Red Flag Limfadenopati Servikal

Oleh :
dr. Audric Albertus

Red flag atau tanda bahaya limfadenopati servikal membantu dokter mengidentifikasi dan mendiagnosis kondisi medis yang memerlukan rujukan segera.

Area servikal memiliki 300 dari 800 nodus limfa yang ada di seluruh tubuh. Beberapa kasus neoplasma, seperti karsinoma sel skuamosa di traktus aerodigestif, dapat bermetastasis ke nodus limfa servikal dan bermanifestasi sebagai limfadenopati. Namun, limfadenopati servikal juga bisa disebabkan oleh infeksi, penyakit imunologi, dan obat-obatan.[1,2]

shutterstock_1287025357-min

Definisi dan Kemungkinan Penyebab Limfadenopati Servikal

Limfadenopati servikal merupakan perubahan ukuran >1 cm atau konsistensi dari satu atau lebih nodus pada daerah leher. Kebanyakan kasus limfadenopati servikal bersifat ringan, tetapi 4% kasus pada pasien yang berusia di atas 40 tahun ditemukan berkaitan dengan keganasan.[1,3]

Kemungkinan Etiologi

Beberapa kondisi medis dapat menyebabkan limfadenopati servikal, di antaranya:

Red Flag Limfadenopati Servikal

Penemuan red flag atau tanda bahaya dari limfadenopati servikal dapat membantu klinisi untuk mengevaluasi etiologi serius lebih lanjut. Berikut ini merupakan red flag limfadenopati servikal:

  • Limfadenopati servikal persisten > 6 minggu
  • Nodus limfa keras, bentuk irregular, seperti karet, dan tidak nyeri
  • Nodus limfa dengan ukuran > 2 cm
  • Peningkatan ukuran yang cepat
  • Nodus limfa terfiksir atau bergerombol (matted nodes)
  • Limfadenopati supraklavikular tanpa disertai limfadenopati general
  • Limfadenopati servikal yang disertai dengan gejala demam, keringat malam, menggigil, penurunan nafsu makan, dan penurunan berat badan yang tidak disengaja
  • Paparan HIV atau hepatitis

  • Paparan rokok, alkohol, dan radiasi ultraviolet
  • Benjolan pada payudara atau gejala yang mengindikasikan kanker bronkogenik
  • Limfadenopati generalisata[1,2,4-6]

Sekilas Tentang Manajemen Pasien dengan Red Flag Limfadenopati Servikal

Penemuan tanda bahaya pada pasien limfadenopati servikal perlu dievaluasi lebih lanjut untuk memastikan etiologi yang mendasari.

Anamnesis

Anamnesis yang baik pada pasien limfadenopati servikal dapat memandu pemeriksaan lanjutan yang diperlukan dan menyingkirkan diagnosis banding. Tanyakan awitan, ukuran, perubahan konsistensi atau ukuran, nyeri, mobilitas, dan adanya cairan yang keluar dari nodus limfa.

Salah satu etiologi limfadenopati servikal yang perlu diwaspadai adalah keganasan. Pasien limfadenopati servikal dengan keganasan umumnya memiliki awitan kronik, yaitu lebih dari 6 minggu, dan progresivitas ukuran nodus limfa yang cepat. Apabila pasien memiliki gejala lain pada anggota tubuh lain, seperti payudara, dan dada, maka metastasis nodus limfa servikal harus dipertimbangkan. Etiologi infeksi, seperti HIV dan hepatitis, juga harus dipertimbangkan apabila pasien memiliki paparan dan faktor risiko terhadap penyakit.[3,5,7]

Pemeriksaan Fisik

Pada pemeriksaan fisik, perhatikan kondisi umum pasien, apakah tampak sakit berat dan adakah demam. Lakukan palpasi ukuran, bentuk, dan konsistensi nodus limfa. Lanjutkan dengan pemeriksaan nodus limfa lainnya untuk mengidentifikasi limfadenopati generalisata.

Apabila limfadenopati servikal berhubungan dengan keganasan umumnya bentuk nodus limfa keras, ireguler, terfiksir, bergerombol, dan tidak nyeri. Penemuan pembesaran nodus limfa pada daerah supraklavikular tanpa limfadenopati generalisata, sering mengindikasikan keganasan primer pada abdomen atau dada.[3,5,7]

Pemeriksaan Penunjang

Apabila pasien memiliki red flag, maka evaluasi selanjutnya dilakukan sesuai dengan kecurigaan etiologi dasar. Pemeriksaan ultrasonografi pada anak di bawah 14 tahun dan CT scan pada pasien di atas 14 tahun disarankan dilakukan pada pasien dengan limfadenopati servikal.

Rontgen toraks dapat dilakukan pada pasien yang dicurigai mengalami keganasan pada paru. Biopsi aspirasi jarum halus (FNAB) dan jarum inti bisa dilakukan untuk menegakkan atau menyingkirkan keganasan.

Pada pasien limfadenopati servikal dengan kecurigaan ke arah HIV atau hepatitis, maka pemeriksaan serologi HIV, serologi hepatitis, dan fungsi hati harus dilakukan.[3,5,7]

Referensi