Masuk atau Daftar

Alo! Masuk dan jelajahi informasi kesehatan terkini dan terlengkap sesuai kebutuhanmu di sini!
atau dengan
Facebook
Masuk dengan Email
Masukkan Kode Verifikasi
Masukkan kode verifikasi yang telah dikirimkan melalui SMS ke nomor
Kami telah mengirim kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Kami telah mengirim ulang kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Terjadi kendala saat memproses permintaan Anda. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Selanjutnya

Tidak mendapatkan kode? Kirim ulang atau Ubah Nomor Ponsel

Mohon Tunggu dalam Detik untuk kirim ulang

Apakah Anda memiliki STR?
Alo, sebelum melanjutkan proses registrasi, silakan identifikasi akun Anda.
Ya, Daftar Sebagai Dokter
Belum punya STR? Daftar Sebagai Mahasiswa

Nomor Ponsel Sudah Terdaftar

Nomor yang Anda masukkan sudah terdaftar. Silakan masuk menggunakan nomor [[phoneNumber]]

Masuk dengan Email

Silakan masukkan email Anda untuk akses Alomedika.
Lupa kata sandi ?

Masuk dengan Email

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk akses Alomedika.

Masuk dengan Facebook

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk verifikasi akun Alomedika.

KHUSUS UNTUK DOKTER

Logout
Masuk
Download Aplikasi
  • CME
  • Webinar
  • E-Course
  • Diskusi Dokter
  • Penyakit & Obat
    Penyakit A-Z Obat A-Z Tindakan Medis A-Z
Penatalaksanaan Nefritis Lupus general_alomedika 2026-03-27T11:29:49+07:00 2026-03-27T11:29:49+07:00
Nefritis Lupus
  • Pendahuluan
  • Patofisiologi
  • Etiologi
  • Epidemiologi
  • Diagnosis
  • Penatalaksanaan
  • Prognosis
  • Edukasi dan Promosi Kesehatan

Penatalaksanaan Nefritis Lupus

Oleh :
Audric Albertus
Share To Social Media:

Tujuan penatalaksanaan nefritis lupus atau lupus nephritis adalah untuk mencapai remisi yang cepat saat penyakit aktif, mencegah flare ginjal, mencegah progresi gagal ginjal kronik, menurunkan morbiditas dan mortalitas, meminimalisir toksisitas obat dan menjaga fertilitas. Prinsip pengobatan nefritis lupus menggunakan terapi imunosupresif untuk menekan proses inflamasi intrarenal dan terapi adjuvan berdasarkan klasifikasi histologi pasien.

Terapi suportif pada pasien nefritis lupus umumnya mencakup antihipertensi, seperti captopril, antimalaria, seperti hydroxychloroquine, diuretik, seperti furosemide, kalsium, dan vitamin D. Terapi imunosupresif dipakai pada nefritis lupus kelas III/IV dan V. Terapi nefritis lupus kelas III/IV dan V dibagi menjadi dua fase, yaitu fase induksi dengan imunosupresi intensif selama 3-6 bulan, dan fase lanjutan selama minimal 3 tahun dan/atau 1 tahun setelah remisi.[1,2,13,38-40]

Berobat Jalan

Pasien nefritis lupus yang diperbolehkan berobat jalan adalah pasien yang sudah tidak mengalami flare. Pasien nefritis lupus kelas III-V yang berobat jalan umumnya diberikan terapi mycophenolate mofetil (MMF)/ siklofosfamid (CYC) yang disertai glukokortikoid, seperti prednisone. Selain itu, pasien juga diberikan terapi suportif berupa obat antihipertensi, seperti captopril, antimalaria, seperti hydroxychloroquine, diuretik, seperti furosemide, kalsium, dan vitamin D.

Persiapan Rujukan

Pasien dengan kecurigaan nefritis lupus disarankan untuk dirujuk ke rheumatologis untuk keperluan biopsi ginjal yang membantu menentukan kelas dan terapi yang lebih lengkap.

