Epidemiologi Toxic Nodular Goiter
Menurut data epidemiologi, toxic nodular goiter (TNG) atau Plummer disease memiliki angka kejadian yang rendah, diperkirakan sekitar 1,5-18 kasus per 100.000 orang per tahun. Mortalitas terkait penyakit ini juga jarang ditemukan, yang mana mortalitas umumnya berkaitan dengan komplikasi hipertiroidisme yang berat dan kanker tiroid.[1,7,11,15,22]
Global
Secara global, hipertiroidisme merupakan gangguan endokrin yang sering dijumpai dengan spektrum etiologi yang luas. Dalam kelompok hipertiroidisme non-autoimun, toxic nodular goiter menempati posisi penting sebagai manifestasi akhir dari gondok multinodular kronik. Penyakit ini mencerminkan proses patologis jangka panjang yang ditandai oleh perubahan struktural dan molekuler kelenjar tiroid, sehingga lebih sering teridentifikasi pada fase lanjut.[1,11,16]
Laporan epidemiologi internasional menunjukkan bahwa insidensi toxic nodular goiter berkisar antara 1,5–18 kasus per 100.000 orang-tahun, dengan variasi antarwilayah yang dipengaruhi oleh karakteristik populasi dan faktor lingkungan. Meski kejadiannya lebih menonjol pada kelompok usia lanjut, toxic nodular goiter tetap merupakan penyebab hipertiroidisme yang bermakna di berbagai negara, termasuk wilayah dengan masalah kecukupan iodium.[1,11,15,16].
Indonesia
Data epidemiologi nasional toxic nodular goiter belum tersedia. Beberapa studi lokal hanya menyebutkan prevalensi gondok yang ada di Indonesia, sebagaimana dalam studi di Wonogiri, Jawa Tengah, dan di RSUD Dr. (H.C) Ir. Soekarno Bangka Belitung.[17,18]
Di Kecamatan Kismantoro, Wonogiri pada tahun 2020, dari 41 kasus goiter (50%), 38 pasien (57,6%) berusia >40 tahun, dan 11 pasien (84,6%) tidak mengonsumsi garam beriodium,. Sementara itu, pada penelitian di RSUD Dr. (H.C.) Ir. Soekarno Bangka Belitung, dari 83 pasien hipertiroid, dilaporkan bahwa 71 orang (85,5%) mengalami goiter.[17,18]
Dalam studi lain di RSU Negara pada tahun 2019, didapatkan ada 41 pasien dengan struma, di mana 25 pasien (61%) didiagnosis sebagai toxic nodular goiter. Mayoritas pasien adalah perempuan dan kelompok usia terbanyak berada pada 45–54 tahun.[19]
Mortalitas
Kematian pada toxic nodular goiter umumnya berkaitan dengan komplikasi hipertiroidisme berat, terutama thyroid storm dan gangguan kardiovaskular akibat keadaan hipermetabolik kronis. Toxic nodular goiter meningkatkan risiko fibrilasi atrium, gagal jantung, dan kardiomiopati.
Selain itu, toxic nodular goiter juga memiliki implikasi onkologi. Data retrospektif menunjukkan bahwa kanker tiroid ditemukan pada sekitar 18–21% pasien toxic nodular goiter yang menjalani tiroidektomi. Subtipe yang paling sering dijumpai adalah karsinoma papiler dan varian folikular.[1,20-22]