Kontraindikasi dan Peringatan Sulpiride
Kontraindikasi sulpiride adalah penggunaan pada pasien dengan kanker payudara dan adenoma pituitari. Peringatan diperlukan terkait risiko efek samping berat, termasuk hiperprolaktinemia dan aritmia, serta adanya peningkatan risiko stroke dan dementia.[4,6]
Kontraindikasi
Sulpiride dikontraindikasikan pada pasien yang memiliki hipersensitivitas terhadap sulpiride atau komponen penyusunnya karena dapat memicu reaksi alergi yang serius. Obat ini juga tidak boleh digunakan pada pasien dengan tumor yang bergantung pada prolaktin, seperti adenoma pituitari penghasil prolaktin dan kanker payudara, karena sulpiride meningkatkan kadar prolaktin dalam darah.
Selain itu, sulpiride kontraindikasi pada pasien dengan pheochromocytoma yang diketahui atau dicurigai karena dapat memicu pelepasan katekolamin secara berlebihan dan menyebabkan krisis hipertensi yang berbahaya. Penggunaan sulpiride juga tidak dianjurkan pada pasien dengan porfiria akut karena dapat memperburuk kondisi tersebut.
Kontraindikasi lain berkaitan dengan interaksi obat yang dapat menimbulkan efek serius, terutama gangguan irama jantung dan antagonisme dopaminergik. Sulpiride tidak boleh digunakan bersama agonis dopamin non-Parkinson seperti cabergoline dan quinagolide. Kombinasi dengan citalopram, escitalopram, hydroxyzine, domperidone, dan piperaquine juga dikontraindikasikan karena dapat meningkatkan risiko pemanjangan interval QT dan torsades de pointes.[1,4]
Peringatan
Pada pasien lanjut usia dengan dementia, penggunaan antipsikotik dikaitkan dengan peningkatan mortalitas. Sementara itu, pada pasien dengan faktor risiko stroke diperlukan pemantauan ketat karena obat ini diduga dapat meningkatkan risiko kejadian serebrovaskular. Sulpiride juga dapat meningkatkan kadar prolaktin sehingga penggunaannya perlu diawasi pada pasien dengan riwayat pribadi atau keluarga kanker payudara.
Selain itu, obat ini dapat menurunkan motilitas usus dan menyebabkan konstipasi berat, ileus, bahkan iskemia usus, terutama bila dikombinasikan dengan obat antikolinergik. Pasien harus segera diperiksa bila muncul nyeri perut, muntah, atau diare. Risiko diskinesia tardif juga perlu diperhatikan, khususnya pada lansia meskipun digunakan dalam dosis rendah.
Pada pasien diabetes atau berisiko diabetes, kadar glukosa darah perlu dipantau secara berkala karena antipsikotik dapat memengaruhi metabolisme glukosa. Pada epilepsi, sulpiride dapat menurunkan ambang kejang sehingga meningkatkan risiko konvulsi. Karena eliminasi utamanya melalui ginjal, dosis harus disesuaikan pada pasien dengan insufisiensi ginjal dan pemantauan klinis diperketat.
Lansia juga lebih rentan mengalami hipotensi ortostatik, sedasi, dan efek ekstrapiramidal. Selain itu, penggunaan sulpiride bersama alkohol atau obat lain yang memanjangkan interval QT sebaiknya dihindari karena dapat meningkatkan risiko efek samping serius, termasuk depresi saraf pusat dan aritmia jantung.[4]