Penanganan Tersambar Petir dan Luka Bakar Listrik Lainnya

Oleh dr. Maria Rossyani

Penanganan luka pada luka bakar akibat tersambar petir atau cedera elektrik lainnya tidaklah berbeda dengan luka bakar termis namun dibutuhkan penanganan khusus yang akan dibahas pada artikel ini.

Beberapa tipe cedera elektrik secara umum dapat dibagi menjadi: (1) tersambar petir, (2) cedera akibat listrik tekanan tinggi (>1000 volts), dan (3) cedera akibat listrik tekanan rendah (<600 volts). [1]

Sumber: Hansueli Krapf, Wikimedia commons, 2009. Sumber: Hansueli Krapf, Wikimedia commons, 2009.

Table 1. Perbandingan antar cedera elektrik akibat sambaran petir, listrik voltase tinggi, dan listrik voltase rendah [2]

  Sambaran Petir Voltase Tinggi Voltase Rendah
Voltase (V) >30 x 106

>1000 <600
Arus (A) >200.000 <1000 <240
Durasi Instan Singkat Berkepanjangan
Tipe Aliran DC DC atau AC Sebagian besar AC
Serangan Jantung Asistol Fibrilasi ventrikel Fibrilasi ventrikel
Kontraksi Otot Tunggal Tunggal (DC); tetanik (AC) Tetanik
Luka Bakar Jarang terjadi, superfisial Sering terjadi, dalam Umumnya superfisial
Rhabdomiolisis Jarang Sangat umum Umum
Cedera Tumpul (Penyebab) Efek blast (gelombang shock) Akibat jatuh (kontraksi otot) Akibat jatuh (jarang)
Kemungkinan Mortalitas Akut Sangat tinggi Sedang Rendah

Secara klinis, terdapat empat kelas luka bakar elektrik: [1]

  • Pola cedera klasik terjadi ketika tubuh merupakan bagian dari sirkuit aliran listrik, sehingga umumnya terdapat jejas masuk dan keluar. Walaupun jejas yang ditemukan kecil, namun kerusakan yang terjadi di dalam tubuh dapat jauh melebih jejas yang ditemukan di luar.
  • Cedera flash atau arc terjadi ketika ada arus yang mengenai kulit namunt idak masuk ke dalam tubuh.
  • Cedera flame terjadi ketika pakaian korban terkena api karena keberadaan sumber elektrik.
  • Tersambar petir terjadi ketika ada aliran listrik DC berdurasi 1/10 hingga 1/1000 milidetik, namun memiliki voltase tinggi (>10.000.000 V)

Luka bakar akibat tersambar petir jarang terjadi. Di Indonesia tidak ada data yang pasti, namun di Amerika Serikat terdapat sekitar 300 kecelakaan dan 100 kematian akibat tersambar petir per tahun. Sekitar 30% dari korban  meninggal, sementara 74% korban tersambar yang selamat mengalami disabilitas permanen. Pasien yang tersambar petir umumnya meninggal dalam waktu 1 jam pertama (66% kasus) akibat aritmia fatal atau gagal napas. Panas yang dihasilkan dari sambaran petir mencapai hampir 30.000 C selama beberapa milidetik. [3]

Voltase di rumah tangga umumnya 110 V (Amerika Utara, Jepang) atau 220 V (Eropa dan Asia). Sementara itu sambaran petir memiliki voltase di atas 10.000.000 V. [3]

Mekanisme utama luka bakar akibat cedera elektrik adalah:

  • Luka langsung pada jaringan akibat cedera elektrik menyebabkan cedera pada jaringan
  • Konversi dari energi elektrik menjadi panas

    • Aliran listrik akan menghasilkan panas akibat friksi antar elektron akibat peningkatan suhu yang akan merusak jaringan, menghasilkan lubang pada membran sel (poration), dan nekrosis koagulasi.[1]

  • Trauma mekanik akibat trauma langsung dari kejadian saat terkena aliran listrik maupun akibat kontraksi otot berlebih. [4]

Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kerusakan jaringan. Pertama, cedera yang disebabkan di dalam tubuh akan bergantung dari voltase aliran listrik. Selain itu, efek terhadap jaringan bergantung organ yang dilewati aliran listrik. Terdapat variabilitas sifat konduksi dari organ-organ dalam tubuh. Kulit merupakan resistor utama aliran listrik dalam tubuh. Tulang, tendon, dan lemak memiliki resistensi yang tinggi sehingga cenderung mengalami koagulasi ketimbang mengalirkan listrik. Jaringan lain termasuk konduktor sedang. [5]

Keterlibatan organ

Secara umum, kerusakan jaringan akibat cedera elektrik dapat berakibat edema jaringan, sehingga menghasilkan sindrom kompartemen, terutama pada daerah kaki. Selain itu, seluruh cedera elektrik dapat menyebabkan myonekrosis, myoglobinemia, dan myoglobinuria serta komplikasi yang menyertai fenomena-fenomena tersebut. [8]

Jantung:

Aliran listrik yang melewati jantung atau daerah toraks dapat menyebabkan aritmia jantung atau kerusakan langsung pada myokardial. Sekitar 15% cedera elektrik diikuti oleh aritmia, sebagian besar tidak serius. [6]

Sistem saraf:

Sistem saraf pusat dan perifer dapat terjadi akibat cedera elektrik. Jika melewati otak, dapat menyebabkan kejang (yang bisa disertai respiratory arrest), trauma langsung ke jaringan otak, depresi pernapasan, penurunan kesadaran, maupun paralisis.[6] Keraunoparalysis merupakan paralisis temporer khusus cedera akibat sambaran petir yang dikarakterisasikan dengan ekstremitas yang biru, mottled dan pulsasi tidak teraba.

