Pendahuluan Burkitt Lymphoma
Burkitt lymphoma adalah kanker sel B matur yang tumbuh cepat dan agresif, yang merupakan jenis dari limfoma non-Hodgkin. Kanker ini mengenai sistem limfatik, lebih spesifiknya adalah limfosit B. Nama Burkitt diambil dari ahli bedah, Denis Parson Burkitt, yang mendeskripsikan kasus tumor rahang sangat progresif pada anak di tahun 1958, yang kemudian diidentifikasi sebagai sebuah limfoma.[1]
Secara klinis, Burkitt lymphoma digambarkan sebagai suatu tumor dengan pertumbuhan cepat, yang paling banyak mengenai rahang, perut, atau sistem saraf pusat. Burkitt lymphoma sering dikaitkan dengan virus Epstein-Barr (EBV), human immunodeficiency virus (HIV), dan translokasi kromosomal onkogen MYC.[2,3]
Sistem klasifikasi baru oleh WHO mengklasifikasikan Burkitt lymphoma berdasarkan status infeksinya, yaitu BL EBV+ dan BL EBV-. Klasifikasi ini didasarkan pada hasil penelitian molekuler yang menunjukkan perbedaan genetik dan molekuler yang khas, tanpa tergantung lokasi geografis dan kondisi epidemiologis.[2]
Kriteria diagnosis esensial dari Burkitt lymphoma mencakup gambaran morfologi khas dengan sel neoplastik CD20+, CD10+, tidak adanya atau ekspresi lemah dari BCL2, indeks Ki-67>95%, ditemukannya ekspresi MYC kuat pada >80% sel, serta bukti kerusakan gen MYC atau translokasi IG::MYC, atau kombinasi ekspresi MYC dan translokasinya.[4,5]
Sementara itu, kriteria tambahan meliputi pola starry sky, pola pertumbuhan kohesif, BCL6 positif, TdT negatif, CD38 positif, serta tidak ditemukannya rearrangement BCL2 dan BCL6, yang penting untuk mengeksklusikan kasus Burkitt lymphoma pada orang dewasa.[4,5]
Terapi utama Burkitt lymphoma adalah kemoterapi. Radioterapi dan terapi bedah kurang bermanfaat dalam manajemen kasus Burkitt lymphoma. Kemoterapi idealnya dimulai 48 jam setelah diagnosis ditegakkan.
Kemoterapi umumnya menggunakan lebih dari satu agen. Beberapa pilihan agen kemoterapi untuk Burkitt lymphoma adalah rituximab ditambah dengan siklofosfamid, doxorubicin, vincristine, methotrexate, ifosfamide, cytarabine, dan etoposide (CODOX-M/IVAC). Kemoterapi diberikan menggunakan dosis tinggi dengan durasi pendek.[1]
