Diagnosis Toxic Nodular Goiter
Diagnosis toxic nodular goiter (TNG) atau Plummer disease ditegakkan berdasarkan gejala hipertiroidisme progresif dengan riwayat gondok multinodular lama tanpa oftalmopati seperti yang ditemukan pada Grave’s disease. Pemeriksaan fisik menunjukkan adanya tiroid multinodular.
Pemeriksaan penunjang menunjukkan thyroid stimulating hormone (TSH) tersupresi dengan peningkatan free thyroxine (FT4) atau free triiodothyronine (FT3), antibodi tiroid negatif, serta pola radioactive iodine uptake fokal atau multifokal meningkat dengan supresi jaringan sekitarnya.[1,7,8,11,29]
Anamnesis
Pasien akan menunjukkan gejala hipertiroidisme yang berkembang perlahan, seperti palpitasi, tremor, intoleransi panas, keringat berlebih, mudah lelah, serta penurunan berat badan meskipun nafsu makan meningkat. Berbeda dengan hipertiroidisme autoimun, keluhan oftalmopati dan dermopati khas Graves’ disease tidak ditemukan.
Pada pasien lansia, manifestasi kardiovaskular, terutama fibrilasi atrium atau perburukan penyakit jantung sebelumnya, sering menjadi keluhan utama. Pada fase lanjut, pasien juga bisa mengalami gagal jantung dan kardiomiopati.[1,7,11]
Riwayat gondok multinodular yang telah berlangsung lama dan pembesaran leher yang progresif perlu digali, termasuk keluhan lokal akibat efek massa seperti rasa penuh di leher, disfagia, atau sesak napas. Pasien biasanya berusia lanjut dan dapat memiliki riwayat paparan iodium berlebih, seperti penggunaan media kontras atau obat mengandung iodium, yang memicu perburukan gejala hipertiroidisme (fenomena Jod-Basedow).[1,8,11]
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang dilakukan pada lokal daerah tiroid menggunakan inspeksi, palpasi dan auskultasi serta pemeriksaan sistemik.[1,7,11,23]
Pemeriksaan Tiroid
Pada inspeksi leher, pasien dengan toxic nodular goiter menunjukkan pembesaran kelenjar tiroid dengan permukaan tidak rata, bersifat asimetris atau multinodular, yang bergerak saat proses menelan. Pada palpasi, ditemukan satu atau lebih nodul tiroid dengan ukuran bervariasi, konsistensi lunak hingga kenyal, batas relatif jelas, dan umumnya tidak nyeri tekan.
Tidak dijumpai tanda oftalmopati maupun dermopati tiroid, yang membedakan dari hipertiroidisme autoimun seperti Graves’ Disease. Pada sebagian kasus, terutama dengan peningkatan aliran darah intratiroid, auskultasi dapat menunjukkan bruit tiroid, meskipun temuan ini tidak selalu konsisten pada seluruh pasien toxic nodular goiter.[1,7,11,23]
Pemeriksaan Sistemik Lain
Pemeriksaan sistemik mencerminkan manifestasi hipertiroidisme akibat sekresi hormon tiroid berlebih, meliputi takikardia sinus atau aritmia supraventrikular, tremor halus ekstremitas, kulit hangat dan lembap, serta penurunan berat badan dan kelemahan otot proksimal. Refleks tendon dalam dapat berada dalam batas normal hingga hiperaktif.
Evaluasi sistem kardiovaskular menjadi komponen penting pemeriksaan fisik mengingat tingginya risiko komplikasi jantung, khususnya pada pasien usia lanjut dan dengan komorbid kardiovaskular.[1,7,11]
Diagnosis Banding
Diagnosis banding meliputi Graves’ disease, toxic thyroid adenoma, dan tiroiditis.[1,7,11]
Graves’ Disease
Graves’ disease merupakan penyebab tersering hipertiroidisme autoimun, yang ditandai oleh produksi antibodi terhadap TSH receptor antibody (TRAb) yang menstimulasi kelenjar tiroid secara terus-menerus. Pasien umumnya mengeluhkan gejala hipertiroidisme berupa palpitasi, intoleransi panas, penurunan berat badan, tremor, mudah lelah, dan perubahan emosi.
