Liraglutide, Obat Antidiabetes untuk Menanggulangi Obesitas

Oleh dr. Hunied Kautsar

Banyak dari penderita obesitas juga menderita diabetes melitus tipe 2 sehingga ditemukannya liraglutide, obat anti diabetes yang juga berkhasiat untuk menurunkan berat badan memberikan harapan baru untuk menanggulangi obesitas dan juga diabetes.

Sumber: FatM1ke, Wikimedia commons, 2016. Sumber: FatM1ke, Wikimedia commons, 2016.

 

Dari beragam obat antidiabetes, liraglutide adalah jenis yang sudah diteliti dapat memicu penurunan berat badan. Liraglutide merupakan golongan glucagon like peptide-1 (GLP-1) agonist. GLP-1 adalah hormon inkretin polipeptida yang secara alami disekresikan oleh sel L pada saluran pencernaan ketika ada stimulus berupa nutrisi. Ketika ada asupan glukosa maka hormon ini akan merangsang sekresi insulin serta mengurangi konsentrasi glukagon dalam plasma darah sehingga dapat menjaga homeostasis glukosa. GLP-1 juga dapat memperlambat proses pengosongan lambung, mengurangi napsu makan, dan meningkatkan detak jantung. Efek dari GLP-1 yang diteliti dapat memicu penurunan berat badan adalah mengurangi napsu makan dan memperlambat proses pengosongan lambung.[1,2]

Bentuk alami dari GLP-1 memiliki waktu paruh yang sangat singkat yakni kurang dari 2 menit. Oleh karena itu dikembangkan liraglutide (GLP-1 agonist) yang memiliki arginine sebagai pengganti lysine dan palmitic acid chain sehingga efek farmakokinetiknya meningkat.[3] Absorbsi optimal liraglutide dicapai setelah 11 jam setelah injeksi subkutan. Waktu paruhnya pada individu sehat maupun penderita diabetes mellitus tipe 2 adalah 13 jam sehingga injeksi cukup dilakukan satu kali sehari.[4]

Liraglutide tersedia dengan merek dagang Saxenda dan Victoza. Dari kedua merek dagang tersebut, hanya Victoza yang saat ini tersedia di Indonesia.

Victoza sudah dinyatakan aman oleh FDA (Food and Drug Administration) di Amerika sebagai terapi tambahan dari diet dan olahraga untuk manajemen diabetes mellitus tipe 2 pada tahun 2010. Victoza tersedia dalam bentuk injeksi subkutan dengan dosis 1,8 mg per hari. Hasil dari beragam uji kontrol terkendali menyatakan bahwa GLP-1 agonist dapat memicu penurunan berat badan. Oleh karena itu, liraglutide dikembangkan dan diuji kemampuannya sebagai obat penurun berat badan. Beberapa uji klinis fase III dari liraglutide menunjukkan hasil yang memuaskan.[5]

Saxenda merupakan obat terbaru yang dinyatakan aman oleh FDA pada tahun 2014 untuk manajemen berat badan bagi pasien obesitas dengan IMT (Indeks Massa Tubuh) > 30 kg/m2 atau pasien dengan berat badan berlebih yang memiliki IMT > 27 kg/m2 dan memiliki komorbiditas yang berhubungan dengan berat badannya.

Kontraindikasi dari liraglutide adalah ibu hamil dan menyusui, anak-anak, pasien yang menggunakan injeksi insulin atau GLP-1 agonist jenis lain, dan pasien yang memiliki personal atau familial history of MTC (Medullary Thyroid Carcinoma) atau MEN 2 (Multiple Endocrine Neoplasia 2).

Efek samping yang paling umum dari injeksi liraglutide adalah mual, muntah, pusing, diare, nyeri kepala, dispepsia, fatigue, konstipasi, dan hipoglikemia. Alasan yang paling umum dari penghentian penggunaan liraglutide adalah gangguan gastrointestinal.

Efek Liraglutide pada Diabetes Mellitus Tipe 2 dan Obesitas

Penelitian satiety and clinical adiposity - liraglutide evidence in nondiabetic and diabetic individuals (SCALE) dilakukan terhadap 846 partisipan penderita diabetes mellitus tipe 2 yang memiliki IMT > 27 kg/m2 selama 56 minggu dan dilanjutkan dengan follow up tanpa obat selama 12 minggu untuk melihat efek injeksi liraglutide terhadap kadar HbA1c dan penurunan berat badan. Partisipan dibagi menjadi tiga kelompok yakni kelompok injeksi liraglutide 3,0 mg, kelompok injeksi liraglutide 1,8 mg, dan kelompok kontrol dengan injeksi plasebo. Hasil dari penelitian menyatakan bahwa proporsi partisipan yang mencapai target HbA1c di bawah 7% lebih banyak berasal dari kelompok injeksi liraglutide 3,0 mg dan 1,8 mg dibandingkan dengan kelompok kontrol. Selain itu, kelompok injeksi liraglutide 3,0 mg dan 1,8 mg memiliki rata-rata penurunan berat badan yang lebih banyak dibandingkan dengan kelompok kontrol, yakni 6,0% (6,4 kg), 4,7% (5.0 kg), dan 2% (2,2 kg).[6]