Medikamentosa

Pengobatan nefritis lupus umumnya menggunakan terapi imunosupresif dan terapi adjuvant berdasarkan klasifikasi histologi menurut International Society of Nephrology/ Renal Pathology Society (ISN/RPS) 2018. Penatalaksanaan nefritis lupus kelas III/IV dan V dibagi menjadi dua fase, yaitu fase induksi dengan imunosupresi intensif selama 3-6 bulan, dan fase lanjutan selama minimal 3 tahun dan/atau 1 tahun setelah remisi.[38-40]

Terapi Fase Induksi

Terapi fase induksi hanya diberikan pada pasien nefritis lupus kelas III/IV dan V. Terapi ini umumnya dilakukan selama durasi 3-6 bulan dan melibatkan obat-obatan seperti mycophenolate mofetil (MMF) atau siklofosfamid bersamaan dengan glukokortikoid, seperti methylprednisolone, dan agen antimalaria, seperti chloroquine dan hydroxychloroquine.[1,2,13]

Mycophenolate mofetil (MMF):

Mycophenolate mofetil (MMF) merupakan terapi lini pertama dalam terapi induksi nefritis lupus kelas III/IV dan V. Dosis induksi pada pasien nefritis lupus kelas III/IV yang disarankan adalah 2 gram/hari selama 6-12 bulan atau 1,5 gram/hari selama 24 bulan atau mycophenolic acid (MPA) dosis setara. Pada nefritis lupus kelas V dosis induksi yang disarankan adalah 2 gram / hari selama 6 bulan atau MPA dosis setara.[1,2,13]

Siklofosfamid (CYC):

Siklofosfamid (CYC) merupakan agen alkylating yang telah direkomendasikan sebagai terapi standar dalam terapi nefritis lupus proliferatif. Akan tetapi, obat ini meningkatkan risiko untuk premature ovarian failure, infeksi berat, dan relaps. Siklofosfamid merupakan lini kedua terapi fase induksi pada nefritis lupus kelas III/IV dan V. Dosis fase induksi pada nefritis lupus kelas III/IV dan V yang disarankan adalah 500 mg/2 minggu (x6) atau 500–1000 mg/m2/bulan IV (x6).[1,2,13]

Tacrolimus dan Azathioprine (AZA):

Pemberian tacrolimus atau azathioprine hanya diberikan apabila pasien tidak toleran dengan MMF atau CYC. Dosis tacrolimus yang disarankan adalah 3 mg/hari. Sedangkan dosis AZA yang disarankan adalah 2 mg/kgBB/hari.[1,2,13]

Glukokortikoid:

Glukokortikoid merupakan terapi lini pertama dalam terapi fase induksi nefritis lupus kelas III/IV dan V. Terapi awal yang disarankan pada kelas III/IV adalah methylprednisolone pulse 500 – 750 mg IV (x3); dilanjutkan prednison 0,5 mg/kgBB/hari PO selama 2-4 minggu; selanjutnya diturunkan bertahap sampai ≤ 10 mg/hari selama 4-6 bulan.[1,2,13]

Terapi alternatif yang dapat diberikan adalah prednison ≤ 1 mg/kgBB PO selama 2-4 minggu, selanjutnya diturunkan bertahap selama 6-12 bulan. Pada nefritis lupus kelas V terapi yang disarankan adalah prednison 0,5 mg/kgBB/hari selama 6 bulan.[1,2,13]

Terapi Fase Lanjutan

Apabila klinis pasien sudah mencapai remisi, maka terapi nefritis lupus proliferatif dapat diubah menjadi fase lanjutan dengan steroid dosis rendah dan imunosupresan Minimal durasi terapi fase lanjutan adalah 3 tahun.[1,2,13]

