Fakta Medis terkait Resistensi Antibiotik

Oleh :
dr. Tanessa Audrey Wihardji

Saat ini resistensi antibiotik merupakan krisis kesehatan yang sedang dihadapi secara global namun masih terdapat mitos-mitos yang perlu dibedakan dari fakta medis terkait resistensi antibiotik ini.

Bakteria resisten sudah muncul dan berkembang bahkan menyebar di seluruh dunia dan menurunkan keefektifitasan antibiotik secara signifikan, di mana sebelumnya antibiotik merupakan sebuah lonjakan besar dalam dunia kesehatan dan telah menyelamatkan banyak nyawa. Resistensi terhadap antibiotik begitu mencemaskan hingga banyak disebut sebagai akhir dari pengobatan modern. [1]

Krisis resistensi antibiotik disebabkan oleh penggunaan antibiotik yang salah dan berlebihan, diperparah dengan ketidaktersediaannya obat antibiotik jenis baru. Resistensi antibiotik dapat terjadi pada siapapun, usia berapapun, dan dimanapun. Namun, resistensi antibiotik pada anak dan orang tua membutuhkan perhatian khusus karena diusia inilah antibiotik paling banyak digunakan. [2]

Sumber: freebieshutterb, Freedigitalphotos, 2016. Sumber: freebieshutterb, Freedigitalphotos, 2016.

Bagaimana resistensi antibiotik dapat terjadi?

Resistensi antibiotik adalah sebuah proses normal seleksi alam, namun penggunaan yang salah dan berlebihan pada manusia dan hewan mempercepat proses seleksi alam tersebut. Pada bakteria, gen dapat diturunkan dari relatif  atau didapatkan dari nonrelatif yang berasal dari bagian tubuh bakteria tersebut yang mengandung gen, misalnya plasmid (transfer gen horizontal). Trasnfer gen horizontal ini dapat membagikan gen mutasi resisten melintasi spesies bakteria lain. Resistensi juga dapat terjadi melalui mutasi, kemampuan bakteria beradaptasi untuk bertahan hidup (seleksi alam). Dengan memberikan antibiotik, bakteria yang belum bermutasi dan flora normal dalam tubuh manusia akan mati, meninggalkan bakteri resisten tersebut untuk bebas berkembang. [2]

Penyebaran resistensi antibiotik didapat dari penggunaan antibiotik pada manusia dan hewan. Resistensi pada bakteri seperti Salmonella dan Campylobacter contohnya, disebabkan oleh karena penggunaan antibiotik  sebagai suplemen pertumbuhan dan pencegahan infeksi pada hewan ternak. Bakteri resisten tersebut masuk kedalam tubuh manusia lewat daging yang tidak dimasak matang dan lewat bahan makanan yang menggunakan pupuk berasal dari kotoran hewan resistensi bakteri tersebut. [3]

Penyebab Krisis Resistensi Antibiotik

Penggunaan antibiotik berlebihan (Overuse)

  • Regulasi antibiotik di Indonesia masih belum berjalan dnegan baik. Hasilnya adalah masyarakat dapat bebas membeli antibiotik tanpa resep dengan akses yang mudah, jumlah tidak terbatas, dan harga yang murah tanpa memperhatikan cara dan lama penggunaan antibiotik tersebut. Namun sejak tahun 2017 akhir ini pembelian antibiotik sudah mulai digalakkan oleh pemerintah harus menggunakan resep dokter. [2]

Peresepan antibiotik yang tidak tepat (Misuse)

  • Peresepan antibiotik yang tidak rasional berkontribusi besar dalam proses mempercepat terjadinya resistensi bakteria. Penelitian menunjukkan bahwa ketidaktepatan pemberian antibiotik menurut indikasi terapi, pemilihan jenis antibiotik, dan durasi pemberian antibiotik terjadi pada 30-50% kasus.  (2) Hasil penelitian dari studi Antimikrobial Resistance in Indonesia (AMRIN study) tahun 2000-2004 menunjukkan bahwa terapi antibiotik diberikan tanpa indikasi di RSUP dr. Kariadi Semarang sebanyak 20-53%, dan antibiotik profilaksis tanpa indikasi sebanyak 43-81%. [4]

  • Antibiotik yang diresepkan secara tidak rasional memberikan kesempatan pada bakteri untuk menjadi resisten dengan cara mengubah ekspresi genetik, transfer horizontal, dan mutagenesis. Dengan mengubah ekspresi genetiknya, bakteri meningkatkan virulensinya, sedangkan dengan transfer horizontal dan mutagenesis merupakan cara bakteri untuk mengembangkan kemampuan resistensinya dan menyebarkannya. [2]

Penggunaan antibiotik berlebihan pada agrikultural

  • Pada negara maju dan berkembang, antibiotik banyak digunakan pada hewan ternak sebagai suplemen pertumbuhan dan profilaksis terhadap infeksi. Penyebaran terjadi melalui sekuele berikut: antibiotik diberikan pada hewan ternak, flora normal dan bakteri tidak resisten mati – bakteria resisten transmisi ke manusia lewat makan hewan ternak tersebut – bakteri resisten masuk ke sistem pencernaan manusia, dan bisa menyebabkan infeksi. Selain itu penyebaran juga terjadi lewat mikrobiom lingkungan. [2] Sebanyak 90% antibiotik yang diberikan pada hewan ternak akan dieksresikan dalam urin atau feses, yang kemudian dijadikan pupuk. Perawatan tanaman juga membutuhkan pestisida agar tanaman tidak diserang hama, di Amerika Serikat pestisida yang diberikan adalah tetrasiklin dan streptomisin. [5]