Hasil penelitian di atas selaras dengan hasil meta analisis terhadap 25 uji kontrol terkendali yang melibatkan lebih dari 6.000 partisipan. Dari 25 uji kontrol terkendali tersebut, 3 di antaranya menguji efek injeksi GLP-1 agonist (liraglutide atau exenatide) terhadap penurunan berat badan pada partisipan obesitas tanpa diabetes mellitus dan uji kontrol terkendali lainnya menguji efek injeksi GLP-1 agonist (liraglutide atau exenatide) terhadap penurunan berat badan pada partisipan obesitas dengan diabetes mellitus tipe 2. Hasil meta analisis menyatakan bahwa injeksi liraglutide atau exenatide memicu penurunan berat badan pada pasien obesitas dengan diabetes mellitus tipe 2 dan juga pada pasien obesitas yang tidak menderita diabetes mellitus tipe 2. Selain itu injeksi liraglutide dengan dosis paling tinggi (3 mg/hari) juga mampu mengurangi kadar HbA1c lebih banyak jika dibandingkan dengan kelompok kontrol.[7]

Efek Liraglutide bagi Pasien Obesitas Nondiabetik

Uji kontrol terkendali terhadap 564 pasien obesitas nondiabetik dengan IMT30-40 kg/m2 menunjukkan bahwa injeksi liraglutide memicu penurunan berat badan yang lebih banyak dibandingkan dengan kelompok yang mengkonsumsi orlistat atau kelompok kontrol (yang mengkonsumsi plasebo). Efek samping berupa mual dan muntah ditemukan lebih banyak pada kelompok injeksi liraglutide 3,0 mg/hari. Efek samping tersebut dapat ditoleransi dan tidak menyebabkan penghentian injeksi liraglutide sebelum 20 minggu (masa uji kontrol terkendali).[8]

Perbandingan Liraglutide dengan Obat Penurun Berat Badan Lainnya

Saat ini terdapat empat jenis obat penurun berat badan selain liraglutide yang sudah dinyatakan aman oleh FDA dan dapat digunakan untuk jangka panjang yakni orlistat, lorcaserin dan kombinasi phentermine/topiramate atau kombinasi naltrexone/bupropion dengan dosis yang tetap (fixed-dose combination). Studi meta analisis terhadap lima obat penurun berat badan tersebut menunjukkan bahwa injeksi liraglutide memiliki kemampuan yang lebih baik untuk mencapai penurunan berat badan sebanyak 5% dalam setahun pertama jika dibandingkan dengan lorcaserin atau orlistat. Kemampuan yang dimiliki injeksi liraglutide dalam menurunkan berat badan setara dengan kombinasi naltrexone/bupropion dan sedikit lebih rendah jika dibandingkan dengan kombinasi phentermine/topiramate.[9]  

Jika dibandingkan dengan obat penurun berat badan lainnya, harga liraglutide (yang saat ini belum tersedia dalam bentuk generik) di pasaran jauh lebih mahal. Liraglutide juga hanya tersedia dalam bentuk injeksi sehingga administrasinya lebih sulit jika dibandingkan dengan obat penurun berat badan lainnya yang dikonsumsi per oral. Selain itu, administrasi liraglutide harus dilakukan dengan dosis yang bertahap, yakni 1x sehari sebanyak 0,6 mg selama 1 minggu, kemudian ditingkatkan menjadi 1,2 mg/hari (1 kali injeksi) selama 1 minggu, kemudian ditingkatkan menjadi 1,8 mg/hari (1 kali injeksi). Dosis maksimal dari Victoza adalah 1,8 mg/ hari sedangkan dosis maksimal dari Saxenda adalah 3 mg/hari (yang harus dicapai secara bertahap dalam kurun waktu 5 minggu).[5]

Kesimpulan

Obat antidiabetes liraglutide, golongan GLP-1 agonist, memiliki kemampuan yang baik dalam menurunkan kadar HbA1c pada penderita diabetes mellitus tipe 2 sekaligus memicu penurunan berat badan pada pasien obesitas, baik yang menderita diabetes mellitus tipe 2 maupun yang tidak menderita diabetes mellitus tipe 2. Obat ini sudah dinyatakan aman oleh FDA untuk menanggulangi diabetes mellitus tipe 2 dan obesitas. Liraglutide hanya tersedia dalam bentuk injeksi dan belum tersedia versi generiknya. Tidak ada perbedaan dosis penggunaan liraglutide pada pasien obesitas dengan diabetes mellitus tipe 2 maupun pasien obesitas nondiabetik.

Efek samping yang paling umum dari injeksi liraglutide adalah mual, muntah, pusing, diare, nyeri kepala, dispepsia, fatigue, konstipasi, dan hipoglikemia. Alasan yang paling umum dari penghentian penggunaan liraglutide adalah gangguan gastrointestinal. Keputusan untuk meresepkan liraglutide pada pasien obesitas harus mempertimbangkan seluruh aspek termasuk risk versus benefit, perjalanan penyakit pasien, faktor komorbiditas dari pasien obesitas dan kemampuan ekonomi pasien.

Referensi