Ginjal:

Rabdomiolisis dapat terjadi akibat nekrosis jaringan dalam jumlah besar. Selain itu, acute kidney injury (AKI) dapat pula terjadi. Hipovolemia akibat ekstravasasi ekstravaskular dapat menyebabkan azotemia prerenal dan nekrosis tubuler akut.

Indera

Aliran yang melewati mata dapat menyebabkan katarak, hifema, perdarahan vitreous, dan jejas saraf optik. Pupil umumnya terfiksasi, mengalami dilatasi, dan asimetri. Hal ini bukan merupakan alasan untuk menghentikan resusitasi. Sementara itu, sebanyak 50-80% korban sambaran petir mengalami ruptur membran timpani. Dapat pula terjadi hilangnya pendengaran, tinitus, vertigo, dan cedera nervus fasialis.

Kulit

Luka bakar yang timbul akibat cedera elektrik dapat berupa kondisi superfisial, hingga kedalaman penuh. 57% dari korban terkena listrik tekanan rendah dan 96% dari korban listrik tekanan tinggi mengalami luka bakar, khususnya pada daerah kontak. Perlu diingat bahwa penampakan cedera dari luar tidak merepresentasikan ekstensi kerusakan dalam tubuh. Pada kasus tersambar petir, adanya luka bakar di kaki maupun kepala merepresentasikan mortalitas yang lebih tinggi. Kissing burn terjadi pada lipatan fleksor, di mana kedua permukaan yang bersebelahan situs fleksor sama-sama terkena aliran listrik dan mengalami luka bakar.

Muskuloskeletal

Tulang memiliki resistensi tertinggi di antara organ tubuh lainnya. Akibatnya, aliran listrik yang melewati tulang menghasilkan energi panas tertinggi, yang kemudian dapat menyebabkan luka bakar organ sekitarnya, perusakan matriks tulang, dan osteonekrosis.

Pembuluh darah, sistem koagulasi, dan jejas lain

Jejas vaskuler dapat terjadi akibat sindroma kompartemen akut, atau koagulasi di pembuluh darah kecil akibat aliran listrik. Pernah pula dilaporkan thrombosis arteri maupun pembentukan (dan ruptur) aneurisma setelah korban mengalami cedera elektrik.

Pemeriksaan Fisik

Terdapat banyak kemiripan pemeriksaan fisik dengan PF pada luka bakar termis. Namun beberapa hal yang secara khusus harus diperhatikan pada kasus cedera elektrik dibahas secara singkat dalam poin-poin berikut:[3]

  • Airway, breathing, circulation
  • Fungsi jantung – nilai irama jantung, denyut jantung
  • Kulit – cari tanda-tanda luka bakar, perhatikan daerah lipatan kulit, area sekitar sendi, dan mulut (khususnya pada anak kecil yang mungkin menggigit kabel).
  • Fungsi sistem saraf – status mental, reaksi pupil, fungsi motorik (termasuk kekuatan motorik), dan sensasi.
  • Mata – ketajaman visual, pemeriksaan funduskopik untuk memantau timbulnya katarak (pada pasien tersambar listrik).
  • THT – periksa membran timpani, nilai fungsi pendengaran
  • Sistem muskuloskeletal – inspeksi dan palpasi menyeluruh untuk tanda-tanda jejas/luka (termasuk fraktur, sindrom kompartemen), periksa tulang belakang.

Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara lain: [3]

  • EKG
  • Pemeriksaan elektrolit rutin (termasuk K+ dan Ca+)
  • Kreatinin fosfokinase (untuk mendeteksi cedera otot luas)
  • Darah rutin
  • Kreatinin dan BUN (menilai fungsi ginjal)
  • Pencitraan pada daerah yang diperlukan.

Pemeriksaan enzim jantung seperti CK-MB tidak representatif terhadap keadaan pasien, sementara troponin-I belum diketahui manfaatnya pada kasus cedera listrik. Tidak terdapat metode penilaian yang dianggap gold standard dan sebaiknya dikonsultasikan ke spesialis jantung. [7]

Penatalaksanaan medis

Pasien terkena listrik voltase rendah yang asimtomatik dan menunjukkan PF normal dapat dipulangkan dan tidak memerlukan pemeriksaan penunjang. Pasien luka bakar akibat cedera elektrik ditangani sebagai pasien trauma. Tata laksana luka bakar secara menyeluruh dapat ditemukan di artikel luka bakar. Secara khusus, tata laksana luka bakar akibat cedera elektrik akan dibahas sebagai berikut.

Evaluasi sistem kardiovaskuler

  • RJP harus diinisiasikan pada korban cedera elektrik voltase tinggi yang tidak sadar walaupun tidak tampak masalah pada irama di EKG. Jika pasien tidak mengalami gagal jantung/arrest , umumnya pasien akan memiliki prognosis yang lebih baik.
  • Terdapat pula kemungkinan pasien tidak bernafas spontan walaupun tidak ada masalah pada aktivitas jantung. Sebaiknya dibuka jalan napas paten untuk mencegah cedera jantung atau sistem saraf (sekunder dari kekurangan oksigen).
  • Korban cedera elektrik voltase tinggi (>1000 V) harus dimonitor secara ketat selama 12 sampai 4 jam pertama karena seringkali mengalami aritmia maupun disfungsi sistem saraf otonom. [3,10]

Evaluasi sistem saraf

  • Cedera tersambar listrik seringkali menunjukkan tanda yang mirip dengan cedera kepala berat, seperti misalnya pupil yang terfiksasi dan terdilatasi.
  • Imobilisasi tulang belakang dilakukan mengingat kemungkinan adanya trauma mekanik saat kejadian.
  • Pencitraan otak dan tulang belakang dapat dipertimbangkan jika terdapat koma maupun deficit neurologis, termasuk perubahan status mental.[10]

Resusitasi cairan

  • Pasien dengan cedera pada jaringan lunaknya membutuhkan resusitasi cairan yang agresif, khususnya jika diduga terdapat nekrosis otot.
  • Korban tersambar petir relatif tidak membutuhkan volume yang besar jika dibandingkan korban luka bakar pada umumnya. [7]
  • Formula Parkland maupun yang sejenisnya tidak disarankan untuk digunakan pada korban luka bakar elektrik karena cedera yang dapat dinilai di permukaan tubuh umumnya jauh di bawah kerusakan yang sebenarnya. [3]
  • Seperti pada luka bakar termis, terdapat perpindahan volume cairan ke interstisial. Parameter fisiologis termasuk irama jantung, tekanan darah, dan keluaran urin perlu diperhatikan untuk resusitasi..
  • Pada pasien dengan cedera elektrik, perlu diingat terdapat bahaya sindroma kompartemen pada abdomen. Hal ini merupakan akibat kombinasi perpindahan cairan ke interstisial dan luka bakar pada permukaan yang restriktif.[8,10]

Sumber: United States: Occupational Safety and Health Administration, Wikimedia commons, 2003. Sumber: United States: Occupational Safety and Health Administration, Wikimedia commons, 2003.

Gambar: Entrance and exit wound seorang korban luka bakar akibat cedera elektrik. Luka yang berukuran kecil tidak mencerminkan kerusakan yang terjadi di organ dalam.

Mioglobinuria

Sindroma kompartemen akut, rabdomiolisis, dan AKI perlu diwaspadai pada pasien cedera elektrik. Pembentukan cast intratubular dicegah dengan pemberian cairan yang cukup untuk mencapai target keluaran urin. Pada orang dewasa keluaran urin yang diharapkan sekitar 100 ml/jam, sementara pada anak kecil targetnya adalah 1,5 – 2 ml/kg/jam. Pengecekan konsentrasi elektrolit (khususnya K+) sebaiknya dilakukan setiap 2-4 jam.[3]

Penanganan luka

Penanganan luka sama seperti luka bakar akibat cedera termis. [8]

Tata laksana lanjutan cedera elektrik

Selain penatalaksanaan yang telah dibahas pada artikel luka bakar, terdapat beberapa tata laksana lanjutan khusus cedera elektrik.

Pada kasus cedera elektrik seringkali terjadi myoglobulinuria dan asidosis. Karenanya pemberian terapi bikarbonat dapat dilakukan pada laju 1-2 mEq/kg. Jika diperkirakan bahwa pasien mengalami cedera ekstensif, pada pemberian bolus awal bikarbonat sudah dapat langsung diberikan. [9]

Selain itu, dapat diberikan mannitol sebanyak 1 gram/kgBB dengan target keluaran urin 2-3 ml/kgBB/jam dan pH urin >6,5. Hal ini bertujuan untuk mengurangi edema. Sebagai tambahan dapat diberikan pula diuretik tambahan seperti asetazolamid, yang sekaligus merubah sifat urin menjadi lebih alkali. Pasien perlu dipantau agar tidak terjadi hipoalbuminemia hiperosmotik. [9]

Pencegahan

Banyak kasus cedera elektrik merupakan kejadian yang terjadi di rumah tangga. Beberapa langkah dapat diambil pasien untuk mengurangi kejadian luka bakar akibat cedera elektrik di rumah: [3]

  • Hindari meletakkan sumber listrik dan barang-barang elektrik di tempat yang dapat dijangkau anak-anak.
  • Matikan arus saat sedang bekerja dengan barang-barang elektronik.
  • Jangan gunakan barang-barang elektronik dekat sumber air, seperti di kamar mandi dekat keran.
  • Perhatikan petunjuk penggunaan barang-barang elektronik

Referensi