Pendahuluan Toxic Nodular Goiter
Toxic nodular goiter (TNG) atau Plummer disease merupakan suatu bentuk hipertiroidisme yang ditandai oleh keberadaan satu atau lebih nodul tiroid hiperfungsi. Pada fase lanjut, nodul tiroid tersebut mampu mensekresikan hormon tiroid secara autonom dan tidak lagi berada di bawah regulasi fisiologis thyroid-stimulating hormone (TSH).
Toxic nodular goiter umumnya berkembang dari gondok multinodular non-toksik yang telah berlangsung lama. Toxic nodular goiter merupakan salah satu penyebab utama hipertiroidisme non-autoimun, terutama pada populasi usia lanjut.[1,2]
Secara etiopatofisiologi, toxic nodular goiter berawal dari stimulasi TSH kronis, yang sering berkaitan dengan defisiensi iodium, sehingga memicu hiperplasia folikular berulang dan pembentukan nodul tiroid. Dalam perjalanan penyakit, sebagian nodul mengalami mutasi somatik, terutama pada gen reseptor TSH atau jalur transduksi sinyal intraseluler yang menyebabkan aktivasi autonom produksi hormon tiroid.[3-6]
Nodul yang telah mengalami transformasi ini menjadi tidak lagi bergantung pada stimulasi TSH dan mampu menghasilkan hormon tiroid secara berlebihan. Peningkatan kadar hormon tiroid selanjutnya menekan sekresi TSH hipofisis, sehingga jaringan tiroid normal di sekitarnya terinhibisi, sementara nodul autonom tetap aktif dan menjadi sumber utama hipertiroidisme.[1–3].
Diagnosis toxic nodular goiter ditegakkan melalui korelasi antara temuan klinis dan pemeriksaan penunjang. Anamnesis berfokus pada gejala hipertiroidisme yang berkembang perlahan, riwayat gondok multinodular jangka panjang, serta faktor risiko seperti usia lanjut dan defisiensi iodium. Pada pemeriksaan fisik umumnya ditemukan pembesaran kelenjar tiroid dengan permukaan nodular disertai tanda hipermetabolik, tanpa adanya oftalmopati.[1,7–9]
Pemeriksaan laboratorium menunjukkan supresi TSH disertai peningkatan kadar triiodotironin (T3) atau tiroksin (T4). Ultrasonografi tiroid berperan dalam evaluasi morfologi, jumlah, dan karakteristik nodul, sedangkan pencitraan radionuklida merupakan pemeriksaan kunci yang memperlihatkan nodul hiperfungsi dengan supresi jaringan tiroid di sekitarnya.
Diagnosis banding utama meliputi Grave’s disease, toxic thyroid adenomas, dan tiroiditis. Diagnosis banding ini dapat dibedakan berdasarkan gambaran klinis, pemeriksaan antibodi tiroid, serta karakteristik uptake pada skintigrafi.[1,7–10]
Tata laksana toxic nodular goiter bertujuan mencapai kondisi eutiroid melalui terapi definitif, mengingat kondisi ini jarang mengalami remisi spontan. Radioactive iodine (RAI) merupakan pilihan terapi utama pada sebagian besar pasien dewasa.
Tindakan pembedahan berupa tiroidektomi subtotal atau total diindikasikan pada pasien dengan goiter multinodular berukuran besar atau substernal, adanya gejala kompresi, maupun kecurigaan keganasan. Obat antitiroid dan β-blocker berperan sebagai terapi simptomatik serta persiapan sebelum terapi definitif diberikan.[1,7,8,11]
