Kontraindikasi dan Peringatan Lopinavir
Kontraindikasi dan peringatan pada pemberian lopinavir terutama terkait dengan pemberian bersamaan obat yang bersifat dependen terhadap CYP3A. Selain itu, lopinavir juga memiliki interaksi dengan banyak obat sehingga penggunaan bersama obat lain harus dilakukan secara hati-hati.[3,11]
Kontraindikasi
Di pasaran, lopinavir hanya tersedia dalam bentuk kombinasi dengan ritonavir. Lopinavir/ritonavir dikontraindikasikan pada pasien yang diketahui memiliki hipersensitivitas terhadap lopinavir, ritonavir, atau komponen dari sediaan obat lopinavir.
Lopinavir/ritonavir juga dikontraindikasikan pada penggunaan obat yang dependen terhadap CYP3A, dan obat yang dapat mengakibatkan efek samping serius atau mengancam jiwa jika kadar plasmanya meningkat. Jenis obat lain yang menjadi kontraindikasi pemberian lopinavir/ritonavir adalah obat-obatan yang dapat menurunkan konsentrasi plasma lopinavir secara signifikan dan berpotensi menimbulkan penurunan respons virologis serta kemungkinan resistensi.
Beberapa obat yang menjadi kontraindikasi pemberian lopinavir adalah alfuzosin, dronedarone, kolkisin, rifampicin, lurasidone, pimozide, dihidroergotamin, ergotamin, metilergonovin, cisapride, elbasvir/grazoprevir, hypericum perforatum, lovastatin, simvastatin, sildenafil (penggunaan untuk hipertensi arteri pulmonal), dan triazolam.[3,11]
Tabel 1. Obat yang Kontraindikasi Diberikan Bersama Lopinavir
| Kelas Obat | Nama Obat |
| Alpha1-adrenoreceptor antagonist | Alfuzosin hcl |
| Antiangina | Ranolazine |
| Antiaritmia | Dronadrone |
| Antibiotik | Asam fusidat |
| Antikanker | Apalutamide, neratinib |
| Antigout | Kolkisin pada pasien dengan gangguan ginjal atau hepar |
| Antihistamin | Astemizole, terfenadine |
| Antipsikotik | Blonanserin, lurasidone, pimozide |
| Benzodiazepin | Midazolam, triazolam |
| Derivat ergot | Ergotamine, dihydroergotamine, ergonovine, methylergonovine |
| Agen motilitas gastrointestinal | Cisapride |
| Produk herbal | St. John’s wort |
| Statin | Lovastatin, simvastatin |
| Microsomal triglyceride transfer protein (MTTP) inhibitor | Lomitapide |
| Long-acting beta-adrenoceptor agonist | Salmeterol |
| Neuroleptik | Pimozide |
| PDE5 enzyme inhibitor | Sildenafil jika digunakan untuk terapi hipertensi pulmonal |
Sumber: dr. Bedry Qintha, Alomedika, 2026.[11]
Peringatan
Penggunaan lopinavir/ritonavir dapat mengakibatkan kematian akibat pankreatitis. Pasien yang mengalami peningkatan kadar trigliserida secara signifikan setelah pemberian lopinavir/ritonavir memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami pankreatitis. Walaupun demikian, tidak semua pasien dengan pankreatitis mengalami peningkatan trigliserida.
Pasien dengan hepatitis B atau hepatitis C dengan peningkatan transaminase serum dapat mengalami dekompensasi akibat penggunaan lopinavir/ritonavir.
Penggunaan lopinavir/ritonavir pada pasien dengan risiko pemanjangan interval QT harus dihindari. Penggunaan lopinavir/ritonavir pada pasien dengan gangguan struktur jantung, abnormalitas sistemik, penyakit jantung iskemik, atau kardiomiopati harus dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari morbiditas dan mortalitas terkait pemanjangan PR interval dan gangguan konduksi jantung.
Sebagai inhibitor kuat enzim CYP3A, lopinavir/ritonavir dapat meningkatkan kadar plasma berbagai obat yang dimetabolisme melalui jalur tersebut sehingga meningkatkan risiko toksisitas yang serius atau bahkan mengancam jiwa. Sebaliknya, obat yang menginduksi atau menghambat CYP3A dapat mengubah kadar lopinavir/ritonavir, yang berpotensi menyebabkan kegagalan terapi dan perkembangan resistensi virus.
Selain itu, sediaan larutan oral mengandung alkohol dan propilen glikol dalam jumlah tinggi sehingga harus digunakan dengan sangat hati-hati pada neonatus, terutama bayi prematur, karena dapat menyebabkan toksisitas berat. Terapi juga dapat memicu immune reconstitution syndrome berupa respons inflamasi terhadap infeksi oportunistik laten atau gangguan autoimun.
Efek metabolik yang perlu dipantau meliputi redistribusi lemak tubuh (lipodistrofi), peningkatan kadar kolesterol dan trigliserida yang dapat meningkatkan risiko pankreatitis, serta kemungkinan peningkatan perdarahan pada pasien dengan hemofilia.[3,11]
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha