Prognosis Burkitt Lymphoma
Prognosis Burkitt lymphoma dapat dinilai dengan international prognostic index (BL-IPI). Secara umum, pasien berusia lebih muda memiliki prognosis yang lebih baik. Potensi komplikasi mencakup tumor lysis syndrome (TLS), keterlibatan saraf pusat, dan risiko keganasan sekunder.[3,14]
Komplikasi
Salah satu komplikasi dari Burkitt lymphoma yang paling sering terjadi secara spontan sebelum dimulainya terapi adalah tumor lysis syndrome (TLS). Selain itu, komplikasi lain yang juga sering dijumpai adalah keterlibatan sistem saraf pusat.
Tumor Lysis Syndrome (TLS)
TLS merupakan kondisi yang terjadi Ketika sel tumor mengalami lisis secara massif sehingga terjadi pelepasan dan penumpukkan kalium, fosfat, dan asam nukleat dalam jumlah besar ke dalam sirkulasi sistemik. Pemecahan asam nukleat menjadi asam urat menyebabkan hiperurisemia dan peningkatan ekskresi asam urat di tubulus ginjal.
Kondisi ini mengakibatkan vasokonstriksi ginjal, gangguan autoregulasi, penurunan aliran darah ginjal, serta inflamasi, yang dapat berujung pada cedera ginjal akut atau acute kidney injury (AKI). Hiperfosfatemia yang menyebabkan deposisi kalsium-fosfat di tubulus ginjal juga memperparah terjadinya AKI.
Selain itu, efek pada jantung yaitu dapat menimbulkan aritmia. Hiperkalemia pada TLS juga berkaitan dengan terjadinya aritmia, sedangkan hipokalsemia dapat mengakibatkan spasme otot yang menimbulkan nyeri.[4]
Tabel 1. Kriteria Cairo-Bishop Untuk Diagnosis Tumor Lysis Syndrome (TLS)
| Definisi Biologis TLS | Definisi Klinis TLS |
| Asam urat >476 µmol/L atau peningkatan 25% dari baseline | Kreatinin >1,5x batas atas normal (usia >12 tahun) |
| Kalium >6 mmol/L atau peningkatan 25% dari baseline | Aritmia jantung atau henti jantung |
| Fosfat >1,45 mmol/L atau peningkatan 25% dari baseline | Kejang |
| Kalsium <1,75 mmol/L atau penurunan 25% dari baseline |
Sumber: dr. Siti Solichatul Makiyyah, Alomedika, 2025.[4]
Keterlibatan Sistem Saraf Pusat
Risiko keterlibatan safaf pusat pada kasus Burkitt lymphoma sangat tinggi, mencapai hingga 20% pasien pada saat diagnosis. Keterlibatan leptomeningeal lebih sering daripada parenkimal. Tanpa pemberian profilaksis, keterlibatan saraf pusat dilaporkan mencapai angka 30-50%.[1]
Komplikasi Jangka Pendek
Regimen terapi Burkitt lymphoma, berfokus pada pemberian agen dosis tinggi dengan durasi pendek untuk mencapai kadar obat yang sangat tinggi sehingga tidak mengakibatkan myelosupresi. Namun, terdapat dampak komplikasi jangka pendek pemakaian kemoterapi ini, termasuk sepsis, gagal multiorgan, TLS, perforasi lambung, hingga risiko kematian akibat toksisitas.[6]
Komplikasi Jangka Panjang
Pada pasien Burkitt lymphoma, komplikasi jangka panjang yang dilaporkan dalam penelitian meliputi risiko keganasan sekunder akibat pengobatan, leukemia akut, tumor padat, dan peningkatan risiko kematian.[6]
Prognosis
Prognosis Burkitt lymphoma bergantung pada kondisi stadium klinis dan histopatologis pasien. Secara umum, pasien berusia lebih muda memiliki prognosis yang lebih baik. Sebaliknya, pasien usia lanjut dan ras kulit hitam memiliki prognosis lebih buruk. International prognostic index (BL-IPI) dapat digunakan untuk menilai prognosis Burkitt lymphoma.[3,14]
Burkitt Lymphoma International Prognostic Index (BL-IPI)
Berdasarkan BL-IPI, kriteria prognostik pada Burkitt lymphoma meliputi usia ≥40 tahun, status performa pasen ≥2, LDH serum >3 kali batas normal atas, dan keterlibatan saraf pusat. Individu dikatakan memiliki risiko rendah jika tidak memiliki salah satu kriteria, risiko sedang jika memiliki satu kriteria, dan risiko tinggi jika memiliki ≥2 kriteria.
BL-IPI menilai estimasi 3-tahun progression-free survival (PSF) sebagai berikut:
- Pasien risiko rendah sebesar 92%
- Pasien risiko sedang sebesar 72%
- Pasien risiko tinggi sebesar 53%.
Sementara itu, estimasi kesintasan keseluruhan yaitu:
- Pasien risiko rendah sebesar 96%
- Pasien risiko sedang sebesar 76%
- Pasien risiko tinggi sebesar 59%.[14]
Prediktor Prognosis Lainnya
Selain itu, perubahan sitogenetik selain translokasi MYC, seperti delesi 13q, gain 7q, atau kelainan sitogenetik kompleks lainnya, dapat mengindikasikan prognosis yang lebih buruk. Adanya mutasi ganda pada ID3, CCND3, dan CN-LOH juga berkaitan dengan respons terapi yang rendah dan hasil klinis yang buruk.
Kondisi malnutrisi, terutama di negara berpendapatan rendah, meningkatkan risiko neutropenia akibat kemoterapi. Pada kondisi imunodefisiensi, nilai CD4 yang rendah merupakan penanda prognosis yang lebih buruk. Kekambuhan dalam enam bulan setelah terapi selesai juga menunjukkan prognosis yang buruk karena keterbatasan pilihan terapi lini kedua untuk pasien dengan relaps.[3]