Pendekatan Farmakologi untuk Obesitas

Oleh :
dr.Eduward Thendiono, SpPD,FINASIM

Selain perubahan gaya hidup, pendekatan farmakologi juga bisa digunakan dalam tata laksana obesitas. WHO mendefinisikan obesitas sebagai indeks massa tubuh (IMT) lebih dari 30 kg/m2. Sementara itu, orang dengan IMT di antara 25-30 kg/m2 dikategorikan sebagai overweight atau berat badan berlebih.[1] Obesitas saat ini telah dipandang sebagai pandemik mayor. Data WHO melaporkan bahwa overweight  maupun obesitas termasuk dalam lima besar risiko utama kematian global.[2]

Intervensi gaya hidup yang meliputi perubahan diet dan aktivitas fisik masih menjadi tumpuan utama dalam penatalaksanaan overweight dan obesitas. Hasil studi memperlihatkan bahwa intervensi gaya hidup yang difokuskan pada penurunan asupan kalori dan meningkatkan pengeluaran kalori melalui aktivitas fisik sehari-hari, dapat menghasilkan rerata penurunan berat badan 5-8% dalam enam bulan pertama. Namun, sepertiga hingga dua pertiga dari penurunan berat badan tersebut dapat kembali lagi dalam waktu satu tahun setelah intervensi dihentikan.

Pendekatan Farmakologi untuk Obesitas-min

National Heart, Lung, and Blood Institute of The National Institutes of Health merekomendasikan bahwa individu yang gagal berespon terhadap intervensi gaya hidup setelah 6 bulan terapi,  memiliki IMT ≥ 30 kg/m2 atau IMT ≥ 27 kg/m2, disertai komorbid terkait berat badan perlu dipertimbangkan untuk menjalani terapi farmakologi.[1]

Opsi Terapi Farmakologi Untuk Penurunan Berat Badan

Saat ini, sudah tersedia sejumlah opsi farmakologi untuk penurunan berat badan yang telah diakui oleh FDA, yaitu orlistat, phentermin/topiramate, lorkaserin, bupropion/ naltrexone, dan liraglutide.[1,4,5]

Orlistat

Orlistat menurunkan berat badan dengan cara menginhibisi kerja lipase sehingga mengurangi absorpsi lemak dari saluran gastrointestinal. Konsumsi rata-rata 120 mg orlistat tiga kali sehari, dapat menurunkan absorpsi lemak hingga 30%. Orlistat diketahui lebih efektif untuk menginhibisi penyerapan lemak pada makanan padat.[1,4,5]

Sejumlah penelitian telah menyokong efikasi orlistat dalam penurunan berat badan. Rosness et al dan Sjostrom et al menemukan bahwa subyek yang mendapat orlistat mengalami penurunan berat badan bermakna dalam tahun pertama terapi, sedangkan kembalinya berat badan pada tahun kedua lebih sedikit jika dibandingkan dengan plasebo.[1,4] Selain penurunan berat badan, ditemukan pula bahwa kadar serum vitamin D, E dan B-carotene lebih rendah pada subyek penelitian. Namun, hal tersebut mudah diatasi dengan pemberian suplemen multivitamin.[1]

Efikasi orlistat tidak hanya terbatas pada penurunan berat badan. Davidson et al dan studi empat tahun Xendos menemukan bahwa orlistat dapat meningkatkan sensitivitas insulin dan mengurangi kadar glukosa darah. [1,4] Studi-studi lain menemukan bahwa orlistat bisa meningkatkan kontrol glikemik darah sekaligus memperbaiki profil lipid pasien obesitas dengan diabetes mellitus tipe 2.[1]

Efek samping orlistat adalah tinja berminyak, fecal urgency, peningkatan defekasi, inkontinens fekal, dan flatus. [1,4,5] Gejala ini bisa berkurang dengan pemberian psyllium mucilloid.[1]

Phentermin/Topiramate

Phentermin menurunkan berat badan melalui peningkatan pelepasan norepinefrin (daripada dopamin) dan mengurangi uptake norepinefrin di nukleus hipotalamus yang mengakibatkan penurunan asupan makanan.[1,4,6] Selain itu, phentermin juga bertindak sebagai agonis adrenergik yang mengaktivasi sistem saraf simpatis dan meningkatkan pengeluaran energi.[1,6] Sedangkan, topiramate menurunkan berat badan dengan menimbulkan taste aversion, sehingga mengurangi asupan kalori.[1]

Tiga randomized controlled trial (RCT) konsisten menunjukkan bahwa kombinasi phentermin/topiramate efektif menurunkan berat badan, memperbaiki profil lipid, kadar gula darah puasa, dan kadar insulin jika dibandingkan dengan plasebo.[7,8,9]

Kombinasi phentermin/topiramate meningkatkan risiko sumbing pada bayi jika digunakan pada trimester pertama kehamilan. Oleh karena itu, penting dilakukan tes kehamilan terlebih dahulu sebelum memberikan obat ini. Efek samping obat ini antara lain parestesia, pusing, mulut kering, konstipasi, disgeusia, insomnia dan ansietas.

