar 20 jam. Pertumbuhan yang tampak pada media padat biasanya memerlukan waktu 3-8 minggu, sehingga menjadi tantangan dalam menegakkan diagnosis secara cepat melalui kultur bakteri.
Manusia merupakan satu-satunya reservoir utama Mtb, meskipun hewan juga dapat terinfeksi. Terdapat variasi genetik antarisolat di berbagai wilayah dunia yang dapat memengaruhi tingkat virulensinya. Sebagai patogen intraseluler, bakteri ini mampu menyebabkan penyakit yang bersifat subakut dan progresif.
Selain itu, bakteri Mtb dapat bertahan dalam keadaan dorman di dalam sel yang terinfeksi, dengan kemungkinan berkembang menjadi penyakit aktif atau tidak sama sekali. Mekanisme molekuler dan imunologis yang mendasari fase dormansi dan reaktivasi masih belum sepenuhnya dipahami dan menjadi fokus penelitian.[3,5]
Faktor Risiko
Faktor risiko berkembangnya TB aktif setelah infeksi dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain infeksi primer dalam 18 bulan terakhir, paparan inokulum tinggi, malnutrisi, merokok, lesi fibrotik paru, alkoholisme, penggunaan obat intravena, serta komorbid seperti HIV, diabetes, silikosis, keganasan, penyakit ginjal stadium akhir, penggunaan imunosupresan, dan terapi steroid jangka panjang.
Lingkungan tertutup seperti kapal selam atau penerbangan jarak jauh juga pernah menjadi lokasi mikroepidemi. Lebih lanjut, kelompok berisiko tinggi meliputi tenaga kesehatan, penghuni fasilitas pemasyarakatan, panti jompo, dan masyarakat perkotaan padat.
Penyakit ekstraparu lebih sering terjadi pada individu dengan gangguan imunitas, termasuk pasien HIV. Sementara penggunaan antagonis TNF-α dapat menyebabkan disintegrasi granuloma dan reaktivasi TB, sehingga pasien dengan terapi ini harus menjalani skrining untuk TB laten.[5]
Usia
Bayi, lansia, dan individu imunokompromais berisiko mengalami TB milier atau diseminata. Pada anak, terutama usia di bawah lima tahun, terdapat risiko tinggi berkembangnya TB milier atau meningitis TB yang fatal. Keterlibatan tulang lebih sering ditemukan pada anak dibandingkan dewasa karena vaskularisasi epifisis yang tinggi.[5]
Genetik
Secara genetik, kerentanan terhadap tuberkulosis bersifat kompleks dan melibatkan banyak gen yang memengaruhi respon imun. Polimorfisme pada gen seperti NRAMP1 (SLC11A1), MBL2, CD14, SP110, CISH, IRGM, IFNS, IFNGR1, TIRAP, dan CD209 dilaporkan berkaitan dengan peningkatan atau penurunan risiko tuberkulosis.
Selain itu, gen HLA seperti HLA-DR2 dan HLA-DQ1 juga dikaitkan dengan peningkatan risiko TB paru pada populasi tertentu. Faktor genetik ini membantu menjelaskan mengapa hanya sebagian individu yang terpapar Mtb berkembang menjadi penyakit aktif.[5]
Koinfeksi TB dan HIV
Data WHO menunjukkan bahwa orang dengan HIV (ODHIV) memiliki risiko sekitar 19 kali lebih tinggi untuk mengalami TB aktif dibanding individu tanpa HIV. Meskipun terapi antiretroviral (ART) dapat memperbaiki fungsi imun, pemulihan tersebut tidak sepenuhnya mengembalikan imunitas seperti sebelum terinfeksi HIV. Bahkan, pemulihan sel T CD4+ spesifik terhadap TB setelah inisiasi ART dapat memicu sindrom rekonstitusi imun terkait TB (TB-IRIS).
Secara global, tuberkulosis merupakan penyebab kematian utama pada ODHIV, terutama di negara berkembang. Dalam tahun pertama setelah infeksi primer Mtb, ODHIV lebih sering mengalami TB primer progresif, serta memiliki risiko reaktivasi dan kerentanan infeksi yang lebih tinggi, terutama ketika jumlah sel T CD4+ semakin menurun.
Gangguan sistem imun pada koinfeksi HIV-TB belum sepenuhnya dipahami, namun beberapa mekanisme yang diusulkan meliputi berkurangnya sel T CD4+ spesifik antigen TB, disfungsi sel T CD8+, peningkatan produksi tumor necrosis factor (TNF), serta gangguan fungsi makrofag akibat infeksi HIV.
Selain itu, infeksi TB diduga mempercepat progresi HIV menjadi AIDS melalui percepatan penurunan sel CD4+, peningkatan replikasi HIV akibat respons imun terhadap TB, serta peningkatan produksi sitokin proinflamasi yang merangsang replikasi virus.[3]
Penulisan pertama oleh: dr. DrRiawati MMedPH