Manifestasi khas Graves’ disease adalah keterlibatan ekstratiroid, terutama oftalmopati Graves, yang ditandai proptosis, diplopia, retraksi kelopak mata, dan edema periorbital. Pada pemeriksaan fisik, kelenjar tiroid biasanya membesar difus, konsistensi lunak hingga kenyal, hangat, dan dapat disertai bruit vaskular.
Pemeriksaan penunjang menunjukkan TSH tertekan dengan peningkatan FT4 (Free Thyroxine) atau FT3 (Free Triiodothyronine). Pemeriksaan radioactive iodine uptake memperlihatkan peningkatan difus, yang membedakan Graves’ disease dari tiroiditis dan hipertiroidisme nodular.[24,25]
Toxic Thyroid Adenoma
Toxic thyroid adenoma adalah nodul tiroid jinak soliter yang berfungsi autonom dan menyebabkan hipertiroidisme melalui mekanisme yang serupa dengan toxic nodular goiter. Perbedaannya dengan toxic nodular goiter terletak pada keterlibatan nodul tunggal, bukan multinodular.
Keluhan pasien sama dengan toxic nodular goiter, tetapi nodul pada pemeriksaan fisik bersifat soliter. Pemeriksaan penunjang menunjukkan TSH tersupresi dengan peningkatan hormon tiroid bebas, sementara skintigrafi tiroid memperlihatkan uptake fokal meningkat (hot nodule) dengan supresi jaringan tiroid di sekitarnya.[26,27]
Tiroiditis
Tiroiditis merupakan kelompok penyakit inflamasi kelenjar tiroid yang ditandai oleh pelepasan hormon tiroid akibat destruksi jaringan folikel, bukan akibat peningkatan sintesis hormon. Secara klinis, tiroiditis sering disertai nyeri tekan pada kelenjar tiroid, gejala inflamasi sistemik, serta dapat diikuti fase hipotiroid transien, yang tidak ditemukan pada toxic nodular goiter.
Pemeriksaan penunjang pada tiroiditis menunjukkan peningkatan Erythrocyte Sedimentation Rate (ESR) atau C-Reactive Protein (CRP), disertai Radioactive Iodine Uptake (RAIU) yang rendah, mencerminkan penurunan sintesis hormon.[28,29]
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan meliputi pemeriksaan darah, pemeriksaan radioaktif, pemeriksaan ultrasonografi, dan pemeriksaan histopatologi.[1,7,11,15,21,23]
Pemeriksaan Darah
Pemeriksaan darah menunjukkan pola hipertiroidisme dengan penurunan TSH disertai peningkatan FT4 atau FT3. Pemeriksaan antibodi tiroid, seperti thyroid-stimulating immunoglobulin (TSI) dan anti-thyroid peroxidase (anti-TPO), umumnya negatif atau dalam batas normal, sehingga membantu membedakan kondisi ini dari Graves’ disease yang bersifat autoimun.[1,7,11,15]
Pemeriksaan Radioaktif
Modalitas diagnostik utama pada toxic nodular goiter adalah radioactive iodine uptake (RAIU) dan skintigrafi tiroid, yang menunjukkan uptake fokal meningkat pada satu atau beberapa nodul autonom (hot nodules) dengan supresi aktivitas jaringan tiroid di sekitarnya.[1,7,11,15]
Pemeriksaan Ultrasonografi
Ultrasonografi (USG) tiroid digunakan untuk mengevaluasi jumlah, ukuran, dan morfologi nodul, serta struktur jaringan sekitarnya. Pada toxic nodular goiter, USG umumnya menunjukkan nodul solid multipel dengan vaskularisasi variabel. Pemeriksaan ini juga berperan dalam mengidentifikasi nodul non-fungsional dengan karakteristik mengarah pada keganasan, meskipun temuan USG tidak dapat menentukan status fungsional nodul.[11,12,23]
Pemeriksaan Histopatologi
Pemeriksaan histopatologi tidak dilakukan secara rutin pada nodul hipersekretorik karena risiko keganasan relatif rendah. Namun, biopsi aspirasi jarum halus dapat dipertimbangkan bila terdapat nodul dengan tanda klinis atau ultrasonografi yang mencurigakan. Temuan histopatologi pada toxic nodular goiter umumnya menunjukkan hiperplasia folikular nodular tanpa ciri khas autoimunitas.[11,20,21]