Dosis Terapi Harian atau Intermiten untuk Terapi Antituberkulosis pada Pasien HIV

Oleh :
dr. Hunied Kautsar

Dosis terapi intermiten untuk terapi antituberkulosis telah divalidasi sebagai alternatif dosis harian untuk penggunaan pada populasi umum namun penggunaan dosis intermiten pada pasien HIV masih dipertanyakan.

Kepatuhan pengobatan merupakan masalah tersendiri bagi pasien yang mendapat terapi antituberkulosis yang dapat diatasi dengan menggunakan dosis terapi intermiten (3 kali seminggu). Walau demikian, bukti terbaru menunjukkan dosis terapi intermiten ini tidak efektif dan meningkatkan resistensi rifampisin pada pasien HIV.

Pulmonary Tuberculosis ( TB ) : Chest x-ray show alveolar infiltration at both lung due to mycobacterium tuberculosis infection

Tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Keadaan ini diperparah dengan pandemik HIV yang meningkatkan angka insidensi tuberkulosis dan angka mortalitas. Program pengobatan tuberkulosis yang berjangka waktu panjang menghadapi beragam tantangan, di antaranya adalah kepatuhan pasien dalam mengkonsumsi obat, toksisitas obat, efek samping obat, dan teknis program pengobatan yang rumit.[1] Untuk mengatasi tantangan ini, diajukan pengobatan tuberkulosis dengan metode intermiten sebagai alternatif metode pengobatan dengan dosis harian (daily). Hasil penelitian di India pada tahun 2012 menunjukkan bahwa pengobatan tuberkulosis dengan metode intermiten memiliki hasil yang sama dengan metode harian.[2] Apakah hal ini juga berlaku untuk pasien tuberkulosis yang juga menderita HIV?

Dosis Terapi Harian vs. Dosis Terapi Intermiten pada Pasien NonHIV

Pengobatan tuberkulosis memakan waktu yang lama yakni 2 bulan fase intensif kemudian dilanjutkan dengan 4 bulan fase lanjutan, sesuai dengan rekomendasi WHO tahun 2009. Bagi pasien tuberkulosis kasus baru yang tidak menderita HIV atau tidak tinggal di daerah dengan prevalensi HIV yang tinggi, WHO merekomendasikan bahwa frekuensi dosis optimal adalah dosis harian (setiap hari) selama jangka waktu pengobatan tuberkulosis (selama 6 bulan).[3]

Jangka waktu yang lama serta kewajiban meminum obat setiap hari menjadi beban tersendiri bagi penderita tuberkulosis sehingga tidak sedikit dari pasien berhenti mengkonsumsi obat sebelum program pengobatan selesai (sebelum 6 bulan). Program pengobatan tuberkulosis yang tidak sampai 6 bulan dapat menimbulkan masalah baru, yakni resistensi obat. Oleh karena itu, untuk mengatasi masalah kepatuhan pasien dalam mengkonsumsi obat, WHO memberikan alternatif untuk rekomendasi frekuensi obat tuberkulosis bagi pasien yang tidak menderita HIV atau tidak tinggal di daerah dengan prevalensi HIV yang tinggi.

Alternatif pertama adalah konsumsi obat setiap hari selama fase intensif (2 bulan) kemudian dilanjutkan dengan konsumsi obat tiga kali seminggu selama fase lanjutan (4 bulan) namun setiap dosis selama masa lanjutan harus dikonsumsi dibawah observasi tenaga kesehatan (Directly Observed Treatment). Alternatif kedua adalah konsumsi obat tiga kali seminggu selama fase intensif dan fase lanjutan namun setiap dosis selama fase intensif dan lanjutan harus dikonsumsi dibawah observasi tenaga kesehatan.[3]

Rekomendasi dan alternatif dari rekomendasi ini dibuat berdasarkan hasil studi meta analisis yang membandingkan antara pengobatan tuberkulosis yang diberikan dalam dosis harian dan dosis tiga kali seminggu terhadap kegagalan atau kekambuhan pasien tuberkulosis yang tidak menderita HIV. Hanya sedikit bukti yang menyatakan adanya perbedaan tingkat kegagalan perawatan dan kekambuhan antara dosis harian dan dosis tiga kali seminggu. Namun pasien yang mengkonsumsi dosis sebanyak tiga kali seminggu selama fase intensif dan fase lanjutan memiliki tingkat resistensi obat yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan pasien yang mengkonsumsi dosis harian.[4] Oleh karena itu WHO merekomendasikan dosis harian selama fase intensif dan fase lanjutan kapan pun keadaan memungkinkan.[3]

