Epidemiologi Burkitt Lymphoma
Data epidemiologi menunjukkan bahwa angka kejadian Burkitt lymphoma bervariasi pada tiap wilayah bergantung pada kondisi faktor risiko seperti tingkat malaria, infeksi virus Epstein-Barr (EBV), dan angka kejadian HIV. Studi epidemiologi komprehensif melaporkan insidensi di Uganda, Swiss, dan Estonia mencapai >4 kasus per satu juta penduduk.[7]
Global
Studi epidemiologi melaporkan bahwa insidensi Burkitt lymphoma di Uganda, Swiss, dan Estonia termasuk tinggi, yakni lebih dari 4 kasus per satu juta penduduk. Di negara lain di Eropa, Amerika Utara, dan Oseania, insidensi Burkitt lymphoma termasuk sedang, yakni berkisar 2-3,9 kasus per satu juta penduduk.
Insidensi Burkitt lymphoma di Asia sendiri dilaporkan termasuk rendah, yakni <2 kasus per satu juta penduduk. Lebih lanjut, angka kejadian Burkitt lymphoma dilaporkan 2 kali lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan perempuan, serta menunjukkan pola bimodal dengan puncak di kelompok usia anak dan lansia.[7]
Indonesia
Limfoma non-Hodgkin (NHL) menempati urutan ke-7 kanker terbanyak di Indonesia, dengan insidensi kasus baru mencapai 3,7-4,1% pada tahun 2020 berdasarkan data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN). Sementara itu, data epidemiologi Burkitt lymphoma di Indonesia belum tersedia.[8]
Mortalitas
Mortalitas pasien Burkitt lymphoma dilaporkan berbeda, tergantung pada kondisi daerah dan fasilitas kesehatan yang ada. Pasien di negara maju atau high-income countries (HICs) umumnya didiagnosis dan diterapi lebih dini, sehingga mortalitas lebih rendah. Sementara itu, di negara berkembang atau low-middle income countries (LMICs), pasien sering terlambat didiagnosis dan diobati dengan regimen yang kurang efektif.
Berdasarkan data US Surveillance Epidemiology End Results (SEER), angka mortalitas Burkitt lymphoma 5 tahun setelah didiagnosis adalah 25% pada usia 0-19 tahun, 50% pada usia 20-59 tahun, dan 75% pada usia ≥60 tahun. Usia lebih tua dan etnis kulit hitam berhubungan dengan mortalitas yang lebih tinggi.
Di lain pihak, data mortalitas di negara berkembang dilaporkan berbeda-beda. Data di Zimbabwe, Uganda, Kenya, dan pantai Gading melaporkan bahwa tingkat kesintasan 3 tahun Burkitt lymphoma sebesar 41%.[6]