Manfaat dan Keamanan Antibiotik Topikal untuk Terapi Luka Ringan

Oleh dr. Michael Susanto

Penggunaan antibiotik topikal pada luka ringan hingga saat ini merupakan suatu tindakan yang masih diperdebatkan manfaat dan keamanannya oleh para ahli dan klinisi. Walau pemilihan untuk menggunakan antibiotik topikal pada akhirnya tergantung oleh kondisi pasien secara individual serta pengalaman klinisi yang merawat, secara umum literatur yang ada menyatakan bahwa penggunaan antibiotik topikal tidak begitu diperlukan.

Depositphotos_30932687_m-2015_compressed

Hingga saat ini tidak ada definisi khusus untuk suatu luka ringan. Suatu luka ringan dapat didefinisikan sebagai cedera pada kontinuitas kulit dengan kedalaman yang terbatas pada lapisan lemak subkutan yang tidak mempengaruhi struktur di bawahnya (otot, tulang, arteri utama, saraf, tendon), dan juga tanpa kehilangan jaringan yang signifikan. Contoh dari luka ringan termasuk luka lecet, laserasi (termasuk dari tindakan bedah), gigitan, dan luka bakar ringan.[1,2]

Tujuan utama dari manajemen luka pada luka ringan adalah untuk memfasilitasi penyembuhan tanpa komplikasi ataupun sekuele. Terdapat beberapa pedoman yang dapat diikuti dalam memberikan terapi luka ringan:

  • Terapi luka ringan secepatnya dengan prinsip asepsis dengan urutan tindakan: pembersihan, eksplorasi, insisi
  • Identifikasi luka yang perlu dijahit dan yang perlu terapi bertahap
  • Segera tutup luka baru yang bersih (di bawah 6 jam) dan tunda pada luka dengan kontaminasi dan / atau yang terjadi di atas 6 jam
  • Hindari infeksi lokal (abses) dan general (gas gangrene, tetanus)[1]

Luka perlu ditutup oleh dressing yang tepat dan perlu terus dijaga agar terus lembab dan tidak terinfeksi sehingga proses penyembuhan dapat selesai dengan cepat dan optimal. Untuk menghindari infeksi, antibiotik dapat diberikan dalam bentuk oral maupun topikal. Pemberian antibiotik pada luka tergantung oleh kondisi infeksi ataupun kontaminasi luka tersebut.[3,4]

Antibiotik Topikal vs Antiseptik

Hampir semua terapi luka ringan dapat dimulai dengan pembersihan luka. Hingga saat ini, pembersihan luka dengan antiseptik dan mechanical scrubbing merupakan tindakan yang umum dilakukan. Walau demikian, keamanan dan efektifitas antibiotik topikal dalam luka masih menjadi kontroversi.[3]

Penggunaan antiseptik topikal dinilai memiliki keunggulan dari pada antibiotik topikal oleh karena tidak dapat menyebabkan resistensi ataupun reaksi alergi, serta juga memiliki spektrum yang lebih luas terhadap kuman.[5]

Sekitar 50% pemberian antibiotik pada pasien merupakan pemberian yang tidak diperlukan. Resistensi mupirocin telah meningkat sebanyak 60% pada bermacam tempat. Penelitian yang dilakukan menemukan peningkatan resistensi mupirocin sebanyak 20% setelah 9 tahun sebagai obat beli bebas. Pada saat obat hanya dapat dibeli oleh resep dokter, resistensi terlihat menurun hingga 8%. Pada suatu rumah sakit, resistensi terhadap mupirocin juga terlihat meningkat dari <3% hingga 65% dalam waktu 4 tahun pada saat obat tersebut digunakan untuk mengkontrol MRSA.[3,6,7]

Antibiotik topikal juga menyebabkan risiko reaksi alergi yang lebih tinggi dibandingkan antiseptik. Salah satu reaksi alergi yang dilaporkan adalah terhadap neomycin. Reaksi alergi neomycin dapat terjadi pada 13% pasien dibandingkan iodine yang hanya memiliki tingkat alergi <1%. Penggunaan neomycin secara berlebihan juga dinilai memiliki peran dalam menyebabkan resistensi.[5]