Dosis Terapi Intermiten pada Pasien HIV

Berdasarkan studi meta analisis terhadap pasien tuberkulosis yang juga menderita HIV, insidensi kasus relaps dan kegagalan pengobatan lebih tinggi 2-3 kali lipat pada pasien tuberkulosis dengan HIV yang menerima terapi intermiten sepanjang waktu pengobatan (fase intensif dan fase lanjutan) dibandingkan dengan pasien tuberkulosis dengan HIV yang menerima dosis harian (daily therapy).[5] Oleh karena itu WHO merekomendasikan pengobatan penderita tuberkulosis dengan HIV dengan dosis harian sepanjang masa terapi yakni 2 bulan fase intensif dan 4 bulan fase lanjutan. Jika dosis harian pada fase lanjutan tidak memungkinkan untuk diberikan maka dosis 3 kali seminggu (intermittent therapy) selama fase lanjutan adalah alternatif yang bisa diterima.[3]

Pasien tuberkulosis yang juga menderita HIV memiliki imunitas yang lebih rendah jika dibandingkan dengan pasien tuberkulosis yang tidak menderita HIV oleh karena itu konsumsi obat dengan dosis harian selama fase intensif dan fase lanjutan sebaiknya dilakukan selama keadaan memungkinkan. Uji kontrol terkendali yang diadakan di India terhadap 331 pasien tuberkulosis dengan HIV yang juga menjalani terapi antiretroviral membuktikan bahwa pasien yang menerima obat anti tuberkulosis dengan dosis harian (daily therapy) memiliki tingkat kesembuhan yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan pasien yang menerima obat anti tuberkulosis dengan dosis tiga kali seminggu (intermittent therapy). Penelitian ini juga membuktikan bahwa obat anti tuberkulosis yang diberikan dengan dosis harian (daily therapy) dapat mencegah terjadinya resistensi rifampisin jika dibandingkan dengan obat anti tuberkulosis yang diberikan dalam dosis tiga kali seminggu (intermittent therapy).[6]

Hasil penelitian di atas sejalan dengan penelitian sebelumnya yang juga diadakan di India mengenai resistensi rifampisin pada pasien tuberkulosis dengan HIV dan pasien tuberkulosis yang tidak menderita HIV. Dua kelompok tersebut menerima obat antituberkulosis dengan dosis tiga kali seminggu. Kelompok pasien tuberkulosis dengan HIV yang menerima obat anti tuberkulosis dengan dosis tiga kali seminggu terbukti memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami resistensi rifampisin.[7]

Salah satu tantangan dari program pengobatan tuberkulosis adalah pengobatan yang tidak selesai karena pasien berhenti mengkonsumsi obat. Durasi program pengobatan yang panjang dan dosis yang harus dikonsumsi setiap hari diduga menjadi beban tersendiri bagi pasien. Namun hasil penelitian di India yang melibatkan 1.460 pasien tuberkulosis dengan HIV menyatakan bahwa obat antituberkulosis dengan dosis harian yang dikonsumsi oleh pasien tanpa pengawasan selama fase intensif tidak diasosiasikan dengan peningkatan risiko penghentian konsumsi obat oleh pasien. Pasien tuberkulosis yang mengkonsumsi obat antituberkulosis dengan dosis harian selama fase intensif juga terbukti memiliki tingkat mortalitas yang lebih rendah dibandingkan dengan pasien yang mengkonsumsi obat anti tuberkulosis dengan dosis intermiten.[8]

Kesimpulan

Sesuai dengan rekomendasi WHO tahun 2009 yang didukung oleh hasil beragam uji klinis dan studi meta analisis, program pengobatan tuberkulosis yang optimal bagi pasien tuberkulosis dengan HIV adalah dosis harian (daily therapy) selama fase intensif dan fase lanjutan. Dosis harian selama fase intensif dan lanjutan terbukti memiliki tingkat kesembuhan yang lebih tinggi serta mencegah terjadinya resistensi rifampisin. Dosis harian yang diberikan selama masa intensif juga tidak diasosiasikan dengan peningkatan risiko penghentian konsumsi obat oleh pasien. Oleh karena itu pemberian obat antituberkulosis dengan dosis harian bagi pasien tuberkulosis dengan HIV sebaiknya dilakukan kapan pun memungkinkan.

Referensi