Pendahuluan Nefritis Lupus
Nefritis lupus atau lupus nephritis adalah peradangan ginjal yang disebabkan oleh penyakit lupus eritematosus sistemik (LES). Penyakit ini merupakan manifestasi LES yang paling sering ditemui, di mana sekitar 40% pasien LES mengalami nefritis lupus.[1-5]
Umumnya, nefritis lupus terjadi setelah 5 tahun diagnosis lupus eritematosus sistemik (LES) ditegakkan atau sebaliknya, LES terdiagnosis setelah nefritis lupus didiagnosis. Nefritis lupus merupakan hipersensitivitas tipe 3, yang disebabkan oleh deposit imun kompleks dalam glomerulus.[1-10]
Manifestasi klinis nefritis lupus sangat beragam, dari asimptomatik sampai memiliki gejala edema, poliuria, nokturia, dan hipertensi. Pada nefritis lupus yang aktif, umumnya memiliki hasil kreatinin yang meningkat, rendahnya komplemen C3 dan C4, serta terdeteksinya anti dsDNA.[1-13]
Selain itu, pada pemeriksaan urinalisis dapat ditemukan proteinuria, hematuria mikroskopik, atau casts sel darah merah. Biopsi ginjal merupakan baku emas dalam mendiagnosis nefritis lupus. Berdasarkan pemeriksaan histopatologi biopsi ginjal, nefritis lupus dapat dibagi menjadi 5 kelas. [1,2,4,12,14-31]
Nefritis lupus umumnya diterapi dengan obat imunosupresan, seperti glukokortikoid, seperti budesonide, dan siklofosfamid (CYC) atau mycophenolate mofetil (MMF), namun untuk kelas I dan II umumnya tidak memerlukan terapi imunosupresan. Imunosupresan hanya diberikan pada nefritis lupus kelas III – V. Setelah mengalami remisi, pasien perlu kontrol untuk pemantauan rutin guna mencegah terjadi flare.[1,2,13,21,26-28,31]
Edukasi harus menekankan bahwa kondisi ini merupakan manifestasi serius dari LES yang melibatkan peradangan ginjal dan berisiko menyebabkan penurunan fungsi ginjal progresif bila tidak ditangani. Pasien perlu memahami pentingnya kepatuhan terhadap terapi, pemantauan rutin tekanan darah, fungsi ginjal, serta proteinuria. Pasien juga perlu segera melaporkan gejala seperti edema, penurunan jumlah urin, atau hipertensi.[1,13,21,32-36]
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha
