Edukasi dan Promosi Kesehatan Burkitt Lymphoma
Edukasi pasien Burkitt lymphoma perlu menekankan pentingnya kepatuhan terhadap regimen kemoterapi dan jadwal kontrol. Sementara itu, promosi kesehatan berfokus pada pencegahan infeksi melalui kebersihan yang baik, penghindaran paparan infeksi selama periode imunosupresi, serta komunikasi aktif antara pasien dan tim medis untuk mendukung keberhasilan terapi.[3,4,12]
Edukasi Pasien
Pasien dan keluarga perlu memahami tujuan terapi Burkitt lymphoma, urgensi memulai dan menyelesaikan seluruh rangkaian kemoterapi sesuai jadwal, serta potensi efek samping yang dapat muncul, termasuk risiko infeksi, perdarahan, dan gangguan fungsi organ. Jelaskan bahwa Burkitt lymphoma merupakan keganasan yang agresif dan kemoterapi harus dimulai secepat mungkin.
Selain itu, jelaskan pula tanda bahaya pada Burkitt lymphoma, yang mencakup manifestasi klinis terjadinya tumor lysis syndrome atau neutropenia seperti demam, nyeri hebat, muntah persisten, penurunan kesadaran, atau penurunan jumlah urin. Jika terdapat tanda bahaya tersebut, maka pasien harus bisa mengenali dan segera mencari pertolongan medis.
Edukasi juga mencakup pentingnya kepatuhan terhadap pemantauan klinis dan laboratorium selama dan setelah terapi, mengingat tingginya risiko komplikasi dan relaps dini. Pasien dianjurkan untuk menjaga kebersihan diri, menghindari paparan sumber infeksi selama periode imunosupresi, serta mematuhi rekomendasi terkait aktivitas, nutrisi, dan penggunaan obat suportif yang diresepkan.[3,4,12]
Upaya Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
Upaya pencegahan dan pengendalian penyakit pada Burkitt lymphoma terutama difokuskan pada deteksi dini dan pengendalian faktor risiko, karena hingga saat ini tidak tersedia strategi pencegahan primer yang spesifik.
Burkitt lymphoma memiliki keterkaitan dengan infeksi virus Epstein–Barr (EBV), kondisi imunosupresi seperti HIV, dan pada wilayah endemik dengan paparan malaria kronik. Oleh karena itu, pengendalian penyakit infeksi dan optimasi status imun dapat menurunkan risiko kejadian Burkitt lymphoma dan memperbaiki luaran klinis. Hal ini mencakup terapi antiretroviral adekuat pada pasien HIV, serta pengendalian malaria.[3,4,12]
Penelitian di daerah endemis Afrika sub-Sahara menunjukkan bahwa intervensi terkait malaria, seperti distribusi kelambu insektisida, terbukti berkaitan dengan penurunan signifikan kasus Burkitt lymphoma. Untuk EBV sendiri, saat ini belum ada vaksin yang disetujui penggunaannya untuk pencegahan infeksi EBV.[3]