Keterbatasan antibiotik jenis baru

  • Keterbatasan perkembangan antibiotik jenis baru oleh industri farmasi dinilai tidak menguntungkan secara ekonomik dan banyak masalah regulasi yang harus dihadapi. Banyak penelitian mengenai antibiotik dihentikan karena tidak cukupnya pendanaan. Antibiotik dinilai kurang menguntungkan dari segi ekonomi jika dibandingkan dengan produksi obat kronik seperti obat-obat diabetes, psikiatri, asma karena penggunaan antibiotik yang sifatnya sementara. [5]

Peraturan-peraturan yang menjadi hambatan

  • Masalah birokrasi, standar penelitian clinical trial yang berbeda masing-masing negara merupakan salah satu penghambat ditemukannya antibiotik jenis baru. Misalnya, FDA tidak mengijinkan membandingkan kelompok kontrol menggunakan plasebo karena dianggap tidak etis. [2]

Mitos Resistensi Antibiotik

  • Mitos: Resistensi antibiotik terjadi karena penggunaan antibiotik yang tidak tepat.

    • Mitos ini sangat terkenal di masyarakat. Resistensi terjadi karena meminum antibiotik dengan tidak teratur dan tuntas. Jadi asumsinya adalah jika kita meminum antibiotik dengan benar sesuai anjuran dokter tidak akan terjadi resistensi.
    • Fakta: Resistensi tetap dapat terjadi dengan meminum antibiotik yang sesuai indikasi (benar dosis, benar regimen, dan benar durasi) yang diresepkan oleh dokter serta ketaatan yang baik oleh pasien, karena resistensi terjadi secara natural, penggunaan antibiotik dengan tidak tepat hanya mempercepat proses resistensi tersebut. [1] Penelitian Guillemot dkk melaporkan bahwa penggunaan antibiotik selama 7 hari atau lebih bisa menyebabkan kemungkinan terjadinya resistensi penisilin S. Pneumoniae sebesar lebih dari 3 kali, namun jika dosis yang diberikan tidak cukup dan diberikan dalam jangka waktu yang panjang, reisko terjadi resistensi meningkat hingga 30 kali lipat. [6]

  • Mitos: Resistensi antibiotik terjadi pada individunya

    • Mitos bahwa resistensi antibitotik terjadi pada individu atau orangnya adalah pernyataan yang salah.
    • Fakta: Resistensi antibiotik terjadi pada bakteri yang ada pada individu tersebut. Yang mengalami mutasi sebagai bentuk cara bertahan hidup sehingga menyebabkan kekebalan terhadap antibiotik tertentu adalah bakteri yang ada pada tubuh manusia, baik bakteri flora normal yang menjadi penyakit atau bakteri patogen yang menyerang tubuh, bukan individunya yang resisten. [3]

  • Mitos: terapi antibiotik jangka panjang lebih menguntungkan dan mencegah terjadinya resistensi

    • Fakta: Pemberian antibiotik dengan durasi yang lebih pendek terbukti sama efektifnya dengan pemberian antibiotik dengan durasi lebih panjang. [7] Penelitian pada pneumonia komuniti terapi antibiotik sesuai protokol selama 3-5 hari sama efektiftasnya dengan pemberian 7-14 hari. Beberapa penyakit yang dapat diterapi dengan antibiotik durasi lebih pendek dengan tingkat efektifitasan yang sama: [7]

    • Pneumonia komuniti: durasi standar 7-10 hari, durasi pendek 3-5 hari

    • Pneumonia nosokomial: durasi standar 10-15 hari, durasi pendek kurang dari sama dengan 8 hari
    • Pielonefritis: durasi standar 10-14 hari, durasi pendek 5-7 hari
    • Infeksi intraabdominal: durasi standar 10 hari, durasi pendek 4 hari
    • Eksaserbasi akut PPOK: durasi standar lebih dari sama dengan 7 hari, durasi pendek kurang dari sama dengan 5 hari
    • Selulitis: durasi standar 10 hari, durasi pendek 5-6 hari
    • Osteomielitis kronis: durasi standar 84 hari, durasi pendek 42 hari
    • Sinusitis bakterial akut: durasi standar 10 hari, durasi pendek 5 hari

Dengan pemberian terapi durasi lebih singkat justru akan menurunkan kemungkinan bakteri tersebut resisten. Sesuai dengan prinsip fundamental dari seleksi alam (natural selection). [8]

Apa yang dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan profesional untuk mencegah terjadinya resistensi antibiotik?

  • Hanya meresepkan antibiotik jika ada indikasi atas penyakit pasien dan memiliki keuntungan lebih besar daripada resikonya. [3]

  • Meresepkan antibiotik yang spesifik pada target bakteri penyebab sakit pasien. [3]

  • Mengedukasi pasien untuk menggunakan antibiotik sesuai dengan instruksi dokter. [3]

  • Mengajak teman sejawat, kolega tenaga kesehatan lain, dan pasien untuk selalu menggunakan antibiotik dengan dosis tepat, pilihan antibiotik benar dan sesuai indikasi. [3]

  • Selalu mengevaluasi pengetahuan akan guideline terapi antibiotik yang terbaru, misalnya dengan mengikuti simposium atau seminar. [3]

  • Mendorong pasien terutama anak-anak untuk melakukan vaksinasi lengkap. [1]

  • Mempromosikan cara mencuci tangan yang benar, berhubungan seksual yang aman, dan pentingnya kebersihan makanan yang dikonsumsi. [1]

Referensi