Terapi fase lanjutan pada nefritis lupus kelas III/IV dan V umumnya sama, yaitu MMF 1-2 gram/hari atau MPA dosis setara; atau AZA 2 mg/kgBB/hari; atau inhibitor calcineurin (tacrolimus); atau CYC tiap 3 bulan.[1,2,13]

Terapi Nefritis Lupus Menurut Kelas Penyakit

Nefritis lupus bisa dibagi menjadi kelas I hingga VI, yang mana terapi pada tiap kelas penyakit berbeda-beda.[1,2,13,38-40]

Terapi Nefritis Lupus Kelas I dan II

Secara umum nefritis lupus kelas I dan II tidak memerlukan terapi imunosupresan. Akan tetapi, pada nefritis lupus kelas II yang disertai proteinuria >1 gram/ 24 jam, terutama apabila ditemukan adanya hematuria glomerular, maka dapat diberikan kortikosteroid oral dosis ringan-sedang (0,25–0,5 mg/kg/hari) dan/tanpa AZA 1-2 mg/kgBB/hari atau MMF atau inhibitor kalsineurin (tacrolimus).[1,2,13]

Terapi Nefritis Lupus Kelas III dan IV

Pada fase induksi, seluruh pasien dianjurkan menerima glukokortikoid, umumnya diawali dengan pulse intravena methylprednisolone selama 3 hari, diikuti prednison oral dosis sedang  dengan tapering bertahap. Glukokortikoid dikombinasikan dengan imunosupresan utama berupa mycophenolic acid analogues (MPAA) atau siklofosfamid intravena dosis rendah maupun dosis bulanan pada kasus lebih berat atau dengan penurunan GFR.

MPAA umumnya dipilih pada pasien dengan kepatuhan baik dan pertimbangan fertilitas, sedangkan siklofosfamid intravena menjadi alternatif pada risiko non-adherensi atau kontraindikasi MPAA.

Kapan Digunakan Triple Therapy:

Pendekatan terkini juga mengakomodasi terapi kombinasi (triple therapy) pada profil risiko tertentu. Penambahan belimumab ke dalam regimen standar (glukokortikoid + MPAA atau siklofosfamid dosis rendah) terbukti meningkatkan angka respons renal dan menurunkan risiko relaps, terutama pada pasien dengan aktivitas imunologis tinggi atau riwayat flare berulang, meskipun manfaatnya lebih terbatas pada proteinuria berat.

Kombinasi MPAA dengan calcineurin inhibitor, seperti voclosporin atau tacrolimus, dapat dipertimbangkan pada pasien dengan fungsi ginjal relatif baik dan proteinuria nefrotik, mengingat efek antiproteinurik dan proteksi podositnya. Namun, calcineurin inhibitor dihindari pada gangguan ginjal signifikan karena risiko nefrotoksisitas.

Fase Lanjutan:

Setelah fase induksi (±6 bulan), terapi dilanjutkan ke fase pemeliharaan dengan MPAA sebagai pilihan utama untuk mempertahankan remisi dan mencegah progresi ke gagal ginjal stadium akhir. Azathioprine menjadi alternatif pada intoleransi MPAA atau perencanaan kehamilan. Glukokortikoid diturunkan ke dosis terendah efektif dan dapat dihentikan setelah remisi lengkap stabil ≥12 bulan, kecuali terdapat manifestasi lupus ekstrarenal aktif.[38-40]

Terapi Nefritis Lupus Kelas V dan VI

Pada nefritis lupus kelas V (membranosa), tata laksana ditentukan terutama oleh derajat proteinuria.

  • Pada proteinuria <1 g/hari, terapi bersifat konservatif dengan hydroxychloroquine, kontrol faktor risiko kardiovaskular, serta optimalisasi terapi nefroprotektif.
  • Pada proteinuria 1–3,5 g/hari, dianjurkan kombinasi kortikosteroid dan calcineurin inhibitor. Bila respons suboptimal (penurunan proteinuria <25% dalam 3–4 bulan), MPAA dapat ditambahkan.
  • Pada proteinuria >3,5 g/hari atau sindrom nefrotik, direkomendasikan terapi imunosupresif tripel sejak awal berupa kortikosteroid + calcineurin inhibitor + MPAA, mengingat proteinuria berat jarang mengalami remisi spontan dan berkaitan dengan risiko trombosis, infeksi, serta progresi penyakit ginjal kronik.