Jika individu yang diberikan obat ini tidak mencapai penurunan 5% berat badan setelah 12 minggu terapi dengan dosis maksimal, dosis obat perlu dihentikan secara bertahap untuk mencegah terjadinya kejang.[1]

Lorkaserin

Lorkaserin merupakan agonis selektif reseptor serotonin. Obat ini mampu menekan nafsu makan dengan cara berikatan secara selektif di reseptor sentral serotonin 5-HT2C yang terletak pada neuron anoreksigenik pro-opiomalocortin (POMC) di hipotalamus.[1,4]

Pada percobaan fase 3 BLOSSOM dan BLOOM, lorkaserin secara signifikan menurunkan berat badan jika dibandingkan dengan plasebo. Selain itu, hasil percobaan BLOOM menunjukkan pula bahwa lorkaserin dapat meningkatkan kontrol gula darah, memperbaiki profil lipid, tekanan darah, dan denyut jantung.[1,4,10]

Efek samping lorkaserin yang sering dilaporkan adalah nyeri kepala, pusing, kelelahan, mual, mulut kering dan konstipasi. Efek samping yang mengancam nyawa dari penggunaan lorkaserin adalah sindrom serotonin. Oleh sebab itu, penggunaan lorkaserin bersama obat-obat lain yang mempengaruhi neurotransmiter serotonin seperti triptan, monoamin oksidase inhibitor (MAO), selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI), dan antidepresan trisiklik perlu dihindari. [1,4,11] Selain itu, lorkaserin juga dikontraindikasikan pada wanita hamil.[1]

Bupropion/Naltrexone

Mekanisme kerja bupropion untuk penurunan berat badan terjadi melalui inhibisi reuptake dopamin dan norepinefrin yang mengaktivasi jalur melanokortin sentral.[1,4]  Sedangkan, naltrexone bekerja sebagai antagonis reseptor opioid yang menghilangkan feedback loop oto-inhibisi pada neuron-neuron yang diaktivasi oleh bupropion, sehingga membantu mempertahankan penurunan berat badan secara berkelanjutan.[1,4,12]

Hasil penelitian CONTRAVE Obesity Research yang terdiri dari COR-1, COR-II, COR-BMOD dan COR-Diabetes menunjukkan secara konsisten bahwa kombinasi bupropion/naltrexone mampu menurunkan berat badan dan mempertahankan penurunan berat badan tersebut. Selain itu, obat kombinasi ini mampu  memperbaiki waist circumference, lemak viseral, profil lipid, hingga HbA1c secara signifikan jika dibandingkan dengan plasebo.[13-16]

Efek samping yang paling sering dilaporkan adalah mual, muntah, nyeri kepala, pusing, insomnia, dan mulut kering.[1,4] Bupropion/naltrexone perlu dihindari pada pasien dengan hipertensi tak terkontrol, gangguan makan, pasien penyalahgunaan zat analgesik, atau pasien dengan riwayat kejang.[1]

Liraglutide

Liraglutide merupakan agonis reseptor Glucagon Like Peptide-1 (GLP-1) yang sudah digunakan untuk terapi diabetes mellitus tipe 2. Efek penurunan berat badan diperoleh melalui pengaruh liraglutide pada hipotalamus dan batang otak yang mengendalikan nafsu makan, serta efek perifer liraglutide yang mampu memperlambat pengosongan lambung sehingga memberi sensasi kenyang lebih lama.[1,4,17,18]

Penelitian SCALE Obesity and Prediabetes serta SCALE Diabetes menunjukkan bahwa pemberian liraglutide mampu menurunkan berat badan.[19,20] Hasil penelitian SCALE Maintain menunjukkan bahwa liraglutide mampu mempertahankan efek penurunan berat badan.[21] Selain penurunan berat badan, liraglutide mampu memperbaiki waist circumference, HbA1c, dan tekanan darah jika dibandingkan dengan plasebo.[19]

Efek samping liraglutide yang paling sering dilaporkan adalah mual, muntah, nyeri perut, serta peningkatan denyut jantung. Liraglutide dikontraindikasikan pada pasien hamil atau yang mempunyai riwayat keluarga medullary thyroid cancer atau multiple endocrine neoplasia type 2 (MEN 2).[1,4]

Kesimpulan

Intervensi gaya hidup dalam tata laksana obesitas dapat menghasilkan rerata penurunan berat badan 5-8% dalam enam bulan pertama. Namun, sepertiga hingga dua pertiga dari penurunan berat badan tersebut dapat kembali lagi dalam waktu satu tahun setelah intervensi dihentikan.

Opsi farmakologi juga dapat dipertimbangkan dalam tata laksana obesitas. Modalitas yang sudah disetujui FDA adalah orlistat, phentermin/topiramate, lorkaserin, bupropion/naltrexone, dan liraglutide. Studi menunjukkan bahwa obat-obat ini efektif menurunkan berat badan, menjaga penurunan berat badan, meningkatkan kontrol glikemik, dan memperbaiki profil lipid pasien.

Di Indonesia, orlistat dan liraglutide telah tersedia. Orlistat tersedia dalam bentuk oral dengan kekuatan 120 dan 240 mg. Liraglutide tersedia dalam bentuk pena injeksi dengan kekuatan 6 mg/ml. Sedangkan, sediaan topiramate sudah ada dalam bentuk oral 15, 25, 50, dan 100 mg, tetapi tidak dalam bentuk kombinasi dengan phentermin.

Referensi