Penggunaan utama antibiotik topikal adalah untuk infeksi pada kulit. Walau demikian, tidak semua infeksi kulit membutuhkan antibiotik topikal. Antibiotik untuk infeksi kulit diindikasikan untuk impetigo atau eksim yang terinfeksi pada lokasi yang kecil dan terisolasi, dengan ukuran di bawah 5 cm2 (dapat disesuaikan dengan kasus infeksi pada luka ringan). Pada ukuran yang lebih besar, disarankan untuk menggunakan antibiotik oral. Terdapat juga saran yang hanya membenarkan pemberian antibiotik topikal hanya pada luka yang telah terkontaminasi secara klinis.[7,8]

WHO tidak menyarankan penggunaan antibiotik topikal ataupun pencucian luka dengan solusi antibiotik. Luka ringan pada umumnya sebaiknya hanya diirigasi oleh antiseptik dan dilakukan mechanical scrubbing sebelum diterapi lebih lanjut dalam upaya menurunkan risiko infeksi. Luka terinfeksi dan / atau terkontaminasi sebaiknya diberikan terapi antibiotik oral sebagai terapinya. American Academy of Dermatology juga menyarankan untuk tidak secara rutin menggunakan antibiotik topikal pada luka bedah oleh karena penurunan risiko infeksi dinilai sangat kecil dan terdapat risiko resistensi bakteri.[4,9]

Manfaat Penggunaan Antibiotik Topikal

Walau antibiotik topikal sering kali tidak disarankan untuk terapi luka ringan, penggunaannya tetap memiliki manfaat. Sebuah meta analisis yang menilai kegunaan antibiotik topikal dalam profilaksis luka yang dijahit menyatakan bahwa penggunaan antibiotik topikal kemungkinan dapat menurunkan tingkat infeksi dibandingkan luka yang hanya dibersihkan dengan antiseptik saja (moderate quality evidence). Walau demikian, studi tersebut tidak menilai efek samping alergi yang dapat terjadi, peran kegunaan antibotik topikal tersebut dalam menaikkan resistensi antibiotik, dan perbedaan hasil dalam penggunaan antibiotik topikal yang berbeda.[10]

Terdapat juga penelitian yang menyatakan penggunaan triple antibiotic ointment (TAO) yang terdiri dari neomycin, bacitracin, dan polymyxin memberikan proteksi spektrum luas untuk luka lecet tanpa absorpsi sistemik dan toksisitas, serta juga tidak menimbulkan bakteri yang resisten. Apabila antibiotik di kulit tidak digunakan terus menerus secara berulang, risiko untuk terjadinya alergi juga tidak terlalu tinggi.[3]

Salep antibiotik juga dapat digunakan untuk menurunkan jumlah terbentuknya crust serta koagulum yang dapat terbentuk pada saat luka. Pada kasus tersebut, luka dapat dicuci dengan sering dan diolesi ointment antibiotik pada hari-hari pertama. Salep juga dapat digunakan supaya dressing tidak menempel pada luka. Walau demikian, terdapat juga studi-studi yang menyatakan bahwa penggunaan salep antiseptic sama efektifnya dalam menurunkan risiko infeksi tanpa kemungkinan terjadinya resistensi dan dermatitis kontak alergi.[3,11]

Kesimpulan

  • Luka ringan sebaiknya diberikan terapi secepatnya secara asepsis dengan urutan tindakan: pembersihan, eksplorasi, insisi
  • Penggunaan antibiotik topikal pada luka ringan pada umumnya tidak dianjurkan oleh karena risiko terjadinya resistensi bakteri dan reaksi alergi
  • Irigasi dan mechanical scrubbing dengan cairan antiseptik dinilai lebih baik dari pada memberikan antibiotik topikal dalam mencegah infeksi dalam terapi luka ringan
  • Penggunaan antibiotik topikal pada luka yang dijahit dapat sedikit menurunkan risiko infeksi. Walau demikian, keamanan penggunaannya masih memerlukan penelitian terkait efek samping alergi dan risiko resistensi bakteri
  • Salep antibiotik dapat digunakan agar luka tidak kering, namun dapat digantikan oleh salep antiseptik tanpa adanya peningkatan risiko infeksi yang signifikan

Referensi