MPAA dianggap sebagai pilihan lini pertama dengan profil keamanan lebih baik dan efektivitas sebanding dengan siklofosfamid dalam menurunkan proteinuria. Bila tidak efektif, siklofosfamid intravena ≤6 bulan dapat digunakan untuk menginduksi remisi jangka panjang dengan angka relaps lebih rendah dibanding calcineurin inhibitor.

Pada nefritis lupus kelas VI (advanced sclerosing), yang ditandai sklerosis global >90% glomerulus, terapi imunosupresif umumnya tidak efektif dan berisiko efek samping tanpa manfaat bermakna. Pendekatan klinis difokuskan pada manajemen penyakit ginjal kronik, termasuk kontrol tekanan darah dan proteinuria dengan penghambat sistem renin–angiotensin, tata laksana komorbiditas, serta persiapan terapi pengganti ginjal bila diperlukan.[38-40]

Penatalaksanaan untuk Nefritis Lupus yang Resisten terhadap Terapi

Apabila pasien resisten terhadap terapi, langkah awal yang dapat dilakukan adalah menilai kepatuhan pasien terhadap terapi, karena seringkali hal ini disebabkan karena pasien tidak taat terhadap terapi.

Pada Tabel 1, terdapat regimen alternatif yang dapat diberikan pada pasien dengan nefritis lupus fokal atau difus (kelas III-IV) yang resisten terhadap terapi awal. Regimen ini berlaku untuk mereka yang sudah taat, tapi resisten terhadap terapi.

Tabel 1: Regimen Alternatif untuk Pasien yang Resisten terhadap Terapi Awal

Terapi Awal (Resisten) Regimen Selanjutnya yang dapat Direkomendasikan Regimen Alternatif
MMF + glukokortikoid Siklofosfamid (CYC) (IV) + glukokortikoid

Kombinasi CYC + belimumab

ATAU

lanjut MMF dengan calcineurin inhibitor or rituximab

Siklofosfamid + glukokortikoid MMF + glukokortikoid Kombinasi MMF dengan calcineurin inhibitor atau rituximab atau belimumab
MMF atau CYC Regimen yang mengandung rituximab, i.e. kombinasi rituximab dengan CNI, MMF, atau CYC

Sumber: dr. Felicia Sutarli, Alomedika. 2022.[34]

Pembedahan

Pembedahan dilakukan apabila terapi medikamentosa sudah tidak memberikan efikasi pada pasien dan pasien telah masuk ke nefritis lupus kelas VI. Pada keadaan ini pasien sudah terjadi gagal ginjal tahap akhir (PGTA). Umumnya pilihan terapi yang disarankan adalah terapi pengganti ginjal, seperti dialisis, dialisis peritoneal, atau transplantasi ginjal.

Terapi Suportif

Terapi suportif untuk seluruh pasien nefritis lupus tanpa terkecuali disarankan untuk mencegah komplikasi penyakit, yang meliputi antihipertensi, antimalaria, kalsium, dan vitamin D.

Antihipertensi

Pengobatan hipertensi pada pasien nefritis lupus disarankan seagresif mungkin. Target tekanan darah yang disarankan adalah ≤120/80 mmHg. Agen yang lebih disarankan adalah angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor, seperti captopril, atau Angiotensin II Receptor Blocker (ARB), seperti candesartan, untuk membantu meminimalisir proteinuria.[1,2,13,21]

Loop diuretik, seperti furosemide, juga dapat digunakan untuk mengurangi edema dan mengontrol hipertensi. Pemberian loop diuretik ini juga dibarengi dengan monitor elektrolit, karena obat ini dapat menyebabkan gangguan elektrolit, seperti hipokalemia.[1,2,13,21]

Terapi Hiperkolesterolemia

Penatalaksanaan hiperkolesterolemia juga perlu dilakukan dengan HMG Co-A reductase inhibitors, seperti atorvastatin, dengan target kolesterol serum <180 mg/dL, karena risiko kardiovaskular pada pasien lupus eritematosus sistemik (LES) dapat meningkat pada kadar >200 mg/dL.[21]

Antimalaria

Penggunaan antimalaria, seperti hydroxychloroquine, ditemukan dapat menurunkan frekuensi flare, menurunkan risiko gagal ginjal tahap akhir, dan menurunkan mortalitas. Hydroxychloroquine perlu diberikan pada seluruh pasien nefritis lupus kecuali terdapat kontraindikasi.[1,2,13]

Penggunaan hidroksiklorokuin di atas 5 tahun dapat meningkatkan risiko toksisitas retina sehingga skrining retina disarankan pada tahun pertama dan setelah 5 tahun penggunaan obat. Dosis yang disarankan adalah 200-400 mg/hari PO dibagi dua dosis.[1,2,13]

Vitamin D dan Kalsium

Suplementasi vitamin D dan kalsium diperlukan pada pasien LES untuk meningkatkan densitas mineral tulang pasien. Pasien dengan LES aktif dan nefritis lupus sering mengalami defisiensi vitamin D. Vitamin D memiliki kemampuan untuk memodulasi sistem imun, sehingga dapat membantu menurunkan risiko inflamasi aktif dan progresifitas nefritis lupus. Suplementasi vitamin D yang disarankan pada LES adalah 1200 IU per hari.[1,2,13,26,27]

Pemberian kalsium pada pasien nefritis lupus dan LES disarankan bila memakai kortikosteroid dalam dosis lebih dari 7,5 mg/hari dan diberikan dalam jangka panjang (lebih dari 3 bulan), karena risiko osteoporosis pada pemberian kortikosteroid.[21]

Diet

Penatalaksanaan diet yang dianjurkan pada pasien dengan sindrom nefritik meliputi diet rendah garam dan rendah protein untuk membantu mengontrol hipertensi, fungsi ginjal dan proteinuria, serta pada pasien dengan nefritis lupus aktif. Selain itu, diet rendah lemak juga disarankan untuk membantu mengontrol hiperlipidemia.[21]

Kehamilan

Pada pasien hamil, terapi dengan CYC dan mycophenolate harus dihindari, karena bersifat teratogenik dan dapat berisiko menyebabkan malformasi kongenital. Belum ada regimen terapi yang optimal untuk pasien hamil dengan nefritis lupus fokal/difus (kelas III-IV). Terapi yang dipilih pada keadaan ini adalah kombinasi glukokortikoid, calcineurin inhibitors, and azathioprine. Umumnya, dosis dan monitor pengobatan pada pasien hamil mirip dengan pasien yang tidak hamil.[28]

 

 

Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha

Referensi

1. Musa R, Brent LH, Qurie A. Lupus Nephritis. StatPearls. 2025. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK499817/
2. Anders HJ, Saxena R, Zhao M hui, Parodis I, Salmon JE, Mohan C. Lupus nephritis. Nature Reviews Disease Primers. 2020;6(1). doi:10.1038/s41572-019-0141-9
13. Perhimpunan Rematologi Indonesia. Diagnosis Dan Pengelolaan Lupus Eritematosus Sistemik. 2019.
21. Kasjmir YI, Handono K, Wijaya LK, Hamijoyo L, Albar Z, et al. Rekomendasi Perhimpunan Reumatologi Indonesia untuk Diagnosis dan Pengelolaan Lupus Eritematosus Sistemik. 2011. ISBN 978-979-3730-16-5. https://reumatologi.or.id/wp-content/uploads/2020/10/Rekomendasi_Lupus_Eritematosus_Sistemik_2011.pdf
26. Khairallah, M.K., Makarem, Y.S. & Dahpy, M.A. Vitamin D in active systemic lupus erythematosus and lupus nephritis: a forgotten player. Egypt J Intern Med 32, 16 (2020). https://doi.org/10.1186/s43162-020-00016-x
27. Rifa A, Kalim H, Kusworini, Wahono CS. Effect of vitamin D supplementation on disease activity (SLEDAI) and fatigue in Systemic Lupus Erythematosus patients with hipovitamin D: An Open Clinical Trial. Indonesian Journal of Rheumatology 2016; Vol 8 No.2
28. Falk RJ, Dall’Era M, Appel GB. Lupus nephritis: Initial and subsequent therapy for focal or diffuse lupus nephritis. Uptodate. 2026.
34. Falk RJ, Dall’Era M, Appel GB. Lupus nephritis: Treatment of focal or diffuse lupus nephritis resistant to initial therapy. Uptodate. 2025.
38. Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO) Lupus Nephritis Work Group. KDIGO 2024 Clinical Practice Guideline for the management of LUPUS NEPHRITIS. Kidney Int. 2024 Jan;105(1S):S1-S69. doi: 10.1016/j.kint.2023.09.002.
39. Rojas-Rivera JE, García-Carro C, Ávila AI, et al. Diagnosis and treatment of lupus nephritis: a summary of the Consensus Document of the Spanish Group for the Study of Glomerular Diseases (GLOSEN). Clin Kidney J. 2023 Mar 22;16(9):1384-1402. doi: 10.1093/ckj/sfad055.
40. Xagas E, Drouzas K, Liapis G, Lionaki S. Evidence based treatment for lupus nephritis: present perspectives and challenges. Front Nephrol. 2024 Aug 6;4:1417026. doi: 10.3389/fneph.2024.1417026.

Diagnosis Nefritis Lupus
Prognosis Nefritis Lupus

Artikel Terkait

  • Peran Mycophenolate Sodium pada Nefritis Lupus
    Peran Mycophenolate Sodium pada Nefritis Lupus
  • Penanganan pada Pasien Lupus yang Sedang atau Merencanakan Kehamilan
    Penanganan pada Pasien Lupus yang Sedang atau Merencanakan Kehamilan
Diskusi Terkait
Anonymous
Dibalas 02 Juni 2024, 00:17
Gatal disertai kemerahan pada wajah dan leher
Oleh: Anonymous
2 Balasan
Alo dokter.Saya memiliki pasien perempuan, usia 15thn dengan keluhan gatal disertai kemerahan pada wajah dan leher yg sdh dialami >1bln. Untuk daerah wajah...
Anonymous
Dibalas 21 Februari 2024, 10:33
Ruam kemerahan di tangan dan badan setelah mandi atau berkeringat
Oleh: Anonymous
1 Balasan
Alo dokter, izin bertanya,Saya mendapat px mengeluh muncul bercak kemerahan spt di gambar setelah mandi/setelah berkeringat. Pasien mengatakan beberapa saat...
dr. Nebilah salsabila
Dibalas 30 November 2023, 19:25
Bengkak pada kedua sendi pergelangan kaki dan tangan
Oleh: dr. Nebilah salsabila
5 Balasan
Alo dokter. Izin diskusi dok. Pasien laki-laki, usia 20 tahun, dengan keluhan bengkak pada kedua sendi pergelangan kaki dan sendi MCP, PIP kanan dan kiri...

Lebih Lanjut

Download Aplikasi Alomedika & Ikuti CME Online-nya!
Kumpulkan poin SKP sebanyak-banyaknya!

  • Tentang Kami
  • Advertise with us
  • Syarat dan Ketentuan
  • Privasi
  • Kontak Kami

© 2024 Alomedika.com All Rights Reserved.